
Hari ini Enzy dan Rendra akan berangkat ke Malaysia, Enzy tampak sibuk memeriksa kembali barang-barang yang akan ia bawa selama berada disana, setelah itu Enzy mengemasi barang-barang penting milik Khay kedalam sebuah tas ransel berukuran sedang, karena Khay akan tinggal dirumah utama selama Enzy berada di Malaysia.
Khay tampak sangat tak bersemangat, ia hanya duduk diam disofa memainkan ponselnya, tapi ia hanya menscrol secara acak layar ponselnya itu, karena memikirkan istrinya yang akan meninggalkannya selama dua mingguan.
Khay menghela nafasnya lalu berdiri menghampiri Enzy yang sibuk mengurusi barang-barang di samping tempat tidur, Khay langsung memeluk istrinya itu dari belakang, membuat Enzy kaget karena tiba-tiba Khay memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di celuruk lehernya, membuat Enzy kegelian.
"Khay..." Protes Enzy menjauhkan sedikit kepalanya.
"Biarkan seperti ini dulu !" Ucap Khay pelan tanpa merubah posisinya.
Enzy tersenyum lalu membalikkan badannya, kemudian membalas pelukan suaminya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu." Ucap Khay.
"Aku pasti juga merindukanmu." Ucap Enzy mengusap lembut punggung suaminya.
Khay melepaskan pelukannya lalu beralih menangkup wajah Enzy, Enzy tersenyum lalu mengecup bibir suaminya itu sekilas, namun saat Enzy akan menarik kembali kepalanya, Khay langsung menahan tengkuknya kembali mencium dan semakin memperdalam ciumannya, keduanya pun sama-sama menikmati momen tersebut, sampai Khay harus mengakhiri karena nafas Enzy mulai tersengal, kemudian Khay memeluk pinggang Enzy sedangkan Enzy mengalungkan tangannya di leher Khay.
"Kamu jaga diri baik-baik, jangan coba-coba lagi pergi ke bar, jaga kesehatan, terus obat yang dari dokter waktu itu harus kamu minum, jika sudah habis kamu harus menemui dokter kembali, karena lambung kamu masih butuh perawatan dan obat-obatan." Imbuh Enzy panjang lebar mengingatkan suaminya itu.
"Iya sayangku." Ucap Khay menarik gemas hidung istrinya itu.
"Jangan iya iya aja, karena kalau tidak di ingatkan kamu tidak akan minum obatnya." Ucap Enzy.
"Iya sayangku, aku akan meminumnya sesuai aturan." Sahut Khay.
"Satu lagi jangan genit-genit saat dikampus, jangan suka tebar-tebar pesona !" Tambah Enzy.
"Iya janji, aku tidak akan genit, lagian mana bisa aku genit, istri aku aja udah paling cantik, enggak ada duanya, ditambah lagi cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cintai dan sayang selain bunda di dunia ini." Ucap Khay.
"Enggak usah ngegombal, enggak akan mempan juga ke akunya !" Seru Enzy.
"Aku gak gombal sayang itu semuanya benar, dihatimu hanya ada nama kamu seorang." Sahut Khay menempelkan hidungnya ke hidung Enzy.
"Jangan lupa kabari aku jika kamu sudah sampai disana !" Lanjut Khay.
"Iya, kalau begitu ayo kita kebandara sekarang, nanti aku terlambat." Ajak Enzy melepaskan rangkulannya dari leher Khay.
"Ayo, sini barang-barang kamu biar aku yang bawa." Khay melepaskan pelukannya juga, lalu beralih mengerek koper berukuran besar milik istrinya itu dan ransel miliknya yang sudah siap di sisi tempat tidur, sedangkan Enzy hanya membawa Slingbagnya.
Khay langsung mengantarkan Enzy kebandara, disana sudah ada Rendra dan dan beberapa mahasiswa dari fakultas lain, dan beberapa dosen yang akan mengantarkan mereka kesana.
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam akhirnya pesawat yang ditumpangi Enzy, Rendra dan rombongan tiba di salah satu bandara internasional Malaysia.
Enzy menghirup udara dalam-dalam, ia tak menyangka akan berpisah dengan suaminya, ini kali pertamanya mereka berpisah dalam waktu yang cukup lama.
"Ayo !" Ajak Rendra.
"Uhffftt... Ayo" Sahut Enzy sambil mengangguk, kemudian mereka berjalan keluar dari bandara, rombongan lainnya langsung menuju ke penginapan yang sudah disediakan kampus, sedangkan Rendra dan Enzy langsung menuju apartemen yang sudah disediakan Kenan dan Ray, mereka tak hanya menyediakan tempat tinggal tapi juga kendaraan yang akan keduanya gunakan jika mereka ingin keluar, hanya untuk sekedar jalan-jalan atau melepas penat.
"Gue perhatiin, sejak turun dari pesawat kamu enggak semangat gitu, mikirin Khay ?" Tanya Rendra setelah mereka mulai memasuki lift apartemen menuju unit mereka berada.
Enzy hanya mengagukkan kepalanya, membuat Rendra geleng-geleng kepala melihat kegalauan sahabat yang sudah ia anggap saudara itu.
"Dulu aja benci banget, sekarang mah bucin banget." Ejek Rendra dan langsung mendapatkan tatapan tak suka dari Enzy.
"Sudah jangan terlalu dipikirin, nikmati saja waktunya selama berada disini, disini kita hanya dua mingguan, itu akan terasa sebentar jika kamu tidak terlalu memikirkannya." Rendra mencoba untuk menyamangati Enzy.
"Ia, kamu bener Rend, makasih ya, udah nyemangatin." Ucap Enzy sudah mulai sedikit tersenyum.
"Sepertinya ini unit kamu, unit gue ada diujung sana, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu hubungi gue !" Seru Rendra setelah mereka berada disalah satu unit yang ada dilantai tersebut, lalu menujuk unit miliknya.
"Ok, kalau gitu aku masuk duluan ya Rend, udah capek banget soalnya." Ucap Enzy lalu masuk ke unitnya setelah menempelkan past card nya di pintu.
Setelah masuk Enzy menelisik setiap ruangan, apartemen tersebut hanya memiliki satu lantai, namun fasilitas sangat lengkap dan cukup mewah, dan memiliki ruang tamu, ruang tengah dapur, dan mini bar, satu set meja makan dan dia kamar tidur.
Setelah menelisik setiap ruangan, akhirnya Enzy memilih kamar yang view-nya langsung menghadap ke sebuah danau buatan, namun terlihat sangat indah, Enzy langsung membaringkan tubuhnya yang lelah, kemudian merogoh tasnya yang ada disampingnya untuk mengambil ponselnya.
Setelah ia dapat, Enzy langsung mencari nama Khay, lalu menghubunginya, lewat panggilan video.
📞 "Sayang..." Ucap Khay menampakkan wajah cemberutnya.
📞 "Kenapa tuh mulut di monyong-monyongin segala ?" Tanya Enzy tersenyum melihat ekspresi Khay.
📞 "Baru juga beberapa jam, udah kangen aja." Ucap Enzy sok cuek padahal dia mah juga gitu.
📞 "Beneran sayang, satu menit aja kamu enggak disamping aku, aku sudah kangen lagi." Ucap Khay lebay.
📞 "Enggak usah lebay ah !" Seru Enzy.
📞 "Sayang, emang kamu enggak kangen ?" Tanya Khay.
📞 "Enggak, biasa aja ! Kita baru berpisah pagi tadi, bagaimana mungkin aku merindukanmu secepat itu." Elak Enzy.
📞 "Enggak percaya." Sahut Khay memajukan bibir bawahnya.
📞 "Sungguh, aku benar-benar tidak merindukanmu."
📞 "Tapi kenapa kamu menelpon ku duluan, jika kamu tidak merindukanku ?"
📞 "Jangan kepedean dulu ! Walaupun, aku yang menelpon duluan, bukan berarti aku merindukanmu, buktinya kamu yang bilang kangen, kamu enggak adatuh hubungi aku atau kirim pesan buat aku." Ujar Enzy.
📞 "Jadi ceritanya, istriku ini berharap di telpon atau dikirimin pesan, gitu ?" Goda Khay membuat Enzy salah tingkah.
📞 "Ishhh apaan sih, enggak lah." Elak Enzy.
📞 "Bagaimana apa tempatnya bagus, atau ada yang kurang ?" Tanya Khay.
Enzy mengarahkan kamera ponselnya memperlihatkan kamarnya, juga view danau dari jendela balkon kamarnya.
📞 "Bagus kan ?" Tanya Enzy kembali mengalihkan ponselnya pada dirinya.
📞 "Bagus, tapi lebih bagus kalau aku ada disana, sayang." Sahut Khay dengan tatapan menggodanya.
📞 "Ada-ada aja."
📞 "Perjalanan kamu bagaimana sayang ?"
📞 "Apa kamu begitu mengkhawatirkan ku ?" Tanya balik Enzy.
📞 "Jelas aku khawatir, karena kamu sangat berharga bagiku." Sahut Khay.
📞 "Sungguh ?"
📞 "Sungguh, sayang, bahkan aku berani bersumpah, jika kamu tidak percaya."
📞 "Ah.... rasanya aku udah mau mati sekarang, jauh dari kamu sayang." Lanjut Khay mengacak rambutnya kasar.
Enzy geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
📞 "Ini belum cukup sehari loh sayang." Ucap Enzy membuat Khay langsung menatapnya tak percaya, karena ini kali pertamanya Enzy memanggilnya dengan kata sayang.
📞 "Sayang, coba ulangi ! Tadi kamu bilang apa ke aku ?" Seru Khay seolah tak percaya apa yang ia dengar barusan.
📞 "Ini bukan ujian, jadi tidak ada pengulangan, ok !" Ujar Enzy.
📞 "Sayang, pleaseee !" Mohon Khay memelas.
📞 "Sayang aku merindukanmu." Ucap Enzy kemudian dengan cepat ia memutuskan panggilan videonya, lalu senyum-senyum sendiri, membayangkan wajah suaminya itu.
Di tempat lain, Khay sangat kegirangan dan terus senyum gak jelas mendengar ucapan terakhir Enzy, ini kali pertamanya ia mendengarnya.
"Bangkhay, kamu udah beneran gila ?" Tanya Kia yang ternyata sejak tadi duduk disampingnya, karena saat ini Khay berada di tempatnya biasa main game bareng sahabat-sahabatnya juga Kia.
"Sembarangan aja, mana ada orang gila tampan kayak gue, udah tampan, gagah, dan tentunya banyak duitnya." Ucap Khay membanggakan dirinya.
"Ada satu lagi bang !" Sahut Kia.
"Apaaan ?" Tanya Khay malas.
"Manjaaaaa." Ujar Kia lalu berlari meninggalkan tempat tersebut sebelum pria itu mengamuk.
Bersambung,,.......
Jangan lupa like, Koment, dan vote....
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏