
Saat tiba di rumah bidan di desa tersebut Vara terlebih dahulu turun dari mobil dan masuk kedalam untuk menanyakan apa bidannya ada di tempat, tak lama Vara kembali ke mobil dan menyuruh Arka membawa Diva segera masuk.
Arka langsung menggendong tubuh adiknya itu masuk kedalam.
Setibanya di sebuah ruangan khusus pemeriksaan di rumah bidan tersebut, ibu bidan langsung memeriksanya.
"Maaf kalau boleh tau sudah sejak kapan mbaknya selalu merasakan pusing seperti ini ?" Tanya Bu bidan sambil memeriksa tekanan darah Diva.
"Sepertinya sudah beberapa hari ini Bu bidan, tapi baru kali ini dia sampai tak sadarkan diri seperti ini." Jelas Vara.
"Apa dia sudah menikah, karena saya liat dia masih sangat muda?" Tanya Bu bidan membuat Vara dan Arka saling pandang karena bingung dengan pertanyaan bidan tersebut, pasalnya Diva sedang sakit kenapa juga pertanyaannya beralih kesana ? pikir keduanya.
"Maaf kenapa ibu bertanya seperti itu ? Adik saya sudah menikah sejak beberapa tahun lalu bahkan saat ini ia sudah memiliki seorang putra." Terang Arka.
"Maaf kalau saya sudah bertanya seperti itu pak, tapi dugaan saya adik bapak tampaknya sedang hamil." Jelas Bu bidan sedikit tak enak hati karena sudah berpikiran yang tidak baik mengenai Diva.
"Hamil Bu ?" Tanya Vara seolah kaget dengan diagnosa bidan tersebut.
"Iya mbak, itu baru dugaan ku saja, tapi setelah ia sadarkan diri kita coba cek untuk lebih jelasnya lagi." Terang Bu bidan.
"Baik dokter." Sahut Arka.
Sambil menunggu Diva sadar Arka dan Vara duduk di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari brangkar yang Diva tempati, sedangkan Bu bidan masuk kerumahnya yang masih bersebelahan dengan tempat prakteknya.
"Bagaimana jika benar Diva hamil Pi, apa perlu kita memberitahu Kenan?" Tanya Vara.
"Jika benar Diva hamil kita tidak perlu memberitahu pria br***ek itu, aku masih bisa bertanggungjawab dengan adikku, aku masih bisa memenuhi kebutuhan Khay dan bayi yang dikandungnya jika memang dia hamil." Arka tampak kesal setiap kali ia mendengar nama Kenan disebut.
"Tapi anak-anaknya juga membutuhkan ayahnya Pi, apa kamu tega memisahkan mereka ?" Lagi-lagi Vara berkata dengan sangat lembut.
"Tidak mi, pria itu sendiri yang memisahkan dirinya dengan anak-anaknya, mulai saat ini aku minta jangan lagi kau sebut-sebut pria itu di hadapanku !!" Seru Arka.
Vara hanya bisa mengangguk, ia tahu saat ini suaminya masih dalam emosinya jika menyangkut dengan Kenan, tidak ada gunanya juga terus memberitahunya.
Tak lama Diva pun sadar, Vara dan Arka langsung menghampiri Diva yang masih terlihat sangat lemah dan pucat.
"Bagaimana keadaan kamu dek ?" Tanya Vara.
"Aku masih sedikit pusing kak, oh iya aku dimana ?" Jawab Diva lalu balik bertanya karena melihat tempat yang asing baginya.
"Sekarang kita ada di tempat praktek bidan di desa ini, tadi kamu pingsan jadi kami membawamu kesini." Jelas Vara.
"Pi cepat panggil Bu bidannya !" Seru Vara kepada suaminya.
Arkapun segera keluar dari ruangan tersebut lewat salah satu pintu yang langsung tembus di rumah Bu bidan.
Tak lama berselang Arka kembali bersama ibu bidan.
"Bagaimana, apa masih merasa pusing ?"Tanya Bu bidan kepada Diva.
"Iya Bu." Sahut Diva lemas.
"Kalau boleh tahu kapan Anda terakhir datang bulan ?" Tanya Bu bidan lagi, Diva terdiam mengingat-ingat bahwa dirinya sudah hampir dua bulan ia tidak mendapatkan tamu bulannya.
"Sudah hampir dua bulan Bu." Ucap Diva.
"Kita coba tes ya mbak, karena menurut saya mbaknya lagi hamil, tapi lebih baik kita tes untuk lebih jelasnya." Ucap Bu bidan.
Diva segera bangun di bantu Vara lalu mengambil alat tes yang diberikan oleh bu bidan, lalu berjalan masuk ke kamar mandi yang ada diruangan tersebut.
Setelah beberapa menit Diva duduk di kloset yang ada dikamar mandi, ia harap-harap cemas, bagaimana jika ia benar-benar hamil, sedangkan rumah tangganya sudah hancur. Diva pelan-pelan melihat alat tes tersebut, dan mata Diva langsung terbelalak sambil menutup mulutnya saat melihat ada garis dua yang ada pada respect nya, dan itu menandakan kalau ia sedang hamil. Air mata Diva keluar begitu saja, ia tak tau harus bahagia atau sedih dengan kehamilannya saat ini.
Karena sudah cukup lama Diva tak keluar juga, Arka merasa khawatir terjadi sesuatu pada adiknya, ia pun mengetuk pintunya.
"Dek....Dek... kamu tidak apa-apa kan?" Ucap Arka sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Diva menghapus jejak air matanya lalu keluar dari kamar mandi tersebut, dan langsung duduk di kursi yang sama dengan Vara yang ada di depan meja kerja bidan.
"Tepat dugaan saya mbak, mbaknya hamil sekitar 6 mingguan." Ucap Bu bidan.
Diva hanya tersenyum samar menanggapi penjelasan dari bidan, ia memikirkan nasib anaknya nanti, ia akan lahir tanpa seorang ayah karena ia tidak mungkin lagi untuk kembali.
"Pak sepertinya ada beberapa obat yang harus di beli di apotik kecamatan, saya akan membuatkan resepnya dan bapak bisa menebusnya disana !" Ujar Bu bidan menuliskan beberapa nama jenis obat yang dibutuhkan wanita hamil.
"Baik Bu." Sahut Arka.
"Jangan lupa untuk membelikan susu untuk ibu hamil juga pak !" Tambah Bu bidan dan di angguki Arka.
Mereka pun meninggalkan tempat praktek bidan, Arka lebih dulu mengantarkan Diva dan istrinya kembali ke villa, barulah dia ke kecamatan untuk menebus obat yang diresepkan bidan tadi.
Sekitar dua puluh menit Arka tiba di kecamatan, karena sudah mendapatkan jaringan beberapa notif chat masuk ke ponselnya. Arka memeriksa notif yang masuk saat tiba di depan apotik.
Mata Arka terbelalak saat melihat chat dari ayahnya. Arka langsung menghubungi ayahnya itu.
📞 "Assalamualaikum yah." Ucap Arka setelah panggilan di jawab.
📞 "Kamu dimana sekarang ?" Tanya Pak Fikram terdengar sangat marah.
📞 "Ak...aku..." Arka tergagap.
📞 "Ayah sudah tau semuanya, tadi ayah ke kantor, dan kata asisten kamu, kamu pergi kamu juga membawa serta adikmu, apa yang terjadi Ka ?" Tanya pak Fikram.
📞 "Maaf ya, tapi aku harus melakukan ini."
📞 "Ada apa sebenarnya, ceritakan ke ayah sekarang juga !" Seru pak Fikram tegas. Arkapun menceritakan semuanya, mulai dari Arka mendapati Kenan bersama seorang wanita di kamar hotel, bahkan sampai Kenan mengakui akan hal itu, sampai keadaan Diva yang sekarang, tak lupa Arka pun memberikan alamatnya kepada ayahnya.
📞 "Baiklah malam ini juga ayah sama bunda kesana, kamu jaga baik-baik adik kamu !" Seru pak Fikram geram. orangtua paruh baya itu sangat emosi mendengar cerita Arka, ia kecewa dengan menantunya.
📞 "Baik ya aku tunggu, tapi aku sarankan ayah tetap memperhatikan sekitar takut anak buah Kenan mengikuti ayah." Ucap Arka.
📞 "Kamu tenang saja, jika mereka mengikuti kami, ayah bisa mengeco mereka." Ucap Pak Fikram.
Setelah panggilan terputus, Arka turun dari mobilnya lalu masuk ke apotik untuk menebus resep obatnya sekalian ia membeli susu untuk wanita hamil yang kebetulan tersedia di apotik tersebut.
🍀🍀🍀
Di villa Diva tampak berdiam diri di kamarnya menatap keluar jendela dengan pemandangan perbukitan, Diva mengusap perut ratanya tiba-tiba air matanya menetes.
"Maafkan bunda sayang, bunda tidak bisa mengatakan keberadaan mu kepada ayahmu, jika tiba saatnya nanti bunda janji akan mempertemukan kalian." Ucap Diva menangis.
Vara yang masuk ke kamar adik iparnya itu membawa makan malam untuk Diva melihat Diva tertunduk dengan punggung bergetar karena berusaha tidak mengeluarkan suara tangisannya. Vara meletakkan nampan yang ia bawa itu diatas nakas.
"Keluarkan saja, kamu jangan menahannya seperti ini !" Seru Vara memeluk adik iparnya itu dari samping.
Diva langsung berbalik menghadap kakak iparnya lalu memeluknya sangat erat sambil menumpahkan semua kesedihannya.
"Bagaimana ini kak?" Tanya Diva sambil terisak dalam pelukan Vara.
"Kamu yang sabar, kakak tahu ini berat buat kamu, tapi jika keputusanmu sudah bulat untuk meninggalkannya kamu harus berusaha ikhlas, dan berbesar hati, kamu yakinkan diri kamu kalau kamu bisa melewati semuanya, kamu juga tidak boleh terlalu banyak pikiran, pikirkan juga kesehatan bayi yang saat ini ada didalam kandungan mu." Ucap Vara selembut mungkin sambil mengusap punggung adik iparnya itu.
Diva hanya menganggukkan kepalanya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, komen,dan juga vote sebanyak-banyaknya, agar authornya tetap semangat up nya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️