Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 99 Season 3 ( Next Generasi )


Sudah seminggu Kavi berada di kota Z, selama itu juga ia terus mengawasi Kia diam-diam, bahkan tak jarang ia merasa terbakar api cemburu saat melihat kedekatan Kia dan Kemal.


Karena hari ini, hari minggu Raydan sudah pagi-pagi datang berkunjung ke rumah opa Salman untuk mengajak Kia joging ke taman kota, sebelumnya Raydan juga sudah janjian dengan Kemal tanpa sepengetahuan Kia.


"Ayolah Ki, temenin aku joging dong." Raydan terus membangunkan Kia yang masih malas untuk beranjak dari tempat tidurnya, Kia paling malas yang namanya joging, setiap weekend Kia biasanya menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan di tempat tidurnya.


"Apasih bang, gue males ah..." Ucap Kia kembali menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimutnya.


"Ckk, malas banget sih, ayo lah adekku sayang, kali ini temenin abangmu ini dong." Raydan tak menyerah Raydan kembali menarik selimut Kia.


"Apaansih bang, ganggu aja ih, kalauau pergi, ya pergi aja !" Kia sudah mulai kesal.


"Dekkl, ayo dong temenin Abang dong, pleaseee, atau aku terus menganggumu nih." Mohon Raydan kemudian mengancam di akhir katanya membuat Kia mau tak mau bangun, walaupun ia akan melanjutkan tidurnya tidak akan bisa karena pria menyebalkan di dekatnya itu akan terus merengek dan menganggunya sampai ia bangun.


"Ya sudah, sana keluar dulu, gue ganti baju dulu !" Seru Kia kesal kemudian bangun.


"Ok, aku kasih waktu sepuluh menit ok !" Ucap Raydan kemudian keluar dari kamar tersebut yang hanya dibalas anggukan oleh gadis yang masih bermuka bantal tersebut.


Setelah lima belas menit Kia baru turun menghampiri Raydan yang tengah duduk dimeja makan melihat Oma Vivian yang tengah sibuk mempersiapkan sarapan.


"Ayo buruan berangkat !" Ujar Kia berjalan lebih dulu keluar dari rumah.


"Kok kamu terlambat sih deh, tadi aku bilang sepuluh menit." Ucap Raydan ikut keluar sebelumnya ia pamit pada Oma Vivian sambil mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Terserah gue lah bang, lagian gue juga gak mau pergi, tapi Abang maksa sejak tadi, jadi gak usah ngeluh." Sahut Kia cuek.


Saat tiba di depan rumah Kia mengerutkan keningnya melihat mobil Raydan terparkir sudah siap untuk pergi.


"Kita naik mobil, katanya mau joging ?" Tanya Kia menoleh pada Raydan yang masih berada dibelakang, setelah sampai di dekat mobil Raydan.


"Iya, kita jongingnya di taman kota, jadi kita tidak mungkin kan lari dari sini kesana." Sahut Raydan kemudian berlenggak masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu, sedangkan Kia masih berdiri mematung.


"Dek, buruan naik gih, entar keburu siang !" Teriak Raydan dari dalam mobil, setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Lagian mau joging aja ribet amat sih, kenapa juga gak disekitar kompleks aja sih." Gerutu Kia masuk kedalam mobil Raydan sambil membanting pintu mobil kakak sepupunya itu, membuat laki-laki itu sedikit berteriak.


"Dek, kenapa mesti dibanting sih." Ucap Raydan sedikit kesal.


"Sorry." Sahut Kia dengan tampang watados ( Wajah tanpa dosa ).


"Kalau saja elo bukan adek gue, udah gue ceburin di sungai Amazon." Gerutu Raydan kemudian mulai menjalankan mobilnya. Sedangkan Kia hanya menaikkan kedua bahunya cuek mendengar gerutu Abang sepupunya itu.


Saat tiba di gerbang kediaman opa Salman, seorang security menjega mobil Raydan.


"Ada apa yang pak ?" Tanya Raydan setelah menghentikan mobilnya kemudian menurunkan kaca mobilnya sampai ia dan Kia terlihat jelas didalam mobil.


"Ini den, tadi ada seseorang mengantarkan ini, katanya ini buat neng Kia." Jelas pak satpam memberikan sebuket bunga mawar.


Raydan beralih menatap Kia, sedangkan Kia hanya diam sambil menaikkan kedua bahunya ia juga tak tahu siapa yang mengiringinya buket bunga mawar berukuran cukup besar itu.


"Pak apa bapak tau siapa yang membawa ini, atau apa ada pesan gitu ?" Tanya Raydan.


"Saya juga tidak tau den, saya hanya diberikan ini, tanpa pesan apa-apa, selain katanya ini untuk neng Kia." Jelas pak satpam tersebut kemudian memberikan buket bunga tersebut.


Raydan harus membuka pintu mobilnya untuk menerima bunga tersebut, karena jika hanya lewat jendela tidak akan muat, karena tau sendirilah kaca jendela mobil sport, lumayan kecil.


"Terimakasih pak, lain kali, jika ada seseorang mengirimkan paket, atau semacamnya bapak tanyakan terlebih dahulu, siapa pengirimnya, atau kalau tidak jelas jangan diterima aja ya pak." Ucap Raydan kembali menutup pintu mobilnya.


"Iya den." Sahut pak satpam tersebut.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya pak, Assalamualaikum." Ucap Raydan kembali menjalankan mobilnya.


"Gak usah dipikirin !" Seru Raydan memecahkan keheningan.


"Bang, kira-kira bunga itu dari siapa ya bang ?" Tanya Kia menatap lurus jalan di depannya.


"Dari penggemar rahasia kamu kali dek." Celetuk Raydan sekenanya.


"Ckk..." Kia berdecak mendengar jawaban dari Raydan yang tidak memuaskan baginya.


"Apa jangan-jangan....." Kia menggantung ucapanya membuat Raydan yang tadinya fokus pada jalanan di depannya, kini menoleh menatap Kia yang masih melihat kedepan.


"Jangan-jangan siapa ? Kemal." Tanya Raydan kemudian mencoba menebak.


"Bukan, tapi Om Kavi." Sahut Kia menoleh keoada Raydan, terlihat jelas raut kekhawatiran diwajahnya.


"Kenapa kamu mengira kalau itu dari om Kavi, bukannya dia sudah tak pernah lagi terlihat sejak kamu pindah kesini ?" Tanya Raydan.


"Abang salah ! Kemarin dia menemuiku di depan rumah, bahkan ia mengatakan kalau perasaannya masih sama, dan akan terus melakukan apapun sampai ia bisa mendapatkan ku, juga restu dari ayah." Jawab Kia.


"Sepertinya om Kavi, benar-benar mencintaimu dek, kenapa kamu gak mencoba aja menerimanya." Raydan mencoba memberikan usulan.


"Bang Raydan sudah gila apa, gue gak mungkin menerima pria seperti om Kavi, apa kata orang-orang nanti, masa gue pacaran sama om-om, yang ada nanti gue di bully, dan dikatakan perempuan yang tidak-tidak." Seru Kia sedikit kesal dengan usulan Abangnya itu.


"Apa salahnya sih, yang aku lihat om Kavi gak setua itu deh." Sahut Raydan membuat Kia semakin memberenggut kesal.


beberapa saat di dalam mobil menjadi hening, sampai Raydan kembali angkat bicara.


"Dek, aku boleh nanya gak ? Tapi kamu jawabnya jujur ya !" Ucap Raydan sejenak menoleh melihat adiknya itu kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya yang mulai macet.


"Apa emangnya ?" Tanya Kia cuek.


"Sebenarnya, kamu gak menaruh perasaan sedikitpun gak sih sama om Kavi, atau pernah gak di pikiran kamu memikirkan om Kavi, dalam artian layaknya kamu menyukai seorang pria ?" Pertanyaan Raydan membuat Kia diam beberapa saat, hingga Raydan kembali angkat bicara.


"Dek, jika kamu memiliki perasaan terhadap orang itu, coba katakan sejujurnya, jangan menyakiti atau menyiksa dirimu sendiri, aku tidak mau adik kesayangan ku ini mengalami hal seperti itu." Ucap Raydan lembut sambil mengusap pucuk kepala adiknya itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang kemudinya.


"Aku juga gak tahu bang, aku juga bingung, saat aku bertemu dengan Om Kavi jantung aku selalu berdetak lebih cepat, tapi jika aku mengingat perbedaan aku dan om Kavi apalagi ayah yang tidak menyukai om Kavi saat ini, aku selalu menolak untuk memikirkannya, bahkan aku ingin menjauhinya." Ucap Kia panjang lebar.


"Dek, sekali coba kau rasakan dan pikirkan secara baik-baik, coba kau buang pikiran kamu tentang perbedaan kamu dengannya, coba rasakan saat kamu bersamanya, dan bandingkan saat kau jauh dengannya, dan pikirkan saat dia bersama seorang wanita, dari situlah kamu akan tahu bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya." Ucap Raydan kembali ke jalan yang mengarah pulang kerumah.


"Kok kota putar balik sih bang, katanya kitaau joging ?" Tanya Kia.


"Jongingnya lain kali aja, sepertinya kamu butuh waktu memikirkan masalah kamu ini." Ucap Raydan.


"Tapi bang, aku rasa perasaan ini tidak ada apa-apanya, lagian aku tidak yakin dengan perasaanku dengan Om Kavi, lagian aku tidak akan pernah menentang keputusan ayah." Ucap Kia.


"Terserah kamu lah dek, yang jelasnya aku tidak mood lagi buat jonging, dan aku yakin kamu juga begitu." Sahut Raydan.


Kia hanya bisa terdiam sekarang, ia akan memilih diam saja, sesekali ia menoleh ke jok belakang melihat buket bunga yang pak satpam berikan tadi.


"Apa benar apa yang dikatakan bang Raydan, apa aku harus memikirkan lebih perasaan ini, tapi apa mungkin aku menyukai om Kavi, rasanya ini tidak mungkin, dan kalaupun itu benar, semuanya tidak akan pernah terwujud karena ayah tidak menyukai dan menyetujui hubungan itu." Kia membatin, yang mana membuatnya stres saja memikirkan permasalahannya yang sepertinya tak pernah selesai, selalu saja om Kavi, om Kavi, dan om Kavi, membuatnya lelah memikirkan itu.


Bersambung........


Maaf jika kata-katanya sedikit berantakan, soal panggilan Gue, loh, aku, kamu sengaja aku campur, karena memang begitulah cara Kia, dan Raydan berbicara, begitupun dengan Khay, jika sedang bersantai Akan mengunakan kata gue, loh tapi jika sudah cukup serius akan menggunakan aku, kamu......


Jangan lupa berikan dukungan Like Komen dan Vote, setelah membaca setiap episodenya.... Jangan lupa cerita baru aku yang akan rilis di diawal bulan Mey, yang berjudul DENDAM MEMBAWA CINTA.......


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...