Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 63 Season 2


Kini sudah menunjukkan pukul 7 malam namun Diva masih saja mengurung diri di kamar, bahkan Diva belum makan sama sekali. Sedangkan Kenan sejak tadi juga tak keluar-keluar dari ruang kerjanya. Hingga baby Khay sedikit terabaikan hanya bi Siti dan Bi Ratih yang bergantian menjaganya.


Dengan mata sembabnya Diva keluar dari kamar tamu yang ia tempati sejak tadi, karena ia teringat dengan putranya, dengan langkah gontai Diva melangkahkan kakinya menuju lantai dua di mana kamar putranya berada.


Saat ia menaiki tangga ia berpapasan dengan bi Ratih yang sepertinya baru turun dari atas.


"Non, non sudah keluar, makanannya sudah bibi siapkan, apa non akan makan sekarang ?" Ujar bi Ratih.


"Tidak bi, saya masih belum lapar, tolong koper yang sudah saya kemas tadi tolong di bawa di kamar tamu, saya mau melihat Abang dulu !!" Seru Diva kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menunggu sahutan dari Bi Ratih.


"Abang kenapa bi ?" Tanya Diva saat ia membuka pintu kamar putranya dan mendapatinya menangis.


"Ini non, sepertinya tuan muda demam suhu badannya sangat panas." Jelas Bi Siti masih berusaha menenangkan bayi menggemaskan tersebut.


Diva langsung mengambil alih putranya itu, lalu ia baringkan di tempat tidur kemudian menyuruh bi Siti mengambilkan termometer di penyimpanan obat-obatan di kamarnya.


Tak lama Bi Siti kembali membawa apa yang diminta majikannya itu, dan langsung di selipkannya di bagian ketiak putranya.


"Bi suhunya sangat tinggi, sekarang juga kita bawa ke rumah sakit !" Seru Diva panik langsung membawa putranya keluar dari kamar di ikuti bi Siti.


"Ada apa ini, kenapa kalian terlihat panik seperti itu ?" Tanya Kenan khawatir saat mereka berpapasan di tangga.


"Tuan muda sakit tuan, saya dan nona akan membawanya ke rumah sakit." Jelas Bi Siti sedangkan Diva tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Kenan.


"Biar aku yang menemani Diva membawanya kerumah sakit, tolong siapkan beberapa perlengkapan Abang, dan minta sopir membawanya kerumah sakit nanti !!" Seru Kenan juga sudah ikut panik lalu dengan cepat menyusul Diva.


Diva yang sudah tiba di depan langsung memanggil pak Toni agar mengantarkannya ke rumah sakit.


"Pak cepat bawa saya ke rumah sakit !" Seru Diva sudah lebih dulu masuk ke mobil yang biasa pak Toni gunakan.


Pak Toni yang berada di pos satpam sedang mengobrol salah satu satpam yang berjaga di kediaman Kenan langsung menghampiri majikannya itu.


"Biar saya saja pak." Teriak Kenan yang masih berada di ambang pintu utama menjegah Pak Toni yang sudah membuka pintu mobil.


"Nanti bapak antarkan saja perlengkapan yang sedang di siapkan bi Siti ke rumah sakit !!" Seru Kenan saat ia berada di samping mobil.


Kenan dengan cepat masuk ke mobil dan melajukan dengan kecepatan agak cepat.


Dalam perjalanan Diva terus saja memeluk putranya yang sudah sangat pucat dengan air matanya yang ikut membanjiri wajahnya.


"Sekarang kamu tenang, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit !!" Seru Kenan menambah kecepatan mobilnya.


"Bagaimana aku bisa tenang melihat keadaan putraku seperti ini, aku takut dia kenapa-napa aku tidak mau dia meninggalkan ku, saat ini hanya Abang yang selalu membuatku bersemangat." Ujar Diva di sela-sela tangisannya.


Kenan hanya bisa terdiam mendengar ucapan Diva, ia merasa sangat tersindir dengan ucapan Diva barusan.


Setelah beberapa menit mobil yang di kendarai Kenan tiba tepat di depan UGD rumah sakit, Diva langsung turun dari mobil melarikan anaknya masuk tanpa menunggu Kenan lagi.


"Dok.... Dokter tolong anak saya Dok !!" Teriak Diva panik.


Dokter yang jaga di rumah sakit malam itu langsung menangani baby Khay, sementara Diva di suruh menunggu di depan UGD. Tak lama Kenan ikut masuk dan langsung merangkul Diva yang sedari tadi mondar-mandir di depan UGD tersebut dan membawanya duduk di kursi tunggu.


Diva menangis dalam pelukan Kenan memikirkan keadaan anaknya, sedangkan Kenan terus mengusap punggung istrinya itu, Kenan juga tak kalah khawatirnya dengan keadaan putranya.


Tak lama dokter yang sedari tadi menangani baby Khay keluar.


Diva langsung beranjak dan menemui dokter yang bername tag Dimas itu.


"Bagaimana anak saya Dok ?" Tanya Diva tak sabaran.


"Setelah di periksa anak ibu terjangkit DBD dan membutuhkan perawatan yang intensif." Jelas dokter Dimas.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik buat anak saya." Sahut Kenan.


🍀🍀🍀


Setelah mengurus semua administrasinya, kini baby Khay sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Kenan tak tanggung-tanggung Kenan memberikan pasilitas terbaik untuk perawatan putranya itu.


Kini Diva terus berada di samping brangkar milik putranya, Diva terus menggenggam tangan mungil milik baby Khay.


"Sayang maafin bunda, semuanya karena keteledoran bunda, bunda belum bisa menjadi bunda yang baik buat kamu, akhir-akhir ini bunda banyak mengabaikan kamu sayang, cepat sembuh ya, temani bunda, bunda janji tidak akan lagi mengabaikan kamu, cepat sembuh ya !!' Diva terus bermonolog sendiri dengan isakannya sesekali ia mencium tangan mungil putranya yang sejak tadi sudah tertidur karena mungkin pengaruh obat.


Kenan yang sejak tadi duduk di sofa terus memperhatikan Diva, ia kemudian menghampiri wanita yang sudah ia torehkan luka yang mendalam, Kenan langsung memegang pundak Diva dari belakang sambil mengusapnya pelan berniat untuk menenangkannya.


"Sudah ya ! sekarang lebih baik kita doankan Abang supaya ia cepat sembuh." Ujar Kenan pelan.


"Sekarang lebih baik kamu makan, kata bi Ratih sejak siang tadi kamu belum makan apa-apa, aku sudah memsan makanan kesukaan kamu." Lanjut Kenan saat Diva hanya terdiam.


"Aku tidak selera makan, lagian aku juga tidak lapar sama sekali, lebih baik kamu saja yang makan !!" Sahut Diva dingin melepaskan tangan Kenan yang sejak tadi berada di punggungnya. Diva hanya merasakan semakin sesak jika Kenan bersikap baik kepadanya.


"Tapi kamu harus makan, pikirkan juga kesehatan kamu ! Jika kamu ikutan sakit siapa yang akan menjaga Abang ?" Kenan kembali berujar.


"Sekarang pun aku sudah merasakan sakit yang teramat, tapi aku masih sanggup untuk menjaga putraku." Ucap Diva lagi-lagi dingin.


"Maa...


Baru saja Kenan akan berucap tapi ponselnya tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk.


Kenan sedikit menjauh dari Diva lalu menjawab panggilan tersebut.


📞 "Halo Sar ada apa ?" Tanya Kenan terdengar lembut setelah mengangkat panggilan tersebut.


📞 "......


📞 "Em... Iya sepertinya malam ini aku tidak bisa, Khay lagi sakit, sekarang aku ada di rumah sakit." Jelas Kenan.


📞 ".....


📞 "Besok aja kamu kesini, ini sudah malam, lagian saat ini Khay harus banyak istirahat."


📞 ".....


📞 "Iya selamat malam dan beristirahat !" Seru Kenan kemudian memasukkan kembali ponselnya di saku celananya.


Saat Kenan berbalik ke arah brangkar baby Khay saat itu juga Diva sedang menatapnya.


Aku masih berharap masalah yang menimpah keluarga kita hanya sebuah mimpi buruk, tapi setelah mendengar kalian bicara di telfon seperti itu aku benar-benar percaya kalau itu bukanlah mimpi ini benar-benar nyata Nan, Nan tolong bantu aku Nan, biarkan aku pergi setelah Abang keluar dari rumah sakit, aku akan merelakan kalian dengan ikhlas, aku akan mengurus surat perceraian kita nanti." Ucap Diva beralih menatap keluar jendela menampakkan gelapnya malam, seakan mengisyaratkan suasana hati Diva saat ini.


Diva sungguh merasakan sesak saat mengutarakan niat perceraiannya, tapi ia terus menguatkan dirinya agar tak lemah.


"Aku benar-benar sudah berada pada titik menyerah Nan, aku harap kamu bahagia di masa depan semoga saja tidak akan ada penyesalan di kemudian hari, jangan sampai kamu menyesalinya di saat aku benar-benar sudah tak lagi ada perasaan terhadapmu, dan semoga saja aku tidak larut dalam rasa sakit terus menerus, mari kita jalani kehidupan kita masing-masing setelah ini, demi Abang !!" Ucap Diva.


"Aku berpesan sebagai sahabat kamu, jangan sampai kamu mengulangi hal yang sama di kemudian hari, jangan sampai kamu menyakiti hati wanita lain, dan satu lagi aku akan selalu terbuka jika kamu ingin menemui putra kita, tapi aku minta tidak sebelum aku benar-benar bisa melupakan rasa sakit yang kau torehkan." Diva kembali berujar dengan nada yang berat.


Diva melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Sedangkan Kenan masih diam dan bungkam ia tidak tau harus berkata apa lagi, ia memejamkan matanya sebenarnya ia juga merasakan nyeri pada hatinya di saat mendengar semua kata demi kata yang Diva lontarkan dengan nada suara berat karena tangis, bukan hanya karena tangis tapi juga rasa sakit.


Bersambung.....


Tetap terus ikuti ceritanya di jamin bikin gregetan, seakan-akan kita ingin masuk dalam cerita tersebut saking gregetnya.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE KOMEN VOTE.


Tahan....Tahan.... Tarik nafasss.... keluarkan jangan terlalu tegang readers nanti sesak nafasnya.🤭🤭🤭


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️