
Kenan, Diva beserta kedua Oma pulang setelah brangkar Khay sudah di pindahkan, karena Kenan harus menghadiri rapat penting, juga beberapa rapat agenda Khay di perusahaan milik putranya itu, karena selama perawatan Khay berlangsung Kenan yang akan mengurusnya, karena asisiten Khay pergi ke kota Z untuk menangani anak perusahaan peninggalan Rafa disana.
"Sayang..." Khay kembali manja seperti sebelum-sebelumnya.
"Apa, lebih baik kamu istirahat yank, kamu belum pulih." Sahut Enzy menoleh kearah samping dimana suaminya itu berbaring di brangkarnya sendiri.
"Aku mau pindah di situ ya, harusnya ayah tidak perlu memindahkan brangkar satu lagi untukku, aku rasa satu brangkar cukup untuk kita berdua." Ucap Khay.
"Nggak usah ngaco yank, kita disini bukan untuk mesra-mesraan, kita disini pasien, jadi nggak usah ngaco !" Ujar Enzy.
Khay menghiraukan ucapan istrinya itu, laki-laki itu malah turun dari brangkarnya, membawa tiang infusnya mendekat kearah brangkar Enzy, lalu ia ikut naik di brangkar yang sama dengan istrinya.
"Yank ngapa...
"Pokoknya aku mau disini sayang, kamu jangan melarangku." Ujar Khay menyela ucapan Enzy, kemudian berbaring otomatis Enzy sedikit menggeser badannya.
"Sini aku peluk !" Ujar Khay menarik Enzy masuk ke dalam pelukannya.
"Sayang, maaf..." Ucap Khay mengeratkan pelukannya.
Enzy yang bersandar nyaman di dada bidang Khay mengeryitkan keningnya mendengar permintaan maaf pria itu.
"Maaf untuk apa ?" Tanyanya mengangkat kepalanya menatap wajah Khay yang juga sedang menatapnya.
"Maaf soal tadi pagi, karena aku mengusirmu." Sahut Khay.
"Tidak tank, harusnya aku yang meminta maaf, aku ngerti kok kalau kamu marah, aku salah tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan kamu." Ucap Enzy.
"Kamu pasti kecewa banget ya ?" Tanya Enzy.
"Emmm..... Aku sungguh kecewa, tapi aku juga salah telah berprilaku seperti tadi kepadamu sayang, aku sungguh mencintaimu Nzy, tapi kenapa kau tega mengatakan itu padaku, aku memang sangat menginginkan seorang keturunan tapi bukan dari wanita lain, dan seandainya memang kamu tidak bisa dikaruniai untuk mengandung kembali aku tidak akan jadi masalah, aku akan menerima semuanya, dan aku sungguh ikhlas, apa aku memang terlihat sangat brensek dimatamu, mungkin dulu aku suka mempermainkan seorang wanita, tapi percayalah itu hanya masa laluku, tidak semuda itu aku membagi perasaan ku dengan wanita lain, semua rasa yang ada didalam hatiku hanya untukmu, mengerti ? Jadi jangan coba-coba lagi kamu menyuruhku untuk membagi perasaanku terhadap wanita lain." Ucap Khay panjang lebar.
Enzy semakin mengeratkan pelukannya, air matanya kembali keluar, namun airata kali ini bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata haru.
"Sudah jangan nangis lagi mulai saat ini detik ini juga aku gak mau kamu mengungkit masalah anak lagi, cukup sabar saja menunggu rezeki itu akan datang melengkapi kebahagiaan kita." Ucap Khay membalas pelukan Enzy.
"Iya." Hanya kata iya yang mampu Enzy ucapakan.
Khay melepaskan pelukannya perlahan lalu mengangkat dagu Enzy agar menatapnya. Khay semakin mendekatkan wajahnya ingin mencium istrinya itu.
"Bangkhay !" Tiba-tiba saja Kia juga Kavi masuk keruangan rawat pasutri tersebut dan melihat apa yang Khay akan lakukan.
"Ngapain sih main masuk aja, gak bisa apa ketuk pintu dulu, atau salam kek." Omel Khay bangun lalu menyandarkan tubuhnya santai seolah tak terjadi apa-apa, sedangkan Enzy tak berani mengangkat kepalanya hanya sekedar menatap pengantin baru tersebut karena malu. bukannya malu dengan Kia, melainkan pada Kavi.
"Ya karena kita gak nyangka aja bakal dapat pandangan seperti tadi." Jawab Kia enteng kemudian meletakkan beberapa jenis buah juga beberapa makanan untuk kakak dan kakak iparnya itu.
"Ngapain sih pada kesini ?" Tanya Khay.
"Kalian ngapain sih kesini, aku gak perlu di jenguk juga." Ujar Khay.
"Jangan ge er kamu BANGKHAY, kita kesini bukan mau jenguk kamu ya, tapi mau jenguk kak Enzy." Sahut Kia menekankan kata bangkhay membuat Khay mendengus kesal.
"Om Kavi, maaf ya mereka memang selalu seperti itu." Ucap Enzy kepada Kavi sedikit tak enak karena perdebatan kakak beradik itu.
"Gak apa-apa santai aja." Sahut Kavi.
"Om, duduk om maaf." Ucap Khay masih memanggil Kavi dengan sebutan om.
"Iya gak apa-apa, o iya Khay kamu kok masih manggil om sih, padahal aku ini adik ipar kamu loh." Ujar Kavi.
"Masalahnya kok aku merasa aneh ya om, tapi nanti di biasakan deh." Ucap Khay.
"Ya sudah itu terserah kamu aja, senyaman kamu aja, oh iya bagaimana keadaan kalian ?" Ucap Kavi kemudian menayangkan keadaan Khay dan Enzy.
"Alhamdulillah kami sudah lebih mendingan, om lihat sendiri kami tadi bagaimana ?" Jawab Khay di akhiri sedikit candaannya.
"Mmmmm, sepertinya setelah ini minum-minum bagus tuh Khay ?" Ujar Kavi sedikit menyindir.
"Aduhhhh sakit, sayang." Keluh Khay mengusap-usap lengannya.
"Itu baru bagian kecil hasil amukan macan, apa masih mau ?" Ujar Enzy menaikkan kedua alisnya sambil menatap horor Khay.
"Tidak sayang ampun." Sahut Khay.
"Mas, lebih baik kita pulang aja deh, sepertinya kita disini gak dia anggap." Sahut Kia memutar bola matanya malas melihat sikap pasutri di depannya yang sama-sama mengenakan baju pasien dan selang infus yang melekat pada punggung tangan pasangan tersebut.
"Ya sudah sana, lagian siapa juga yang menyuruhmu kesini, ganggu aja." Sahut Khay.
"Ishhh nyebelin." Ucap Kia sebal.
"Sana katanya mau pergi, pergi sana jauh-jauh, pengantin baru kok keluyuran, biasanya ya, pengantin baru itu mendem Baek di kamar, sambil main." Ucap Khay.
"Main apa ? Gak jelas." Sahut Kia tak mengerti maksud kata main yang di ucapkan Khay.
"Jangan kotori otak polosnya Khay !" Seru Kavi menimpali.
"Dia masih polos ya om, astagafirullah om, tahan bener gak main kuda-kudaan, apalagi pas...."
"Usssttt diam, ember banget tuh mulut." Enzy menyela ucapan ceplas-ceplos suaminya itu.
"Gak apa-apa kok Nzy, lagian aku juga heran masa sudah Om nodai berkali-kali masih aja polos gitu, aku gak ngerti lagi deh sama anak kecil itu." Ujar Kavi menimpali ucapan tak berpaedah Khay.
Enzy memutar bola matanya malas menimpali juga mendengar pembicaraan absurt kedua pria tersebut, Enzy memilih membahas masalah lain bersama Kia, sedangkan Khay dan Kavi melanjutkan obrolan mereka mulai dari tak berpaedah sampai urusan bisnis, sampai tak terasa hari sudah mulai sore.
"Ya sudah kalian baik-baik ya, semoga cepat keluar dari sini." Ucap Kavi di angguki Khay.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, besok kami kesini lagi." Tambahnya berpamitan.
"Iya terimakasih sudah mau membuang-buang waktu pengantin baru kalian buat kami." Sahut Khay.
"Itu sudah sepatutnya dilakukan sebagai keluarga, soal itu masih bisa dilanjutkan nanti, kasian kalau si polos di gempur terus, dia masih kecil, takut dia kenapa-napa." Ucap Kavi di akhiri dengan kekehannya.
"Bisa aja, jadi pengen cepat-cepat pulang." Ujar Khay.
"Ngapain ?" Tanya Kavi.
"Ya pengen nikmati masa-masa pengantin baru juga om." Sahut Khay.
"Gak usah aneh-aneh deh yank !" Timpal Enzy.
"Aneh-aneh kenapa sih sayang, aku jadi penasaran bagaimana malam pertama, kamu tahu sendirikan kalau kita gak ngelakuin malam pertama." Sahut Khay.
"Sudah, mas buruan pulang ayo !" Rengek Kia menarik lengan suaminya itu.
"Cieee yang udah gak sabaran." Goda Khay.
"Gak sabaran apasih, gak jelas sih bangkhay dari tadi, mas juga." Kesal Kia.
"Khay, Nzy, kami pulang ya, assalamualaikum." Pamit Kavi kemudian pergi dari sana.
Bersambung..........
Hay readers rencananya aku mau lanjut cerita kehidupan rumah tangga Khay Enzy di judul berbeda, mau lanjut di lapak ini atau buat lapak baru, tapi rencana author lapak ini bakal menceritakan kisah rumah tangga Kia Kavi...mohon saran readers maunya bagaimana.
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...