
Bulan demi bulan, minggu-minggu, dan hari-hari Diva lalui hanya fokus merawat dan membantu suaminya dalam segala hal, bahkan saat ini Kedua mertuanya kembali menetap di kota Xx, karena perusahaan pak Salman kembali memimpin selama Kenan masih belum pulih, sedangkan bunda Vivian merawat kedua cucu-cucunya, bahkan saat ini dedek Kia lebih dekat dengan Omanya itu di bandingkan Diva. Bukannya Diva berniat mengabaikan anak-anaknya tapi ia ingin fokus dulu untuk selalu menyemangati suaminya agar cepat pulih.
Saat ini tak terasa tiga bulan telah berlalu, tiga hari lagi dedek Kia akan merayakan ulang tahunnya yang ke dua, pak Salman menyiapkan perayaan ulang tahun cucu keduanya itu dengan mengundang banyak relasi bisnisnya baik dari dalam kota maupun luar kota. Untuk pak Fikram dan Arka beserta anak istrinya akan datang hari ini untuk membantu-bantu mempersiapkan perayaan ulang tahun tersebut yang akan digelar dikediaman Kenan.
Diva yang saat ini berada dikamar menemani suaminya itu beristirahat, Diva mengusap wajah lelap suaminya itu dengan perasaan sedih melihat Kenan sampai saat ini juga Kenan masih belum bisa mengeluarkan suaranya, mata Diva mulai berkaca-kaca, dengan menahan gemuruh dihatinya, ia merasa sakit melihat keadaan suaminya saat ini, Diva selalu menyalahkan dirinya sendiri atas pengorbanan yang sangat besar untuknya yang dilakukan pria yang sangat ia cintai itu, Diva terus merutuki kebodohannya begitu cepat percaya dan mengambil kesimpulan tanpa banyak tahu penyebab suaminya yang tiba-tiba saja berubah, bahkan ia menjauh dari kota dan menutup semua akses komunikasi dari keluarga suaminya juga informasi mengenai berita-berita penting, sampai-sampai ia tak tahu keadaan yang sebenarnya.
"Maaf...." Ucap Diva pelan tiba-tiba saja air matanya terjatuh mengenai lengan suaminya itu.
🍀🍀🍀
Sedangkan dialam bawah sadar Kenan.
Kenan berjalan di kegelapan, menyusuri jalan-jalan setapak, sampai ia melihat istrinya sedang di bekap dengan seseorang bertubuh tinggi berpakaian serba hitam dan tertutup dengan jubah panjang lengkap dengan penutup kepala sehingga wajahnya tak tampak jelas dipenglihatan Kenan.
Kenan ingin sekali berteriak untuk segera melepaskan Istrinya itu, namun lagi-lagi suaranya tersekat.
Kenan terus mencobanya sambil terus melambaikan tangannya agar istrinya dilepaskan, tapi seseorang itu tetap mengeret Diva, Kenan terus mengikuti seseorang itu hingga ke suatu tempat yang sangat tinggi di kelilingi dengan jurang curam di setiap sisi tempat tersebut.
Kenan berlutut sambil menyatukan kedua tangannya memohon dengan wajah memelas agar melepaskan istrinya itu, yang bisa Kenan lakukan hanya bisa dengan posisi seperti itu, karena ia tidak dapat mengeluarkan suaranya.
"Saya akan melepaskan dan melemparnya masuk ke jurang ini, hahahaha." Ucap seseorang itu dengan suara berkelekar dan diakhiri tawa yang cukup keras.
"Ja....Ja....Ja...Ja...." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kenan, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya, ia merasakan sakit yang teramat saat melihat istrinya berada di ujung jurang bersama seseorang itu.
"Hahahaha saya akan membawanya bersamaku, dia tidak pantas untukmu, hahaha...." Lagi-lagi seseorang itu berkelekar, dan tanpa aba-aba seseorang itu benar-benar membawa Diva melompat kejurang bersamanya.
"Yaaaannnnkkkkk....." Teriak Kenan bersamaan ia terbangun dari mimpinya. Diva yang berbaring disampingnya kaget mendengar teriakan suaminya yang memanggilnya.
"Kamu kenapa by' ?" Tanya Diva khawatir melihat wajah pucat suaminya itu dengan keringat bercucuran di wajahnya.
Diva merubah posisinya menjadi duduk disampingnya, sambil menyekah keringat Kenan.
Kenan tak menjawab pertanyaan istrinya itu, ia malah menarik Diva masuk kedalam pelukannya, dengan posisi Kenan masih dengan berbaring.
"Ya...ya...yank..." Lirih Kenan dengan suara masih terbata-bata.
"By, kamu, kamu sudah bisa bicara by', by kamu bicara by'...?" Ucap Diva senang menarik dirinya dari pelukan Kenan dan menatap suaminya itu.
"Ja...ja... jangan ting... tinggalkan aku lagi yank !" Seru Kenan dengan terbata, sambil menatap manik mata istrinya yang berkaca-kaca.
Diva mengangguk " Aku tidak akan meninggalkan kamu by'." Ucap Diva menangis ia sudah tak lagi bisa menahan air matanya, namu air matanya itu bukan karena air mata kesedihan namun karena air mata haru.
setelah mengatakan hal itu Diva langsung menciumi seluruh wajah suaminya itu mulai dari keningnya, beralih di kedua pipinya, lalu hidung, dan yang terakhir bibir suaminya sekilas.
"Aku minta maaf, karena terlalu banyak luka yang aku berikan ke kamu, bahkan aku tak mengetahui tentang anak kedua kita, maaf... Aku sangat mencintaimu yank, sangat." Ujar Kenan menagis.
"Kamu jangan banyak bicara dulu by', aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kamu minta maaf, aku juga salah dalam hal ini, aku terlalu cepat mengambil keputusan dan berkesimpulan dengan perubahan sikap kamu, aku benar-benar bukan istri yang baik, karena aku sempat meragukan kesetiaan, rasa sayang dan cinta kamu terhadapku juga anak-anak kita by'." Ucap Diva lagi-lagi memeluk tubuh suaminya itu dengan sangat erat.
Kenan membalas pelukan istrinya itu, walaupun Kenan sudah bicara sekarang namun ia masih belum bisa bangun tanpa di bantu, bahkan Kenan masih menggunakan kursi rodanya untuk kemana-mana.
"Apa kamu mau keluar by' ?" Tanya Diva.
"Iya yank, aku mau bertemu anak-anak." Jawab Kenan.
Diva segera turun lebih dulu dari tempat tidur, lalu membantu suaminya itu bangun dan duduk di tepi tempat tidur, setelah itu Diva mengambil kursi roda milik Kenan yang berada tak jauh dari tempat tidur mereka.
"Hati-hati by' !!" Seru Diva saat membantu suaminya itu pindah ke kursi roda.
"Terimakasih yank." Ucap Kenan setelah berhasil duduk di kursi rodanya.
"Sama-sama, ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri kamu, aku akan selalu berada di samping kamu, baik suka dan cita, jadi aku katakan sekali lagi, kamu tidak perlu terus-menerus berterimakasih kepadaku by', aku ikhlas melakukan semuanya." Ucap Diva duduk dihadapan suaminya itu sambil tersenyum lebar.
"Ya sudah yuk kita keluar sekarang, mungkin suara mobil barusan, suara mobil ayah Fikram dan kak Arka." Ujar Diva setelah mendengar suara deru mobil, kemudian ia mendorong kursi roda suaminya itu keluar dari kamar.
Banar yang dikatakan Diva, suara mobil yang ia dengar itu benar-benar suara mobil milik keluarganya, karena bertepatan saat Diva keluar dari kamar saat itu juga pak Fikram beserta yang lainnya masuk, yang sudah di sambut langsung oleh kedua mertuanya dan juga putra dan putrinya.
"Assalamualaikum...." Ucap pak Fikram lagi setelah bertemu dengan Diva dan Kenan.
"Walaikumsalam." Balas Diva dan Kenan bersamaan membuat orang-orang yang ada disana seketika melongo kaget mendengar Kenan menjawab salam dari pak Fikram.
"Nan, Nan... Beneran itu suara kamu ?" Tanya bunda Vivian seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Benar bun." Jawab Kenan.
"Alhamdulillah...." Ucap syukur mereka semua kecuali Diva yang tersenyum melihat mereka semua.
"Sejak kapan ?" Tanya bunda Hani.
"Baru saja." Kali ini Diva yang menjawab pertanyaan bundanya itu.
"Lebih baik sekarang kita masuk saja, apa kalian tidak capek berdiri terus disini." Sahut pak Salman mempersilahkan semuanya untuk masuk keruang tengah.
"Sini sayang sama ayah." Panggil Kenan mengulurkan tangannya memanggil putranya itu agar duduk di pangkuannya.
Khay yang baru pertama kali mendengar suara ayahnya itu jadi sedikit bingung, anak kecil itu berpikir kenapa ayahnya baru berbicara dengannya.
"Bang, kok bengong ? Ayahnya lagi manggil itu, biasanya juga enggak mau jauh-jauh." Ujar Diva saat melihat putranya itu hanya terdiam sambil menatap bingung kearah ayahnya.
"Bunda, kok ayah balu bicala sama Abang, ayah sudah tidak malah lagi ya cama abang ?" Tanya Khay.
"Iya sayang, ayah baru bisa bicara sama Abang, karena dulu ayah sakit tenggorokan jadi enggak bisa bicara, tapi sekarang ayah sudah sembuh, nih buktinya, ayah bicara sama Abang." Ucap Kenan tersenyum.
"Kilain ayah malah sama Abang, Kalna abangnya suka nakal." Ucap Khay lalu naik keatas pangkuan Kenan.
Sedangkan dedek Kia, sepertinya anak perempuan itu sangat cuek kepada ayahnya, dia lebih asik sendiri dengan mainannya, bahkan saat setelah menyambut kedatangan keluarga opa Fikram dia langsung masuk kembali menuju area permainan yang sudah tersedia dirumah itu. Kenan sebenarnya ingin sekali memeluk putri kecilnya itu, namun sayang ia tidak bisa terlalu lama bersamanya karena dedek Kia tidak bisa diam lama disuatu tempat.
Bersambung......
Bonus Visual keluarga kecil Kenan
Kenan
Diva
Abang Khay
Dedek Kia
Terimakasih atas dukungannya jangan lupa terus beri dukungan like, Koment dan vote. Mampir juga ke karya aku ini menceritakan kisah dari sahabat Diva yaitu Rafa dan Hera dalam cerita CINTA YANG KUNANTIKAN.
🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️😘😘😘