
Kavi tampak memasuki kantornya dengan langkah tegapnya, namun berbeda dengan hari ini, para karyawan tak ada yang menyapanya walau satupun, bahkan security yang berjaga di pintu masuk lupa menyapa bos besarnya itu seperti biasa jika Kavi baru memasuki kantornya, bahkan lupa membukakan pintu untuknya, semuanya tercengang melihat penampilan baru seorang Kavindra Gayland, penampilan dengan tanpa rambut alias botak. Kavi tak menghiraukan tatapan aneh karyawannya, ia sebisa mungkin menahan rasa malunya, sebenarnya ia tidak PD dengan penampilannya sekarang ini, jika saja ia tak memiliki pertemuan penting hari ini ia tidak akan mau masuk ke kantor.
"Bos, ada apa dengan rambutmu ?" Tanya Rio berusaha menahan tawanya, Rio selaku asisten sekaligus sahabat Kavi.
"Berhenti berbicara seperti itu, dan jangan coba-coba menertawakan ku, jika kau tidak ingin kehilangan bonusmu bulan ini." Sahut Kavi mengancam.
"Sorry bos." Sahut Rio.
"Emmm bagaimana soal pertemuannya, apa sudah kau siapkan semuanya ?" Tanya Kavi.
"Sudah bos." Jawab Rio singkat.
"Sekarang keluar ! Seru Kavi kemudian menyalakan laptopnya yang ada di depannya.
Bukannya keluar, Rio malah duduk di kursi depan meja kerja Kavi, karena sejak tadi Rio hanya berdiri, Kavi yang melihat itu menaikkan alisnya.
"Apa kau sudah menyiapkan pengunduran dirimu, kenapa kau sangat lancang duduk tanpa perintahku ?" Ujar Kavi dingin.
"Astaga bro santai, sekarang saya tidak ingin menjadi asistenmu untuk beberapa menit kedepan, sekarang saya ini sahabatmu." Jelas Rio santai.
"Ini masih jam kerja." Sahut Kavi jengah kembali mengutak-atik lap topnya.
"Saya tidak peduli." Tantang Rio.
"Oh iya, kok bisa kamu mendapatkan kepala plontos seperti itu ?" Tanya Rio kepo setelah melihat Kavi tidak lagi menanggapi ucapanya tadi.
"Istri ku ngidam." Jawab Kavi malas.
"Bwahahaha....." Rio tertawa keras mendengar jawaban Kavi, bahkan Rio sedikit mengeluarkan air matanya.
"Jika kau hanya ingin menertawakan ku, lebih baik kamu kuat sekarang atau surat pemecatan mu segera kau terima hari ini juga." Seru Kavi dingin menatap tajam sahabat tak berahlaknya itu.
"Cck...Sensi amat sih ? saya tidak akan keluar, saya masih ada waktu beberapa menit."
"Kav,....?" Panggil Rio kini dia terdengar serius.
"Mmmm
"Sepertinya kamu akan mendapatkan masalah setelah ini." Ujar Rio membuat Kavi langsung menatapnya bingung sambil menaikkan alisnya.
"Apa maksudmu ?" Tanya Kavi.
"Kemarin dia datang kesini dan mencarimu, bahkan dia memintaku memberikan alamatmu, sepertinya dia sudah mendatangi apartemen juga rumahmu sebelumnya." Jelas Rio.
"Ada apa lagi dia ingin menemuiku, bukannya dulu sudah ku jelaskan semuanya ?" Kavi mendadak kalut, ia takut akan terjadi sesuatu.
"Seperti dia belum menyerah Kav, dan perlu saya ingatkan kamu harus hati-hati !"
"Emmmm.." Kavi hanya berdehem, ia benar-benar takut, karena orang ini sangat nekad.
"Ini...." Rio menyodorkan kartu nama di hadapan Kavi.
"Itu kartu namanya, dia memintaku menyampaikan ini padamu, dan segera hubungi katanya." Jelas Rio.
"Buat apa ? Ini tidak penting ku hubungi." Sahut Kavi hanya melihat kartu nama tersebut di atas mejanya.
"Simpanlah ! Siapa tau aja suatu hari kamu harus menghubunginya." Seru Rio.
Kavi menghembuskan nafas berat, lalu mengambil kartu tersebut lalu ia selipkan di kantor jas bagian dalamnya.
"Sepertinya kamu harus mengatakan ini pada Kia agar dia berhati-hati Kav." Usul Rio.
"Tapi Rio, Kia lagi hamil saya takut dia stres memikirkan ini." Sahut Kavi.
"Tapi Kav, jangan sampai ia salah paham nantinya."
"Saya akan memberitahunya di waktu yang tepat, karena saat ini kehamilan istri saya masih rentan, saya takut dia stres sampai berakibat pada kesehatan keduanya nanti." Jelas Kavi.
"Baiklah itu terserah kamu, tapi saya sarankan kamu ceritakan ini pada ayah mertuamu !"
"Emmm nanti saya akan sampaikan setelah pertemuan kita nanti, saya akan berkunjung ke kantornya." Sahut Kavi.
"Baguslah !
"Bos, waktunya Anda meting !" Seru Rio berdiri di hadapan Kavi kembali menjelma asisiten Kavi.
"Emmm, ayo !" Sahut Kavi beranjak dari kursinya lalu keluar lebih dulu di ikuti Rio di belakangnya.
...----------------...
Kavi dengan langkah tegapnya masuk ke ruang rapat, ruangan yang sangat luas dengan meja memanjang berbetuk oval dengan kursi berjejer rapi, di ruangan tersebut sudah banyak para petinggi perusahaannya di sana, saat Kavi masuk semuanya langsung berdiri dan menundukkan sedikit kepalanya tanda penghormatan mereka pada bos besar tersebut.
"Duduk !" Titah Kavi kemudian ia duduk di kursi kebesarannya lalu di ikuti Rio duduk di sebelah kanannya.
Semua mata tertuju pada Kavi, tapi yang mereka perhatian tak lain dan tak bukan kepala plontos bos mereka itu, semuanya berusaha menahan tawanya, Kavi yang menyadari itu menatap satu persatu orang disana dengan tatapan menusuk.
"Maaf tuan." Sahut salah satu petinggi, yang Kavi tau itu adalah direktur keuangan di perusahaannya.
"Emmm... Ini semua karena istri saya yang mengidam aneh-aneh, dia mau melihatku membotaki rambutku." Jelas Kavi.
"Begitulah wanita tuan, mereka kadang aneh kalau lagi ngidam, istri saya juga dulu begitu, tapi bukan saya yang mau di botakin, malah dia mau nglus terus kepala botak tetangga saya." Cerita Pak Irwanto sebagai ketua Devisi pemasaran.
Seketika suara tawa memenuhi ruangan tersebut karena cerita oak Irwanto.
"Ngeri juga ya istri kamu, untung istri saya ngidamnya gak seperti kamu, jangan sampai pokoknya, saya gak rela istri cantik saya nglus kepala orang lain." Kavi bergidik membayangkan istrinya mengidam seperti yang diceritakan pak Irwanto.
"Ya begitulah tuan, tapi saya hanya bisa pasrah dari pada ada apa-apa nantinya kalau gak diturutin." Ujar pak Irwanto.
Setelah obrolan pak Irwanto dengan Kavi, Rio selaku asisiten Kavi memulai rapat hari itu, di mulai dari alasan Kavi mengadakan rapat, dan membicarakan bagaimana cara menaikkan reting salah satu acara yang di siarkan di saluran televisinya.
"Begini tuan, sedikit ada kendala di penayangan film bergenre romance itu, setelah kita melakukan penayangan di YouTube terlebih dahulu banyak yang mengecam film tersebut karena banyak adegan 18+nya, menurut netizen itu sama sekali tidak layak di tonton, apalagi di negara kita ini." Jelas salah satu produser yang menjalankan proyek film tersebut.
"Apa tidak ada cara lain agar film ini di terima, permasalahannya sudah banyak dana yang di gelontorkan dalam proyek tersebut." Ujar Kavi.
"Ada tuan, tapi adegannya banyak harus di cat, khususnya yang akan di tayangkan di saluran di negara ini, tapi untuk penayangan di luar itu tidak jadi masalah."
"Baiklah kalau begitu lakukan yang perlu di lakukan, dan upayakan agar tidak ada yang dirugikan dari pihak manapun." Seru Kavi.
"Baik tuan, tapi untuk memproduksi ulang film tersebut, karena ada beberapa adegan yang harus kita cut, itu sedikit ada dana tambahan." Ujar produser tersebut yang bernama Beni.
"Lakukan saja selama itu tidak merugikan." Seru Kavi.
"Insyaallah, menurut perhitungan dan survey sementara sepertinya tidak akan ada kerugian, melainkan ke untungan yang cukup." Jelas Beni.
Kavi menganggukkan kepalanya.
"Baiklah untuk hari ini rapat kita akhiri sampai disini, jika ada masalah di Devisi segera laporkan kepada maneger masing-masing atau langsung pada direktur." Jelas Rio menutup rapat tersebut.
...----------------...
"Sayang..." Panggil Kavi setelah masuk ke kamar, namun ia tak mendapati istrinya.
"Sayang, kamu dimana ?" Kavi kembali memanggil istrinya itu, sambil berjalan masuk ke dalam walk in closed untuk menyimpan tas dan jas yang ia gunakan.
"Sayang kamu disini ngapain ?" Tanya Kavi setelah mendapati istrinya duduk di sofa panjang yang ada di dalam sana sambil memperhatikan lemari yang menjulang dan berjejer itu.
"Mas, sepertinya aku pengen merenovasi walk in closed deh, aku ingin nanti kamar anak kita di sini." Jelas Kia mengamati ruangan yang penuh dengan tas, sepatu, sendal, pakaian, dasi, serta aksesoris miliknya dan Kavi, dan tentu saja semua itu dari berbagai brand ternama.
"Tapi sayang, bukannya ayah sudah menyiapkan kamar untuk baby kita nanti, dan itu tapat berada di sebelah kamar kita." Sahut Kavi ikut duduk di dekat istrinya sebelumnya ia memberikan kecupan di kening istri kecilnya itu.
"Tapi aku pengennya kamar anak kita di sini, dan dekorasinya harus berbau-bau otomotif." Ujar Kia.
"Sayang lebih baik jangan pikirkan itu dulu, kandungan kamu saja masih seumuran begini, bahkan kita belum tahu jenis kelaminnya apa." Ucap Kavi mengusap lembut perut Kia yang sudah sedikit membuncit.
"Tidak pokoknya aku mau kamar anak kita nanti aku yang desain sendiri, dan aku maunya bertema layaknya garasi motor." Pinta Kia tegas terdengar tak ingin dibantah.
"Tapi bagaimana kalau anak kita cewek, masa anak gadis kamarnya seperti itu, harusnya bertema princess dong." Ujar Kavi.
"Emangnya kenapa ? Aku juga cewek tapi suka main moge, gitu." Kesal Kia.
"Iya...Iya... Itu terserah kamu sayang, aku ikut saja." Ucap Kavi cepat saat melihat perubahan Kia yang mulai kesal.
"Bagus, sekarang mas lebih baik mandi, aku ingin elus kepala botak mas!" Seru Kia beranjak dari duduknya untuk mempersiapkan pakaian yang akan di gunakan Kavi.
Belum juga Kia berjalan, Kavi menariknya hingga Kia jatuh di pangkuan Kavi.
"Nanti aja sayang, aku kangen." Ujar Kavi memeluk erat pinggang Kia lalu mencium celuruk leher istrinya.
"Tapi mas, kamu bau, aku mual ciumnya." Ujar Kia berusaha melepaskan pelukan Kavi dari pinggangnya.
"Ok, tapi setelah aku mandi peluk-peluk ya." Pinta Kavi.
"Liat nanti ! Sana gih mandi !" Seru Kia kemudian beranjak dari pangkuan Kavi lalu berjalan ke arah lemari tempat pakaian Kavi.
"Ya sayang." Ucap Kavi lemas lalu berjalan keluar untuk menuju kamar mandi.
...Bersambung........
...Maaf ya readers baru bisa up, soalnya autor lagi gak enak badan, gak bisa up disini, latin hanya bisa up di DAMBAAN......
...JANGAN LUPA ...
...LIKE...
...KOMENTAR...
...VOTE...