
Makanan yang di inginkan Enzy sudah tertata rapi di atas nampan yang Khay letakkan di atas meja yang ada didalam kamar mereka, karena Enzy bilang kalau ia malas keluar kamar, sambil menunggu Enzy yang mandi, karena katanya ia sangat kegerahan walaupun AC dikamar tersebut sudah dinyalakan dalam suhu yang tinggi, Khay menonton dan duduk di depan sofa sambil menyandar.
"Kenapa cuaca malam ini begitu panas, aku baru saja mandi tapi aku masih merasa kepanasan." Oceh Enzy yang baru saja keluar dari kamar mandi sudah mengenakan dres tidur yang cukup terbuka karena merasa kepanasan.
"Oh makanannya sudah kamu siapkan yank ?" Tanya Enzy setelah melihat banyak makanan di atas meja.
"Hemm... Sini buruan dimakan, nanti keburu dingin lagi, sayang, tadi aku sudah suru bibi buat panasin semuanya.!" Seru Khay lalu menepuk sofa agar istrinya duduk disana.
Alih-alih duduk di Sofa Enzy malah duduk disamping suaminya itu.
Khay memeluk Enzy dari samping lalu menenggelamkan wajahnya di celuruk leher Enzy.
"Maafkan aku." Tiba-tiba Khay meminta maaf membuat Enzy menundukkan wajahnya melihat suaminya, sambil mengerutkan keningnya, bingung. Kenapa juga suaminya ini minta maaf tiba-tiba, Enzy pikir Khay tak melakukan kesalahan apapun.
"Sebenarnya ada apa dengan dirimu, kenapa tiba-tiba minta maaf seperti ini ?" Tanya Enzy.
Bukannya menjawab Khay semakin mengeratkan pelukannya, membuat Enzy semakin bingung melihat sikap suaminya itu.
"Sayang, maafkan aku." Khay kembali mengucapkan kata maaf, tapi kali ini dengan suara pelan.
"Khay, sebenarnya ada apasih, kenapa kami terus mengatakan kata maaf seperti ini, Apa kamu melakukan hal buruk dibelakang ku, hah ?" Enzy terus memberondong Khay dengan pertanyaan, juga sampai mengira pria itu melakukan hal yang tidak-tidak dibelakang V.
"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan." Khay mendongak menatap wajah istrinya.
"Lalu ?"
"Hanya saja, aku merasa kalau akhir-akhir ini, aku jarang memiliki waktu untukmu, dan juga calon baby kita." Ucap Khay kemudian mengusap pelan perut Enzy yang membuncit.
Enzy tersenyum mendengar pengakuan prianya itu, kemudian ia balas memeluknya membawa kepala suaminya bersandar di dadanya, di usapan kepala bagian belakangnya dengan lembut.
"Kamu terlalu berpikir berlebihan, berhenti memikirkan hal-hal kecil seperti itu ! Aku mengerti kok dengan kesibukan kamu sekarang, kalau kamu berusaha untuk mengembangkan club olahraga yang kamu dirikan itu." Ucap Enzy panjang lebar.
"Tapi aku hanya takut kamu kesepian, apalagi saat ini kami sedang hamil, bunda juga akhir-akhir sering keluar rumah, Kia di kota Z sekarang, aku juga khawatir terjadi apa-apa padamu juga calon baby kita, jika kamu terus sendirian seperti ini." Ucap Khay masih bersandar nyaman di dada istrinya.
"Aku gak akan kesepian lagian, jika kamu pergi ke kantor, Rendra sering kesini juga kan, lagian disini juga banyak bibi yang membantuku." Ucap Enzy kemudian mengecup kepala Khay.
"Jadi....? Khay menarik dirinya lalu menatap istrinya itu.
"Jadi ? Enzy bingung sendiri.
"Jadi, apa kamu akan makan ini semua ?" Tanya Khay menujuk makanan yang ada di atas meja.
"Tentu saja, karena sejak tadi aku sangat menginginkannya, tapi kamu terus saja meminta maaf kepadaku karena terlalu berpikir berlebihan tentangku.
Khay mentap manik mata Enzy begitupun Enzy balas menatapnya sambil tersenyum manis.
"Aku mencintaimu." Ucap Khay.
"Aku tahu, jangan sering mengatakannya, atau itu akan kehilangan arti !" Seru Enzy.
"Itu tidak akan kehilangan arti, selama itu kamu." Ucap Khay mencium sekilas bibir Enzy.
"Sudah, sekarang aku mau makan." Ucap Enzy kemudian memulai acara makannya.
"Sayang." Enzy menoleh dengan mulut penuhnya, menuaikan kedua alisnya karena kesulitan untuk bicara.
"Kenapa kamu sungguh menggemaskan ?" Ujar Khay menatap menggoda.
"Jangan menggodaku !" Seru Enzy kurang jelas karena mulutnya penuh makanan.
"Apa kamu gak makan juga ?" Tanya Enzy setelah menelan makanannya.
"Suapin." Sahut Khay manja membuat Enzy geleng-geleng kepala, kemudian menyuapi pria dewasa dihadapannya namun sangat manja.
Kemudian Enzy kembali menyuap makanan untuk dirinya sendiri.
Khay menatap istrinya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Saat keduanya selesai makan, Enzy pergi ke kamar mandi, untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Saat menunggu Enzy kembali dari kamar mandi, ponsel Khay berdering tanda panggilan masuk, dengan cepat Khay beranjak dari sana kemudian berdiri di depan jendela.
📞 " Sita, berhenti melakukan hal gila kamu ini, sudah ku katakan kita tidak mungkin untuk kembali bersama lagi." Khay menegaskan ucapannya sesekali melirik ke arah kamar mandi, takut Enzy mendengar dan salah paham padanya.
📞 "Tapi kak, sekarang aku sangat hancur." Keluh Sita diseberang sana dengan suara tangisnya.
📞 "Sita, Gue mau mengatakan sesuatu padamu."
📞 "Katakanlah kak !"
📞 "Apa yang pernah terjadi di antara kita dulu, sudah berakhir sejak lama, jadi gue mohon berhenti mengejarku ataupun menemuiku, semuanya sudah menjadi masa lalu, apa kamu paham ? Lanjut Khay.
"........" Hening itulah yang terjadi diseberang sana.
📞 "Jika kamu benar mencintaiku, jangan pernah bersikap seperti ini lagi, dan biarkan aku bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang, aku sudah bahagia dengan istri dan calon anak kami." Tegas Khay sekali lagi.
Khay kembali menoleh ke arah kamar mandi.
📞 "Pisah !" Ucap Sita.
📞 "Apa maksudmu mengatakan itu ?" Tanya Khay.
📞 "Kakak akan pisah dengan istri kakak itu, cinta kalian, hubungan kalian tidak akan bertahan lama." Seru Sita berteriak dari seberang sana.
📞 "Sita, Sita apa yang kau katakan itu, bagaimana bisa kamu mengatakan hal buruk pada kami, Sita, halo." Khay sudah mulai tersulut emosi, di tambah lagi Sita memutuskan sambungan telponnya sepihak.
Tanpa Khay sadari, ternyata Enzy sejak tadi mendengar percakapan Khay dengan Sita, Enzy perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Khay yang masih belum menyadari kedatangannya.
"Khay." Enzy menepuk pundak suaminya itu, membuat Khay terlonjat kaget.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu ? Apa kamu baik-baik saja ? Siapa yang kamu ajak bicara tadi ?" Enzy memberondong pertanyaan pada Khay, membuat pria itu gugup.
"Emmm....Aku bertengkar dengan Leo." Bohong Khay.
"Bagaimana apa sudah selesai ?" Khay kembali bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Aku tinggal mencuci muka saja, tapi aku lupa kalau sabun pencuci mukaku habis di kamar mandi, jadi aku mau mengambilnya di lemari penyimpanan." Jelas Enzy beralasan.
"Tapi kenapa kamu malah keluar, bukannya semuanya ada di dalam kamar mandi ?" Tanya Khay.
"Aku keluar karena mendengarmu berteriak-teriak memanggil nama seseorang, tapi sepertinya aku salah mendengar nama, karena rupanya itu Leo." Terang Enzy kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Khay merasa khawatir takut istrinya itu mencurigainya dan salah paham padanya.
...----------------...
Di Bangkok Thailand
Kavi sibuk melakukan presentasi kepada calon investor, yang akan menyuntikkan dana di perusahaan miliknya, sampai ia mengabaikan panggilan dari salah satu orang suruhannya yang ada di Indonesia.
"Saya rasa, perusahaan tuan cukup menjanjikan, dan persentasinya sangat memuaskan dan saya yakin bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda tuan." Ucap salah satu investor wanita muda yang ada disana.
"Terimakasih atas kepercayaan nona, kami bisa menjamin tidak akan lagi permasalahan yang seperti sebelumnya."Sahut Kavi.
"Baiklah saya juga setuju berinvestasi di perusahaan tuan ini." Sahut salah satu dari mereka lagi, dan dilanjutkan tiga orang investor lagi." Semuanya bertepuk tangan setelah menutup rapat tersebut.
"Baiklah tuan Kavi, saya berharap kerjasama kita berjalan lancar, kita bisa mengadakan acara makan malam karena hal ini." Ucap Nona Kyle selaku investor wanita muda tadi.
"Saya juga harap begitu nona, dan sekali lagi saya berterimakasih pada tuan dan nona semua yang bersedia untuk bekerjasama dengan perusahaan kami." Ucap Kavi kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalimi tangan mereka secara bergantian.
"Tuan apa saya bisa meminta line Anda, siapa tahu saja nanti saya ada kepentingan begitupun sebaliknya." Ucap Kyle.
"Oh, bisa nona, Bella berikan kartu nama saya ke nona Kyle !" Sahut Kavi kemudian berseru kepada Bella sekertarisnya.
Bella menuruti apa yang dikatakan bosnya itu.
"Tuan ponsel Anda bergetar sejak tadi, sepertinya panggilan ini penting." Bisik Bella sambil menyerahkan ponsel Kavi yang sejak tadi ia pegang selama rapat.
Kavi menerima ponselnya, dan benar saja ponselnya kembali berdering, dan Kavi segera meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Kyle dan Bella yang masih berada disana.
"Nona, apa saya boleh tahu yang menelpon tuan Kavi siapa?" Kepo Kyle melihat kepergian Kavi tergesa-gesa.
"Sepertinya sangat penting." Tambahnya.
Bella mengeryitkan keningnya, melihat sikap wanita di hadapannya yang sepertinya ada something kepada bosnya itu.
"Oh, itu dari Nyonya, nona, istri dari tuan Kavi." Jawab Bella berbohong, karena Bella tahu tuannya ini bakal tidak suka dengan sikap klaiyennya itu, yang mengepoi urusan pribadinya, dan Bella tentu tahu tuannya tidak pernah melirik wanita lain, selain mendiang istrinya dan juga gadis kecil yang saat ini tuannya itu perjuangkan.
Bersambung.........
Terus budayakan LIKE KOMEN dan VOTE setiap membaca setiap episodenya....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...