Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 89 Season 3 (Next Generasi)


"Ada apa ?" Tanya Khay dingin mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kak, aku masih mencintaimu." Ucap Sita mendekati lalu memegang lengan pria dihadapannya itu.


Khay yang mendengar itu hanya berekspresi yang sulit di artikan, kemudian Khay beralih melihat lengannya yang di pegang gadis tersebut.


"Aku...Aku merindukanmu kak." Ucap Sita lagi.


"Maaf gue harus pergi." Ucap Khay melepaskan tangan Sita yang sejak tadi menggenggamnya. kemudian Khay masuk kedalam mobilnya, dan langsung melajukannya meninggalkan Sita yang menatap mobil Khay yang semakin menjauh, tiba-tiba air matanya terjatuh begitu saja.


...----------------...


Karena Khay terjebak macet yang cukup panjang, Khay baru tiba dirumah setelah pukul Tujuh lewat.


Saat memasuki kamarnya, Khay mendapati istrinya itu tengah tertidur di sofa dengan posisi bersandar, remote televisi masih berada ditangannya, sepertinya Enzy tak sengaja tertidur. Perlahan Khay mendudukkan dirinya di samping istrinya itu, merapikan sebagian rambut yang menutupi wajah wanita dihadapannya itu yang kini berstatus sebagai istrinya, istri yang sangat ia sayangi dan cintai.


Khay terus memperhatikan bentuk wajah istrinya itu yang terukir sempurna menurutnya, alis yang terang, bulu mata lentik, hidung mancung, di tambah lagi bibir yang mungil dengan warna pink alami, itu yang membuatnya bibir itu menjadi candunya.


"Aku sayang kamu, istriku." Ucap Khay pelan karena takut mengganggu tidur istrinya itu.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, Khay beralih pada perut Enzy yang mulai membuncit, ia mengusapnya pelan.


"Daddy sayang kamu juga sayang, Daddy jadi gak sabar menunggu kelahiran mu." Ucap Khay lalu mencium perut Enzy.


Karena perlakuan Khay itu membuat Enzy terganggu, perlahan diapun membuka matanya.


"Oh, kamu sudah pulang ?" Ucap Enzy serak karena baru bangun tidur.


Khay kembali memperbaiki posisi duduknya, lalu tersenyum.


"Enggak juga, apa sudah makan, Hem ?" Jawab Khay kemudian balik bertanya sambil mengusap lembut sudut bibir istrinya.


"Sudah tadi, pas selesai sholat magrib, mungkin karena aku kekenyangan makanya aku jadi tertidur." Jelas Enzy.


"Apa kamu sudah makan ? Kalau belum biar aku siapkan, kamu lebih baik mandi dulu !" Seru Enzy kemudian ingin segera beranjak dari sofa.


"Mau kemana ?" Khay menahan lengan istrinya itu.


"Mau nyiapin baju kamu, setelah itu buat makan malam kamu." Jawab Enzy menatap suaminya itu lalu tersenyum.


"Sudah sana mandi !" Serunya lagi.


"Iya....Iya..., Tapi sayang, kamu gak usah nyiapin makan malam buat aku, nanti aku suruh bibi buat bawain kesini, kamu lanjut tidur aja setelah menyiapkan pakaian aku !" Ujar Khay beranjak terlebih dahulu dari Sofa.


"Ya sudah, tapi setelah makan kamu langsung ikut istirahat juga !" Seru Enzy sedikit meninggikan suaranya karena Khay sudah sedikit jauh dari sofa tersebut.


"Iya sayangku, bilang aja kalau kamu gak bisa tidur tanpa di peluk !" Goda Khay kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan Enzy hanya tersenyum mendengar godaan suaminya itu, lalu beranjak menuju walk in closed untuk menyediakan pakaian suaminya yang akan di gunakan malam ini.


Sedangkan didalam kamar mandi Khay terus memikirkan soal pertemuannya dengan Sita, adik dari mantan sahabatnya yaitu Alex, Sita juga pernah menjadi kekasihnya, hanya saat berhubungan dengan Sita Khay setia, namun tiba-tiba Sita memutuskan sepihak hubungan mereka, membuat Khay berpikir tidak akan lagi setia dalam menjalin hubungan, karena putusannya hubungan mereka jugalah membuat Alex menyalahkan Khay, dan membencinya karena Alex mengira Khay lah yang mengkhianati adik kesayangannya itu.


...----------------...


Di kota Z


Kenan dan seluruh keluarga dari pihak Kenan maupun Diva berkumpul di kediaman opa Salman, Kia memutuskan untuk tinggal di rumah opa omanya dari pihak ayah, karena selama ini Kia sangat dekat dengan Oma Vivian dibandingkan dengan Oma Hani, beda lagi dengan Khay yang dekat dengan opa omanya dari pihak bunda.


"Nan, ayah tak habis pikir dengan jalan pikiran kamu, ayah rasa kamu terlalu berlebihan dalam mengambil sikap soal masalah Kavi yang mendekati Kia." Ucap opa Salman setelah mendengar cerita Kenan.


"Aku cuman tidak ingin adek di sakiti Yah, adek masih sangat mudah, sedangkan ayah tau sendirikan umur Kavi, dia pantasnya menjadi paman atau ayah Kia, bahkan Kavi sahabatku sendiri Yah." Jelas Kenan.


"Kamu bilang Kavi itu sahabat kamu, tapi apa kamu tidak mempercayainya, bukannya kamu sudah lama kenal dengan pria itu." Opa Fikram ikut menimpali.


"Bukannya aku tidak mempercayainya yah, tapi ayah Kavi banyak wanita yang mengincarnya bahkan ada seorang wanita yang terobsesi dengannya, aku hanya takut adek kenapa-napa karena telah disukai oleh Kavi." Jelas Kenan.


"Nan, sampai kapan kamu akan melakukan hal seperti ini, menjauhkan putri kamu dari orang-orang, bahkan kamu tega menyembunyikannya sejak adek beranjak remaja, apa kamu ingin putri kamu ini menjadi gadis yang introvet, itu tidak akan baik Nan." Ucap opa Salman.


"Benar apa yang dikatakan ayah kamu itu Nan, kamu tidak boleh terlalu prosesif kepadanya, mungkin kamu mangira ini apa yang kamu lakukan ini baik untuknya, tapi belum tentu Kia merasa baik-baik saja, gadis seumurannya sudah seharusnya mengenal dunia luar, mengenal lawan jenisnya, mengenal apa itu cinta, ayah juga mengerti pergaulan anak jaman sekarang, yang ingin di beri kebebasan, jaman kamu dan istri kamu aja kami berikan kebebasan, walaupun kami menjodohkan kalian, tapi kami beri kesempatan untuk saling mengenal bukan ?" Timpal opa Fikram panjang lebar.


"Aku belum tahu bagaimana masalah kedepannya yah, yang jelasnya keputusan aku saat ini, aku hanya ingin adek aman." Ucap Kenan masih pada pendiriannya dan masih pada pemikirannya sendiri.


Sedangkan para Oma dan Diva hanya bisa terdiam mendengar pembicaraan para suami mereka, sedangkan Kia sudah pergi ke kamarnya, dimana kamar Kenan dulu di rumah tersebut.


Opa Salma dan opa Fikram mengehembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Kenan barusan, keduanya memilih diam saja, percuma saja membantah seorang Kenan, karena mereka tahu jika sudah menyangkut anak-anaknya pria itu menjadi sangat keras kepala.


Di kamar


Kia mengeluarkan barang-barangnya, dari dalam koper, di tengah kesibukannya, Diva masuk.


"Sayang apa yang kau lakukan ?" Tanya Diva duduk di pinggiran tempat tidur melihat aktivitas putrinya itu yang masih sibuk menyusun pakaiannya di lemari.


"Aku rapikan pakaian aku Bun, bosen sejak tadi gak ngapa-ngapain." Sahut Kia tanpa beralih dari aktivitasnya.


"Sini biar bunda bantu." Seru Diva berdiri ingin membantu putrinya itu.


"Ti...tidak perlu Bun, aku bisa sendiri." Ucap Kia tanpa menatap ke arah bundanya itu, Kia berusaha menahan tangisnya namun suaranya terdengar tersekat saat menyahuti seruan Diva.


"Sayang, kamu nangis ?" Diva kaget mendengar suara putrinya itu, dan langsung menarik bahu Kia agar menghadapnya.


Saat melihat wajah Kia terlihat sembab, sepertinya gadis tersebut sudah menangis sejak tadi.


Diva langsung menarik putrinya itu masuk kedalam pelukannya, sambil mengusap bahunya lembut.


"Maafkan ayah sama bunda sayang, maafkan kami." Ucap Diva ikut menangis.


Kia terdiam sejenak menetralkan dirinya agar kembali normal, kemudian mulai angkat bicara.


"Ini bukan salah ayah dan bunda kok, aku ngerti kalau ayah melakukan ini karena dia sayang sa aku Bun, selama ini aku berpikir ayah tidak menyayangiku karena ayah tidak ingin memperkenalkan ku di hadapan publik, dan selelu saja Abang yang selelu ia perkenalkan." Ucap Kia disela-sela isakannya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu sayang, ayah melakukan ini karena ayah tidak ingin ada yang menyakiti putri kesayangannya." Ucap Diva mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah tahu kok bunda, tadi aku gak sengaja mendengar pembicaraan ayah dengan opa Salman, juga opa Fikram." Sahut Kia.


"Apa yang kamu dengar sayang ?" Tanya Diva.


"Semuanya, termasuk ayah yang tak membiarkan om Kavi mendekatiku karena ia tak mau aku mengalami apa yang kalian alami dulu." Jelas Kia.


Diva melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap putrinya itu sambil menyeka air matanya.


"Jujur sama bunda ! Apa kamu juga menaruh perasaan dengan Om Kavi ?" Tanya Diva menyelidik.


Kia terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya kesebuah pigura ayahnya yang ada dikamar tersebut.


"Jujur sayang, bunda tidak akan marah, setidaknya bunda bisa menjadi teman bicara kamu !" Seru Diva lagi melihat putrinya itu hanya diam.


"Dulu saat aku masih menjadi asisitenya, aku sempat menruh perasaan dengan Om Kavi Bun, tapi setelah ayah mengatakan kalau dia bukan yang terbaik buat aku, aku sudah mengubur perasaan itu Bun, sebelum semakin jauh." Jelas Kia jujur tapi tak berani menatap bundanya yang sedang menatapnya.


Tanpa mereka sadari Kenan mendengar semua pembicaraan antara istri dan anaknya itu, Kenan berdiri di dekat pintu kamar, tadi ia berpikir menemui putrinya itu namun, ia mengurungkan niatnya saat mendengar pembicaraan mereka.


"Maafkan ayah sayang, ayah tidak bermaksud untuk mengambil kebahagiaan kamu, ataupun menjauhkan dari orang yang menarik perhatianmu, hanya saja ayah takut, dan masih sangat takut jika mengingat bagaimana sakitnya bunda kamu saat beberapa wanita yang mencoba memisahkan kami, bahkan ayah sempat memberikan luka yang mungkin bunda sampai saat ini belum bisa melupakannya, walaupun itu ayah lakukan demi keselamatan bunda kamu, tapi aku yakin bunda sangat terluka, maaf jika ayah sangat keterlaluan." Batin Kenan menatap kedua wanita kesayangannya di dalam kamar sana, lewat sela pintu yang tak tertutup rapat.


Bersambung........


Jangan lupa LIKE, KOMENT dan VOTE, selalu budayakan itu setelah membaca setiap episodenya.


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...