
Terlihah Khay baru memasuki kelasnya, ia menatap pria yang pernah dekat dengannya, bahkan salah satu sahabatnya, ya pria itu Alex. Sedangkan Alex tampak sibuk bercanda dengan teman-temannya.
"Ya elah, loh aja yang payah, masa dekati cewek seperti itu gak bisa." Ucap Alex pada salah satu temannya.
Khay berjalan masuk, Priska, Doni, juga Leo yang sudah datang lebih dulu langsung memanggil Khay untuk segera bergabung dengan mereka, mereka ingin membicarakan soal tugas kemarin.
"Khay, tumben loh telat ? Buruan sini !" Seru Leo.
Namun Khay tak menghiraukan panggilan Sahabatnya itu, Khay berjalan melewati bangku yang biasa iya tempati bersama ketiga sahabatnya, Khay malah berjalan menghampiri Alex.
"Ehh pulang nanti kalian ada acara gak ?" Tanya Alex mengacuhkan Khay yang sudah berdiri di dekatnya.
"Lex, gue mau bicara sama loh !" Seru Khay.
Alex menatap Khay kemudian kembali dengan pembicaraannya dengan taman-tamannya.
"Lex, gue punya permintaan sama loh." Ujar Khay.
"Sudahlah, gak ada lagi yang perlu kita bicarakan, dan loh gak perlu meminta apapun lagi sama gue." Ujar Alex tanpa menoleh kearah Khay.
Khay menghembuskan nafasnya kasar.
"Ini soal adikmu." Seru Khay membuat Alex terdiam sejenak, Alex berdiri kemudian menatap tajam Khay.
"Gue, tidak bermaksud untuk memulai pertengkaran denganmu, tapi adikmu selalu saja menelfonku dari beberapa minggu belakangan ini." Jelas Khay.
"Gue gak akan percaya apa yang kau katakan !" Geram Alex menarik kerah baju yang di gunakan Khay. Membuat seisi kelas langsung riuh, Doni dan Leo dengan cepat melerai keduanya sebelum mereka bertengkar.
"Tenanglah, kalian berdua tenang, ok !" Ujar Dini setelah berhasil melerai keduanya, Doni menahan Khay, sementara Leo menahan Alex.
"Adik gue, gak akan pernah menghubungimu lagi, camkan itu !" Ujar Alex kembali ingin menarik kerah baju Khay, namun dengan cepat Leo mencegahnya.
Khay dengan santainya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, kemudian memperlihatkan chat, juga panggilan masuk di ponselnya.
"Apakah ini...nomor ponselnya yang baru ?" Tanya Khay.
Alex terdiam setelah melihat disana benar nomor Sita yang sudah menghubungi juga mengirimi pesan untuk Khay.
"Kenapa kau masih saja berhubungan dengannya ?"Geram Alex.
"Gue ? Kau bisa lihat sendiri, kalau selama ini Sita lah yang terus menghubungi ku juga mengirimi ku pesan, dan disana kau bisa pastikan kalau semuanya tak pernah gue balas." Ujar Khay menegaskan perkataannya.
"Itu memang benar, dia yang sering menghubungimu, tapi dia tak akan seperti ini jika tidak kau dekati, gue tahu betul bahwa kau adalah seorang laki-laki br**sek." Geram Alex seolah menutup mata akan kebenaran yang ia lihat dan dengar.
"Itu terserah kau, bagaimana kau menilai ku, tapi perlu kau tahu kalau gue gak pernah mendekati adikmu, bahkan saat gue ketemu beberapa bulan lalu, gue menghindarinya, dan entah dari mana dia mendapatkan nomor ponsel gue." Khay juga sudah muali tersulut emosi.
"Br***ek !!" Alex kembai menarik kerah baju Khay ingin melayangkan tinjunya ke wajah pria dihadapannya itu.
"Khay, Lex, tenanglah ! Kalian sadar gak sih kalau kalian sedang berada di dalam kelas !" Seru Doni melerai keduanya dan berdiri tepat di tengah-tengah mereka.
"Lex, gue mohon, lebih baik kita bicarakan ini diluar." Ucap Khay mencoba untuk tetap tenang dan tak terbawa emosi, sebenarnya Khay bukannya takut, tapi yang ia takutkan jangan sampai mereka bertengkar dan mendapatkan luka yang akan membuat Enzy mengkhawatirkannya, dan bisa mempengaruhi kandungannya, apalagi saat ini Enzy sungguh sensitif.
Alex berdehem menyetujui ajakan Khay untuk berbicara diluar, kemudian pria itu keluar, sebelum ia keluar ia sengaja menyenggol bahu Khay cukup keras.
Khay hanya berusaha tetap tenang mendapatkan perlakuan seperti itu, kemudian iapun mengikuti Alex, sebelum Khay keluar Leo menahan bahunya, membuat Khay kembali menoleh, sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Apa perlu kami ikut bersamamu ?" Tanyanya.
"Gak perlu, kalian disini saja." Sahut Khay.
"Kalau begitu elo hati-hati bro." Timpal Doni dan langsung di jawab anggukan oleh Khay.
Setelah itu, Khay keluar menuju ke roftoop, dimana Alex sudah lebih dulu sampai disana, disana mereka akan lebih leluasa berbicara, karena tentu saja disana tidak akan yang mengganggu keduanya.
"Terserah kau, tapi gue minta sama loh, atur pertemuan gue sama dia, gue mau bicara baik-baik dengannya, agar dia tak lagi mengangguku, jangan sampai karena perbuatannya membuat istri gue salah paham padaku." Jelas Khay menahan tangan Alex yang masih menarik kerah bajunya.
"Tidak akan ku biarkan adikku bertemu dengan pria br***ek sepertimu." Sahut Alex tersenyum miring.
"Lex, gue gak tahu, kenapa kau begitu membenciku, gue juga sudah berusaha menjelaskan semuanya padamu, tapi kamu sendiri yang tak mau mendengarkan ku, bahkan gue bersumpah kalau gue gak pernah menyakiti adikmu sedikitpun, kamu lihat sendirikan, sejak gue dekat dengannya gue benar-benar berubah tak lagi berhubungan dengan wanita lain selain dia, tapi kenapa kau masih tak mempercayaiku, dan kau mengira akulah yang menyakitinya, bahkan dia sendirilah yang meninggalkan ku begitu saja." Ujar Khay panjang lebar.
"Dan satu lagi, Lex ! Sita memintaku untuk kembali padanya." Tambah Khay.
Tiba-tiba saja Alex menapar wajah Khay cukup keras sehingga mendapatkan luka di sudut bibirnya, karena tamparan Alex cukup keras.
"Tidak mungkin, gue gak akan percaya apa yang kau katakan, pria br***ek sepertimu tidak bisa dipercaya." Ucap Alex sekali lagi ingin menjatuhkan pukulan pada wajah Khay, namun di saat itu juga Leo, Doni, juga Priska tiba disana, dan Ray langsung menahan tangan Alex.
"Lepaskan Ray, gue harus memberinya pelajaran, br***ek ini tak tahu saja apa yang telah adik gue rasakan dan di lewatinya selama ini." Alex memberontak agar Leo melepaskannya.
Leo pun melepaskan pria yang juga pernah menjadi sahabatnya, bahkan sampai saat ini Leo, Doni, juga Priska masih menggapnya sahabat, tapi entah karena apa Alex malah menjauhinya.
"Asal kau tahu Khay, setelah perpisahan kalian, Sita sangat berubah, dia terus mengurung diri ke kamar, tak mau makan, bahkan ia tak mau keluar melihat keramaian, setiap ia keluar, dia seperti ketakutan dan histeris, sampai kami harus membawanya ke psikiater, dan sudah syukurlah beberapa bulan terakhir ini, bahkan sudah hampir setahun ia mulai kembali bersekolah." Jelas Alex.
"Gue mohon sama loh, jangan sekali-kali kau menemuinya lagi, gue gak mau adik kesayangan gue, semangat gue, alasan gue untuk tetap bertahan dengan ke adaan seperti ini, dimana orangtua kami hanya mementingkan pekerjaannya." Lanjut Alex.
"Tapi Lex, sampah gue gak tahu apapun, bahkan gue juga gak tahu ada apa sebenarnya yang terjadi, kenapa tiba-tiba saja Sita memutuskan ku tanpa alasan yang jelas." Ujar Khay setelah beberapa detik ia terdiam mendengar semua yang dikatakan Alex.
"Pokoknya gue gak akan membiarkan adik gue bertemu dengan mu lagi, camkan itu baik-baik !!" Seru Alex menujuk tepat di depan wajah Khay.
"Dan satu lagi, jangan pernah untuk menemuiku kembali !" Tambah Alex mendorong bahu Khay lalu pergi dari sana dalam ke adaan marah.
Khay membalikkan dirinya ke tembok, menyandarkan keningnya disana, lalu memukul tembok tersebut.
"Khay udalah, kau juga tidak usah memikirkan Sita lagi !" Ujar Doni.
"Bener tuh kata Doni, harusnya kamu melupakan wanita itu, lagian ini semua bukan salahmu kan ?" Timpal Priska.
"Bukannya gue memikirkan Sita lagi, tapi yang gue khawatirkan, dia terus saja menghubungi ku, takutnya nanti Enzy malah salah paham, dan dia stres, kalian tahu sendirikan kalau saat ini Enzy gak boleh banyak pikiran, kandungannya masih lemah, gue gak mau istri dan calon anak gue kenapa-napa, itu yang gue khawatirkan." Jelas Khay masih dengan posisinya.
"Ya sudah, terus mau loh apa ? Atau lebih baik loh bicarakan ini pada Enzy, sebelum ia benar-benar mengetahuinya sendiri dan dia salah paham." Usul Leo.
"Iya, Khay gue setuju dengan usul Leo !" Timpal Priska dan di angguki Doni.
"Itulah yang sedang gue pikirin sekarang, tapi bagaimana jika ia tetap memikirkan ini, bagaimana kalau ia sampai berfikiran negatif sama gue, apalagi saat ini ia sangat sensitif akhir-akhir ini, apalagi menyangkut wanita lain." Ujar Khay.
"Tidak ada salahnya mencoba bro, dan cobalah untuk berusaha meyakinkan nya, dan buktikan bahwa kau benar hanya bersamanya." Sahut Leo.
"Ya sudahlah, gue akan coba." Putus Khay mengacak rambutnya prustasi.
"Ya sudah ayo, lebih baik kita pergi dari sini, disini sangat panas, takut kulit gue kabakar." Seru Priska pergi begitu saja meninggalkan para pria yang cengo mendengar dan melihat kepergiannya, sedangkan Priska tetap melangkahkan sok anggun tanpa menoleh lagi.
Bersambung.......
Hay.... Hay..... Author balik lagi dengan membawa satu episode, mohon berikan apresiasi kalian dengan like, Komen, dan Vote.....
Jangan lupa juga ya, mampir ke karya baru aku, dan di masukkan di daftar favorit kalian, yang berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA.
...***TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...
...MAMPIR YA READERS SETIA AUTHOR...
...😘😘😘😘😘😘***...