Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 64 Season 3 ( Next Generatoin )


Setelah sampai kamar, Enzy ngedumal entah apa yang ia katakan, Enzy sangat kesal melihat sikap Clarie pada suaminya, saat sedang asik menyiapkan pakaian Khay tiba-tiba lengan kekar melingkar di pinggangnya, membuat Enzy terlonjat kaget, karena tak mendengar Khay masuk ke kamar.


"Ngapain ikut kesini, temani aja tuh teman kamu !" Imbuh Enzy kesal.


"Aku mau nemenin istri aku, sepertinya dia lagi kesal, lebih tepatnya cemburu." Ucap Khay mencium tengkuk Enzy.


"Gak perlu, aku gak butuh di temenin, dan jangan terlalu percaya diri, aku sama sekali tak cemburu." Ucap Enzy melepaskan pelukan Khay dari pinggangnya, lalu berjalan ke arah Sofa.


"Sayang, masa kamu engga ingat dia sih, dulu dia juga sering ke kota Z, bahkan pernah juga sampai beberapa kali kerumah kamu loh, sa orangtuanya juga." Seru Khay mendekati Enzy lalu duduk di hadapan istrinya itu sambil berlutut di depannya, memegang kedua tangan wanita yang ia cintai itu.


Sedangkan Enzy mengerutkan keningnya, Enzy benar-benar tak mengenal dan mengingat gadis yang bernama Clarie itu.


"Kamu lupa sama gadis kecil yang selalu centil dan cerewet, bahkan dia pernah kecebur di kolam renang di rumah kamu, sampai harus dirawat di rumah sakit, karena Nendra tak sengaja mendorongnya." Ujar Khay mencoba mengingatkan istrinya itu.


"Dia anaknya aunty Jova dan uncle Noval ?" Tanya Enzy terkejut, ia tak menyangka gadis kecil yang sangat centil itu tumbuh menjadi gadis yang cantik dan modis seperti Clarie yang sekarang.


"Iya, sekitar dua minggu lalu, ia balik ke kota Z mengunjungi kakek neneknya yang ada disana, sebelum ia balik ke Singapore ia sengaja mampir kesini, karena kebetulan aku, Kia dan si kembar, memang sangat dekat dengannya. makanya ia mampir kesini untuk beberapa hari." Jelas Khay.


"Tapi....." Enzy menghentikan ucapannya, ia memutuskan untuk tidak mengatakan ini, tapi bukan Khay namanya jika tak bisa membuat istrinya itu mengatakannya.


"Tapi apa, Hem ? Kamu cemburu ?" Tanya Khay lalu mencoba menebaknya.


"Siapa yang cemburu." Sahut Enzy memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Pasti cemburu, iya kan ? Akui sajalah, sayang ! Aku malah seneng kalau kamu cemburu, berarti kamu benar-benar sayang dan cinta sama aku." Goda Khay meraih wajah istrinya itu lalu menagkupnya.


"Ishh...Aku bilang aku gak cem..." Ucapan Enzy terhenti saat Khay tiba-tiba membungkam mulutnya dengan mendaratkan ciumannya di bibir seksi milik istrinya itu yang selalu menjadi candunya.


"Ya sudah, tapi apa kalau kamu tidak cemburu ?" Khay kembali menanyakan, setelah melepaskan ciumannya.


"Tapi.... Enzy masih ragu mengatakannya.


"Tapi apa sayang, jangan buat aku penasaran dong !" Mohon Khay masih berlutut di depan Enzy.


"Tapi, sepertinya Clarie menyukaimu." Ucap Enzy menatap mata suaminya.


"Sayang, jujur ya, karena aku tidak ingin menyembunyikan apapun padamu, dia emang pernah menyatakan perasaannya padaku, saat tahun lalu ia kesini bersama aunty Jova dan uncle Noval, tapi aku menolaknya, karena aku hanya menganggapnya sebagai adikku, sama halnya dengan Kia, si kembar, Zian (Anak dari pasangan Kiki dan Dafa ), dan...." Khay menjeda ucapannya memperhatikan mimik wajah Enzy, apakah dia harus meneruskan atau tidak, namun dilihat dari ekspresi Enzy, akhirnya Khay memutuskan untuk meneruskan.


"Dan kamu." Lanjut Khay membuat Enzy membuka matanya lebar-lebar, karena kaget mendengar bahwa dia juga salah satu yang di anggap Khay sebagai adiknya.


"Dengarkan aku dulu sayang ! Aku belum selesai." Ujar Khay melihat perubahan wajah istrinya itu, Khay tahu kalau istrinya mulai berpikiran yang tidak-tidak, karena ucapannya barusan.


"Tapi sekarang aku mencintaimu bukan lagi seperti adikku, tapi aku menyukai dan sangat mencintaimu, sebagai wanita yang kini menjadi istriku." Jelas Khay.


"Apa benar yang kamu katakan itu ?" Tanya Enzy memastikan.


"Iya sayang, jika memang aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku selalu bersabar dan berusaha membuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu saat kamu membenciku dulu." Sahut Khay.


"Aku juga mencintaimu." Ucap Enzy lalu memeluk leher Khay yang masih berlutut didepannya, begitupun Khay membalas pelukan istrinya itu.


"Sayang, aku bau loh, belum mandi." Ucap Khay.


Enzy langsung melepaskan pelukannya.


"Ya sudah mandi sana, aku juga sudah menyiapkan pakaian kamu." Seru Enzy.


"Khay..." Panggil Enzy lalu menghampiri Khay yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Apa sayang, mau ikut mandi ?" Tanya Khay menggoda.


"Ishhh, bukan itu ! Nanti setelah kita makan malam, kita pulang ke apartemen ya." Pinta Enzy.


"Kenapa harus pulang sayang, apa kamu tidak nyaman berada disini, bunda kangen sama kamu loh sayang." Ujar Khay.


"Aku tahu itu, tapi ada deh pokoknya, malam ini kita pulang, besok baru kita nginap, bagaimana ?" Imbuh Enzy memelas.


"Ya sudah, terserah kamu aja sayang, nanti kita tanya pada yang lainnya ya." Ucap Khay lembut.


"Iya, ya sudah sana mandi, yang lain mungkin sudah nungguin kita, terutama tuh si centil, pasti dia udah nungguin kamu banget." Imbuh Enzy sebenarnya ia tak menyukai Clarie setelah tau ia pernah mengutarakan perasaan sukanya pada suaminya itu.


"Tidak ada yang cemburu, aku tidak suka aja sama sikapnya ke kamu." Sargah Enzy lalu menjauh dari sana. Sedangkan Khay hanya tersenyum lalu geleng-geleng kepala melihat istrinya yang terlalu gengsi mengakui perasaan cemburunya.


...----------------...


Setelah melakukan sholat magrib berjamaah, dan kali ini Khay menjadi imamnya, membuat Enzy merasa bangga mendengar suara merdu suaminya saat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Semuanya berkumpul di meja makan, tak terkecuali Clarie yang mengambil temoat duduk di sebelah kiri Khay, sedangkan Enzy di sebelah kanan Khay, Enzy yang melihat itu membuat moodnya sedikit hancur, namun sebisa mungkin tak menampakkan di depan kedua mertuanya juga adik iparnya.


"Ini dia kuenya." Seru Diva keluar dari arah dapur sambil membawa sebuah kue tar blakporest salah satu kue kesukaan Khay.


"Wah...."Seru semua orang yang ada dimeja makan kecuali Kenan yang stay cool melihat kebahagiaan seluruh keluarganya.


"Aku membuatnya sendiri kali ini." Ucap Diva kemudian duduk di dekat samping Kia.


"Terimakasih bunda." Ucap Khay penuh haru kepada wanita yang telah melahirkan dan merawatnya penuh dengan kasih sayang, hingga ia sebesar ini.


"Iya sayang, sama-sama." Sahut Diva tersenyum.


"Selamat ulangtahun bangkhay." Seru Kia.


"Emm, makasih." Sahut Khay sedikit kesal karena panggilan Kia untuknya.


"Sekarang kamu sudah berusia 19 tahun, tapi kamu masih terlihat sangat muda bahkan lebih tampan dari biasanya." Ucap Clarie menimpali.


"Kamu benar Cla." Sahut Diva membenarkan perkataan Clarie tak menyadari raut wajah menantunya yang berubah kesal, namun masih bisa ia tutupi dengan senyuman palsunya, yang dibuat semanis mungkin.


"Enzy sayang kamu tak ingin mengucapkan apapun buat suamimu itu ?" Diva beralih pada menantunya itu.


"Iya bunda, saya hanya berharap semoga Khay selalu diberi kesehatan, umur dan panjang, dan keberhasilan dimasa depan, dan bisa menjadi suami yang bertanggung jawab seperti ayah." Ucap Enzy.


"Satu lagi, semoga Khay tak pernah merubah sikapnya terhadapku karena dia sudah menikah." Timpal Clarie tak tahu malunya langsung merangkul lengan Khay yang berada di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


"Cla ! Jangan bersikap seperti ini ! Bukannya aku sering katakan jaga batasanmu, dan ini terakhir kalinya kamu bersikap seperti ini padaku." Seru Khay mulai geram apalagi melihat perubahan sikap dan ekspresi istrinya.


Clarie menarik dirinya kembali, dan membenarkan posisi duduknya.


"Khay, karena ini hari ulang tahunmu, segara mulai makan malamnya, dan potong kuenya, ayah sudah sangat lapar, sejak tadi menunggu." Ucap Kenan, memecahkan keheningan yang sejenak diruangan itu.


"Iya yah." Sahut Khay lalu mengabil pisau untuk memotong kuenya, sebelum ia memotong kue Khay kembali berucap.


"Ngomong-ngomong, kali ini aku akan memberikan potongan pertama buat seorang wanita yang aku cintai, wanita yang kini menjadi istriku, Bunda tidak apa-apakan?" Ujar Khay lalu meminta persetujuan bundanya.


"Ya gak apa-apalah bang, mulai sekarang dan seterusnya emang itu yang harus kamu lakukan, dan jadilah suami yang selalu mendahulukan istrimu dan bertanggungjawab penuh padanya." Ucap Diva tersenyum manis khas wanita paruh baya itu.


"Terimakasih Bun untuk itu, dan juga terimakasih karena telah berkorban mengandungku hingga melahirkan ku, memberiku kasih sayang yang tak terhingga menjaga dan membesarkan ku tanpa kenal lelah hingga aku bisa seperti sekarang ini. Mungkin semua itu aku tidak bisa membalasnya dengan apapun, tapi aku janji, tidak akan pernah mengecewakan bunda, dan membuat bunda bahagia dan bangga karena telah melahirkanku." Ucap Khay dengan mata berkaca-kaca, kemudian beralih pada ayahnya, ayah yang sangat ia cintai ayah yang selalu sabar menghadapi kemanjaannya.


"Ayah, terimakasih, karena kalau bukan ayah aku mungkin tak akan berada di tengah-tengah kalian saat ini, terimakasih karena ayah selalu menjaga dan menyayangiku, bahkan kami semua, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kami semua, terimakasih atas semua bimbingan, dan pelajaran yang selalu ayah ajarkan kepadaku, agar menjadi pria yang berguna dan bertanggungjawab, dan membanggakan keluarga." Ucap Khay, ia sudah tak bisa lagi menahan air matanya, namun bukan air mata kesedihan namun kebahagiaan, Khay benar-benar merasa sangat beruntung memiliki orangtua seperti Diva dan Kenan.


"Aku benar-benar beruntung telah menjadi anak kalian." Ucap Khay serak karena tangisannya.


Diva yang melihat putranya menangis seperti itu dan mendengarkan semua ucapan pria muda didepannya itu ikut menangis, Sedangkan Kenan hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, takut ia tak bisa membendung air matanya.


Enzy mengusap punggung suaminya itu, lalu menariknya masuk kedalam pelukannya.


Setelah beberapa menit berada dalam keharuan, Khay mulai memotong kuenya dan memberikan suapan dan potongan pertama pada istrinya tercinta.


"Terimakasih karena sudah mau menerima dan mencintaiku, dan aku janji akan berubah lebih baik lagi." Ucap Khay memberikan potongan pertama kue tersebut.


"Iya sama-sama, terimakasih juga karena sudah mau menerima dan mencintaiku dengan tulus, dan selalu bersabar dengan sikap keras kepalaku, ke angkuhan dan kadang juga sikap kekanak-kanakan ku." Sahut Enzy menerima suapan dan potongan kue dari suaminya.


Kemudian Khay memberikan masing-masing potongan kepada kedua orangtuanya, sedangkan untuk Kia dan Clarie, Khay menyuruh keduanya untuk mengambil sendiri jika mau.


Bersambung......


Jangan lupa terus berikan dukungan like, Komen, dan vote sebanyak-banyaknya, karena author Sangat berharap mendapatkan dukungan yang lebih dari readers, karena dukungan kalian membuat authornya bersemangat buat up, dan seakan pikiran terbuka melihat dukungan dari kalian semuanya.


Maaf jika alurnya masih ambur adul....


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏