
Enzy terlihat menopang dagu sambil menatap lurus lewat jendela yang ada di kampusnya, ia terus kepikiran kata-kata Khay yang tidak akan mengganggu dan mencampuri urusannya, dan akan menjalani kehidupan masing-masing.
"Nzy, catatan materi pas Minggu kemarin mana, gue pinjam dong, soalnya Minggu kemarin gue enggak sempat nyatat, Rico ( Teman sekelas mereka ) Bilang kalau kita ada kuis nanti." Ucap Rendra yang tiba-tiba duduk di samping Enzy. Enzy masih tak berkutik saat Rendra duduk disampingnya, ia terus saja melamun, Rendra mengerutkan keningnya melihat sikap Enzy.
"Enzy, apa kau mendengarku ?" Tanya Rendra mengibar-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu, namun Enzy sama sekali terganggu.
"Enzy...." Panggil Rendra dengan meninggikan sedikit suaranya, masih saja Enzy tak menggubrisnya.
Tiba-tiba Rendra terbesit dipikirannya untuk mengerjai untuk mengerjai sahabatnya itu.
"Enzy sadar woi, tuh Khay lagi pelukan peluk-pelukan sama cewek lain, mana mesra banget lagi." Ucap Rendra di dekat telinga Enzy, saat itu juga Enzy langsung tersadar dan langsung melihat ke arah jendela.
"Mana ?" Tanya Enzy terus melihat kearah luar jendela mencari keberadaan Khay dengan seorang cewek seperti yang dikatakan Rendra.
"Hahahaha...." Rendra tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan Enzy.
Enzy menatap tajam sahabatnya itu karena sadar kalau ia sedang di kerjain.
"Puas....?" Ucap Enzy kesal sambil memukul keras lengan sahabatnya itu.
"Puas banget pake benget." Sahut Rendra mengusap lengannya yang mendapat pukulan keras dari Enzy.
"Apa yang kau lakukan, hah, kau berniat mempermainkan ku, hah ?" Geram Enzy lalu membuang muka dari Rendra yang masih menertawakannya.
"Aku tidak berniat mempermainkan mu, tapi gue lakukan itu karena sejak tadi kamu melamun terus, gue ajak bicara tapi kamu sama sekali tak mendengarkan ku." Jelas Rendra.
"Sebenarnya ada apa, kenapa kau sampai melamun seperti itu ?" Tanya Rendra kini mulai serius.
"Jangan bilang, jika kamu meminta pisah lagi sama Khay ?" Rendra mencoba menebak apa penyebab Enzy melamun seperti tadi.
"Asal kamu tahu saja, gue sudah lama mengenalnya, bahkan sejak kecil kami sudah dekat, sama seperti mu, tapi gue dan dia lebih lama dekat dengannya daripada dirimu, karena kami tinggal dikota yang sama, tapi perlu kau ketahui, dia pria yang sangat baik." Ucap Rendra karena sejak tadi Enzy hanya diam menatapnya.
"Jadi, kau lebih membelanya dari pada aku ?" Ujar Enzy menatap malas pada sahabatnya itu.
"Gue tidak membela siapapun, tapi aku mengatakan yang sebenarnya." Sahut Rendra.
"Apa kalian bertengkar lagi ?" Tanya Rendra setelah dia dan Enzy cukup lama terdiam.
"Harusnya kau berterimakasih padanya karena dia telah merawatmu saat kau jatuh sakit, walaupun dia bilang kalau dia melakukannya hanya demi takut kena marah dari orangtuanya, tapi gue seratus persen yakin, kalau dia melakukannya itu tulus." Ucap Rendra.
Enzy terdiam mencoba mencerna ucapan-ucapan Rendra, ia juga ingin sekali berbaikan dengan suaminya itu, tapi entah kenapa ia pikirannya selalu saja berkata tidak, karena kejadian yang pernah menimpahnya.
"Tapi itu tergantung dari kau juga sih, aku hanya mencoba memberitahu mu, Tapi jika gue berada di posisimu, gue tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatanku, untuk menjadi istri dari seorang KHAYRAN AL FARIZIQ, hanya karena dia seorang playboy." Ucap Rendra benar-benar serius.
"Aku tak pernah bilang kalau dia jahat." Sahut Enzy.
"Tapi kau diam-diam bukan memikirkan bagaimana cara kamu berpisah dengannya kan ? Tanya Rendra menaikkan kedua alisnya.
"Tidak, kapan aku bilang seperti itu ? Kamu jangan terlalu cepat berasumsi, jika kamu belum mengetahui apa yang sebenarnya !" Seru Enzy.
"Bukannya pernyataan itu cocok buat kamu ?" Rendra mengembalikan kata-kata Enzy, cukup sarkas.
Enzy seketika bungkam mendengar Rendra mengembalikan kata-katanya.
"Iya aku akui, kalau aku salah." Sahut Enzy.
"Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu untuk kedepannya, soal hubungan kalian ?" Tanya Rendra.
"Belum." Jawab Enzy singkat.
"Apa, jadi kamu mau seperti ini terus ?" Tanya Rendra.
"Kamu tahu sendirikan bagaimana aku membencinya, tapi dia malah membantuku, bahkan dia tetap selalu berusaha untuk berbaikan denganku, aku sebenarnya bingung sendiri dengan diriku sendiri." Ujar Enzy.
"Jadi untuk sementara kami memutuskan untuk tidak saling menganggu satu sama lain, kami juga sepakat untuk tidak mengurusi urusan masing-masing, dan menjalani kehidupan masing-masing sampai kita menemukan jalan keluarnya." Jelas Enzy.
Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kedua di sahabatnya itu, yang masih saja bermusuhan, padahal ia tahu kalau sebenarnya mereka memiliki perasaan saling menyukai, namun tak ada yang menyadarinya.
"Itu bagus, dengan begitu kalian tidak akan lagi bertengkar." Ucap Rendra.
Tiba-tiba ponsel Rendra berdering tanda panggilan masuk, Rendra mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memperlihatkan kepada Enzy siapa yang menghubunginya.
"Suamimu menelfonku." Ucapnya lalu menjawab panggilan dari suami dari sahabatnya sekaligus sahabatnya juga.
📞 "Hallo Khay ada apa ?"
📞 "Apa kau bersama Enzy sekarang ?" Tanya Khay tanpa berbasa-basi.
📞 "Iya, dia duduk di sampingku." Sahut Rendra beralih melihat Enzy yang sejak tadi duduk disampingnya.
Enzy terus memperhatikan Rendra yang sedang berbicara dengan Khay dibalik telfon, ia berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan.
📞 "Kenapa kau tidak menghubunginya langsung, saja ? Jangan bilang kalau kamu tidak mengetahui nomor ponselnya." Tanya Rendra penuh selidik sambil menatap Enzy yang juga menatapnya.
📞 "Ummm kamu benar ! Aku memang baru akan memintanya, tapi kamu tahu sendirikan hubungan kami, kami sering bertengkar bahkan tak pernah akur barang sebentar saja, jadi mana bisa aku meminta nomor ponselnya." Jelas Khay.
📞 "Lalu, dimana kalian sekarang" Tanya Khay kemudian.
📞 "Di kelas... Kami sedang menunggu dosen masuk." Terang Rendra.
📞 "Mmm, kalau begitu bilang padanya, kalau gue terlambat pulang." Seru Khay.
📞 "Kenapa kau tidak bilang saja sendiri padanya, langsung ?" Ujar Rendra.
📞 "Tidak, gue hanya ingin mengatakan itu, lagian kami sudah sepakat untuk mengurus diri masing-masing, dan tidak saling mengganggu, tapi sepertinya gue harus bilang padanya kalau gue terlambat pulang, buat antisipasi, kalau saja tiba-tiba bunda gue berkunjung di tempat kami." Jelas Khay.
📞 "Pokoknya bilang saja padanya kalau aku ada latihan dengan tim sepak bolaku." Tambah Khay.
📞 "Oke, gue akan menyampaikan ini padanya, kau tidak perlu khawatir." Ucap Rendra kemudian panggilan telpon pun berakhir, Rendra memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Apa yang dia katakan ?" Tanya Enzy penasaran.
"Ha....ha..Hay....apa kau begitu penasaran ?" Goda Rendra.
Enzy memutar bola matanya malas.
"Ya sudah jika kau tidak ingin memberitahuku, apa peduliku." Ucap Enzy acuh.
"Dia bilang, kalau dia akan pulang terlambat, karena ada latihan dengan tim sepak bolanya." Ucap Rendra.
"Kenapa juga harus bilang, lagian gue juga seneng kalau dia tidak pulang sekalian." Ujar Enzy berbanding terbalik dengan isi hatinya.
"Jangan pura-pura sok enggak peduli, bilang aja kalau sebenarnya kamu merasa kesepian nantinya, karena enggak akan ada Khay yang akan mengganggumu." Ucap Rendra.
"Kamu !" Enzy mengangkat tangannya ingin memukul Rendra karena kesal, tapi dengan cepat Rendra menahannya.
"Sudah, jangan coba-coba memukulku lagi." Ucapnya.
"Cepat berikan catatan kamu minggu kemarin, sebentar lagi dosen pematerinya masuk !" Seru Rendra menarik tas Enzy yang berada dibawah lengan sang empunya.
Bersambung....
Jangan lupa like Komen dan vote...
Dan terus ikutin jalan ceritanya, dan maaf jika alurnya sedikit membosankan, tapi ini masih awal perjalanan cerita mereka, Makanya terus pantengin cerita yang author buat ini. Terimakasih 🙏🙏🙏
Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘