
Bunda Vivian terkejut saat melihat foto itu pas terjatuh kedepan kakinya.
Di dalam foto itu terlihat Kenan nampak memeluk Sarla, dengan keadaan pakaian Kenan berantakan, Kancing kemeja Kenan sudah terlihat terlepas semua, sedangkan Sarla hanya memakai selimut yang menutupi tubuhnya sampai bagian dada.
Bunda Vivian langsung memeluk menantunya, kini Diva menangis tersedu di pelukan mertuanya.
" Kamu yang sabar sayang. " Ucap Bunda Vivian mengusap bahu menantunya.
Diva melepaskan pelukan mertuanya, segera berlari masuk menuju kamarnya.
Bunda Vivian segera mengikuti Diva, takut Diva melakukan hal nekat, setelah Bunda Vivian masuk kekamar Diva, ia mendapati Diva mengemas semua pakaiannya memasukkannya kedalam koper.
" sayang kamu mau kemana ?" Tanya bunda Vivian menahan tangan Diva.
" Diva mau pulang bunda. " jawab Diva sambil menyeka air matanya, menggunakan tangan satunya karena tangan kiri Diva saat ini dipegang bunda Vivian.
" Sayang, sebaiknya kita tunggu Kenan dulu, kita dengar penjelasannya. " Ucap Bunda Vivian memegang kedua tangan Diva.
" Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi Bun, semuanya sudah jelas, Maafkan Diva Bun, aku harus pergi. " Jawab Diva melepaskan tangan mertuanya, langsung mengambil kopernya dan segera pergi.
Bunda Vivian melihat kepergian menantunya, pergi dengan keadaan seperti itu, merasa sangat sedih, Bunda Vivian hanya bisa menatap sendu kepergian Diva.
Di kantor ayah Salman.
Nampak ayah Salman dan Kenan membicarakan soal kejadian yang Kenan alami semalam, soal Sarla yang menjebaknya.
" Ayah sudah curiga, kamu harus ceritakan ini kepada istrimu, sebelum dia mengetahui dari orang lain. " Ucap pak Salman.
Kenan terlihat diam saat mendengar ucapan ayahnya.
" Tapi yah, aku takut kalau dia tidak mempercayaiku. " sahut Kenan tampak sangat khawatir.
" Kamu harus ceritakan ini kepada istrimu, dia percaya atau tidak, setidaknya kamu sudah menceritakan yang sebenarnya. " Jawab ayah Salman.
Tiba-tiba ponsel Kenan berdering, Kenan melihat panggilan masuk, ternyata adalah bundanya.
" Bunda " gumam Kenan, dan segera menjawab panggilan dari bundanya.
📞 " Assla...."
📞 " Nan, kamu harus menyusul Diva kebandara sekarang Nan, dia pergi dari rumah. " Ucap Bunda Vivian menyela Ucapan Kenan.
📞 " Kenapa bisa Bun, apa yang terjadi ?" Tanya Kenan khawatir.
📞 " Tadi ada seseorang yang mengirim paket untuk Diva, dan si dalamnya ada foto kamu bersama Sarla di dalam hotel. " Jelas Bunda Vivian dari seberang telepon.
Kenan langsung mematikan telfonnya setelah mendengar penjelasan bundanya.
" Yah, aku harus pergi kebandara sekarang menyusul Diva, sepertinya Sarla sudah melakukan rencananya. " Ucap Kenan langsung meninggalkan ruangan ayahnya.
Kenan menggunakan mobil ayahnya, dan langsung menuju kebandara.
jalanan tampak sangat macet, hal itu membuat Kenan sangat prustasi. Kenan takut kalau Diva sudah berangkat, apalagi jarak dari Perusahaan ayah Salman dengan bandara lumayan jauh.
Kenan menarik rambutnya prustasi dan menundukkan kepalanya ke kemudi mobil.
" Yank... jangan tinggalkan aku Yank..." Gumam Kenan, tak terasa air matanya terjatuh.
setelah satu jam lebih perjalanan, akhirnya Kenan sampai bandara, Kenan langsung menuju terminal penerbangan ke kota Z.
" Maaf mas, penerbangan ke kota Z, berangkat jam berapa ?" Tanya Kenan kesala satu pegawai bandara.
" Penerbangan kekota Z sudah berangkat sekitar 15 menit yang lalu dek. " jawab pegawai bandara tersebut.
" Terimakasih mas. " Ucap Kenan lalu berjalan menyusuri koridor bandara, Kenan duduk disalah satu kursi, sambil tertunduk menutup wajahnya dengan telapak tangannya, Kenan sedikit mengangkat kepalanya menatap lurus kedepan dengan mata berkaca-kaca.
" Yank...aku mencintaimu, juga sangat menyayangimu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku sangat merindukanmu yank. " Gumam Kenan.
" Aku takut kamu akan pergi meninggalkanku." lanjut Kenan, dan segera beranjak dari duduknya, berjalan keluar bandara untuk kembali kerumahnya.
setelah sampai dirumhnya, Kenan mendapati kedua orangtuanya sedang duduk menunggunya diruang keluarga.
Kenan langsung berbaring disofa dengan berbantalkan paha bundanya, perasaan Kenan saat ini sangat hancur.
" Bunda, Diva meninggalkanku, Bun. " Sahut Kenan sambil menangis dipangkuan bunda Vivian.
" Tenang sayang, kamu harus menyusulnya dan segera menjelaskan semua. " Ucap Bunda Vivian mengusap pelan rambut putranya.
" Tapi Bun, apa diva akan percaya kepadaku ?" Tanya Kenan.
" Kamu jangan khawatir, ayah akan mencari cara mendapatkan bukti, agar Diva percaya kepadamu. " sahut ayah Salman menepuk bahu putranya, memberinya semangat.
" Kamu istirahatlah dulu, besok pagi kamu berangkat, ayah sudah pesan tiket untuk kamu kesana, kamu harus selesaikan ini sebelum kamu masuk sekolah. " lanjut ayah Salman.
Di sisi Diva
Tepat jam 1 siang, Diva sampai di bandara di kota Z, Diva berjalan menyusuri koridor bandara, dengan perasaan yang hancur, sesekali ia menyeka air matanya, yang tak terasa keluar.
Diva menghentikan taksi yang kebetulan lewat didepan lobi, saat diva sudah berada di depan.
setelah Diva masuk kedalam taksi diva sedikit menurunkan kaca jendela taksi, melihat arah jalan kota Z.
" Diva kamu bukan wanita cengeng, mana Diva yang dulu, diva yang tidak pernah menangisi apapun. " Gumam Diva kembali menyeka air matanya yang terus saja keluar.
Diva menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
setelah satu jam perjalanan Diva sampai di kediaman keluarganya.
Diva segera turun, di ikuti sopir taksi menurunkan koper diva yang berada di bagasi taksi.
Diva langsung masuk setelah membayar taksi yang ia tumpangi.
saat Diva masuk rumah tampak sepi.
Diva segera berjalan kearah dapur mengambil minum di dalam kulkas.
" Eh...Non Diva, kapan pulangnya ?" Tanya bi'Asih kaget saat melihat Diva tiba-tiba ada didepannya.
" Barusan bi'. " Jawab Diva langsung duduk dimeja bar mini yang berada di dapur.
" Yang lain mana bi' ?" Tanya Diva saat meletakkan gelas yang dia pake minum.
" Pak Fikram dan Ibu lagi keluar negeri non, kalau den Arka ada di kamarnya. " Jawab bi' Asih.
Diva hanya mengangguk menanggapi ucapan bi'Asih.
Bi'Asih nampak bingung karena dari tadi ia tidak melihat Kenan, dan melihat Diva seperti orang yang baru saja menangis.
" Diva kekamar dulu ya, bi'. " sahut Diva segera berdiri.
" Baik non, mau saya siapkan makan untuk non, dan juga den Kenan ?" Tanya bi'Asih.
Diva yang mendengar nama Kenan hanya tersenyum getir.
" Tidak usah bi'. " Jawab Diva tanpa menoleh kearah bi'Asih, diva berlalu meninggalkan dapur dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah sampai depan kamar, Diva akan membuka pintu kamarnya, bertepatan Arka keluar dari kamar.
Kenan yang melihat Diva mendadak pulang, dan tidak melihat Kenan mengernyitkan keningnya.
" Dek...?" Panggil Arka.
Diva masih belum menjawab, hanya terdiam menunduk melihat arah kenop pintu, karena berusaha menahan tangisnya.
" Kenan mana dek. ?" Tanya Arka tambah bingung, karena Diva terus saja membelakanginya.
Arka yang melihat bahu Diva bergetar pertanda ia menangis, langsung membalikkan tubuh adiknya.
Diva langsung memeluk tubuh kakaknya erat, menangis pilu tanpa bersuara, sesekali hanya terdengar isakan memilukan, bagi siapa yang mendengar.
Arka mengusap lembut rambut adiknya menenangkannya.
" Kamu kenapa dek, Apa Kenan menyakitimu ?" Tanya Arka geram menahan amarahnya.
Diva melepaskan pelukannya, beralih menatap kakaknya dengan tatapan sendu, Arka yang melihat kesedihan yang dalam Dimata adiknya, ia segera menuntun Diva masuk kedalam kamar adiknya itu.
Arka langsung mendudukkan Diva disofa dan ikut duduk disampingnya.
" Kamu ceritain sama kakak dek. " Sahut Kenan membawa kepala Diva bersandar di bahunya.
Diva menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan, Diva mulai menceritakan semua, tentang foto yang ia terima, kepada Arka.
Arka yang mendengar cerita Diva mengepalkan tangannya.
" Kurang ajar kamu Kenan, gue tidak akan mengampuni mu. " Batin Arka.
" Ya, sudah kamu istirahat, tapi sebelum itu kamu mandi dulu. " Sahut Arka Mengusap pelan rambut adiknya.
Diva tersenyum kearah Arka dan kembali mengeluarkan air matanya.
" kok, jadi cengeng gini sih hah, kemana adik gue yang petakilan alias bar-bar itu ?" tanya Arka menyeka air mata Diva dengan tangannya.
Diva tersenyum mendengar ucapan kakaknya.
" Apa kakak sudah diputuskan sama kak Vara, pasti dia sangat menyesal pernah pacaran sama orang seperti lu ?" Sahut Diva mencoba untuk lebih kuat.
" Enak aja lu, ganteng gini kok' dia tidak akan pernah menyesal pacaran sama gue. " Jawab Arka menyentil kening Diva.
" Ish....kePD an..." ucap Diva mengusap keningnya yang disentil Arka.
" Ya udah, kamu mandi bau tau nggak, gue keluar dulu, lu langsung istirahat, jangan kepikiran macem-macem. " Ucap Arka berlalu keluar dari kamar diva.
Diva menghela nafas panjang dan masuk kekamar mandi.
*Bersambung......
jangan lupa
like
coment
vote*.
🤗🤗🤗🙏🙏🙏