Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 153 Season 3 (Next Generasi)


Khay, Kia, Kenan, dan Diva tampak serius menatap Dokter Bagas yang akan menyampaikan hasil beberapa rangkaian pemeriksaan dijalani Kia.


Kenapa harus melewati beberapa rangkaian pemeriksaan hanya untuk mengetahui bener hamil atau tidak, jangan tanyakan itu, karena Kenan maunya seperti itu.


Mereka semua berharap apa yang ditafsirkan dokter Bagas sebelumnya kejadian.


"Selamat tuan Kavi dan nona Kia kalian akan menjadi orangtua, dan untuk tuan Kenan dan nyonya Diva kalian akan segera mendapatkan cucu dan segera menjadi Opa Oma." Jelas dokter Bagas.


Ke empat orang tersebut kaget bercampur haru mendengar penjelasan Dokter Bagas, Kavi langsung memeluk dan mencium wajah istrinya secara menyeluruh tanpa terlewatkan sedikitpun.


"Selamat ya sayang." Ucap Diva beranjak memeluk putrinya, begitupun dengan Kenan langsung memberikan ciuman pada kening putrinya, ia tak menyangka putri kecilnya akan segera menjadi seorang ibu.


"Ayah..." Panggil Kia mengeratkan pelukannya pada sang ayah saat dirasa bulir bening mengenai wajahnya saat Kenan menciumnya.


"Emmm...." Sahut Kenan kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap sang putri sambil tersenyum.


"Ayah nangis ?" Tanya Kia polos.


"Gak sayang, tadi ayah hanya kelilipan doang." Sangkal Kenan.


Kia mengeryitkan keningnya karena jelas-jelas ayahnya itu menangis, Kia kembali memeluk ayahnya itu.


"Ayah, aku sayang sama ayah, terimakasih karena selama ini ayah selalu menyayangiku, maaf karena aku sempat meragukan kasih sayang ayah, tapi siapa sangkah itu cara ayah melindungiku, aku bangga menjadi putri ayah." Ucap Kia sambil menangis.


Kenan kembali mencium pucuk kepala putrinya berkali-kali.


"Kamu tidak perlu berterimakasih sayang, karena itu sudah menjadi tanggung jawab seorang ayah kepada putrinya, setiap ayah di dunia ini punya cara yang berbeda-beda untuk menjaga putrinya." Ucap Kenan mengusap lembut surai Kia.


Kia hanya mengangguk di pelukan sang ayah.


"Sudah ya, sekarang kamu akan menjadi orangtua, jadi setiap sifat yang dulunya kurang baik agar dirubah perlahan-lahan, cobalah untuk dewasa sayang, walaupun umur kamu masih mudah, tapi ayah yakin kamu sama seperti bunda, kamu wanita yang kuat, dan hebat." Ucap Kenan.


"EKmmm...." Diva berdehem menyadarkan ayah dan anak itu yang seolah hanya ada mereka berdua diruangan ini.


"Ingat tempat, nanti aja dirumah kalau mau cengeng-cengenagannya." Ucap Diva.


"Bilang aja iri Bun." Sahut Kenan.


"Gak tuh." Sahut Diva.


"Duduk lagi dek, dokter masih ada yang mau dibicarakan !" Seru Diva kepada putrinya itu.


"Baik Bun." Kia kemudian duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Diva, dan Kavi duduk ditempat Kenan sebelumnya.


"Jadi dok, langkah selanjutnya apa yang kami lakukan untuk kehamilan istri saya ?" Tanya Kavi bersemangat.


"Maaf tuan, tapi untuk itu ada baiknya anda langsung berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan, karena ini bukan ke ahlian saya, saya akan merekomendasikan seorang dokter kandungan yang handal dirumah sakit kami." Jelas dokter Bagas.


"Baiklah Dok, kalau bisa hari ini juga." Ujar Kavi.


"Iya tuan, sebentar saya hubungi beliau dulu." Dokter Bagas pun mengambil telpon yang ada diatas mejanya dan menghubungi seseorang yang diyakini itu dokter kandungan yang dimaksud.


"Tuan, dokter sudah menunggu Anda, kebetulan hari ini jadwalnya kosong." Ucap Dokter Bagas setelah selesai menelpon.


"Baiklah, dimana ruangannya ?" Tanya Kavi.


"Ada dilantai tiga, atas nama Dokter Gisele tuan." Jawab dokter Bagas.


"Baiklah Dok, terimakasih atas semuanya, kami akan segera kesana." Ucap Kavi beranjak dari kursinya lalu menjabat tangan dokter Bagas.


"Sama-sama tuan, semoga kandungan dan tuannya sehat terus." Ucap dokter Bagas menerima uluran tangan Kavi.


"Dok, Anda mengatakan seperti seolah-olah saya yang tengah mengandung." Ucap Kavi sedikit terkekeh, merasa lucu dengan ucapan dokter Bagas.


Dokter Bagas dan yang lainnya ikut tertawa mendengar ucapan Kavi.


Kenan dan Diva, begitupun dengan Kia pamit kepada dokter Bagas untuk menuju ruangan dokter Gisele sebagai dokter kandungan yang akan menangani Kia.


...----------------...


Kavi dan yang lainnya masuk keruangan dokter Gisele ditemani oleh seorang perawat.


"Tuan Kenan ?" Sapa seorang dokter wanita kira-kira seumuran dengan Kavi.


"Dokter Gisele, ternyata Anda yang dimaksud dokter Bagas." Ucap Kenan ternyata mengenal Dokter wanita tersebut.


"Bun, kenalin ini dokter Gisele istri dari tuan Farid." Kenan memperkenalkan Diva pada dengan dokter tersebut.


"Gisele." Begitupun Gisele menerima uluran tangan Diva dengan senyuman tak kalah ramahnya.


"Ternyata nyonya lebih cantik ketika dilihat secara langsung dari pada dilayar kaca ataupun di majalah." Ucap dokter Gisele memuji Diva.


"Dokter terlalu berlebihan memuji saya, saya sudah tua dok." Ucap Diva.


"Sudah-sudah, kita kesini bukan untuk mengobrol Bun." Ucap Kenan menengahi obrolan kedua wanita tersebut, begitulah jika para wanita berkumpul, akan lupa akan tujuan mereka.


"Ah, bunda sampai lupa yah." Sahut Diva.


"Dok, tolong periksa putri kami, menurut pemeriksaan dokter Bagas tadi, katanya anak kami sedang mengandung." Terang Diva pada dokter Gisele.


"Baiklah, gak nyangka ya, tuan dan nyonya akan memiliki cucu pertama." Ucap Dokter Gisele.


"Sebenarnya ini cucu kedua kami dok, hanya saja cucu pertama kami, lebih disayang oleh Allah." Ucap Diva, karena semua keluarga anak Khay dan Enzy tetap mereka anggap sebagai cucu pertama, walaupun belum sempat dilahirkan.


"Maaf sebelumnya nyonya." Sesal dokter Gisele.


"Sus, tolong persiapkan semuanya !" Seru dokter Gisele pada seorang suster yang sejak tadi berada disana.


Setelah selesai di siapkan Kia mulai melakukan pemeriksaan, Kia berbaring di brangkar, dengan Kavi yang terus berada disampingnya sambil menggenggam tangan sang istri.


Dokter Gisele menggerakkan alat USG di permukaan perut Kia, menampakkan hasil di sebuah layar di samping brangkar.


"Tuan Kavi, titik kecil ini adalah buah hati kalian." Ucap dokter Gisele memperlihatkan hasil USG yang ada dilayar monitor.


Kavi yang punya pengalaman hal seperti ini mengangguk mengerti, karena ia pernah mengantarkan istri pertamanya dulu saat pemeriksaan kandungan. Tapi berbeda dengan Kia ia merasa bingung karena disana hanya berbentuk seperti titik hitam.


"Dok, anak saya yang mana ya ?" Tanya Kia polos membuat semua yang ada disana termasuk suster yang ada disana tertawa.


"Ini anak kamu sayang, karena umurnya masih lima minggu jadi dia masih seperti ini, jika nanti umurnya sudah memasuki trimester kedua baru akan nampak." Jelas dokter Gisele gemas dengan kepolosan Kia.


"Oh begitu ya dok ? Maklumlah saya kan baru kali ini hamil, mas emangnya kamu tahu, kelihatannya kamu terlihat mengerti ?" Ujar Kia lalu bertanya pada suaminya yang sejak tadi duduk disampingnya terus memperhatikan ke layar monitor tersebut.


"Iya, "Jawab Kavi mengangguk.


"Dek, jelaslah suamimu tahu, diakan pernah menikah sebelumnya, terus mau punya anak." Sahut Kenan.


"Oh iya, aku lupa yah."


Setelah pemeriksaan selesai Kia kembali duduk dihadapan dokter, mendengar secara seksama penjelasan dokter dimulai dari hal yang tidak boleh dilakukan sampai makanan yang harus dihindari untuk saat ini, dan terakhir penjelasan mengenai resep obat dan vitamin yang akan diberikan.


"Baiklah dok, kalau begitu terimakasih." Ucap Diva setelah semuanya selesai dan akan segera pulang.


"Iya sama-sama nyonya, bulan depan kesini lagi untuk pemeriksaan selanjutnya." Ucap dokter Gisele.


"Tentu, dan satu lagi gak usah manggil nyonya, kesannya format sekali, panggil aja mbak, kak atau apalah, yang jelas jangan nyonya, anggap saja kita ini berteman atau bersaudara." Ucap Diva.


"Baiklah mbak." Sahut dokter Gisele.


"Dok, kami permisi terimakasih." Ucap Kia.


"Gak usah manggil dokter sayang, panggil Tante saja." Ucap Gisele lembut.


"Iya Tante." Sahut Kia.


Bersambung........


...Tetap pentengin terus aja jalan ceritanya...


...Jangan lupakan kisah Khay dan Enzy di lapak author lainnya yang berjudul DAMBAAN, atau langsung klik aja profil authornya...


...Tetap dukung author dengan memberikan...


...LIKE...


...KOMENT...


...VOTE...


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...