Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 12 Season 3 ( Next Generatoin )


Jam tiga sore Enzy baru saja tiba di apartemennya, ia langsung masuk ke kamar tanpa mengganti pakaiannya ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur karna merasa sangat lelah, hari ini ia mengikuti banyak mata kuliah, di tambah lagi ban mobilnya bocor, terpaksa ia menggunakan taksi untuk segera pulang, sebelumnya ia menghubungi bengkel di bantu oleh Rendra untuk mengurus mobilnya.


Tak butuh waktu lama, Enzy langsung tertidur lelap.


Pukul empat sore Khay baru saja pulang, Khay sampai lupa waktu saat ia berkumpul dengan sahabat-sahabatnya tadi saat di cafe, saat masuk diunit apartemennya, ia tak melihat siapapun disana, mungkin saja Enzy belum juga pulang ? Pikirnya karena Khay juga tak melihat mobil Enzy di basemen.


Khay pun tak mau ambil pusing, ia langsung menuju kamarnya, saat masuk Khay mengerutkan keningnya karena melihat Enzy tertidur disana, masih menggunakan pakaian yang tadi di gunakan saat ke kampus.


Khay memandang wajah lelap istrinya itu sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menuju meja belajarnya, Khay meletakkan tasnya lalu beralih ke arah lemari pakaiannya, ia mengambil pakaian gantinya kemudian masuk ke kamar mandi.


Sekitar sepuluh menitan, Khay keluar dari kamar mandi, tapi Enzy belum juga bangun, Khay mencoba mendekatinya, takut terjadi apa-apa kepada wanita berstatus sebagai istrinya itu, baru saja Khay mengulurkan tangannya ingin membangunkan Enzy, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Enzy, Khay bergegas keluar kamar. Bel terus saja berbunyi, membuat Khay kesal.


"Sebentar ! Siapa sih enggak sabaran banget." Omel Khay kesal sambil menuruni anak tangga.


"Woii..." Ucap Khay kesal membuka pintu dengan kasar.


"Assalamualaikum bangkhay..." Ucap Kia tersenyum lebar.


"Seneng banget tuh muka ? Seneng ya kita bertamu." Ucap Rendra terlihat menyebalkan Dimata Khay.


"Ngapain kalian kesini ?" Tanya Khay sinis kepada adiknya juga si kembar.


"Emang enggak boleh kita kesini ? Tanya balik Kia, langsung menerobos masuk begitu saja di ikuti Rendra dan Nendra.


"Hay.... yang ngijinin kalian masuk siapa ? Enggak sopan banget kalian !" Teriak Khay masih berdiri mematung di ambang pintu.


"Sama Abang sendiri kok, enggak apa-apa lah bang, enggak boleh gitu ah sama adiknya, apalagi adik satu-satunya lagi." Ujar Kia santai, dan langsung mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu lagi-lagi tanpa menunggu perintah dari tuan rumah.


"Dosa apa gue, punya adik kek gini ya Allah." Gumam Khay menutup pintunya lalu ikut bergabung di ruang tamu.


"Bang, kakak ipar mana ? Dari tadi enggak kelihatan ?" Tanya Kia tak melihat keberadaan Enzy sejak tadi.


"Apa jangan-jangan kalian, habis itu yah ?" Timpal Nendra menduga-duga.


"Ngomong apasih kamu, otak ngeres aja isinya." Sargah Khay.


"Tuh, Enzy dikamar, lagi tidur." Tambahnya kemudian mengambil majalah yang ada di atas meja.


"Khay emang di apartemen sebagus ini enggak ada minuman atau cemilan apa gitu ?" Tanya Rendra tak tau malunya.


"Ada noh di dapur, ambil sendiri !!" Sahut Khay.


"Ki, tugas kamu tuh, ambil gih !!" Timpal Nendra menyuruh Kia segera mengambil minumannya.


"Emm... Gue ambil, mau apa kalian berdua, air keran aja ya ?" Sahut Kia lalu bergegas menuju dapur.


"Khay pindah diruang tengah yuk, disini kagak enak, enakan disana, kita bisa main game." Ujar Rendra bergegas lebih dulu menuju ruang tengah.


"Gue setuju Ren." Sahut Nendra kemudian ikut masuk keruang tengah.


Sementara Khay memutar bola matanya malas, lalu ikut masuk.


"Sebenarnya yang tuan rumah siapa sih sebenarnya ?" Tanya Khay jengah ketika mendudukkan dirinya di Sofa.


Sementara si kembar duduk di lantai beralaskan karpet berbulu, sudah siap untuk bermain game.


"Kamulah." Sahut Rendra tanpa beralih pada layar TV yang ada dihadapannya, lengkap dengan stik PS ditangannya.


"BTW Khay, bagaimana dengan masalah kalian ?" Tanya Nendra.


"Masalah ?" Tanya Khay balik, pasalnya ia tak tahu kalau si kembar mengetahui masalahnya dengan Enzy.


"Masalah kamu sama Enzy !" Timpal Rendra.


"Kalian tahu ?" Tanya Khay kaget.


"Taulah, apasih yang enggak kami tahu." Ucap Rendra.


"Jangan-jangan kalian yang memberitahu Enzy, soal gue yang punya banyak pacar sebelumnya." Tanya Khay penuh selidik.


"Enak banget kamu, nuduh kita, dia tahu sendiri, karena dia mendengar pembicaraan para mantan kamu, dimana kamu memutuskan mereka." Terang Rendra sedikit kesal karena mendengar tuduhan Khay.


"Apa Kia juga tahu soal ini ?" Tanya Khay, soalnya ia takut kalau adiknya sampai mengetahui akan hal ini, karena jika ia tahu otomatis orangtuanya juga akan mengetahuinya juga, dan bisa-bisa ia menjadi sasaran kemarahan sang bunda.


"Jadi bagaimana hubungan kalian ?" Tanya Nendra.


"Dia marah-marah sama gue, dia sangat membenciku, sampai hari detik ini kami masih belum akur, kemarin pas gue pulang dari kampus dia langsung marah-marah dan minta pisah, katanya dia tidak mau punya suami seperti gue." Jelas Khay menghela nafas beratnya.


"Siapa yang marah-marah minta pisah bang ? Apa kak Enzy sama Abang sedang ada masalah ?" Tiba-tiba Kia berdiri di belakang mereka sambil membawa nampan.


"Siapa yang bilang seperti itu, kamu salah dengar kali, lagian gue ama bini gue baik-baik aja." Elak Khay.


"Ya sudah, kalian tunggu aja disini, gue mau ke atas dulu, buat bangunin Enzy !" Lanjutnya kemudian bergegas meninggalkan tempat tersebut, sebelum Kia bertanya lebih banyak lagi.


"Perasaan gue enggak salah denger deh, kalian bicarakan apa sih, sepertinya serius amat ?" Tanya Kia penasaran, soalnya ia yakin kalau ia mendengar mereka membicarakan masalah marah-marah juga perpisahan.


"Tadi kami membahas, soal pacar-pacar Abang kamu, yang dia putuskan kemarin, ada yang marah-marah dan tidak mau pisah." Jawab Rendra kembali fokus pada permainan gamenya.


"Jadi ceritanya Abang gue, kagak jadi playboy lagikan, dia sudah insafkan sekarang." Ucap Kia kegirangan.


"Iya, dan itu dia lakukan karena ia sadar dia sudah jadi suami sekarang." Sahut Nendra.


"Baguslah...." Ucap Kia kemudian meminum minuman yang ia letakkan di atas meja.


Sementara Khay, ia membuka pintu kamar dengan perlahan, ia takut mengganggu Enzy yang sedang tertidur didalam sana, namun saat ia masuk, saat itu juga Enzy keluar dari kamar mandi, menggunakan pakaian rumahannya, dengan handuk kecil masih melilit diatas kepalanya.


"Kia, Rendra juga Nendra ada dibawah, kalau sudah selesai segeralah turun." Ucap Khay dingin, kemudian masuk ke kamar mandi, karena ia kebelet ingin buang air.


Enzy mendengar kalau adik ipar, dan sahabat-sahabatnya ada dibawah, ia segera merapikan rambutnya, tanpa ia keringkan terlebih dahulu, Setelah di rasa rapi, Enzy pun keluar kamar.


"Kalian sudah lama ? Maaf tadi gue ketiduran." Ucap Enzy menghampiri ketiganya yang sedang asik main game.


"Iya, kak Enzy apa kabar ?" Tanya Kia menarik kakak iparnya itu duduk disampingnya.


"Baik, oh iya ayah sama bunda bagaimana ?" Jawab Enzy, lalu balik menanyakan kabar kedua mertuanya.


"Mereka juga baik kok kak, bunda ngirim salam buat kakak, katanya dia udah kangen." Terang Kia.


"Walaikumsalam, iya nanti kapan-kapan aku kerumah, buat ketemu sama bunda juga ayah." Ucap Enzy.


Enzy dan Kia melanjutkan obrolan mereka, Kia banyak bicara kepada kakak iparnya itu, ia membicarakan soal sekolahnya, hobinya, dan banyak hal lainnya.


Sementara si kembar sibuk bermain game, sesekali terdengar suara ejekan satu sama lain karena kalah dalam permainan.


Tak lama Khay turun kembali, dan langsung mendudukkan dirinya di di lantai, bergabung dengan Rendra dan Nendra.


"Oi... bangkhay, kok malah duduk jauhan gitu sih, biasanya kalau pengantin baru, duduknya deketan mulu." Seru Kia.


"Kasian sama kalian yang jomblo, entar kalian pada ngiri lagi." Sahut Khay santai tanpa beralih dari layar TV memperhatikan permainan yang dimainkan oleh si kembar.


"Emang kalau kita enggak ada, kalian ngelakuin apa Emangnya ?" Tanya Rendra sengaja menggoda Khay juga Enzy, pasalnya ia tahu kalau pengantin baru itu sedang ribut.


"Kita ngelakuin apa yang harusnya pengantin baru lakuin." Lagi-lagi Khay menjawab dengan santainya, sedangkan Enzy mendengar jawaban Khay geram sendiri, namun sebisa mungkin ia menahannya, karena disana ada Kia, yang tidak mengetahui permasalahannya sekarang. Enzy belum siap kalau kedua mertuanya mengetahui akan hal ini, karena ia tahu ibu mertuanya pasti akan merasa sangat kecewa dan sedih, jika mengetahui niatnya untuk segera berpisah dengan Khay.


Bersambung......


Visual, mohon maaf jika visual enggak sesuai dengan gambaran para readers, namun gambaran ini hanya semata-mata penggambaran karakter dari tokoh dalam cerita .


Khairan Al Fariziq (Khay)



Quensya Paradigta Malik (Enzy)



Untuk visul tokoh lainnya nanti di part-part berikutnya ya gaesss....


Sekedar informasi untuk visual Kenan dan Diva akan berubah, karena ceritanya mereka sudah berusia 38 tahunan...


Jangan lupa, Berikan DUKUNGAN KALIAN, buat author tetap semangat buat berkarya, menciptakan jalan cerita yang menarik, dan tentunya menghibur para readers.


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️