
Saat Enzy membuka pintu saat itu juga Khay akan keluar.
"Kamu ?" Ucap Enzy terkejut melihat keberadaan Khay di sana.
"Kenapa kau sekaget itu melihatku ?" Tanya Khay mengerutkan keningnya.
"Tidak... Tidak apa-apa." Jawab Enzy gugup, kemudian menutup pintunya kembali.
"Ini untukmu !" Enzy mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Khay.
Khay tak langsung menerimanya, ia semakin bingung melihat sikap Enzy yang tiba-tiba berubah.
"Aku habis dari rumah Rendra dan Nendra, mereka menceritakan semuanya." Jelas Enzy karena melihat kebingungan Khay yang tiba-tiba ia memberinya bingkisan.
"Nih ambil !" Enzy memberikan langsung bingkisan itu ke tangan Khay.
"Em.... Maafkan aku karena sudah melakukannya." Ucap Khay memeriksa isi bingkisan itu.
"Apa kamu salah bicara ? Kenapa juga kamu harus meminta maaf karena itu, harusnya aku yang....yang...." Enzy merasa canggung untuk bilang maaf kepada Khay.
"Yang apa, sayang maksud kamu ?"Tanya Khay berniat menggoda Enzy, sambil tersenyum.
"Bukan ! Maksudku bukan itu, maksudku aku yang harusnya berterimakasih padamu, karena telah merawatku." Ucap Enzy.
"Lalu, aku harus apa ? Dan apakah aku harus meminta sesuatu darimu, karena sudah merawatmu ? Perlu aku tekankan kalau kamu jangan salah artikan kebaikan aku itu, aku melakukannya karena aku tidak mau sakit kamu bertambah parah, sehingga kamu harus dirawat dirumah sakit, pada akhirnya ayah sama bunda akan tahu, dan aku pasti akan mendapatkan kemarahan dari mereka, karena aku disangka lalai menjagamu." Jelas Khay.
"Tak peduli seberapa besar kita saling membenci, aku tidak bisa hanya diam melihatmu seperti kemarin, karena biar bagaimanapun kamu itu istri aku sekarang, jadi aku harus bertanggungjawab atas dirimu karena sekarang aku adalah suamimu, walaupun kamu tidak pernah ingin dengan status kita sekarang ini." Tambah Khay sedikit kesal karena Enzy sama sekali melihat niat baiknya sedikitpun, bahkan Enzy memberinya bingkisan karena merasa harus membalasnya, yang dipikiran Khay saat ini, itu Enzy lakukan karena hanya berbalas Budi, Enzy tak melihat apa yang Khay lakukan semata-mata karena ia sebenarnya mulai menyukainya.
"Apa yang kamu sampaikan barusan, membuatku menjadi wanita yang tak tau terimakasih." Ucap Enzy.
"Bukannya kamu emang seperti itu, jadi kamu tidak perlu lagi mengatakannya." Sahut Khay.
"Apa kau sedang mempermainkan ku sekarang, hah ?" Seru Enzy mulai tersulut emosi.
"Apa kau merasa dipermainkan ?" Tanya Khay kemudian berbalik badan ingin segera masuk kembali.
"Apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Enzy membuat langkah Khay terhenti, kemudian balik menatap Enzy.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu ?" Jelas Enzy.
"Bukannya kamu telah memberiku bingkisan ini" Khay memperlihatkan bingkisan yang ada ditangannya.
"Itu sebagai tanda terimakasih ku, aku akan melakukan hal lain untuk membalasnya." Seru Enzy.
"Ok, kalau begitu lain kali kamu jangan berbuat keributan denganku, Ok !" Sahut Khay.
"Aku tidak merasa melakukan itu." Sahut Enzy.
"Kamu tidak harus melakukan apa-apa, karena mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggumu, kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing, tanpa saling mengganggu." Ujar Khay.
"Kenapa harus seperti itu, bagaimana jika nanti kamu memintaku membalas Budi baik yang pernah kamu lakukan padaku, jadi katakan saja, apa yang harus aku lakukan untukmu." Seru Enzy.
"Itu terserah kamu !" Sahut Khay lalu pergi meninggalkan Enzy begitu saja.
...----------------...
Setelah makan malam Enzy dan Khay duduk bersantai di ruang tengah, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing, sesekali Enzy melirik Khay yang fokus pada ponsel, entah apa yang dilakukan pria itu.
Khay benar-benar membuktikan ucapannya, kalau ia tidak akan mengganggu kehidupan Enzy, dan tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan wanita itu.
Karena merasa bosan hanya tinggal duduk disana, Enzy beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ia lebih memilih tidur dibandingkan ia harus duduk diam, tanpa bicara sedikitpun.
Pukul setengah dua belas malam, Khay masuk ke kamar dengan sangat pelan, ia takut mengganggu Enzy yang sudah terlelap sanagat pulas.
Khay berjalan ke dekat tempat tidur, ia memeriksa keadaan Enzy, ia takut Enzy akan mengalami mimpi buruk seperti malam sebelumnya, Khay mendudukkan dirinya di samping Enzy, lalu mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu, Khay terus memperhatikan dan menelisik setiap inci wajah istrinya itu, hingga pandangannya terhenti pada bibir tipis nan merah itu, ingin rasanya Khay menciumnya, namun ia tahan karena takut Enzy akan terbangun.
"Cantik." Gumam Khay sangat pelan, kemudian mencium kening istrinya.
"Mimpi indah." Ucapnya lalu beranjak dari sana menuju sofa, ia mulai merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tertidur, tak butuh waktu lama Khay akhirnya tertidur.
...----------------...
Ke esokan paginya, terlihat Khay baru saja keluar dari kamar mandi, sambil menyanyi ia sengaja mengeraskan suaranya agar Enzy segera bangun, dan benar saja Enzy terbangun karenanya.
"Apa ini sudah pagi, apa aku sedang bermimpi, tapi kok itu terlihat seperti nyata, bahkan aku merasakan kalau itu benar-benar nyata." Ucap Enzy.
"Apa kamu sudah mulai gila ?" Tanya Khay merapikan tatanan rambutnya.
Khay hanya menaikkan kedua bahunya acuh mendengar perkataan nyolot Enzy, lalu melanjutkan merapikan sweater yang ia gunakan.
"Khay..." Panggil Enzy terdengar lembut.
"Emmm...." Sahut Khay masih sibuk di depan cermin.
"Apa...." Enzy tampak ragu mengatakannya.
"Apa....Apa semalam...." Enzy merasa malu jika ia harus menanyakan apa yang sedang ia pikirkan.
"Sebenarnya kamu mau bilang apasih, jika ada yang ingin kamu sampaikan cepatlah, aku buru-buru !" Seru Khay mengambil tasnya yang ia sudah sediakan di atas sofa.
"Apa...Apa semalam kamu melakukan sesuatu padaku ?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutnya, walaupun ia merasa sangat gengsi dan malu menanyakan akan hal itu.
"Aku tak melakukan apa-apa, emangnya apa yang harusnya aku lakukan ? Itu hanya membuang-buang waktu ku saja." Seru Khay pergi meninggalkan Enzy.
"Khay jangan pergi dulu Khay aku masih belum selesai bicara !!" Teriak Enzy lalu beranjak dari tempat tidur, menyusul Khay yang sudah keluar dari kamar.
"Khay..." Panggil Enzy berusaha mengejar.
"Apalagi, aku buru-buru ?" Ucap Khay menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
"Semalam aku merasa kalau kamu melakukan apa-apa terhadap ku." Teriak Enzy.
"Melakukan apa, aku tidak melakukannya." Teriak Khay keluar dari apartemennya.
"Khay....Khay.... KHAYRAN Al FARIZIQ tunggu aku woi, aku masih belum selesai, Khay jawab aku Khay ! Apa benar kamu melakukannya." Enzy terus berteriak memanggil-manggil nama suaminya hingga di depan pintu.
Khay tetap menghiraukan Enzy yang terus meneriakinya, dan buru-buru masuk ke lift.
"Sialan kamu Khay ! Kembali kesini, dan aku akan memotongmu menjadi beberapa bagian, dasar suami kurang ajar !!" Geram Enzy tanpa sadar ia mengatakan suami.
"Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu ?" Tanya seorang wanita dewasa keluar dari unit samping apartemen milik Khay dan Enzy.
"Kak Merry, maaf...sekali lagi aku minta maaf karena telah menganggumu." Ucap Enzy merasa tak enak hati.
"Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar ? Kalian selalu saja mengganggu waktu istrirahat ku !" Seru Merry, dia adalah tetangga Khay dan Enzy, dia dan suaminya berprofesi sebagai aktris, dan aktor, sering kali Merry mendapati pasangan muda itu berdebat dan bertengkar.
"Kalian membenci satu sama lain, tapi harusnya kalian juga memikirkan kami yang berada disekitar, kami merasa sangat terganggu dengan sikap kekanak-kanakan kalian berdua, apalagi berteriak-teriak seperti tadi." Oceh Merry.
"Maaf..." Ucap Enzy merasa bersalah.
"Mmmm....Dan satu lagi, aku ingi memberitahumu, jangan terlalu salinh membenci, karena bisa saja kalian akan saling menyukai dan mencintai dimasa depan, kamu akan merasakannya jika salah satu dari antara kalian jauh dari kalian." Ucap Merry.
"Aku harap tidak akan terjadi seperti apa yang kak Merry Katakan." Sargah Enzy.
"Jangan bicara seperti itu, aku tahu hubungan kalian seperti apa, kalian adalah pasangan suami istri muda, entah kenapa kalian memutuskan untuk menikah, apa karena perjodohan atau apa, tapi yakinlah jika hubungan itu akan membuat ikatan yang kuat untuk kalian nantinya, Camkan itu baik-baik !" Seru Merry menekankan setiap kata-katanya.
"Aku minta maaf karena menganggu istirahat kakak." Ucap Enzy lalu masuk kedalam apartemen nya.
Merry menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke apartemen miliknya.
"Apa yang kamu lakukan disitu ?" Tanya Merry kaget melihat suaminya tiba-tiba berdiri dihadapannya.
"Kenapa kau terlalu ikut campur dengan urusan mereka" Tanya Johan suami dari Merry.
"Ya, karena aku merasa sangat terganggu dengan sikap mereka." Jawabnya santai sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Aku tak mengerti dengan tuan dan nyonya Kenan, kenapa mereka menikahkan putra mereka saat diusia yang masih sangat muda, apa mereka tidak tau kalau mereka tidak akur ?" Ucap Merry.
Merry sangat mengenal Khay, siapa sih yang tidak kenal dengan putra sulung tuan Kenan, calon penerus kerajaan bisnis yang terbesar di negaranya bahkan di Asia.
Merry juga pernah bekerjasama dengan perusahaan keluarga Kenan, sebagai model salah satu produknya fashion D&KA corp's.
"Tidak ada gunanya bicara sama kamu, aku mau istirahat." Ucap Johan jengah melihat tingkat ke kepoan istrinya itu.
Bersambung.....
Jangan lupa like, Komen, dan Vote.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love you all ❤️❤️❤️🤗🤗🤗😘😘😘