
Khay menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa, menuju ruang rawat Enzy, yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Priska, ia sangat khawatir memikirkan istri dan calon buah hatinya.
Saat Khay di kantor, ia mendapatkan telfon dari Priska kalau Enzy mengeluh sakit di bagian perutnya, bahkan Enzy sampai tak sadarkan diri, karena panik Priska langsung membawanya kerumah sakit, lalu menghubungi Khay.
"Sayang ?" Ucap Khay membuka pintu ruang rawat Enzy kasar, dengan nafas ngos-ngosan.
"Khay ?" Ujar Priska yang duduk di sofa menemani Enzy yang sudah tertidur, karena pengaruh obat yang diberikan dokter tadi.
"Bagaimana keadaan Enzy dan calon anak kami ?" Tanya Khay menghampiri brangkar istrinya.
Priska beranjak dari duduknya, kemudian ikut mendekat ke brangkar.
"Dia sudah lebih baik, sekarang dia sudah tertidur karena pengaruh obat yang di berikan dokter." Terang Priska.
"Lalu, kandungannya bagaimana ?" Tanya Khay tanpa beralih dari tatapan kepada istrinya itu, sambil mengusap rambutnya.
"Kandungannya juga baik-baik saja, hanya saja kandungannya masih lemah, dan kata dokter dia juga kepikiran sampai ia stres, maka dari itu dia merasakan kram tadi, untung saja cepat dibawah kesini." Jelas Priska panjang lebar.
"Sayang, maafkan aku, gara-gara aku kamu dan colon anak kita sampai seperti ini." Ucap Khay lalu mengecup keningnya lama, Priska yang melihat itu hanya diam, karena Khay mengabaikan setelah ia menjelaskan panjang lebar tadi.
Priska menghela nafas berat, lalu kembali berujar.
"Khay karena kau sudah disini, sekarang aku pamit pulang dulu."
"Iya, terimakasih ya Pris." Sahut Khay masih belum teralihkan dari istrinya.
"Iya sama-sama, lagian dia juga sudah aku anggap sahabat, jadi sudah seharusnya aku membantunya, kan ?" Ujar Priska.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya, dan satu lagi, jangan pernah mengecewakannya lagi, atau kamu akan menyesal !" Ucap Priska lalu ingin segera pergi dari sana, namun Khay mencegahnya.
"Emmm...Pria." Panggil Khay membuat Priska mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Ada apa ? Apa perlu bantuan ?" Tanya Priska menaikkan satu alisnya.
"Tidak Pris, bukan itu maksud gue, tapi... Apa Enzy memberitahu semuanya padamu ?" Tanya Khay.
Baru saja Priska akan menjawab, tapi Enzy terbangun, membuat Khay langsung beralih kepada istrinya.
"Khay." Panggil Enzy masih lemah.
"Iya sayang, aku disini, sekarang apa yang kamu rasakan ?" Tanya Khay khawatir.
"Aku udah gak apa-apa kok, mungkin tadi aku cuma banyak makan doang." Sahut Enzy.
"Ya sudah kamu urus istri kamu baik-baik, aku pergi dulu !" Seru Priska.
"Nzy, kamu baik-baik ya, gue pergi dulu." Pamit Priska.
"Iya, thanks ya Pris." Ucap Enzy tersenyum.
"Emm..." Priska hanya berdehem sambil tersenyum, kemudian ia pergi dari sana.
Setelah kepergian Priska, Khay terus menatap Enzy, membuat yang di tatap mengerutkan keningnya.
"Ada apa ? Kenapa kamu menatapku seperti itu ?" Tanya Enzy.
"Gak kok, aku hanya sangat mengkhawatirkan mu, saat Priska menghubungi ku, dan mengatakan kamu dibawah kerumah sakit." Jawab Khay.
"Benarkah ? Tapi kok aku rasa bukan itu." Sahut Enzy.
"Sayang, aku benar-benar ingin minta maaf sama kamu, aku minta maaf karena aku telah berbohong kepadamu, membuatmu kecewa, membuatmu sampai stres, sampai kamu harus di rawat." Ucap Khay merasa bersalah.
"Sayang, aku ini milikmu, hanya milikmu, aku tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya darimu." Lanjut Khay.
Sementara Enzy hanya diam menatap suaminya, membiarkan pria di hadapannya itu terus berbicara mengeluarkan semua yang ingin dia katakan.
"Asal kamu tahu, aku merasa cemburu dan hampir dibuat gila saat kamu pergi dari rumah malam itu, terlebih dari aku tahu, kamu menginap di apartemen pemberian papa Rafa dulu, dan kamu di temani Rendra dan Nendra disana, walaupun mereka sahabat kita, tapi tetap saja aku cemburu."
"Dan Sita, kamu gak usah mencemaskan atau memikirkan dia lagi, karena dia sudah tak lagi berarti untukku, dan orang yang paling berarti untukku yaitu kamu, istriku !" Tambahnya.
"Aku sangat menc.....
"Sudah ! Aku sudah capek mendengar pidato panjang kamu itu." Sela Enzy.
"Aku percaya sama kamu, aku juga minta maaf karena aku telah marah-marah padamu kemarin, bahkan aku pergi dari rumah." Ucap Enzy.
"Benarkah ?" Tanya Khay merasa sangat senang.
"Emmm... Berbicara dengan Priska membuatku sadar, kalau aku memang tak pernah mendengarkan mu. Aku selalu marah padamu tak ingin mendengarkanmu, aku tak tahu, tapi aku merasa sangat marah, aku merasa sangat buruk, aku tak tahu, bagaimana aku menjelaskan perasaanku." Ucap Enzy.
Khay lebih mendekatkan wajahnya pada Enzy.
"Berhentilah berbicara seperti itu, harusnya aku yang meminta maaf, karena disini, akulah yang salah." Khay menatap manik mata Enzy.
"Sita ? Gadis itu, aku tidak akan pernah menemuinya lagi, tolong maafkan aku." Lanjut Khay.
"Khay....." Panggil Enzy.
"Emm."
"Peluk dan cium aku !" Seru Enzy.
Khay tersenyum mendengar permintaan istrinya itu.
"Jadi.... Apa kamu sungguh sudah memaafkanku ?" Tanya Khay.
"Tidak...!" Enzy menjeda ucapanya membuat Khay kembali bermuka masam.
"Tidak, sebelum kamu mencium dan memelukku."Lanjut Enzy sambil tersenyum.
Khay yang mendengar itu langsung mencium kening Enzy lama, menyalurkan semua rasa rindu dan perasaan sayang dan cintanya pada wanita yang kini memenuhi relung hatinya, setelah mencium kening Enzy lama, Khay beralih mengecup bibirnya sekilas lalu memeluknya, menelusupkan wajahnya ke leher istrinya itu.
Enzy pun membalas pelukan suaminya, sambil mengusap pelan punggung pria itu.
"Dasar penggoda !" Seru Khay kemudian menarik dirinya karena takut menyakiti baby yang ada diperut istrinya, karena terlalu lama memeluknya, karena sebagian tubuhnya menindih perut Enzy.
"Maafkan aku." Khay tak henti-hentinya meminta maaf.
Enzy tersenyum lalu mengangguk.
"Sudah berapa kali kamu minta maaf seperti itu, ? Emmm aku memaafkanmu, karena sahabat baikmu itu, kamu bersyukur memiliki sahabat seperti Priska." Ujar Enzy, namun kali ini tatapannya sungguh berbeda, entah apa yang dipikirkan wanita hamil itu.
"Emmm, Diantara kami berempat, memang Priska lah yang lebih baik, dia memiliki hati yang tulus." Sahut Khay.
Enzy hanya tersenyum menanggapi perkataan Khay.
"Jika kamu kembali mengulangi kesalahan seperti itu, aku benar-benar akan meninggalkan mu." Seru Enzy.
"Aku berjanji, tidak akan mengulanginya." Sahut Khay.
Khay kembali mengecupi bibir Enzy sekilas, lalu beralih mengusap perut buncit istri itu, lalu mengajak anak yang masih ada didalam perut seolah-olah bisa mendengarnya.
"Emang mereka menjawab mu ?" Tanya Enzy terkekeh melihat tingkah suaminya yang terus saja mengoceh di depan perutnya, sesekali terdengar pria itu terkekeh.
"Tentu saja, tapi hanya aku yang bisa mendengarnya, karena aku Daddynya." Sahut Khay kemudian melanjutkan aktivitasnya itu.
Enzy geleng-geleng kepala, menatap suaminya itu dengan tatapan datar, kemudian tersenyum.
...----------------...
Di kota Z
Diva dan Kia, kedua ibu dan anak itu duduk di salah satu bangku tunggu yang ada di bagian kedatangan di bandara, malam ini Kenan akan kembali dari Singapore, dan langsung ke kota Z.
"Astaga bunda lupa menghubungi Abang kamu dek, tunggu ! Bunda telpon dulu." Seru Diva lalu mengeluarkan ponselnya dari tas brandednya.
📞 "Assalamualaikum Bun." Terdengar suara Khay diseberang sana.
📞 "Walaikumsalam bang, bang Enzy mana, dia baik-baik saja kan ?" Jawab Diva, lalu menanyakan menantu juga keadaannya menantunya itu.
📞 "Ini dia, ada di dekat aku kok Bun, kami lagi dirumah sakit sekarang, Enzy lagi di rawat." Terang Khay.
📞 "Kok bisa dirawat sih bang ? Pasti gara-gara kamu deh, makanya jangan suka buat masalah jadinya istri kamu stres, kalau terjadi apa-apa sama menantu juga calon cucu bunda awas kamu bang, bunda tidak akan mengampuni mu." Oceh Diva kemudian mengancam di akhir kalimatnya.
📞 "Astaga Bun, sekarang menantu kesayangan bunda sudah tidak apa-apa, besok juga sudah bisa keluar, kandungannya juga sudah lebih baik." Sahut Khay jengah mendengar ocehan bundanya.
📞 "Kamu tuh ya bang, kalau ditanya ya dengerin !" Seru Diva kesal.
📞 "Aku dengar kok Bun."
📞 "Pokoknya sekali lagi menantu bubda sampai dirawat seperti itu, bunda pastikan kamu akan mendapat hukuman dari bunda, mengerti ?"
📞 "Iya Bun, dan ini kali pertama dan terakhir menatu bunda seperti ini." Sahut Khay.
📞 "Baguslah ! Oh iya bunda sampai lupa kan, sekarang, bunda sama adik kamu lagi dibandara buat jemput ayah." Ujar Diva memberitahu.
📞 "Emang ayah langsung ke kota Z, bukannya langsung pulang kesini ?" Tanya Khay.
📞 "Iya, soalnya om Kavi lagi ada rencana buat melamar Kia, karena Kia gak bisa pulang ke kota Xx dekat-dekat ini, makanya acara lamarannya akan di adakan disini." Terang Diva.
📞 "Kok udah lamaran aja sih Bun, bukannya Kia masih sekolah ?
📞 "Gak ada salahnya kan, lagian rencan pernikahannya bisa di tunda sampai adik kamu lulus dulu, rencananya mereka akan melangsungkan acara pertunangan, sebagai tanda ikatan mereka."
📞 "Om Kavi, keknya udah ngebet banget."
📞 "Apaansih bang, bukannya itu malah bagus, kalau hanya sekedar pacar-pacaran mah kagak ada gunanya juga, iya kan ? Kalau udah tunangankan sudah ada kepastian."
📞 "Jadi, om Kavi bakal jadi adik ipar aku dong, kok aneh ya Bun ? Hehehe." Ujar Khay terkekeh.
📞 "Bunda juga ngerasa aneh sih bang, tapi ya sudahlah." Diva ikut terkekeh, Kia yang mendengar itu memberenggut memajukan bibirnya.
📞"Udah bang, tuh adik kamu kesal mendengarnya." Seru Diva tersenyum melihat kearah Kia.
📞 "Tolong kasih handphonenya ke Kia dulu Bun, aku mau bicara !" Seru Khay, kemudian Diva memberikan ponselnya pada Kia.
📞 "Ada apa ?" Kesal Kia kepada Khay setelah ponsel Diva berada ditangannya.
📞 "Bercanda adekku sayang, gak kerasa ya sebentar lagi kamu akan nikah juga." Ucap Khay.
📞 "Gak usah ngeledek !"
📞 "Siapa yang ngeledek sih, aku seriusan.
📞 "Emmm, aku percaya, btw Bangkhay juga kak Enzy bakal datengkan, di acara lamaran nanti ?"
📞 "Abang gak janji, nanti Abang liat keadaan Enzy dulu, kalau memungkinkan untuk perjalanan jauh, insyaallah Abang dan Enzy bakal datang."
📞 "Pokoknya kalian harus datang, gak mau tahu, TITIK." Seru Kia lalu mematikan panggilan tersebut.
Tak lama Diva dan Kia menunggu, dari kejauhan terlihat Kenan di dampingi salah satu sekertarisnya datang.
"Dua kesayangannya ayah, udah pada lama belum ?" Tanya Kenan memeluk secara bergantian kedua wanita kesayangannya itu.
"Dari tadi yah, ayah kok lama banget, kata ayah jam 8 sudah disini, ini malah udah mau jam sembilan." Keluh Kia memperlihatkan jam di tangannya.
"Maafkan ayah sayang, tadi ada penundaan keberangkatan, sedikit ada masalah dengan penerbangannya." Terang Kenan mencubit gemas hidung putrinya itu.
"Ya sudah yuk, kita langsung pulang sekarang, ini sudah mau larut loh, nanti aja ngobrolnya dirumah." Seru Diva.
"Gilang ( Salah satu sekertaris Kenan ) kamu ikut kami saja pulang kerumah, kamu tidak perlu menginap di hotel !" Seru Kenan.
"Tapi....
"Gak usah sungkan, kamu ikut kamu, ini perintah !" Tegas Kenan dan langsung di angguki Gilang.
"Baik pak, terimakasih sebelumnya." Ucao Gilang.
"Emmm...." Kenan berdehem.
"Ayo sayang !" Ajaknya kepada istri dan anaknya kemudian.
Kia langsung bergelayut manja di lengan ayahnya itu, lalu mereka keluar dari bandara, dimana sopir diluar sudah menunggu mereka.
Bersambung........
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak Like, Komen, dan Vote....
Maaf kalau lima hari kedepannya author jarang up, atau bahkan tidak, soalnya author bakal ke luar kota, untuk menghadiri acara pernikahan kemakan author...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...