
Malam harinya semuanya kembali berkumpul di hamparan pinggir pantai, sambil menikmati santapan makan malam mereka dan makanan penutup dan juga beberapa cemilan juga minuman kaleng, sampai ada juga beberapa jenis jus yang di peruntukan untuk ibu hamil dan ibu menyusui seperti Diva dan Vara.
Mereka mendirikan sebuah tenda yang cukup besar di pinggiran pantai, yang tak jauh dari resort tempat mereka menginap.
"Selamat ya Nan, om sangat bangga terhadapmu, dengan hasil pencapaian kamu saat ini, bahkan kamu lebih hebat dari ayahmu." Ucap Pak Regan memuji pencapaian Kenan.
"Itu semua berkat dukungan dari orang terdekat Om, dan mungkin saja aku tidak bisa seperti sekarang tanpa ada Ayah yang memulai pondasi kuat untukku." Ucap Kenan sedikit merendah.
"Arka apa kamu sudah siap menggantikan ayah ?" Tanya Pak Fikram kepada Arka.
"Tapi Yah, aku masih butuh banyak belajar, Lagian aku baru saja lulus kuliah." Tukas Arka.
"Kenan aja baru lulus SMA bisa ! Apa kamu tidak kasian melihat ayahmu yang sudah tua ini masih bekerja ?" Ucap Pak Fikram sedikit Drama.
"Kok tumben ayah ngatain diri sendiri Tua, biasanya juga enggak mau di sebut tua." Ujar Arka.
"Bener tu kak, biasanya Ayah suka bilang gini, Aku belum tua yah, aku masih umur empat puluhan, mana ada tua umur segitu." Diva ikut menimpali.
"Pokoknya ayah enggak mau tau, ayah sudah tak ingin lagi bekerja, aku mau kembali masa pacaran ayah sama bundamu, sama halnya dengan Om Salman sama Tante Vivian, pokoknya TITIK." Ucap Pak Fikram menegaskan kepada Arka.
"Sama Fik, aku juga ingin menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepada Ray, aku juga masih ingin pacaran sama istriku, siapa tau aja Ray di berikan adik." Timpal Pak Regan.
"Jadi ceritanya para orangtua mau pacar-pacaran, lalu tanggung jawab kalian di serahkan ke kami, apa kalian pikir kami juga tidak butuh pacaran dengan istri kami." Ujar Ray.
"Ya seperti itu." Sahut Pak Regan langsung merangkul pundak istrinya.
Dan yang lainnya tertawa bersama, Pak Salman hanya bisa tertawa melihat tingkah kocak kedua sahabatnya yang irih dengannya yang sudah pensiun dari pekerjaan ia hanya mengurus perkebunan, dan itupun hanya sesekali ia cek. Bahkan Pak Regan sudah membeli rumah di kota Z agar bisa sering berkumpul dengan kedua sahabatnya yang menetap di kota tersebut.
"Ya sudahlah Kak, Ray terimah ajalah ! Apa kalian tidak kasihan melihat para ABG itu, yang ingin sekali pacaran, apa kian enggak bersyukur kalau memiliki adik lagi, kalau aku sih pengen banget punya adik." Ujar Kenan.
"Kamu beneran Nan, pengen punya Adik ?" Tanya Pak Salman.
"Pengen yah, tapi adik dari baby Khay." Ucap Kenan santai sambil tersenyum, tapi dari perkataannya tersebut lagi-lagi ia mendapat hadia cubitan di bagian pinggangnya dari sang istri tercinta.
"Astagafirullah yank, nikmat sekali cubitannya, sampai-sampai pinggang aku mau copot rasanya, saking nikmatnya cubitan yang kamu berikan yank." Ucap Kenan sedikit meringis sambil mengusap-usap pinggang yang lagi-lagi dapat cubitan.
"Jangan lebay ! Makanya jangan ngasal aja tuh mulut, kamu enggak liat baby Khay belum cukup setahun, pengen adik baby Khay lagi, empuk bener ngomongnya." Omel Diva.
"Sudah-sudah lebih baik sekarang kita masuk, ini sudah sangat larut, tidak baik buat anak kecil seperti mereka terlalu lama di luar apalagi di pinggir pantai seperti ini." Lerai Bunda Vivian.
Semuanya pun pada menurut dengan ucapan Kanjeng mami, para bapak-bapak muda bertugas untuk membereskan sisa-sisa makanan mereka dan tempat ia mendirikan tenda supaya di bersihkan kembali.
Saat Kenan akan membuang sampah pada tempat sampah yang berjarak sekitar 10 meter tempatnya tadi mendirikan tenda, ia melihat sosok bayangan di belakangnya, saat ia menoleh ia tak melihat siapapun di sana. Kenan segera membuang sampahnya pada tempatnya, lalu segera meninggalkan tempat tersebut, saat hampir sampai di mana Arka, Ray, juga Rafa berdiri menunggunya, tiba-tiba ada yang melemparnya, dan mengenai keningnya hingga membuatnya berdarah.
Arka, Ray, juga Rafa yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri Kenan, lalu melihat-lihat di sekeliling tempat tersebut, tapi lagi-lagi tak ada siapapun di sana.
"Siapa yang berani melakukan ini Nan ?" Ucap Arka.
"Aku enggak tau juga kak, tadi pas aku mau buang sampah aku merasa juga ada yang mengikutiku." Ujar Kenan menyekah darah di keningnya.
"Apa jangan-jangan, wanita yang kau maksud ?" Tebak Rafa.
"Maksudmu Calista ?" Ray mencoba memperjelas tebakan Rafa.
"Iya, mungkin saja ia mulai bergerak, dan mulai meneror keluarga mu Nan." Ucap Rafa.
"Bisa jadi seperti itu, baiklah kita masuk saja, dan tolong jangan ada yang memberitahukan Diva soal masalah ini, aku tidak mau dia kepikiran dan bertindak sesukanya, tahu sendirikan Diva bagaimana !!" Ucap Kenan.
"Tapi bagaimana kalau dia bertanya soal luka kamu itu, itu tidak mungkin bisa di sembunyikan." Sahut Arka.
"Soal ini, biar aku aja yang urus kak."
"Baiklah ayo masuk !" Ke empat pria tersebut pun masuk ke resort, dengan mimik wajah biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apapun.
"Nan, kening kamu kenapa ?" Tanya Bunda Vivian khawatir saat melihat kening Kenan berdarah.
"Oh, ini tadi ada anak-anak yang melempar batu, dan tidak sengaja mengenai kening aku Bun saat aku sedang membersihkan tempat kita tadi." Jelas Kenan beralasan.
"Anak-anak ? Tapi sedari tadi bunda enggak liat ada anak-anak di sekitar resort." Ucap Bunda Vivian.
"Mungkin juga mereka baru datang atau bagaimana Bun, soalnya tadi mereka bermain tak jauh dari tempat kita tadi." Tukas Kenan.
"Bun, Diva mana ?" Tanya Kenan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah masuk kamar, mau nidurin baby Khay, masuk gih ! Kamu obati tuh luka kamu, nanti jadi infeksi kalau di biarkan saja." Seru Bunda Vivian.
Kenan dan kawan-kawan pun pamit ke kamar masing-masing, sedangkan yang lainnya sudah dari tadi masuk kamar untuk beristirahat, karena besok mereka sudah harus cekout untuk kembali Karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal lama.
Kenan masuk ke kamar dengan gerakan sangat pelan saat melihat Diva berbaring membelakangi pintu kamar, Kenan mengira kalau Diva sudah tertidur. Kenanpun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, tapi baru saja ia ingin memutar knop pintu, tiba-tiba Diva bersuara.
"Ngapain ngendap-ngendap by', kayak mau maling aja!" Seru Diva melepaskan sumber Asi baby Khay, lalu terbangun dan menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur.
"Aku kira kamu sudah tidur Yank, makanya aku ngendap-ngendap, takut ganggu kalian." Ujar Kenan membalikkan badannya menghadap Diva.
"Tuh kening kamu kenapa ?" Tanya Diva.
"Tadi di luar enggak sengaja terkena lemparan batu anak-anak, saat membersihkan tempat kita ngumpul tadi yank." Jelas Kenan kembali berbohong.
"Sini aku obati dulu ! Diva segera beranjak dari tempat tidur membuka laci nakas mencari kotak P3K.
"Aku mandi dulu yank, badan aku sudah lengket banget." Ucap Kenan dan langsung di angguki Diva.
Setelah 10 menit Kenan keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, ia langsung menghampiri Diva yang sedang memainkan ponselnya sambil bersandar di kepala tempat tidur, lalu Kenan duduk di pinggiran tempat tidur. Diva meletakkan ponselnya di atas nakas lalu mengambil kotak P3K yang dari tadi ia siapkan di dekatnya.
"Sini by', aku beri obat kening kamu !" Diva membuka kotak tersebut lalu mengambilkan obat jenis salep juga sebuah plester luka, lalu membantu Kenan memakainya.
"Terimakasih Istriku sayang" Ucap Kenan lalu memeluk Diva.
"Sudah pakai baju sana !" Diva melepaskan pelukan Kenan.
"Enggak perlu yank, entar di buka lagi kok." Kenan menelusupkkan wajahnya di leher Diva sambil menciuminya.
"Yank, entar baby Khay bangun loh, dia enggak tidur di box." Diva mendorong bahu suaminya.
"Kita pindah yuk di sofa." Kenan langsung mengangkat Diva tanpa aba-aba terlebih dahulu, membuat Diva sedikit berteriak, lalu Kenan langsung membungkam mulut Diva dengan bibirnya.
Malam itupun menjadi malam yang menggairahkan bagi pasangan tersebut.
Bersambung.....
Budayakan Like, Komen, dan Vote setelah membaca setiap episodenya.
Lanjut juga membaca karya aku lainnya.
Atau klik langsung profil Author.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️