Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 56


Setelah sampai di rumah sakit, Tante Dina terus menangis di pelukan Suaminya.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada anak kita pa." Ujar Tante Dina risau memikirkan keadaan Rafa.


"Hus ... Jangan berpikiran seperti itu ma, kita doakan supaya Rafa baik-baik saja, dan masih bisa diselamatkan." Sahut Pak Malik memeluk istrinya, mencoba untuk menenangkannya.


"Tapi aku sangat takut pa, dia ninggalin kita, dia anak kita satu-satunya." Ucap Tante Dina.


"Sudah, lebih baik mama tenang dulu, Rafa pasti selamat, dia anak yang kuat." Ujar Pak Malik terus menenangkan istrinya, walaupun sebenarnya ia juga merasa sangat khawatir mengingat keadaan Rafa.


Tak lama dokter Rian keluar, segera Pak Malik menghampiri menanyakan keadaan putranya.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Pak Malik.


"Dia bisa kami selamatkan, hanya saja Rafa masih kritis, dia juga banyak kehilangan banyak darah, dan saran saya sering-seringlah mengajak dia berkomunikasi dengan hal-hal yang bisa membuat dia termotivasi untuk sadar, karena ia merasa sangat depresi sehingga tidak memiliki semangat untuk hidup." Terang dokter Rian.


"Apa itu artinya, anak saya sedang koma dok?" Tanya Pak Malik.


"Bisa di bilang seperti itu Pak." Jawab dokter Rian.


"Apa kami sudah bisa melihatnya?" Tanya Tante Dina.


"Iya, setelah kami memindahkannya keruang perawatan." Jawab dokter Rian.


Tak lama seorang perawat mendorong brankar Rafa untuk dipindahkan ke ruang perawatan.


Sedangkan dirumah Keluarga Fikram, Diva duduk di depan meja riasnya sedang menyisir rambutnya.


"Yank ...." Sahut Kenan tiba-tiba memeluk Diva dari belakang langsung mencium pipi istrinya itu lalu menopang dagunya diatas kepalanya Diva.


"Awas gue mau istirahat, gue capek." Ucap Diva ketus melepaskan pelukan Kenan dan berjalan kearah balkon meninggalkan Kenan.


Kenan tampak prustasi, memikirkan cara bagaimana cara membujuk istrinya yang sedang kesal.


"Yank, katanya capek, kenapa tidak istirahat didalam saja, di luar dingin yank, lagian ini sudah larut malam, tidak baik buat kesehatan kamu." Ujar Kenan mengikuti langkah istrinya ke arah balkon.


Sedangkan Diva hanya menaikkan kedua bahunya tidak menghiraukan ocehan suaminya.


"Yank ... Aku minta maaf tadi aku cuma bercanda, memangnya kamu suka liat wajah aku datar Mulu, ayah saja jengah loh Yank." Ucap Kenan memelas saat sudah duduk didepan kursi yang sedang Diva duduki, sambil memeluk pinggang Diva.


Diva masih saja tak menghiraukan Kenan yang berusaha membujuknya, sebenarnya Diva tidak benar-benar kesal, tapi ia berniat mengerjai suaminya.


"Yank, kalau begitu lebih baik aku balik ke kota Xx." Ucap Kenan menengadah melihat wajah istrinya.


"Balik saja sana." Sahut Diva tanpa beralih dari ponselnya.


"Yank ... Sayangnya Kenan, liat aku dulu, sini." Ucap Kenan meraih dagu Diva supaya melihatnya.


Namun Diva masih tak menghiraukannya.


"Ya sudah, terserah kamu Yank, besok aku balik." Sahut Kenan baranjak duduk ke kursi sebelah Diva, Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Lagian aku juga ada urusan sama klaiyen baru aku, dia desainer muda, kayaknya dia juga tertarik sama aku." Ujar Kenan meraih majalah yang ada di atas meja.


Diva yang mendengar penuturan Kenan, langsung beralih menatapnya dengan tatapan tajam.


Sedangkan Kenan yang ditatap seperti itu, biasa-biasa saja, menaikkan kedua bahunya sambil melihat-lihat majalah.


"Siapa Disti." Tanya Diva dengan nada dingin, penuh selidik.


"Klaiyen aku." Jawab Kenan cuek.


"Berdiri." Ujar Diva dingin sambil menarik tangan Kenan membawanya keluar kamar, setelah sampai depan kamar, Diva buru-buru menutup pintu kamarnya meninggalkan Kenan.


"Yank ... Kok aku di kunciin, aku tidur dimana, masa aku tidurnya diluar, disini banyak nyamuk yank." Teriak Kenan mengetuk pintu, sesekali memutar knop pintu berharap pintunya terbuka.


Diva kembali membuka pintu, membuat Kenan tersenyum, tapi senyum Kenan tiba-tiba hilang saat Diva memberinya selimut dan bantal.


"Kamu tidur diluar." Ujar Diva kembali menutup pintunya dengan kencang.


"Yank, diluar banyak nyamuk, aku juga tidak bisa tidur tanpa meluk kamu." Teriak Kenan sambil memeluk bantal dan selimutnya.


Tak dapat sahutan dari Diva Kenan berjalan kearah sofa yang tak jauh dari kamar, membaringkan dirinya mencoba untuk tidur.


Kenan sulit tidur begitupun dengan Diva yang berada dikamar tampak gelisah memikirkan Kenan, Diva pun tidak bisa tidur tanpa ada Kenan disampingnya.


Jam Sembilan pagi Arka dan Vara baru sampai, dan langsung menuju kamarnya yang berhadapan dengan kamar Diva.


"CK ... CK ... Kasihan adik ipar gue, punya bini Singa." Ujar Arka menggelengkan kepalanya saat melihat Kenan tertidur disofa dekat tangga, tak jauh dari kamar mereka.


Kenan merasa ada seseorang yang berada didekatnya, perlahan ia bangun membuka matanya.


"Kak Arka." Sahut Kenan kaget saat melihat kakak iparnya itu bersama dengan Vara.


"Kamu kenapa tidur disini?" Tanya Arka.


"Ini semua gara-gara kak Arka juga." Ucap Kenan segera bangun mengambil bantal dan selimutnya kemudian berjalan kearah kamarnya.


"Singanya belum juga jinak Nan, Cepat jinakkan dia kembali, bahaya kalau tidak jinak." Ujar Arka.


"Datar banget tuh muka." Sahut Arka melihat ekspresi adik iparnya itu.


"Tidak sadar kamu bee." Sahut Vara berlalu meninggalkan Arka menatapnya bingung.


Arka yang sudah mengerti ucapan istrinya langsung menyusul masuk kamar.


Diva dan teman-temannya duduk terdiam dikantin, dengan pikiran masing-masing, memikirkan keadaan Rafa, yang kembali masuk kerumah sakit, Dengan keadaan sedang koma.


Mereka juga menyesali kebodohan sahabatnya itu yang mencoba mengakhiri hidupnya.


Tadi pagi saat Diva siap-siap untuk kesekolah Tante Dina mengabari kalau Rafa kembali dirawat.


Ponsel Diva berdering tanda notif pesan.


📩 " Yank, kenapa tidak bangunin aku tadi,dan maaf *aku kesiangan, tidak bisa antar kamu. 🙏🙏😐😐


📨 " Tadi aku buru-buru by', aku juga minta maaf soal tadi malam, O iya by', Rafa kembali masuk rumah sakit.


📩 Ya sudah aku kesana buat jenguk dia, kalau sudah mau pulang hubungi aku.


I Love You Yank 😘😘😘


📨 " I Love You to By'.😘😘*


Diva kembali memasukkan ponselnya kedalam saku baju seragamnya, Diva meminum jus yang sudah ia pesan tadi.


"Gue masih belum nyangka, kalau Rafa mengalami nasib seperti itu." Sahut Jova menatap lurus kedepan.


"Lebih baik kita doakan dia yang terbaik, semoga Rafa baik-baik saja dan secepatnya kembali seperti dulu." Ujar Kiki dan diangguki semua teman-temannya.


Kenan Dan Ray sudah berada dirumah sakit, sebelumnya Kenan menghubungi Ray, yang masih berada di kota Z.


Mereka langsung masuk keruangan dimana Rafa sedang dirawat.


"Assalamualaikum Tante." Ucap Kenan dan Ray bersamaan saat masuk keruangan Rafa.


"Walaikumsalam salam, Suaminya Diva kan?" Sahut Tante Dina dan memastikan kalau itu suami Diva.


"Iya Tante." Jawab Kenan Seadanya, yang memang Kenan tidak banyak bicara dengan orang yang baru ia kenal.


Berbeda dengan Ray yang cepat akrab dengan semua orang yang ia kenal baik itu orangtua atau seumurannya.


"Bagaimana keadaan Rafa Tante?" Tanya Ray.


"Dia masih koma, kata dokter Rafa depresi, dan tidak memiliki semangat buat hidup." Jawab Tante Dina kembali menangis.


"Yang sabar ya Tante, dia pasti akan segera sembuh." Ucap Ray menusap pelan bahu Tante Dina.


Diva dan kawan-kawan terlihat berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Rafa, Diva sudah mengabari Kenan kalau ia langsung kerumah sakit ikut mobil Jova, jadi Kenan tidak perlu menjeputnya.


Diva langsung masuk keruangan Rafa di ikuti teman-temannya.


"By', bagaimana keadaan Rafa?" Tanya Diva saat sudah duduk disamping Kenan.


"Belum ada kemajuan yank." Jawab Kenan merapikan rambut Diva yang terlihat berantakan.


"Tante sama Om Malik mana?" Tanya Hera.


"Om Malik sedang ada urusan, kalau Tante Dina saya suruh pulang dulu buat istirahat, soalnya dia tampak sangat kelelahan." Terang Kenan.


Diva menghampiri Rafa dan duduk dikursi samping brankar, di ikuti Kenan berdiri dibelakangnya.


"Woi Raf ... Bangun lu, kagak capek tiduran mulu." Ucap Diva.


"Bodoh lu Raf ... Apa elu tidak kasian sama orangtuamu, mereka sangat khawatir melihatmu seperti ini, elu harus ikhlas, dengan kamu seperti ini, apa kamu bisa mengembalikannya, kamu juga tidak bisa menyusulnya kan, kau hanya membuatnya tidak tenang dan menyiksanya." Ucap Diva dengan tubuh bergetar menangis, melihat sahabatnya yang sudah ia anggap saudara seperti itu.


Kenan mengusap pelan bahu istrinya, menenangkannya.


"Sekarang gue pulang dulu, kalau gue kembali elu belum bangun juga, gue sendiri yang akan membunuhmu." Ucap Diva lagi dan beranjak dari tempat duduknya langsung memeluk Kenan.


*Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak kritik dan saran kalian.


Jangan lupa juga


Like


Coment


Vote


Salam sayang dari Author


🤗🤗🤗🙏🙏🙏*