Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 04 Season 2


Setelah melihat suaminya mengakhiri pembicaraan nya lewat telepon, Diva segera menghampirinya, meletakkan nampan yang berisikan kopi hitam dan kukies di atas meja depan sofa. Kemudian Diva menghadapkan badannya ke arah Kenan yang sedang duduk bersandar.


"Kamu ada masalah serius, cerita ke aku, walau mungkin aku nggak bisa membantu pekerjaan kamu, tapi setidaknya aku bisa bantu yang lain, seperti mencoba untuk menghiburmu, dan juga mendoakan agar semuanya cepat selesai !" Ujar Diva lembut sambil mengusap punggung polos Kenan, mencoba untuk menenangkannya, karena ia tahu suaminya itu sedang dalam emosi.


Kenan tersenyum mendengar perkataan istrinya itu, lalu Kenan menyandarkan kepalanya di bahu Diva, memeluk pinggangnya erat.


"Ada masalah di salah satu outlet Yank, dan outlet itu adalah salah satu outlet yang besar yang berada di pusat kota Xx, hal itu menyebabkan kerugian yang sangat besar dan bisa saja mempengaruhi outlet yang lainnya, karena outlet itu lah yang banyak menghasilkan keuntungan."


"Dan di tambah lagi perusahaan Ayah yang terancam bangkrut karena salah satu karyawannya menggelapkan dana yang sangat besar." Kenan menjelaskan semua masalah yang ia alami dan juga perusahaan Pak Salman.


"Kamu yang sabar, mungkin ini cobaan untuk keluarga kita, dan aku yakin Allah akan memberikan kita pelajaran dan balasan yang lebih dari apa yang kita punya sekarang." Ucap Diva lembut memeluk Kenan.


"Terimakasih ya yank, kamu selalu saja mampu meringankan beban ku. !" Ucap Kenan mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya.


"Iya, sebagai suami istri emang haruskan seperti itu, selalu saling mendukung, dan saling berbagi suka dan juga duka. Makanya kalau ada masalah jangan di pendam sendiri, apa gunanya juga aku sebagai istri kamu !" Ujar Diva.


"Duhhh istri bar-bar aku tambah dewasa aja ya sekarang." Ujar kenan mengecup sekilas bibir Diva.


"Kan aku sekarat udah jadi Bunda."


"Jadi nggak minat lagi kan buat ngetrek, padahal aku ada niat loh buat belikan kamu penggantinya soulmate kamu, alias motor kesayangan kamu dulu." Ucap Kenan memperbaiki posisi duduknya.


"Beneran by' ? Sahut Diva semangat.


"Nggak bercanda doang, hahaha." Kenan tertawa karena berhasil mengerjai istrinya, dan juga sedikit merasa sedikit melupakan masalah pekerjaannya.


Seketika Diva cemberut dan terlihat sangat kesal, melihat Kenan sangat puas menertawakan nya.


"Ya sudah sana, pakai bajunya, nanti masuk angin !" Ucap Diva sedikit ketus.


"Pakein...!" Ujar Kenan manja.


"Manja benget sih, udah bapak-bapak juga." Ujar Diva kemudian beranjak kemudian berjalan mengambilkan pakaian Kenan yang ia siapkan tadi di atas tempat tidur.


"Lah...Emang baby Khay aja mau di manja Bunda, ayahnya juga dong." Ucap Kenan tak mau kalah sambil menyeruput kopi yang telah dibuat Diva tadi.


"Udah bapak-bapak juga, sekalian butuh minyak telon juga nggak kayak Baby Khay." Tawar Diva kembali berjalan menghampiri Kenan membawa pakaian di tangannya.


"Nggak perlu yank, aku cuma butuh kamu di samping aku, itu sudah hangat untuk aku." Ucap Kenan tersenyum manis.


"Gombal.


Seperti kemauan Kenan yang ingin di pekein baju, Diva dengan telaten memakaikannya pakaian kepada suami manjanya itu.


"Terimakasih bidadari ku." Ucap Kenan mengecup kening lalu bibir Diva sekilas.


"Iya, sama-sama, baby besarku." Balas Diva mengusap rambut Kenan seperti halnya kepada anak kecil.


"Baby, tapi bisa bikin baby maksudnya yank ? Goda Kenan.


Diva hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya itu, lalu mengutip handuk bekas Kenan lalu ia jemur di tempat yang semestinya yang ia siapkan di kamarnya.


"Ya sudah yank, kamu istirahat sana ! Aku mau lanjutin pekerjaan tadi." Seru Kenan.


"Aku belum ngantuk, dan aku bakal temanin kamu di sini." Sahut Diva berjalan ke arah sofa panjang lalu membaringkan badannya di sana.


"Tapi kalau sudah mengantuk pindah ke tempat tidur ya !" Ujar Kenan kemudian duduk di depan sofa yang sedang di tiduri Diva.


"Kok duduk di situ, kenapa nggak di sofa aja ?"


"Biar bisa dekat kamu, biar bisa tambah semangat kerjanya."


"Ya sudah duduk di sofa sini aja !"


"Nggak usah yank, di sini nyaman kok, lagian kalau aku duduk di situ, nanti kamu tidak nyaman berbaring nya, pasti kaki kamu tidak bisa di luruskan." Terang Kenan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Kenan sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia melirik jam dan ternyata sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tanpa ia rasa, sudah selarut ini, Kenan pun langsung berbalik kepada Diva yang masih terbaring di sofa dan ternyata Diva ketiduran dengan ponsel masih berada di tangannya yang terletak di atas perutnya.


"Maafkan aku yang, kamu sampai tertidur di sini." Ucap Kenan sedikit berbisik takut mengganggu tidur nyenyak Diva, Kenan menatap wajah teduh istrinya saat tertidur, sambil merapikan rambut Diva yang sedikit menutupi wajahnya.


Dengan sangat hati-hati Kenan mengambil ponsel Diva dan menyimpannya di atas meja lalu dengan perlahan dan sangat hati Kenan memindahkan Diva ke tempat tidur, Diva pun tak terusik sedikitpun.


🍀🍀🍀


Ke esokan harinya


Di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota Z, sepasang anak muda sedang menikmati makan siangnya, keduanya terlihat sedang mengobrol sesekali terlihat tertawa.


"Jadi kapan rencananya kamu balik ke Singapore ?" Tanya Jova.


Ya, mereka adalah Jova dan Noval, setelah tadi malam mereka janjian untuk sekedar berjalan-jalan bersama, menikmati suasana kota Z, selama belum kembali kerutinitas kampusnya di Singapore.


"Aku nungguin kamu, kita bisa balik bareng." Jawab Noval.


"Aku baliknya dua hari lagi loh, emangnya kamu nggak balik ke rumah orangtua kamu dulu ?"


"Nggak usah, palingan mereka juga sibuk."


Jova hanya mengangguk mendengar ucapan Noval. Di saat ia asik mengobrol tiba-tiba Jova melihat seseorang yang sangat ia kenal yang berjalan masuk ke cafe.


"Kiki..." Panggil Jova saat melihat itu beneran Kiki saat Kiki memasuki cafe.


Kiki yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke arah asal suara, dan tersenyum saat melihat Jova yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Kiki berjalan menghampiri Jova, namun saat dekat dari meja Jova, wajah Kiki langsung berubah datar saat melihat Noval yang sedang duduk bersamanya. kerena dari pintu masuk Kiki tidak melihat keberadaan Noval karena sedikit terhalangi dengan hiasan bunga yang cukup besar.


Dengan langkah berat Kiki melanjutkan langkahnya di mana Jova dan Noval duduk.


"Ki... kebetulan banget kita ketemu di sini, gabung aja yuk !" Ajak Jova langsung menarik tangan Kiki untuk duduk di sampingnya.


"Hai Ki..." Sapa Noval.


"Hay..." Balas Kiki singkat dan buru-buru mengalihkan dirinya kembali ke arah Jova dan tersenyum di paksakan.


"Maaf ya Jov, kali ini gue nggak bisa gabung, gue harus menemui pemilik cafe ini dulu." Ucap Kiki.


"Kok gitu, kamu kenal dengan pemilik cafe ?"


"Iya kenal, soalnya gue kerja part time di sini, dan hari ini gue mau minta izin buat nggak masuk untuk beberapa hari kedepan, soalnya nenek lagi di rawat di rumah sakit." Terang Kiki.


"Kamu kerja.?" Jova kaget mendengar bahwa Sahabatnya itu bekerja part time.


"Iya Jov, gue harus kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari gue dan juga nenek, apalagi sekarang nenek lagi sakit-sakitan, nyokap gue sudah tidak ada untuk nanggung kehidupan kami, siapa lagi kalau bukan gue yang bertanggungjawab di keluarga gue." Terang Kiki.


"Maaf ya Ki, gue sebagai sahabat belum bisa buat bantu, gue aja masih bergantung sama orangtua." Sesal Jova yang merasa prihatin dengan keadaan sahabatnya.


"Nggak apa-apa, gue masuk ya." Ujar Kiki kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan masuk kedalam cafe.


Jova menatap nanar kepergian sahabatnya itu, Jova terus memperhatikan Samapi punggung Kiki sudah tak terlihat karena sudah masuk ke salah satu ruangan yang berada di pojok cafe tersebut.


Begitupun Noval terus menatap lurus keluar jendela Kaca dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, Ia merasa sangat tidak enak hati setelah mendengar cerita Kiki. Tanpa ia sadari Jova sedari tadi memanggilnya.


"Nov....Noval....Kemu kenapa ?" Jova menggoyang-goyangkan lengan Noval yang melamun sejak tadi.


"Ah... Maaf... Maaf...." Ucap Noval.


"Kamu kenapa ?" Jova mengulangi pertanyaannya.


"Nggak apa-apa." Jawab Noval meminum minumannya sedikit salah tingkah karena kedapatan melamun.


"Kamu mikirin apa sih, sepertinya sedari tadi kamu melamun ?" Jova memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Aku hanya mikirin, di saat aku bersenang-senang, bahkan aku bisa berkuliah di luar yang aku tahu itu bukan biaya sedikit, dari hasil jerih payah orangtua, kadang aku masih merasa kurang, tanpa aku sadari masih ada orang yang kesusahan diluaran sana, dan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya." Ujar Noval menatap lurus kedepan.


"Iya, sekarang aku sadar kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang, contohnya saja Kiki, aku nggak menyangka hidupnya akan seperti itu setelah mamanya meninggal, padahal setau aku, papanya itu orang yang cukup berada, dan tidak mungkin juga ia tidak bisa menghidupi anaknya." Ucap Jova dengan tatapan sendunya, ia memikirkan nasib sahabatnya itu, harus bekerja keras demi tanggungjawab besar yang sedang ia pikul di pundaknya di umur yang masih sangat muda.


"Maafin gue, dan keluarga gue Ki, karena kami kamu menderita seperti saat ini, Maaf...." Batin Noval.


Bersambung....


Jangan lupa biasakan Like, Coment, Vote, Setelah membaca episodenya 😊😊😊😊


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️