
Kenan langsung menggendong Diva masuk kekamar mandi, untuk mandi bersama setelah pergulatan sore mereka. Setelah 30 menit mereka baru selesai mandi, karena Kenan sepertinya belum puas dengan pergulatannya tadi, sehingga dia mengulangi lagi dikamar mandi.
"Yank sudah dong ngambeknya ! Ujar Kenan memeluk Diva dari belakang, saat Diva sibuk menyisir rambutnya.
"Enak aja kamu bilang seperti itu, kalau aku hamil bagaimana, aku sudah bilang jangan simpan di dalam, tapi kamu malah tidak mendengarkan ku." Sahut Diva kesal.
"Segitunya kamu ngambeknya yank, seperti kamu melakukannya dengan pacar kamu saja, sampai takut hamil, aku ini suami kamu loh, kalau kamu lupa." Ujar Kenan mengeratkan pelukannya.
"Minggir kamu, aku masih kesal tau nggak." Ucap Diva berusaha melepaskan pelukan Kenan.
Sedangkan Kenan hanya terkekeh mendengar ucapan Diva, bukannya melepaskan pelukannya malah tambah mengeratkan nya.
"Aku akan tanggung jawab sayang, aku akan menemui orangtua kamu secepatnya." Ujar Kenan seolah-olah ia melakukannya dengan kekasihnya sambil menenggelamkan wajahnya diceluruk leher Diva.
Dan hal itu sukses membuat Diva semakin kesal, dan melepaskan paksa pelukan Kenan, bagaimana tidak kesal, Kenan saat ini terlihat sangat menyebalkan Dimata Diva, Diva yang sedang khawatir memikirkan bagaimana jika ia hamil, sedangkan Kenan terlihat santai-santai saja, malah terlihat sangat senang.
"Yank, apa kamu benar-benar tidak ingin hamil?" Ujar Kenan terlihat sangat serius dengan ucapannya itu sambil melihat lurus kedepan.
Diva yang melihat perubahan wajah Kenan seperti itu segera mendekatinya lalu duduk dipangkuan Kenan yang saat ini duduk ditepi tempat tidur, kemudian menangkup wajah suaminya itu lalu menatapnya.
"Apa kamu marah?" Tanya Diva menatap manik mata Kenan.
Kenan hanya menggelengkan kepalanya.
"By', bukannya aku tidak mau hamil, tapi untuk saat ini, aku belum siap umur kita masih terlalu muda untuk memiliki anak, aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita nanti." Terang Diva lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Kenan langsung memeluk erat tubuh istrinya mengusap pelan punggungnya.
"Jika benar nantinya kamu hamil, aku akan berusaha menjadi ayah sekaligus suami yang baik buat keluarga kecil kita." Ujar Kenan.
Diva hanya mengangguk, lalu menengadah menatap suaminya, matanya sudah berkaca-kaca terharu mendengar penuturan Kenan. Kenan yang melihat itu langsung mengecup kening istrinya sambil mengeratkan pelukannya.
"Sekarang kita pulang yank, ingat nanti malam kita akan keluar !" Ujar Kenan mengingatkan Diva, lalu melepaskan pelukannya.
"Memangnya kita mau kemana sih by'?" Tanya Diva lalu turun dari pangkuan Kenan.
"Rahasia, pokoknya nanti malam kamu dandan yang cantik !" Sahut Kenan sambil merangkul pundak Diva keluar dari ruangannya.
Setelah sampai di loby mereka langsung menuju parkiran dan langsung pulang kerumah.
Setelah hampir magrib mereka baru tiba dirumah, karena dijalan tadi sedikit macet. Kenan dan Diva langsung masuk kedalam rumah, dan tidak melihat orangtuanya diruang keluarga, mungkin mereka berada dikamar bersiap untuk sholat magrib, pikir Keduanya. Karena tidak ada orangtua mereka jadi keduanya langsung menuju kamar juga untuk siap-siap menunaikan sholat magrib.
Setelah 20 menit Kenan maupun Diva selsai dengan sholat magrib mereka.
"Yank, kamu langsung siap-siap ya." Ujar Kenan kemudian masuk kekamar mandi.
"Iya." Sahut Diva setelah merapikan perlengkapan sholat mereka, lalu mengambil paperbag yang diberikan Kenan tadi kemudian masuk kewalk in closed untuk bersiap.
Kenan keluar dari kamar mandi, setelah cukup lama ia didalam. Saat keluar Diva selesai bersiap dan terlihat sangat cantik dan anggun, dengan dres warna hitam lalu rambutnya ia gerai kedepan.
Bahkan Kenan sampai tak bergeming melihat penampilan Istrinya saat ini, berbeda dari biasanya.
"Cantik." Gumam Kenan.
Diva yang baru melihat Kenan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, langsung memperlihatkan penampilannya.
"By', bagaimana penampilan aku, cocok nggak?" Tanya Diva memutar badannya beberapa kali.
"Cocok banget Yank, bahkan sangat cantik." Sahut Kenan lalu berjalan mendekati istrinya itu.
"Beneran, apa ini tidak terlihat aneh.?" Tanya Diva sekali lagi.
"Tidak, kamu sangat cantik sayang."
"Ya, sudah sekarang kamu pakai baju kamu by', tuh sudah aku siapkan !" Ujar Diva menunjuk pakaian Kenan yang ia gantung di pintu lemari.
Kenan segera bersiap mengenakan jas hitam, dengan lapisan kemeja putih.
Kenan membuka laci penyimpanan dasi. Diva yang melihat Kenan mengenakan dasi kupu-kupu hitam mengernyitkan keningnya. Kenapa coba pakai dasi segala, pikir Diva. Tapi Diva tidak lagi menanggapinya, mungkin Kenan ingin saja memakainya.
Setelah bersiap-siap mereka segera turun, dan menemui kedua orangtuanya yang berada di meja makan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bunda Vivian saat melihat penampilan mereka yang sudah rapi.
"Kami mau makan malam diluar Bun." Jawab Kenan.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Ujar Kenan lalu mencium punggung tangan kedua orangtuanya, di ikuti Diva.
"Yah, Bun, Kami pergi dulu, Assalamualaikum." Pamit Diva.
"Iya, kalian hati-hati." Sahut Ayah, dan Bunda Vivian hampir bersamaan.
Kenan dan Diva pun segera keluar, menuju garasi mobil.
"By sebenarnya kita mau kemana sih, Pakai nutup mata aku segala?" Ujar Diva karena sebelum berangkat kenan menutup mata mata Diva dengan sapu tangannya.
"Tenang saja yank, entar juga kamu tau, ini kita sudah sampai." Ucap Kenan segera turun dari mobil untuk membantu Diva untuk turun, setelah memarkirkan mobilnya.
"Ini penutup matanya bisa dilepas nggak by'?" Tanya Diva.
"Belum yank, nanti jika sudah sampai ditempat yang sebenarnya baru boleh buka." Jawab kenan menuntun Diva untuk berjalan masuk sebuah hotel berbintang, lalu masuk kedalam lift menuju kamar dengan pasilitas VIP yang sudah di dekor dengan kelopak bunga mawar dan juga beberapa lilin.
"Sekarang kita sudah sampai yank." Ujar Kenan kemudian berdiri dibelakang Diva untuk membuka penutup matanya.
Setelah penutup matanya dibuka, Diva mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya.
Setelah penglihatannya mulai stabil kembali Diva langsung menutup matanya melihat apa yang disiapkan suaminya itu.
"Ini semua kamu yang siapkan by'?" Diva menoleh kepada Kenan menatapnya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan haru.
"Iya sayang, dan sekarang kita kebalkon dulu." Ujar Kenan langsung menarik tangan istrinya itu menuju arah balkon.
Diva lagi-lagi kaget melihat semua yang disiapkan Kenan, Kenan benar-benar memanjakannya dengan kejutan-kejutan yang ia siapkan.
"Kita dinner disini yank!" Ujar Kenan berjalan ke arah meja makan yang sudah di dekor seromantis mungkin, Kemudian Kenan menarik salah satu kursi lalu mempersilahkan Diva untuk duduk. Diva langsung duduk dan menengadah kebelakang untuk melihat Kenan yang masih berdiri dibelakangnya.
"Ini dalam rangka apa by?" Tanya Diva.
"Aku tidak butuh momen apa-apa dulu untuk membuat mu bahagia yank." Ujar Kenan lalu mengecup kening Diva.
"Apa kamu suka yank?" Tanya Kenan lalu ikut duduk didepan Diva.
"Suka benget by'." Jawab Diva lalu tersenyum.
"Padahal dari tadi aku merasa was-was loh Yank, aku pikir cewek bar-bar seperti istriku ini tidak suka hal beginian." Ujar Kenan.
"Walaupun aku bar-bar, aku juga seorang wanita yang suka diberi hal-hal romantis seperti ini, apalagi jika itu dari suami aku sendiri." Sahut Diva.
"Trus buket bunganya mana yank, biasanya kan juga ada buket bunga begitu." Ujar Diva.
"Tidak ada yank, aku pikir kamu tidak suka bunga." Sahut Kenan.
"Jadi aku dapat apa dong, masa sudah dandan cakep begini, nggak dapat apa-apa." Ucap Diva pura-pura kesal.
"Memangnya harus ada hadiah ya yank ?" Tanya Kenan tersenyum melihat istrinya kesal.
"Kalau seperti novel-novel yang biasa Hera baca sih gitu by', kalau sudah dinner seperti ini biasanya dikasih apa kek sama pasangannya." Jawab Diva.
Kenan senyum-senyum menanggapi ucapan istrinya itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari saku jasnya, lalu memberikan kepada istrinya itu.
"Ini apa by' ?" Tanya Diva saat menerima kotak yang diberikan suaminya sambil membolak-balik kotak kado tersebut.
"Hadiah seperti dalam novel-novel yang Hera baca, seperti yang kamu bilang tadi yank." Jawab Kenan.
"Sekarang buka aja yank !" Ujar Kenan lalu menyandarkan tubuhnya dikursi, ingin melihat reaksi Diva dengan jelas.
"Kunci ?" Tanya Diva memperlihatkan Kunci tersebut kepada Kenan.
Kenan menganggukkan kepalanya lalu memperbaiki kembali posisi duduknya menatap istrinya.
"Itu kunci mobil yank, dari pada kamu naik motor lebih baik jika naik mobil saja." Ujar Kenan
"Tapi by', ini mobil keluaran terbaru loh, apa ini tidak berlebihan." Ujar Diva.
"Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu yank, aku akan berusaha memberikan apapun demi membahagiakan kamu, ADIVA SAVINA ILYAS istri ku." Ucap Kenan meraih tangan istrinya lalu ia genggam.
"Walaupun aku harus menularnya dengan nyawaku sendiri." lanjut Kenan lalu mengecup punggung tangan Diva. Membuat Diva langsung meneteskan air mata harunya.
Kenan beranjak dari duduknya berjalan mendekati Diva, lalu menarik Diva masuk kedalam pelukannya.
Begitupun Diva yang langsung membalas pelukan suaminya dengan erat.
"Kamu rela menukar apapun dengan nyawamu, tapi kamu tidak rela aku memiliki motor kesayangan ku by'." Ujar Diva.
"Aku rela menukar nyawaku dengan yang lain sayang, kecuali motor itu, karena gara-gara motor itu aku hampir kehilangan kamu Yank." Terang Kenan melepaskan pelukannya menangkup wajah istrinya.
"Jangan pernah lagi untuk meninggalkan ku yang, aku sangat mencintaimu !" Ucap Kenan menatap manik mata Diva.
"Aku tidak akan meninggalkan mu by', karena aku juga sangat mencintaimu, dan kamu juga janji tidak akan pernah meninggalkan ku." Ucap Diva membalas tatapan suaminya.
Keduanya kembali berpelukan, setelah lama berpelukan mereka makan malam, sesekali Kenan menyuapi Diva, begitupun sebaliknya.
Bersambung....
mohon tinggalkan jejak
Like
Coment
Vote
Terimakasih atas dukungan dari para readers
Salam sayang dari Author
🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️