
Setelah sampai apartemen, Enzy benar-benar merasa tak enak badan, Khay yang melihat itu menjadi khawatir.
Enzy langsung masuk ke kamarnya dan ingin merebahkan tubuhnya di tempat tidur namun Khay mencegahnya.
"Sayang, lebih baik kamu bersihkan dulu badan kamu, setelah itu baru kamu istirahat, tidak baik pakain yang sudah di pakai keluar di gunakan lagi untuk istirahat." Ucap Khay lembut duduk di pinggir tempat tidur, berdampingan dengan Enzy.
Enzy hanya mengangguk, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya, setelah mendapat dres tidurnya, Enzy beralih membuka lemari milik suaminya untuk menyiapkan juga pakaian yang akan digunakan dirumah. Setelah selesai Enzy masuk ke kamar mandi.
"Sayang kamu engga usah mandi ya, cukup bersihkan saja badan kamu !" Teriak Khay bersandar di kepala tempat tidur memperhatikan istrinya sejak tadi.
"Iya.." Sahut Enzy sebelum benar-benar masuk.
Sekitar lima belas menit, Enzy keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang sudah lebih segar, Enzy mandi dan mencoba keramas agar merasa lebih segar.
"Sayang kamu mandi ?" Tanya Khay setelah melihat Enzy ikut duduk di sampingnya lalu bersandar di kepala tempat tidur.
"Iya, sekarang aku sudah lebih segeran, setelah mandi." Ucap Enzy tersenyum kemudian mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Kamu mandi juga gih !" Lanjut Enzy menyuruh Khay agar segera mandi.
"Iya..." Sahut Khay meletakkan ponselnya di dekat Enzy lalu turun dari tempat tidur, langsung berjalan masuk ke kamar mandi, setelah beberapa menit, Khay membuka pintu setengah, hanya mengeluarkan kepalanya.
"Sayang handuk aku mana" Tanya Khay di balik pintu.
"Astaga aku lupa, yang selalu kamu pakai sudah aku simpan di tempat cucian kotor, tunggu aku akan ambilkan yang lain !" Seru Enzy lalu turun dari tempat tidur, berjalan menuju lemari khusus tempat penyimpanan handuk dan perlengkapan mandi lainnya.
"Ini !" Ucap Enzy memberikan handuk kepada Khay.
"Terimakasih sayang." Ucap Khay.
"Sama-sama, buruan gih nanti kamu masuk angin berlama-lama di dalam situ !" Seru Enzy kemudian kembali di tempat tidur.
Setelah berpakaian, Khay mengambil laptopnya, diatas meja belajar, kemudian ikut naik di tempat tidur, lalu bersandar di kepala tempat tidur di samping Enzy. Sementara Enzy tersenyum melihat suaminya itu, kemudian kembali fokus pada ponselnya.
Saat sedang melihat-lihat akun media sosial suaminya, tiba-tiba mengerutkan keningnya.
"Khay...." Panggil Enzy.
Khay yang sejak tadi sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya, langsung menoleh.
"Ada apa ?" Tanya Khay.
"Besok kamu ada acara gak ?" Tanya Enzy.
"Besok..." Khay tampak berpikir sejenak mengingat jadwal kegiatannya besok, dan tiba-tiba ia teringat, kalau besok ia ulang tahun yang ke 19.
"Oh...." Khay sedikit mendekati Enzy dan melirik ponsel Enzy yang memperlihatkan akun media sosialnya.
"Akhirnya kamu tahu juga." Goda Khay, membuat Enzy salah tingkah karena kedapatan melihat-lihat akun media sosial pria dihadapannya yang kini sudah menjadi suaminya.
"Besok aku tidak ada jadwal, dan bunda menyuruh kita kerumah utama besok untuk makan malam." Terang Khay.
"Emmm, ya sudah." Ucap Enzy masih salah tingkah.
"Sudah jangan salah tingkah seprti itu, mana hadiah ku ?" Ujar Khay lalu meletakkan kepalanya di bahu Enzy.
"Besok aja, ulang tahun kamu kan besok." Sahut Enzy menjauhkan bahunya dari Khay, namun dengan cepat Khay menarik pinggang Enzy.
"Aku mau sekarang." Ucap Khay menggoda.
"Tidak ! Aku enggak enak badan Khay, lagian kamu ada-ada aja, ini sebntar lagi masuk waktu magrib, dan saya tidak mau mandi lagi." Oceh Enzy.
"Maksud aku hadiah seperti ini ( Langsung mencium bibir Enzy sekilas ) emang kamu mikirinya apa sih sayang, Hem ?" Goda Khay membuat Enzy semakin memerah karena ia salah mengira.
Khay yang melihat itu semakin genjar menggodanya, wajah memerah Enzy sangat menggemaskan Dimata Khay.
"Sayang....Hay..." Khay mencolek pinggang istrinya itu membuat Enzy kegelian, dan langsung menoleh menatap tajam pria itu, karena sejak tadi Enzy tak berani menatap Khay karena telah salah persepsi soal hadiah yang di inginkan Khay.
Namun Khay yang mendapatkan tatapan tajam seperti itu sama sekali tak merasa takut, ia malah semakin menggoda istrinya dengan cara menciumnya dari jauh, membuat Enzy semakin kesal melihat sikap menyebalkan pria itu.
"Aku bercanda sayang, jangan menatapku seperti itu." Ucap Khay mengelus lembut kepala istrinya itu.
"Kami sih, selalu saja menyebalkan." Ucap Enzy kembali memainkan ponselnya.
"Iya enggak lagi, tapi besok aku mau meminta hadiahku." Ujar Khay juga kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Emmm..." Enzy hanya berdehem, membuat Khay tersenyum senang.
...----------------...
Ke esokan harinya, Enzy berangkat ke kampus bersama dengan Khay, hari ini Khay tidak ada jadwal kampus, maka dari itu setelah mengantarkan Enzy, Khay langsung berangkat ke kantor.
"Aku pergi dulu." Pamit Enzy meraih tangan Khay lalu menciumnya, lalu di balas Khay mencium kening istrinya itu.
"Nanti enggak usah jemput, aku mau mampir suatu tempat dulu." Ucap Enzy sebelum turun dari mobil.
"Mau kemana ?" Tanya Khay menahan lengan Enzy.
"Ada deh, nanti kamu juga bakalan tau, sudah sana, aku mau masuk dulu, hati-hati suamiku !!" Ucap Enzy lalu mencium pipi kiri sumainya itu, kemudian dengan cepat keluar dari mobil, melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun.
Khay yang mendapat serangan mendadak itu kaget, karena tak biasanya istrinya itu menciumnya lebih dulu.
"Aku jadi makin cinta sayang." Ucap Khay menatap kepergian istrinya itu yang semakin menjauh, sambil memegang pipinya.
...----------------...
Sejak Enzy masuk kelas, wanita itu terus saja tersenyum-senyum sendiri, mengingat kejadian tadi, membuat Rendra heran melihatnya.
"Apa ? Tanya Enzy tanpa mengeluarkan suaranya, pasalnya dosen sedang memberikan materi di depan.
"Kamu udah gak waras ya ?" Tanya Rendra berbisik, sedikit mendekatkan kepalanya di dekat telinga Enzy.
"Iya." Sahut Enzy kemudian kembali fokus pada materi yang diberikan oleh dosen.
Sepulang dari kampus, Enzy langsung menuju kesalah satu mall, untuk membeli sesuatu, setelah mendapatkan barang yang dia cari, Enzy langsung pulang kerumah utama, sebelumnya ia sudah menghubungi Khay kalau ia langsung ke rumah utama.
"Sayang, kok sendirian aja, Khay mana ?" Tanya Diva saat melihat Enzy masuk dengan berjalan kaki dari depan gerbang, sedang Diva duduk bersantai di depan garasi motor milik Kia, sambil memperhatikan Kia yang sibuk mengutak-atik motornya.
"Dia masih di kantor Bun, tapi aku sudah menghubunginya kalau aku langsung kesini." Jelas Enzy langsung mencium tangan ibu mertuanya itu, kemudian duduk didekatnya, langsung bergelayut manja di lengan wanita paruh baya itu.
"Bunda apa kabar ?" Tanya Enzy ikut memperhatikan Kia yang masih sibuk dengan motornya.
"Bunda baik." Sahut Diva.
"Ki, kenapa lagi mator kamu ?" Tanya Enzy pada adik iparnya itu.
"Tidak kenapa-napa sih kak, tapi aku ganti olinya doang." Jelas Kia.
"Sorry ya kak, aku enggak menyapa dan menyambut kakak, tangan aku lagi kotor semua nih." Ucap Kia memperlihatkan tangannya sedikit menghitam.
"Iya Enggak apa-apa Ki." Sahut Enzy.
"Sudah masuk yuk, sayang !" Ajak Diva pada menantunya itu.
"Iya Bun, aku juga mau membersihkan badan aku, udah lengket banget soalnya." Sahut Diva kemudian keduanya masuk meninggalkan Kia yang masih sibuk dengan kegiatannya.
...----------------...
Saat Khay akan keluar salah satu anak perusahaan yang dipercayakan Kenan untuk ia kelola, tiba-tiba seorang wanita muda seumuran dengan Kia menghampirinya di lobi dan langsung merangkul manja lengan Khay, membuat Khay langsung melepaskan tangan gadis tersebut.
"Cla, ngapain kamu kesini" Tanya Khay melihat sekeliling, karena beberapa orang memperhatikannya.
"Clarie ingin menemuimu, aku kangen tahu sudah lama kita engga ketemu." Sahut wanita yang bernama Clarie itu.
"Aku mau pulang, Enzy sudah menungguku dirumah utama." Ucap Khay cuek lalu pergi meninggalkan Clarie begitu saja.
"Tunggu, kita pulang bareng." Seru Clarie mengejar langkah Khay yang sudah menjauh.
"Ngapain kamu ikut, kamu bawa mobil sendirikan ?" Tanya Khay jengah.
"Tadi ! Tadi aku di antar sopir bunda." Jawab Enzy langsung masuk ke mobil mendahului Khay.
Dengan sangat terpaksa Khay membiarkan gadis cerewet itu ikut dengannya.
"Ini buat kamu !" Clarie memberikan kotak kado yang tak terlalu kecil dan juga tak terlalu besar.
"Kamu tidak perlu memberiku itu." Sahut Khay fokus pada jalanan di depannya.
"Khay aku sudah membelinya ini untukmu, apa kamu tega menolaknya, jika kamu tidak ingin menerimanya, lebih baik di buang saja." Ujar Clarie, menurunkan kaca mobil ingin membuang kotak hadia tersebut.
"Emm yasudah, taro aja di situ nanti aku ambil." Mau tak mau Khay terpaksa menerimanya.
Dengan senyum mengembang Clarie meletakkan kado tersebut di atas dashboard.
Tak lama mobil yang dikendarai Khay tiba di kediaman utama Kenan, dengan wajah sumringah Khay langsung keluar dari mobil begitu saja, dan masuk kedalam rumah tanpa menunggu Clarie yang ia tinggalkan di mobil, karena tertidur.
"Assalamualaikum, orang paling tampan datang." Teriak Khay dari luar, membuat Enzy, Kia, dan Diva langsung menoleh kearahnya, yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Cih... Tampan, tampan dari mana coba ?" Cibir Kia, sedangkan Enzy hanya tersenyum melihat sikap suaminya itu.
"Sayang, kamu dari tadi ?" Tanya Khay langsung duduk di samping istrinya.
"Iya, kamu mandi dulu gih, kamu keringetan habis dari luar !" Ujar Enzy.
"Bang kamu gak sapa bunda." Ujar Diva karena Khay tak menyapanya sama sekali.
"Hay bunda ku yang cantik." Sapa Khay menghoda bundanya itu.
"Cih, tau disini ada pawangnya, jadi kita di cuekin." Cibir Diva lalu meneruskan kembali melihat majalahnya.
"Khay...." Tiba-tiba Clarie masuk berteriak memanggil Khay dengan manja, membuat Enzy langsung menoleh melihatnya, lalu berbalik menatap suaminya, sambil menaikkan kedua alisnya seolah ia bertanya wanita itu siapa ?
"Clarie, kamu kenapa teriak-teriak gitu ?" Tanya Diva.
"Khay tuh Bun, masa dia ninggalin aku sendirian di mobil." Ujar Clarie lalu mendekati Khay, dan duduk di sampingnya, jadilah Khay berada di tengah-tengah antara Clarie dan Enzy.
"Wahhh, hebat kamu bang, bawa wanita lain, padahal disini ada bini lagi nungguin." Ujar Kia mengompor-ngompori.
"Jaga ucapan kamu !" Ucap Khay berdiri lalu menarik tangan Enzy agar pindah dari sofa tersebut, namun saat Khay akan melangkah kakinya Clarie menariknya.
"Khay kok kamu pindah sih, aku masih kangen tau, kamu udah melupakan ku, sejak kamu menikah." Ujar Clarie membuat Enzy menatap tajam Khay.
"Sayang aku bisa jelasin, jangan dengarkan apa yang dia katakan." Ucap Khay memegang tangan Enzy.
"Emmm..., kalau gitu aku ke kamar dulu, mau nyiapin pakaian kamu." Sahut Enzy dingin.
"Bun, Ki, aku pamit ke kamar dulu ya ?" Pamit Enzy lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut setelah mendapat anggukan kepala dari Diva.
Bersambung.......
Like, Komen, dan Vote...
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏