Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 83


Malam hari, Tepatnya Saat Diva baru menyelesaikan sholat Magrib, tiba-tiba pintu ruangan Kenan terbuka, dan ternyata itu Ayah Fikram, Bunda Hani, Dan juga Bunda Vivian mengunjungi mereka.


"Ayah, Bunda, bukannya besok pagi baru kalian akan kesini ?" Tanya Diva menghampiri kedua orangtuanya dan mencium punggung tangan keduanya, tidak lupa juga mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Iya, tadi Bunda Vivian ingin membawakan makanan yang kamu mau, jadi sekalian aja Ayah sama Bunda ikut." Terang Bunda Hani.


Orangtua Diva langsung duduk dikursi, sedangkan Bunda Vivian menata makanan yang ia bawah dari apartemen, tentu saja itu makan yang di inginkan Diva, yaitu nasi uduk.


Kenan masih menunaikan sholat magrib, di atas brangkarnya, dengan cara duduk, karna ia tidak memungkinkan untuk berdiri, karena ada selang infus di punggung tangannya.


Setelah menunaikan sholat, Kenan segera beranjak dari brangkarnya, sambil mengeret tiang infusnya, menghampiri kedua mertuanya di sofa.


"Apa kabar Yah, Bun ?" Tanya Kenan kepada mertuanya sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Kami baik." Jawab Ayah Fikram.


"Bagaimana keadaan kamu Nak ?" Tanya Bunda Hani saat Kenan sudah duduk di sofa tunggal di depan mereka.


"Seperti yang Bunda sama Ayah liat, sekarang saya sering mual, dan demam tinggi, nafsu makan juga berkurang !" Jawab Kenan.


"Terus apa kata Dokter, soal ini ?" Tanya Ayah Fikram.


"Itu karena efek dari kemo Yah, hal seperti ini masih efek permulaan, dan mungkin juga nanti akan mengalami kerontokan pada rambut." Jawab Kenan menjelaskan.


Kenan yang melihat Diva di ruang makan sedang makan sampai sesekali terlihat Bunda Vivian menyuapinya.


"Kamu kenapa, Mau makan juga ?" Tanya Bunda Hani saat melihat Kenan terus memperhatikan Bunda dan Istrinya.


"Tidak Bun, itu Diva makan apa ?" Tanya balik Kenan.


"Oh ... Itu Diva makan nasi uduk." Jawab Bunda Hani.


"Nasi uduk, apa kalian yang membawanya ?"


"Bukan, itu Bunda kamu yang buat, Diva yang memintanya, katanya pengen banget makan nasi itu." Terang Bunda Hani.


Kenan terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melihat Diva makan dengan disuapi oleh Bunda Vivian, dengan tatapan sendu.


Bunda Hani yang melihat perubahan wajah menantunya itu mengernyitkan keningnya.


"Nan, kamu nggak apa-apa Nak ?" Tanya Bunda Hani lembut.


"Kenan tidak apa-apa Bun."


"Bun, Maafin Kenan ya, saya sebagai suami tidak bisa memenuhi keinginan Diva yang sedang hamil." Ujar Kenan menundukkan wajahnya.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ini semua cobaan buat rumah tangga kalian, dan untuk memenuhi keinginan istri kamu, Bunda rasa apa yang telah kau lakukan dulu, itu sudah cukup, kamu adalah suami yang sangat bertanggung jawab." Ucap Bunda Hani mencoba memberi pengertian untuk Kenan yang merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi yang di inginkan Diva.


"Benar yang di katakan Bunda kamu, kamu tidak boleh selalu merasa bersalah seperti itu, sekarang yang perlu kamu pikirkan, adalah kesembuhan kamu, berjuang demi istri, anak dan keluarga kamu." Ayah Fikram ikut menasihati menantunya it.


"Jika tiba saatnya nanti kamu di nyatakan sembuh, kamukan bisa membayar keinginan Diva saat ini, dengan membahagiakan nya dan juga anak kalian nantinya." Tambah Ayah Fikram.


Kenan terdiam mencerna apa yang di katakan oleh kedua mertuanya, dan benar yang di katakan Ayah Fikram, jika dia sembuh nanti, Kenan berjanji pada dirinya sendiri, akan membahagiakan Diva dan juga anaknya, dan berusaha memberikan apa yang di inginkan mereka, walaupun harus menukar dengan nyawanya sendiri.


"By', kenapa di sini, Kenapa tidak di tempat tidur ?" Tanya Diva membuyarkan lamunan Kenan.


"Eh ... Yank, ada apa ?" Tanya Kenan balik, tanpa menjawab pertanyaan Diva.


"Kamu mikirin apa sih by', aku tanya malah balik bertanya ?" Ujar Diva jengah kemudian mendudukan dirinya di samping sofa yang sedang di duduki Kenan sambil merangkul bahu suaminya itu.


"Tidak mikirin apa-apa, emangnya tadi kamu nanya apa, Hemmm ?" Kenan sedikit memutar badannya kearah Diva kemudian menarik gemas hidungnya.


"Aku tanya, Kenapa di sini ?" Diva kembali ke pertanyaan awalnya.


"Oh ... Aku bosan di tempat tidur terus yank, rasanya punggung aku panas berbaring terus." Terang Kenan.


"Ya sudah kamu makan dulu by' !" Ujar Diva beranjak untuk mengambil makanan Kenan yang di antar pihak rumah sakit. Karena untuk makanan pasien di rumah sakit, sudah diatur oleh pihak rumah sakit, sesuai dengan penyakit yang pasien derita, dan tentu saja dengan dokter ahli gizi yang mengaturnya.


Saat ini Diva sedang duduk bersandar di sofa tunggal samping sofa yang Kenan duduki, Diva merasa jika perutnya agak keram, Sedangkan Kenan sibuk dengan makanannya.


"Assalamualaikum." Ucap Jova, kemudian menyalimi tangan para orang tua, dan tidak lupa cipika-cipiki dengan Diva, walaupun Diva merasa risih dengan hal seperti itu.


"Kamu apa kabar ?" Tanya bunda Hani saat Jova sudah ikut duduk.


"Alhamdulillah saya baik Bun." Jawab Jova.


"O iya Bun, Dede bayinya kenapa nggak di bawah sekalian !" Ujar Jova. Yang dimaksud Dede bayi adalah anak dari Arka dan Vara, perlu di ingat lagi jika Jova bersaudara dengan Vara istrinya Arka.


"Belum bisa di bawah jauh-jauh Jov, usianya baru seminggu, apalagi jika harus naik pesawat." Sahut Bunda Hani.


"Sayang banget Bun, saya sudah gemes banget soalnya kemarin kak Vara ngirim fotonya saat baru lahir." Jelas Jova kembali membayangkan wajah ponakan tampannya, sambil menghentakkan kakinya, karena gemas.


"Woi Jov, kalau mau ribut dan juga lebay jangan di sini, pulang Sono lu !" Sahut Diva melempari sahabatnya itu dengan bantal sofa.


Diva nggak habis pikir kenapa sahabatnya ini selalu saja bertingkah hebo, dan lebay, sudah tinggal di negara orang masih saja lebaynya nggak ketulungan, malahan makin menjadi.


"Maaf Bumil." Ucap Jova menampilkan cengirannya.


"Dari mana lu tau, kalau gue hamil ?" Tanya Diva menaikkan kedua alisnya.


"Calon emak bar-bar, masih nanya lagi, anak SD juga tau lu hamil kalau liat perut buncit." Sahut Jova menunjuk perut Diva dengan dagunya.


"Emangnya sudah kelihatan banget ya.?" Tanya Diva.


"Emangnya kenapa kalau sudah kelihatan yank, kamu tambah seksi tau kalau perut kamu buncit seperti itu.!" Kenan ikut menimpali saat selesai makan.


"Emang ya, susah kalau sudah bucin, orang bentukan seperti cacingan aja di bilang seksi !" Cibir Jova.


"Elu berani ngatain gue cacingan !" Geram Diva menatap Jova dengan sorot mata tajam, seolah akan menelan hidup-hidup Sahabatnya itu.


"Hehehe, becanda kali Div, serius amat, amat aja tidak seserius itu." Jova cepat-cepat menampik senyum terbaiknya, sebelum singa bunting itu mengamuk.


"Tuh kan sampai lupa tujuan gue kesini." Ucap Jova menepuk keningnya, setelah sedikit hening karena Diva benar-benar melempar Jova kembali dengan bantal sofa dengan cukup keras, dan mengenai wajah gadis tersebut sehingga membuat wajahnya sedikit memerah.


"Emangnya tujuan elu kesini apa ? Kalau hanya pengen numpang makan, sorry di sini tidak ada makanan gratis.!" Ujar Diva masih kesal.


Diva sekarang lebih sensitive, semenjak ia hamil, mungkin pengaruh hormonal, tidak seperti biasanya, mau sahabatnya mengatainya seperti apa juga dia tidak pernah menanggapi.


"Div, segitunya lu sama sahabat cantik kamu ini, emang tampang gue, tampang pengen minta makan ya ?" Tanya Jova.


"Iya, kamu kan mahasiswi yang jauh sama orangtua, apalagi kalau tanggal tua seperti sekarang, biasanya mahasiswi perantauan suka gitu, minta makan jika ada saudara yang berkunjung di tempat ia merantau." Ucap Diva menjelaskan panjang kali lebar.


"Tau aja lu Div." Sahut Jova.


"Gue kesini mau jenguk laki elu, tapi kalau ada makanan ya sekalian, toh mumpung gratis juga, betul kan Tante, Bun." Ujar Jova kemudian beralih meminta pembelaan kepada Para Bunda, Dan hanya mendapat anggukan dari kedua.


Sedangkan Ayah Fikram mengobrol dengan Kenan membicarakan soal bisnis.


Ayah Fikram selalu seperti itu jika bertemu dengan Kenan pasti yang mereka bahas tidak pernah jauh dari kata BISNIS, walaupun Kenan masih sangat muda, tapi dia memiliki skil berbisnis yang bagus, dan hal itu membuat Ayah Fikram merasa nyambung dan cocok, hanya saja Kenan terlalu kaku.


Bersambung......


Maaf Jika Alurnya sedikit nggak nyambung, dan belepotan, soalnya aku nggak bisa konsentrasi buat nulis Karena anak aku lagi sakit, di tambah harus merubah alur yang sudah aku buat, karena memenuhi permintaan para readers untuk membuat Kenan tetap hidup.


***Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian** LIKE


COMENT


VOTE


Maaf jika masih banyak typo


SARANGHEO ❤️❤️❤️


KAMSAHAMIDA 🙏🙏🙏🤗🤗🤗*