
Kenan dan Diva memasuki gedung pencakar langit milik D&KA Group. Hari ini Diva dan Calista berencana untuk bertemu, dan akan bertolak ke kota S di mana proyek pembangunan sudah mencapai 35%.
"Yank, nanti kamu berangkatnya di antar supir saja ya, kamu harus hati-hati !" Ucap Kenan saat mereka sudah tiba diruangan Kenan. Diva duduk di sofa sedangkan Kenan duduk di meja kerjanya untuk memulai pekerjaannya yang sudah menumpuk karena tiga hari ia tidak masuk kantor.
"Iya, kamu enggak usah khawatir gitu ! Aku bisa jaga diri ko by." Ucap Diva melihat kekhawatiran di wajah suaminya.
"Bagaimana aku enggak khawatir, kamu pergi di lokasi proyek, di sana bahaya loh yank berada di tengah-tengah pembangunan seperti itu, atau kamu batalkan aja ya perginya, nanti saya Carikan orang yang bisa melakukan pekerjaan itu." Ujar Kenan berjalan ke arah istrinya, mengikuti Diva yang berjalan ke arah jendela kaca besar yang ada diruangan tersebut.
"Tidak usah by', aku sudah katakan enggak usah khawatirkan aku by' ! Kamu lupa siapa aku ?" Ucap Diva menghadap Kenan lalu mengusap rahang tegas suaminya itu.
"Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan mu yank, kamu akan kesana bersama Calista, aku belum sepenuhnya percaya dengan wanita itu." Kenan memeluk pinggang Diva.
"Positif tingkiing aja by', Ok !!" Sahut Diva merapikan sedikit dasi Kenan yang agak miring, lalu mengusap punggung Kenan untuk meyakinkan prianya kalau dia akan baik-baik saja.
"Ya sudah.
🍀🍀🍀
Tak lama Luci sekertaris Kenan masuk keruangan Kenan, di ikuti Calista dan seorang wanita di belakangnya, mungkin itu sekertis atau asisten Luci pikir Diva.
"Selamat pagi Pak Kenan Bu Diva." Sapa Celista.
Kenan yang tadinya sibuk di meja kerjanya, mengalihkan atensinya ke asal suara, lalu membalas sapaan Calista hanya dengan senyuman samar, sedangkan Diva yang duduk di sofa sambil mempelajari bekas-bekas pembahasannya dengan Calista, berdiri menyambut baik Calista, lalu mempersilahkan tamunya itu, duduk di Sofa. Kenan tak menggubris kedatangan Calista, dia tetap fokus pada pekerjaannya, ia serahkan semuanya pada Diva masalah proyek tersebut, ia tidak mau berhubungan langsung dengan wanita itu.
"Baiklah Bu Diva, apa bisa kita ke kota S sekarang, saya tidak bisa sampai sore di sana, saya ada janji dengan klaiyen nanti sore." Ujar Calista.
"Baiklah Bu, kebetulan saya juga tidak bisa sampai sore karena suami dan anak saya akan menungguku di rumah." Ucap Diva menekankan kata suami dan anaknya.
"Sebentar ya Bu, saya pamit kepada suami saya dulu !" Lanjut Diva lalu beranjak dari sofa.
"By, aku pamit ya." Ucap Diva meraih tangan Kenan untuk ia cium dan langsung mendapat balasan ciuman di kening.
"Kamu hati-hati ya sayang, sopir sudah menunggu kamu di bawah." Ujar Kenan merapikan anak rambut Diva.
"Iya, sore insyaallah aku sudah di rumah, saya usahakan aku sudah di rumah sebelum kamu pulang." Ucap Diva.
Calista yang melihat pasangan suami istri itu, mengepalkan tangannya, sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tak nekad melakukan sesuatu untuk sekarang.
Kenan yang melihat mimik wajah Calista seolah menahan kesal, keyakinannya semakin kuat kalau Calista ada niatan terselubung.
"Saya akan melihatnya lagi." Ucap Kenan dalam hati lalu kembali memanggil istrinya yang sudah berjalan ke arah Sofa.
"Yank, sini dulu kamu ada yang kelupaan !" Ujar Kenan, Diva kembali menghampiri Kenan.
"Ada apa ? Tanya Diva.
"Kamu lupa ini." Kenan berdiri di depan Diva lalu mencium bibirnya, kemudian memeluknya sambil memperhatikan Calista.
"Apa-apaan sih by, malu tau, masih ada Calista nih di sana" Bisik Diva.
Kenan tak menghiraukan perkataan Diva, lalu ia melepaskan pelukannya.
"Hati-hati !!" Ucapnya lalu kembali duduk di kursinya.
Setelah kepergian Diva dan Calista Kenan segera menghubungi bodyguard yang ia tugaskan untuk mengikuti Diva, secara sembunyi-sembunyi, lalu setelah itu ia menghubungi orang yang ia tugaskan untuk mengikuti setiap gerak-gerik Calista, orang kepercayaannya bekerja di dengan Calista.
Kenan sudah menyelidiki soal pelemparan saat di resort, dan sejak kejadian tersebut Kenan sering mendapatkan pesan mengancam, dan beberapa teror yang ia dapatkan.
🍀🍀🍀
Calista terlihat sangat kesal, dan amarah di wajahnya memuncak.
"Ada apa nona ?" Tanya Reni sekertis baru Calista.
"Tidak ada apa-apa." Sahut Calista.
Calista mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang, sambil tersenyum smirk.
Reni yang duduk di samping bosnya itu menatapnya bingung. Tapi Reni tak ambil pusing, ia memainkan ponselnya, dan berkirim pesan dengan seseorang.
Saat tiba di lokasi proyek, Diva turun dari mobilnya, di ikuti Calista dan Reni, mobil yang tumpangi Calista terparkir bersejajar dengan mobil Diva.
"Silahkan Bu, mari kita coba masuk ke bagian sana.!" Ajak Calista.
"Ibu, beruntung sekali ya, dapat suami seperti Pak Kenan." Calista mulai berbasa-basi, mencoba untuk lebih akrab dengan Diva.
"Iya, Dan tidak usah memanggil saya dengan sebutan ibu, panggil nama saja !" Ujar Diva.
"Ah baiklah, Div."
"Oh iya, sudah berapa lama Anda menikah dengan Pak Kenan, karena yang saya liat kalian masih sangat muda, dan mungkin kita seumuran, kalau saya baru setahun lulus SMA.
"Satu lagi bicaranya enggak usah terlalu formal, kecuali kita di kantor, dan saya kira kamu sudah tau sejak kapan kami menikah, karena suami saya bilang, kamu dan suami saya sudah bekerjasama sebelum keluar negeri kan ?" Ucap Diva.
"Pak Kenan cerita ?"
"Jelas dia cerita, apapun semuanya di ceritakan ke saya, baik pekerjaan, sampai hal sekecil apapun, dan ia juga bercerita tentang wanita-wanita yang selalu menggodanya." Jelas Diva membuat Calista terdiam.
"Dan suami saya cerita juga, kalau kamu pernah mencoba mendekatinya bahkan mengancamnya." Tambah Diva santai menyampaikan hal tersebut.
"Apa kamu tidak marah ?" Tanya Calista mencoba untuk mengontrol emosinya.
"Buat apa saya marah, saya percaya dengan suami saya, dan begitupun sebaliknya, kami memang menikah muda bahkan masih duduk di bangku kelas Xl SMA, tapi kita sudah melalui banyak cobaan, dan bukan hanya kamu wanita pertama yang melakukan hal seperti itu, dan nasib wanita-wanita tersebut sangat memperihatinkan, padahal mereka termasuk wanita yang dari kalangan atas, seperti kamu ini." Terang Diva.
"Tapi Aku tidak akan bernasib seperti mereka, bahkan kaulah yang akan bernasib sama dengan mereka Adiva." Geram Calista dalam hatinya.
"Maafkan saya Div, tapi sekarang saya sadar dengan apa yang saya lakukan dulu itu salah, sekarang aku benar-benar profesional kerja semata, dan juga saya bersyukur kalau Pak Kenan tetap melanjutkan kerjasama antar perusahaan kami." Ucap Calista tentu saja yang di katakan itu hanya sekedar pencitraan.
"Saya sudah memaafkanmu dari dulu, tapi jika kamu mencoba untuk menganggu rumah tangga ku, kamu bukan hanya menghadapi suami saya, tapi juga kamu harus menghadapi ku juga, karena saya tidak suka dengan orang yang munafik, dan penuh kebohongan." Diva menegaskan setiap kata ia sampaikan dengan tatapan mengerikan.
"Saya sudah benar-benar tidak ada niatan seperti itu Div." Sahut Calista.
"Aku harap memang seperti itu, dan seharusnya seperti itu." Diva berjalan mendahului Calista setelah berucap seperti itu.
"Rupanya kamu bukan wanita yang lemah, seperti yang saya pikirkan Diva." Gumam Calista menatap penuh amarah punggung Diva sambil mengepalkan tangannya.
Bersambung.....
Budayakan like, komen, dan Vote setelah membaca.
Jangan lupa mampir ke karya Author lainnya, langsung klik profil Author.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️