Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 44 Season 3 ( Next Generatoin )


Dua Minggu kemudian


Enzy, Rendra, dan Nendra duduk di kantin menikmati makan siang mereka, setelah mengikuti jadwal mata kuliah masing-masing. Saat asik berseda gurau tiba-tiba Khay datang menghampiri dan langsung duduk di samping Enzy.


"Hay." Sapa Khay tersenyum manis kepada Enzy dan langsung dibalas senyum semanis pula dari wanita disampingnya itu.


"Gue perhatiin, kalian begitu dekat akhir-akhir ini." Ujar Rendra.


"Itu mungkin hanya perasaan kamu doang kali." Sahut Enzy.


"Tidak ! Ini sama sekali bukan karena perasaan gue doang, sudah beberapa minggu ini kalian sering berangkat dan pulang bareng terus, bahkan Khay sering-sering menyempatkan untuk menghampirimu di jam makan siang seperti ini." Terang Rendra.


"Iya, setau gue, Khay memiliki jadwal yang berbeda dari kalian berdua, dan..."Timpal Nendra.


"Dan apa ?" Tanya Enzy penasaran.


"Dan apalagi, fakultas kamu, berbeda dengan pakultas kalian yang hukum." Jelas Nendra.


"Kenapa, apa ada masalah jika gue sering-sering menyambangi istri gue sendiri disini, lagian ini juga enggak terlalu jauh, masih di lingkungan universitas juga, kan ?" Sahut Khay menatap kedua sahabatnya itu bergantian.


"Tidak ada masalah sih sebenarnya, hanya aneh aja gitu, melihat kalian sedekat ini." Ujar Rendra.


"Jadi, maunya kalian, kalian mau liat kami ribut terus gitu ?" Timpal Enzy.


"Ya enggak lah, capek gue liat kalian dikit-dikit ribut, ujung-ujungnya pada galau sendiri." Sahut Nendra.


"Btw, Enzy, kamu udah enggak lagi membenci pria seperti suami kamu itu ?" Tanya Rendra setelah meneguk sedikit cofenya moccanya, sambil menunjuk Khay dengan lirikan matanya.


"Aku masih membenci pria seperti itu, tapi aku tidak membencinya." Imbuh Enzy beralih menatap suaminya sambil tersenyum manis.


Khay yang mendengar pengakuan Enzy tersenyum-senyum sendiri, lalu mengambil minuman Enzy dan meminumnya.


"Maksudmu, apa kalian sudah...


"Rupanya kalian sudah kelewatan kepo ya, kenapa juga kalian harus susah-susah buat kuliah, mending kalian jadi pembawa acara gosip selebriti, itu cocok buat kalian." Seru Enzy kesal melihat ke kepoan saudara kembar itu.


"Ya elah, santai aja kali Nzy, kalau emang iya juga enggak apa-apa, akui saja lah !" Sahut Nendra.


"Apa kalian sudah bosan hidup, hah ?" Tanya Enzy menodongkan pisau buat memotong daging steaknya, sambil menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan membunuhnya secara bergantian.


"Oh...Jangan seperti itu nona, ini bahaya ! Imbuh Rendra menurunkan tangan Enzy.


"Apa kamu tahu, UU dan pasal apa bagi yang menodongkan senjata tajam kepada seseorang, kamu akan dijerat dengan Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, Pasal 368 KUHP tentang pengancaman, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.Ancamannya sampai 12 tahun penjara." Rendra menjelaskan secara detail.


"Apa kamu mau di penjara sampai 12 tahun, Hem, kalau kamu di penjara, otomatis Khay akan dengan senang hati mencari wanita lain, banyak yang antri ingin menjadi wanitanya." Tambah Rendra dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Khay, karena perkataannya barusan, bisa saja membuat Enzy kesal dan marah padanya.


"Bener kamu akan mencari wanita lain ?" Enzy beralih menatap tajam suaminya itu.


"Engg....


"Emang kenapa kamu kalau dia mencari pengganti mu, bukannya kamu tidak mencintainya, kenapa juga kamu harus jelous seperti itu." Rendra langsung menyela ucapan Khay saat dia ingin menjawab pertanyaan Enzy.


"Atau jangan-jangan, kamu sudah mulai menyukai dan mencintainya, hemm...hemm?" Timpal Nendra menaik turunkan alisnya.


Enzy bungkam mendengar pertanyaannya demi pertanyaan dari si kembar kepo itu, lalu beralih menatap Khay yang berada di sampingnya, yang ternyata juga sedang menatapnya sambil senyum-senyum.


"Bener ? Tanya Khay, membuat menatapnya tajam.


"Enggak !!" Jawab Enzy memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudahlah, Nzy akui saja lah !" Seru Nendra.


"Enggak ada yang perlu di akui, ngomong sekali lagi, Hem ?" Ancam Enzy kembali menodongkan pisaunya.


"Ingat pasal 335 KUHP dan 368 KUHP." Ucap Rendra.


Enzy memutar bola matanya malas meletakkan kembali pisaunya begitu saja.


"Sepertinya gue harus pergi, sebentar lagi kelas gue di mulai." Pamit Khay beranjak dari kursinya.


"Kamu enggak makan dulu Khay ?" Tanya Nendra.


"Enggak gue masih kenyang." Jawab Khay.


"Say...eh maksud aku Nzy, aku pergi dulu ya, pulang nanti kita ketemu di parkiran." Pamit Khay hampir saja keceplosan memanggil Enzy dengan sebutan sayang, membuat si kembar kepo itu saling pandang, lalu menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Emmm.... Dan cepatlah, kemarin kamu membuatku menunggu terlalu lama." Sahut Enzy.


"Ok, istriku." Bisik Khay di dekat telinga Enzy kemudian buru-buru pergi dari sana.


"Waw.... Sepertinya ada bau-bau orang sedang kasmaran, kasmaran sama yang udah halal, jadi sah-sah aja dong." Goda Nendra.


"Jadi pengen nikah gue, kira-kira Kia mau enggak nikah ama gue." Timpal Rendra berandai-andai, dan langsung mendapatkan geplakan dari saudara kembarnya.


"Dia ogah nikah ama kamu, kalau ama gue sih, dia mau-mau aja, orang tampanan gue dari kamu." Imbuh Nendra.


"Kalian lupa kalau kalian itu kembar, perasaan kalian wajah kalian sama aja, sama-sama burik." Ujar Enzy lalu pergi meninggalkan keduanya yang masih mencerna ucapan Enzy barusan.


"Woii, bro dia ngatain kita burik, woi, benar-benar kurang asem tu nyonya Khay." Ucap Rendra saat sadar dikatai butik.


"Emang ya, suami Ama istri sama-sama kagak ada akhlak." Timpal Nendra.


...----------------...


"M**us gue." Ucap Kia.


Tak lama pengendara mobil BMW yang ia tabrak tadi keluar, seorang pria dewasa sekitar berumur 30 tahunan, namun masih tampak sangat gagah dan tampan dengan stelan jas mahalnya, pria itu langsung memeriksa mobil bagian belakangnya yang cukup parah kerusakannya, setelah memeriksanya dengan tatapan dinginnya menghampiri Kia.


"Turun !" Seru pria itu dingin.


Baru saja Kia akan turun dari motornya namun bunyi klakson pengendara lain di belakang mengurungkan niatnya.


"Ikuti saya, jika tidak saya akan membawa masalah ini ke ranah hukum." Ancam pria itu kemudian buru-buru masuk ke mobilnya dan langsung menjalankannya, di ikuti Kia dari belakang.


Mobil pria itu berhenti di jalanan yang cukup sepi pengendara, Kia ikut menghentikan motornya tak jauh dari mobil tersebut, lalu membuka helmnya, Kia terus menundukkan wajahnya takut-takut melihat pria itu.


"Apa kamu siap tanggungjawab atas perbuatan kamu ?" Tanya pria itu terdengar angkuh dan dingin bersandar di bagian belakang mobilnya sambil melipat tangannya di depan dadanya.


"Sebelumnya saya minta maaf Om, tadi itu saya tidak sengaja." Sahut Kia menundukkan kepalanya.


"Tidak sengaja, atau memang kamu sengaja kebut-kebutan atau apa, hah." Seru pria itu sedikit membentak.


Kia yang mendengar pria itu membentaknya menjadi kesal, dan menggerutu tak jelas.


"Dasar tua bangkai." Gumam Kia sangat pelan hingga pria itu tak dapat mendengarnya.


"Sekali lagi saya minta maaf Om." Ucap Kia.


"Kenapa kau terus menunduk seperti itu, apa aku terlihat sangat menyeramkan, hah ?" Tanya pria itu.


Dengan sangat terpaksa Kia mengangkat wajahnya lalu tersenyum manis di paksakan, melihat pria itu.


Wajah pria itu tiba-tiba memerah dan menegang saat melihat wajah Kia yang mengingatkannya dengan seseorang.


"Ekkmm..." Pria itu berdehem kembali menetralkan keterkejutannya, sambil memperbaiki posisi dasinya yang sama sekali tak berantakan.


"Nama kamu siapa, tinggal dimana, dan hubungi orangtuamu untuk menemuiku mengurus masalah ini." Imbuh pria itu terus memperhatikan wajah Kia, membuat Kia risih dibuatnya.


"Nama saya Kia Om, saya rasa orangtua saya tidak perlu dihubungi om, cukup om bilang saja berapa saya harus bayar sebagai ganti rugi sudah menambrak mobil om." Kia mencoba untuk negosiasi, tidak mungkin ia menghubungi orangtuanya, bisa-bisa semua pasilitanya di cabut, dan lebih parahnya semua koleksi motor-motornya bakal dijual oleh ayahnya.


"Kenapa, bukannya orangtua kamu harus tahu mengenai masalah ini." Ucap pria itu.


"Tidak perlu om, orangtua saya tidak tinggal disini, tapi di luar negeri om, saya hanya tinggal sama bibi di sini." Bohong Kia.


"Kalau begitu berikan nomor ponselmu, saya akan menghubungi kamu nanti jika, mobilnya selesai di perbaiki." Imbuh pria itu.


"Tidak om, saya tidak sembarangan memberikan nomor ponsel saya." Tolak Kia.


"Bagaimana saya menghubungi mu nanti, jika mobilnya selesai, atau jangan-jangan kamu mau lari dari tanggung jawab ya ?" Seru si pria.


"Enak aja saya kabur, saya enggak bakalan kabur, saya sudah di ajarkan sejak kecil untuk tanggungjawab apapun yang terjadi." Kesal Kia.


"Begini saja deh om, saya ada kenalan bengkel langganan, saya bisa menghubungi mereka untuk mengurus mobil om ini, jika sudah selesai saya akan mengantarkan ke tempat om." Kia mencoba memberikan usul negosiasi.


"Bagaimana kamu tahu di mana alamatku, Hem ? Lagian saya tidak sembarangan mempercayakan mobil saya ke sembarang orang, apalagi aku belum tahu kualitas bengkel tersebut." Tolaknya.


"Pleaseee lah om, mengertilah, saya jamin bengkel langganan saya ini salah satu bengkel terbaik dan terbesar di kota ini, jadi enggak usah khawatir lagi om." Mohon Kia.


"Ya sudah jika kamu tetap kekeh tidak ingin memberikan nomor ponsel kamu, saya akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib, biar saja mereka yang mengurus semuanya." Ucap pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.


Enzy terdiam sejenak, jika om-om menyebalkan ini benar menghubungi polisi, otomatis orangtuanya akan mengetahui masalahnya.


"Hall...."


"Tunggu om ! Seru Kia merampas ponsel pria itu lalu memutuskan panggilan yang terhubung ke kantor polisi terdekat.


"Ada apa ? Kesal pria itu karena Kia langsung merampas ponselnya.


"Maaf... Maaf om, ini ponselnya." Ucap Kia mengembalikan ponsel pria itu.


"Lalu ?" Tanya pria itu.


Kia memberikan ponselnya ke pria itu, membuat pria itu mengerutkan keningnya.


"Buat apa ? saya tidak meminta ponselmu, saya hanya meminta nomornya saja." Tanyanya.


"Om hubungi nomor om menggunakan ponsel saya ini, soalnya saya tidak menghapal nomor ponsel saya sendiri." Imbuh Kia.


Pria itu geleng-geleng kepala melihat sikap Kia, lalu menghubungi ponselnya seperti yang Kia katakan.


"Ok, nanti setelah mobil saya selesai, saya akan menghubungi kamu, jangan lupa save nomor saya." Imbuh pria itu lalu pergi meninggalkan Kia disana sendirian. Pria itu senyum-senyum sendiri dengan ekspresi sulit diartikan, lalu memasuki mobilnya.


Sedangkan Kia menghentak-hentakkan kakinya saking kesalnya dengan om-om itu.


"Dasar tua Bangka !" Ucap Kia kesal lalu menaiki motornya, lalu menjalankannya pulang kerumahnya yang tak jauh dari tempatnya berhenti.


Bersambung.......


Jangan lupa LIKE, KOMENT, dan VOTE sebanyak-banyaknya.......


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘