Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 136 Season 3 (Next Generasi)


"Assalamualaikum." Ucap Kia dan Kavi bersamaan saat masuk kedalam rumah, namun Kia terlihat masih dengan kekesalannya.


"Walaikumsalam." Jawab semua orang yang berada di ruangan tamu, karena semua berkumpul disana.


"Tuh muka kenapa dah ?" Tanya Khay melihat wajah kesal adiknya.


"Gak apa-apa, aku mau istrirahat dulu capek." Sahut Kia berjalan masuk kedalam.


"Kav, kau apakan putriku ?" Tanya Kenan menatap penuh selidik Kavi.


"Gak di apa-apain kok Yah, hanya saja dia lagi ngmbek." Jawab Kavi.


Sejak ia lamaran, Kavi memang sudah membiasakan diri untuk memanggil Kenan dengan sebutan ayah, walaupun Kenan merasa risih dan aneh.


"Ngambek kenapa ?" Tanya Kenan lagi.


Kavi pun menceritakan saat ia bertemu dengan teman kuliahnya dulu, Kavi menceritakan semuanya tanpa ia tutup-tutupi.


"Gitu aja ngambek ! Kadang aku bingung sendiri, kenapa cewek begitu, masalah sepele aja merajuk, ngambek, marah-marah kagak jelas, Dimata mereka itu keknya kaum pria emang selalu salah ya ?" Timpal Khay.


"Karena kaum pria itu patut untuk di curigai dan selalu berbuat salah, makanya selalu disalahkan, apalagi pria macam kamu." Sahut Enzy.


"Emang aku kenapa sih sayang ?" Tanya Khay melihat ke arah istrinya.


"Buaya, kadang tuh mata suka jelalatan, udah tau disampingnya ada istri, eh...masih aja matanya kagak kedip kalau lihat cewek bening." Jawab Enzy mengingat kejadian kemarin saat dirinya jalan ke mall bareng Khay untuk berbelanja sesuatu, saat ia dan Khay di restoran mata Khay jarang lepas dari seorang gadis yang sedang makan sendirian tepat di depan meja mereka duduk.


"Masih aja di bahas, kata guru ngaji aku dulu, katanya kagak boleh mubatzir sayang, makanya gak aku sia-siakan, apalagi nolak rezeki." Ucap Khay melakukan pembelaan, karena ia tahu istrinya masih mengungkit soal di mall kemarin.


"Rezeki apaan kayak gitu ?" Enzy memutar bola matanya malas.


"Rezekinya mata aku sayang, lumayan buat cuci mata." Jawab Khay ngasal dan langsung mendapatkan cubitan keras pada pinggangnya, membuat semua orang yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan pasangan suami istri muda itu yang menurut mereka itu sangatlah lucu.


"Bang !" Tegur Kenan tegas, saat melihat Khay mulai angkat bicara kembali melawan Enzy, Kenan pusing sendiri mendengar perdebatan pasangan labil itu.


"Kalau begitu aku pamit dulu semuanya, masih banyak persiapan yang harus aku selesaikan dirumah." Pamit Kavi.


"Kok buru-buru sih Kav, sekalian tunggu makan malam dulu, ini sudah sore loh." Sahut Diva.


"Terimakasih sebelumnya Bun, tapi aku benar-benar tidak bisa untuk tetap tinggal." Ujar Kavi dengan sopan.


"Baiklah, hati-hati !" Seru Diva.


"Iya nak Kavi, kamu hati-hati, ingat ! Beberapa hari lagi kamu akan melangsungkan pernikahan kalian, tidak baik jika masih keluar sendirian seperti ini." Timpal Oma Hani dan di angguki antusias oleh Oma Vivian.


"Iya Oma, kalau begitu aku permisi, Assalamualaikum." Ucap Kavi kemudian pergi dari sana, karena sejak tadi bibinya menghubunginya menanyakan soal persiapan apalagi yang perlu di persiapkan...


"Iya nak, hati-hati !" Sahut Oma Hani.


Kemudian Kavi pamit kesemua orang mengalami tangan mereka bergantian.


...----------------...


Di apartemen.


Khay baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan badannya karena baru saja tiba dari kediaman orangtuanya.


Sejak masa pemulihan Enzy pasca keguguran dulu selesai, Khay dan Enzy memutuskan untuk tinggal lagi di apartemen, katanya mereka ingin menikmati masa-masa mereka, menjalin kehidupan rumah tangga dengan lebih baik dari sebelumnya.


"Sayang." Panggil Khay ketika tak melihat keberadaan istrinya.


Khay terus memanggil istrinya namun tak ada jawaban sama sekali, setelah selesai memakai pakaiannya, Khay mencoba mencari istrinya itu di balkon kamar, biasanya Enzy selalu berada disana, dan benar saja saat Khay tiba di pintu balkon, disana ada Enzy sedang mendekap dirinya sendiri menikmati udara dingin yang menerpa kulitnya.


"Sayang." Panggil Khay memeluk Enzy dari belakang kemudin menghirup aroma lavender pada celuruk leher Enzy.


"Yank..." Ucap Enzy pelan menatap langit malam di atas sana.


"Ada apa, kamu memikirkan anak kita lagi ?" Tebak Khay ikut melihat ke arah langit.


"Emmm...Aku merindukannya." Sahut Enzy dengan suara serak karena sejak tadi menahan tangisannya, tapi kali setetes air matanya jatuh mengenai lengan Khay.


"Sayang, aku juga merindukannya, bahkan setiap hari, tapi sayang tidak seharusnya kamu seperti ini terus, insyaallah Allah akan mempercayakan kita lagi secepatnya untuk segera di berikan momongan." Ucap Khay.


"Tapi kapan ? Bahkan sudah hampir setahun kita belum juga di berikan, aku tidak percaya kalau aku bisa kembali di berikan kepercayaan setelah kelalaian ku dulu." Ucap Enzy sendu.


Khay membalikkan badan istrinya, merapikan rambut Enzy yang sedikit berantakan karena terpaan angin, lalu mengusap pipi istrinya itu dengan lembut.


"Sayang bagaimana Allah akan mempercayakan kita lagi, jika kamu saja tidak percaya, dan...." Khay menjeda ucapannya untuk menyeka air mata Enzy yang sudah jatuh.


"Dan berhentilah menyalahkan dirimu, ini semua bukan salah kamu, tapi ini sudah garis takdir anak kita yang harus kembali ke pangkuan Allah sebelum ia dilahirkan." Lanjut Khay.


Tangisan Enzy pecah dan langsung masuk ke pelukan suaminya menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria yang dicintainya itu.


"Sudah ya ! Jangan nangis lagi, dan aku tidak mau mendengar kamu atau melihat kamu seperti ini lagi, Hem ?" Ucap Khay mengusap punggung istrinya kemudian mencium pucuk kepalanya dengan sayang.


Enzy hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya itu, ia benar-benar sangat bersyukur telah di berikan suami seperti Khay, suami yang sangat mencintai dan menyayanginya dengan tulus.


"Ya sudah masuk yuk ! Di sini dingin." Ajak Khay melepaskan pelukannya.


"Emmm..." Sahut Enzy sambil mengangguk.


"Yank." Enzy terpekik dan refleks melingkarkan tangannya pada leher Khay, saat Khay tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style.


"Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya mentap sang suami.


"Aku tahu, tapi biarkan aku memanjakan istriku ini, bahkan setiap saat aku bisa melakukan ini, kemanapun kamu mau melangkah." Ucap Khay tersenyum sambil membawa Enzy masuk kedalam.


"Aku gak lumpuh, yang harus kamu gendong terus." Sahut Enzy memajukan bibirnya beberapa senti membuat Khay semakin gemas melihatnya.


Saat tiba di dalam kamar, Khay langsung menidurkan tubuh Enzy dengan perlahan di atas tempat tidur.


"Mau ngapain ?" Tanya Enzy saat Khay menindihnya.


"Mau berusaha untuk bereproduksi dong, apa lagi ? Bukannya kamu sudah tidak sabar ?" Ucap Khay enteng lalu mencium bibir Enzy sekilas.


"Tapi hari ini aku capek yank, habis bantuin bunda mempersiapkan pernikahan Kia." Rengek Enzy.


"Kamu tinggal tenang aja, biar aku yang mendominasi, kamu tidak perlu, aku ngerti kok." Sahut Khay kemudian mulai mencumbui Enzy. Malam itu benar-benar menjadi malam panjang buat mereka, Enzy yang katanya capek, tapi ia tidak tahan untuk tidak membalas permainan panas suaminya.


"I love you sayangku." Ucap Khay masih berada di atas istrinya, kemudian mengecup keningnya sedikit lama dan penuh cinta, Enzy memejamkan matanya menikmati ciuman dari suaminya kemudian membalas ucapannya masih dalam posisi seperti itu.


"I love you tu yank." Balasnya.


Kemudian Khay menjatuhkan dirinya di samping tubuh polos Enzy, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Tak lama mungkin karena kelelahan keduanya tertidur dengan saling berpelukan tak lupa posisi ternyaman Enzy yaitu menjadikan lengan Khay sebagai bantalannya, dan menenggelamkan wajahnya di bawah keteak suaminya itu.


Bersambung..........


Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....


Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...