Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 54


Ke Esokan harinya, Rafa kembali menanyakan keberadaan dan keadaan Sisi kepada sahabat-sahabatnya.


Setelah Diva dan teman-temannya pulang sekolah mereka tak lupa Kenan ikut bersama mereka.


"Raf ...." Ujar Diva memegang pundak sahabatnya itu yang sedang bersandar dibrankar yang dilipat supaya memudahkan Rafa untuk makan dan mengobrol.


"Kita akan beritahu satu hal ke elu, tapi sebelum itu kami mohon elu harus bisa sabar juga tenang, elu juga harus pikirkan kesehatan kamu." Jelas Kiki


"Udah kalian ngomong aja." Sahu Rafa terlihat bingung melihat teman-temannya.


"Sisi ... Sisi Tidak bisa diselamatkan, sekarang dia sudah tiada." Ucap Diva hati-hati sambil terus menatap Rafa, menggenggam tangannya.


Rafa yang mendengar penuturan Diva, tersenyum kecut tidak percaya.


"Tidak mungkin kalian jangan bercanda di saat seperti ini, Kalau elu mau ngerjain gue tidak usah bawa-bawa hal seperti itu, tidak lucu tau nggak." Sahut Rafa terlihat sedikit kesal, Ia mengira Diva hanya mengerjainya.


"Kami tidak sedang bercanda Raf, tidak mungkin juga kami bercanda hal seperti itu, kamu harus sabar dan ikhlas." Ujar Kiki mengusap pelan bahu Rafa mencoba untuk menenangkannya.


Rafa langsung diam mendengar perkataan Kiki, Ia percaya jika Kiki yang sudah bicara berarti itu semua benar, ia tau benar sahabatnya itu seperti apa.


"Ti ... Tidak mungkin, Sisi tidak mungkin ninggalin gue, dia sudah berjanji tidak akan pernah ninggalin gue sendiri, gak mungkin, kalian pasti bohong." Ucap Rafa lirih, menengadah keatas memejamkan matanya beriringan dengan air matanya.


Ia tidak menyangka orang yang sangat ia cintai pergi meninggalkan dirinya secepat itu, apalagi Sisi pergi karena dirinya. Rafa beranjak dari brangkarnya melepas selang infus yang terpasang ditangannya.



"Rafa, apa yang kau lakukan, kamu harus sabar, kamu tenangkan dirimu dulu." Ujar Hera.


"Nan, elu bawa mibilkan, sekarang antarkan gue menemui Sisi." Ujar Rafa beralih melihat Kenan.


"Iya, gue bakal antar elu menemuinya, tapi tidak sekarang, sekarang coba liat kondisi lu, bahkan berdiri saja kamu susah." Ujar Kenan yang menahan tubuh Rafa yang hampir terjatuh saat mencoba mendekatinya.


"Sekarang lepaskan gue, kalau elu tidak mau antarkan gue, biar gue sendiri yang menemuinya." Ucap Rafa melepaskan tangan Kenan yang memapahnya.


"Baiklah gue yang akan mengantarmu." Putus Kenan.


Rafa dan yang lainnya keluar rumah sakit, menggunakan kursi roda, dan segera menuju mobil Kenan.


Setelah sampai di pemakaman Kenan dengan setia mendorong kursi roda Rafa menuju makam Sisi.


Setelah sampai Rafa langsung turun dari kursi roda bersimpuh disamping tanah gundukan yang masih basah dengan taburan bunga yang masih segar.


Rafa memeluk papan nisan yang bertuliskan Nama Sisi.


"Sayang aku minta maaf, dan kenapa kamu harus ninggalin aku sendiri, kenapa kau tidak mengajakku juga, kamu sudah janji bahwa kita akan terus bersama selamanya." Ucap Rafa dengan tubuh bergetar karena menangis.


"Aku minta maaf sayang, gara-gara aku, kamu seperti ini, aku tidak bisa menjagamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri Yank." Ucap Rafa dengan suara yang sangat lirih dengan tangisan terdengar sangat pilu.


"SISI BANGUN...." Rafa Seketika berteriak berbaring diatas makam kekasihnya itu.


"Raf, elu harus sabar, kamu harus mengikhlaskannya." Ujar Hera duduk dibelakang Rafa sambil mengusap punggungnya.


"Elu nggak ngerti rasanya ditinggalkan orang yang lu cintai, kalian semua gampang bilang sabar-sabar, Kalian tau nggak bagaimana perasaan gue seperti apa, bahkan gue sendiri yang membunuhnya." Teriak Rafa dengan suara serak.


Seolah Mengerti apa yang dirasain Rafa Kenan menarik Diva yang duduk disamping Rafa agar berpindah, lalu ia duduk disamping Rafa mengusap pelan bahu sahabat istrinya itu.


"Gue sangat mengerti dengan perasaan elu bro, gue juga pernah ada diposisi elu saat Diva dinyatakan telah meninggal, tapi lebih baik sekarang kita balik lagi kerumah sakit, Setelah kamu sembuh terserah kamu mau apa, Tapi untuk sekarang pikirkanlah orangtua elu, mereka sangat mengkhawatirkan elu, kesehatan elu." Ucap Kenan mencoba untuk memberi pengertian untuk Rafa.


"Sisi, aku mohon kembalilah, aku belum siap untuk kehilangan kamu." Teriak Rafa pilu menengadah ke atas.


Kenan langsung memapah Rafa kembali naik ke kursi roda, segera membawa Rafa kembali kerumah sakit.


Setelah sampai rumah sakit, Rafa terlihat sangat kacau, pakaiannya sudah sangat kotor karena tanah makam menempel di bajunya.


"Kalian dari mana?" Tanya Pak Malik saat mereka sampai depan ruang rawat Rafa.


Pak Malik dikabari oleh pihak rumah sakit kalau Rafa kabur.


"Iya Om, tadi Rafa histeris saat mengetahui kalau Sisi." Ucap Kiki menimpali ucapan Kenan dan tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Rafa kembali mengeluarkan air matanya.


"Rafa, kamu harus sabar Nak, mungkin ini sudah takdir kalian yang sudah Allah gariskan kepada kalian, sekarang kamu harus memikirkan kesehatan kamu juga, kamu tidak kasihan kepada mama, dia sangat mengkhawatirkanmu, bahkan dia jarang makan." Ucap Pak Malik duduk didepan putra kesayangannya.


Rafa kembali keruang rawatnya, setelah kepulangan para sahabatnya, Kenan hanya terus diam menatap keluar jendela.


"Gue benci diri gue sendiri, gue bahkan telah membunuh orang yang sangat gue cintai, gue tidak bisa memaafkan diri gue sendiri." Batin Rafa merutuki dirinya sendiri.


Kemudian memejamkan matanya sambil bersandar dibrankar.


Diva terlihat sedang berdiri di balkon kamarnya menikmati dinginnya angin malam yang menerpa kulitnya, memeluk tubuhnya menggunakan tangannya.


"Bagaimana keadaan Rafa setelah ini, gue khawatir dia akan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Sisi." Gumam Diva memejamkan matanya.


"Sedang Apa?" Tanya Kenan yang tiba-tiba memeluk Diva dari belakang, meletakkan dagunya di bahu istrinya itu.


"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan keadaan Rafa setelah ini." Jawab Diva lalu mendongak ke langit yang gelap tanpa bintang.


Rafa ikut mendongak dengan bahu Diva menjadi tumpuan dagunya.


"Apa kamu sudah mandi By' ?" Tanya Diva mengusap lengan Kenan yang berada diperutnya.


"Emmm ... Kenan hanya berdehem sambil menghirup aroma tubuh Diva dalam-dalam.


Diva merubah posisinya menghadap Kenan dan menatapnya sambil memeluk pinggang suaminya itu.


Diva terus menatap Kenan tanpa mengeluarkan suara, lalu Kenan Menangkup wajah istrinya.


"Kenapa?" Tanya Kenan menaikkan kedua alisnya.


"Apa kamu segila Rafa, saat aku dinyatakan tiada.?" Sahut Diva masih menatap dalam mata Kenan.


"Aku bahkan lebih gila darinya yank, aku sangat takut kehilangan dirimu, maka berjanjilah akan tetap bersamaku sampai maut yang memisahkan." Ucap Kenan merapikan rambut Diva kebelakang telinganya, dan melanjutkan kembali ucapannya.


"Akupun selalu berdoa disetiap sujudku, kita akan pergi bersama jika sudah tiba waktunya kita meninggalkan dunia ini." Ucap Kenan mengecup kening istrinya lalu memeluknya.


"Kamu itu begitu sempurna, baik, kaya, bahkan kamu tampan, kenapa kamu begitu mencintaiku, yang banyak kekurangan, aku hanya wanita urakan, bar-bar, tidak ada menariknya sama sekali." Ujar Diva.


Kenan terdiam ia semakin mempererat pelukannya.


" Bagiku kaulah wanita paling sempurna di bumi ini Yank, wanita paling cantik, bahkan paling baik, walaupun bar-bar tapi aku sangat menyayangi dan mencintai kamu apa adanya. Karena kamu sangat berbeda dengan wanita di luaran sana.


Diva tersenyum mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Aku percaya, Akupun sama seperti dirimu, aku sangat mencintai dan menyayangimu."


Ujar Diva menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang suaminya.


Kenan dan Diva



*Bersambung....


jangan lupa tinggalkan jejak


Like


Coment


Vote


Salam sayang dari aku para readers


🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️*