Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 17 Season 3 ( Next Generatoin )


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Khay terlihat baru saja tiba di apartemennya, Saat ia masuk ia tak melihat apapun selain kegelapan, Khay berpikir apakah Enzy belum pulang ? Khay mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan lampu Flash ponselnya untuk ia gunakan mencari saklar lampu diruangan itu. Setelah berhasil menyalakan lampu ruangan itu, ia mulai melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Saat membuka pintu kamarnya, Khay juga hanya mendapatkan ruangan itu gelap, hanya saja jendela balkon terbuka lebar, sehingga hembusan angin bebas masuk, membuat udara di kamarnya sangat dingin, Khay berjalan ke arah jendela lalu menutupnya rapat-rapat tak lupa juga menutup tirainya. Setelah itu ia berjalan ke dimana saklar lampu kamarnya berada, saat lampu sudah berhasil ia nyalakan betapa kagetnya Khay melihat Enzy terbaring di tempat tidur sambil meringkuk.


"Nzy, Enzy bangun woi !!" Khay memanggil Enzy berniat untuk membangunkannya, namun Enzy tak menjawab sama sekali.


Khay mulai khawatir, ia mencoba mendekati dan berdiri di samping tempat tidur.


"Woi, bangu...." Khay merasakan tubuh istrinya itu sangat panas saat menyentuh lengannya berniat untuk membangunkannya.


Khay duduk di samping Enzy, meletakkan punggung tangannya pada kening Enzy.


"Lepaskan aku, tolong jangan sakiti aku, kumohon !!" Khay kaget saat Enzy meracau, keringat dingin mulai bercucuran di wajah mulus wanita itu.


"Enzy, kamu kenapa, ada apa woi, bangun !!" Panik Khay sambil menggoyang-goyangkan lengan Enzy.


"Pa...ma... Tolongin Enzy pa...ma...Aku takut !!" Racau Enzy terlihat jelas raut wajahnya sangat ketakutan.


"Enzy ada apa ? Enzy bangunlah !" Seru Khay terus berusaha membangunkannya.


"Tolong...Tolong aku !"


"Pleaseee, bangunlah !" Seru Khay panik sambil memegang erat tangan Enzy menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan yang lainnya menyekah keringat yang ada diwajah istrinya.


"Tolong aku.... Khay... Khay tolong aku !"


"Bangunlah Nzy, ini aku Khay, aku ada disini, ku mohon bangunlah !! Ucap Khay menarik tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya, Enzy pun membalas pelukannya dengan sangat erat.


Enzy terus menangis dalam pelukan Khay, tapi masih saja meracau terus meminta tolong.


"Tidak apa, Nzy, kamu akan baik-baik saja, aku disini." Ucap Khay lembut terus mengusap punggung istrinya itu. Sementara Enzy masih memeluknya sangat erat.


"Diam dan tenanglah, aku disini bersamamu, tidak ada yang akan menyakitimu." Khay terus menenangkan istrinya itu.


Dengan perlahan Enzy melepaskan pelukannya, dan....


Plakkkk


Enzy menampar wajah Khay dengan sangat keras, sehingga membuat wajah Khay memerah akibat tamparannya.


"Tinggalkan aku sendiri ! Seru Enzy tak berani menatap Khay, lalu memundurkan dirinya bersandar di kepala tempat tidur.


"Apa-apaan ini ? Aku sudah sangat khawatir tadi, dan mencoba untuk membantumu bangun." Bentak Khay.


"Aku tak memintamu untuk melakukannya."


"Kamu benar, kamu tak memintaku melakukannya, aku benar-benar sudah salah sudah melakukannya, salah karena mengkhawatirkan mu, aku salah Enzy, aku selalu salah dimatamu !!" Ucap Khay geram.


"Aku salah karena takut kamu kenapa-napa tadi, aku salah karena aku takut melihatmu ketakutan seperti tadi, aku salah karena membantu mu keluar dari mimpi burukmu, aku salah, SALAH ENZY." Emosi khay memuncak bahkan Khay berteriak di akhir katanya. Wajahnya sudah sangat memarah karena emosi dan amarah laki-laki itu.


"Aku tidak mimpi, aku tidak ketakutan sama sekali, dan satu lagi, jangan mengatakan apa-apa jika kamu tak mengerti apa masalahku." Enzy ikut meninggikan suaranya.


"Lalu apa ? Kenapa kamu terus meminta bantuan, terlihat jelas kalau kamu sangat ketakutan, bahkan tubuhmu saja bergetar seperti itu." Seru Khay


"Tidak ada." Sangkal Enzy.


"Aku tak pernah takut hal apapun." Ujarnya lagi.


"Apakah kamu berharap kalau aku percaya dengan apa yang kau katakan itu, setelah aku melihatnya sendiri kalau kamu benar-benar sangat ketakutan, hah ?" Tanya Khay terdengar suara Khay mulai melemah.


"Berhenti bersikap angkuh !" Serunya lagi setelah melihat Enzy hanya terdiam.


"Terserah aku, Tapi asalkan kamu tahu ? Jika saja di dunia hanya kamu saja, akupun tidak akan meminta bantuan darimu, lebih baik aku mati saja, jika harus meminta bantuan oleh pria seperti dirimu, ingat itu !" Seru Enzy penuh penekanan.


Khay menelan ludahnya kasar, ia tampak sekali menahan emosinya agar tak lepas kendali, sehingga ia bisa melukai wanita yang kini menjadi istrinya itu, Khay mengatur nafasnya yang mulai memburu. setelah dirasa cukup baik, ia menghela nafas panjang.


Khay masuk disalah kamar yang ada dilantai bawah, kamar itu terlihat gelap karena jarang digunakan, ia langsung masuk ke kamar mandi, ia berdiri dibawah shower, lalu mengguyur dirinya menggunakan air dingin. Khay memukul tembok menggunakan tinjunya, membuat tangannya memar.


...----------------...


Ponsel Enzy berdering tanda panggilan masuk, dengan susah payah ia membuka matanya perlahan lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur, Enzy langsung memutuskan panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubunginya, kemudian berniat ingin melanjutkan tidurnya.


Dari tadi Khay yang sedang sibuk menyiapkan bukunya kedalam tasnya, terus memperhatikan Enzy.


"Enzy bangunlah, ini sudah hampir jam sembilan." Ucap Khay menyelampirkan tasnya di punggung kirinya.


"Hmmm..."


"Bangunlah sekarang, aku membangunkan bukan karena aku peduli, tapi aku melakukan ini hanya semata-mata demi kemanusiaan, karena sudah pasti kamu akan terlambat jika aku tak membangunkan mu sekarang." Jelas Khay.


"Hmmm...." Enzy lagi-lagi hanya berdehem masih saja memejamkan matanya.


"Bangunlah, sudah hampir jam sembilan." Ucapnya meninggikan suaranya.


"Diamlah, tinggalkan aku sendirian !!" Seru Enzy manarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya.


"Baiklah, aku mencoba untuk berdamai dengan mu, tapi sepertinya itu hanya percuma, aku muak dengan wanita angkuh seperti mu." Ucap Khay emosi lalu pergi dari kamar lalu membanting pintu dengan keras.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, tapi Enzy masih saja tertidur, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


"Aduhh... Kepalaku sakit sekali." Gumam Enzy memegang kepalanya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berusaha mengambil ponselnya yang ada dibawah bantalnya.


"Rendara ?" Ucap Enzy pelan saat melihat nama Rendra yang tertera dilayar ponselnya.


📞 "Hay... Nzy, kamu dimana ? Aku sudah berada di kampus ?" Terdengar Rendra dari seberang telpon.


📞 "Di apartemen." Sahut Enzy lemas.


📞 "Suara kamu terdengar aneh, apa kamu baru bangun, seperti semalam kamu sangat bekerja keras." Goda Rendra lalu terdengar terkekeh diseberang sana.


📞 "Jangan ngaco kamu !" Seru Enzy terdengar kesal.


📞 "Bangunlah sekarang ! Kelas akan segera dimulai, jangan bilang kamu akan membolos lagi seperti kemarin." Ucap Rendra.


📞 "Hari ini aku enggak masuk, aku sakit, kepalaku sangat sakit, rasanya ingin pecah." Jelas Enzy.


📞 "Oh...Kamu sakit ? Apa perlu aku kesana menjengukmu ?"


📞 "Tidak perlu, aku baik-baik saja, setelah cukup istirahat, kalau begitu aku tutup dulu telponnya, aku mau istirahat." Ucap Enzy kemudian mengakhiri panggilannya tanpa menunggu persetujuan dari Rendra.


Setelah panggilan berakhir, Enzy kembali melanjutkan tidurnya.


Bersambung.....


Maaf kalau Upnya dikit, soalnya lagi ngeblank dikit, jika ada saran tolong ditulis dikolom komentar ya readers....


Terimakasih karena sudah terus mengikuti jalan cerita kehaluan authornya. 🙏🙏🙏


Like


Komen


Vote


Love you all ❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗🤗