Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 63


Diva yang baru masuk kamar, langsung menuju walk in closed, Diva segera membuka semua sweater dan kaos yang ia gunakan sebagai daleman sweater sehingga Diva hanya menggelengkan tanktop tipis dan juga jeans yang ia kenakan belum ia buka.


Tanpa Diva sadari Kenan sedari tadi berdiri di pintu masuk walk in closed menyandarkan tubuhnya, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Saat Diva membalikkan badannya, betapa terkejutnya melihat Kenan yang terus saja menatapnya dengan tatapan menggoda, lalu tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya saat Diva melihatnya.


"Se ... Sejak Kapan kamu di situ ?" Tanya Diva gugup lalu menutupi bagian dadanya.


Kenan tak menjawab pertanyaan Diva, Kenan terus saja mendekati Istrinya itu lalu menariknya, membalikkan badan Diva, lalu memeluknya dari belakang.


Diva hanya pasrah dengan perlakuan Kenan yang terus menciumi punggungnya.


Diva segera membalikkan badannya, karena sudah merasa sangat kegelian.


"Sejak kapan kamu disini by'?" Tanya Diva.


"Sejak tadi." Jawab Kenan terus memperhatikan wajah Diva, kemudian mencium bibir dan sedikit me****tnya. Diva yang merasa ciuman Kenan semakin dalam ia pun terbawa suasana tanpa sadar Diva mengalungkan tangannya di leher Kenan lalu membalas ciumannya.


Setelah beberapa menit, Kenan melepaskan ciumannya, lalu mengusap bibir Diva bekas ciuman mereka, kemudian memajukan kepalanya kedekat telinga Diva.


"Kita lanjut nanti yank." Bisik Kenan lalu mengecup bagian leher bawah telinga Diva.


Sedangkan Diva terlihatan salah tingkah dan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Aku mau siap-siap dulu by'." Sahut Diva langsung mengambil handuk di dalam lemari, dan langsung ngacir ke kamar mandi.


Kenan yang melihat Diva salah tingkah dengan sikapnya tadi, berniat untuk menggodanya.


"Yank, aku bantuin ya." Teriak Kenan didepan pintu kamar mandi.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Jawab Diva ikut berteriak di dalam kamar mandi.


Kenan segera membuka pintu kamar mandi, yang tidak Diva kunci, Kenan terus mendekati Diva yang sudah bersiap-siap untuk berendam, saat ini Diva sudah melepaskan semua pakaiannya, dan hanya menggunakan jubah mandi.


"Ngapain ikut masuk?" Tanya Diva saat Kenan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Mau bantuin kamu Yank." Jawab Kenan lalu menarik tali jubah mandi yang Diva kenakan.


"KENAN stop nggak." Pekik Diva.


Diva sudah merasa sangat kesal dengan tingkah Kenan yang terus saja menggodanya.


Bukannya berenti Kenan semakin berulah, perlahan tangannya merabah paha Diva yang masih terbungkus jubah mandi dengan gerakan sensual.


Diva melepaskan pelukan Kenan lalu berbalik menatapnya.


By', please jangan seperti ini, sekarang aku merasa capek dan lengket banget badan aku, dan sebentar lagi magrib." Ucap Diva memelas.


"Baiklah sayang, tapi nanti malam kamu tidak bisa lagi menolak." Ucap Kenan lalu mengecup bibir Diva sekilas.


Diva hanya mengangguk, mengiyakan keinginan suaminya itu. Kerena sebenarnya Diva juga sudah merasa sangat rindu dengan suaminya.


"Ya sudah sekarang kamu keluar by'." Pinta Diva sambil mendorong tubuh Kenan keluar dari kamar mandi.


Bukannya keluar Kenan malah duduk di closed menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ngapain mala duduk situ sih." Ucap Diva yang melihat Kenan mala duduk.


"Aku pengen liatin kamu Yank." Sahut Kenan menaikkan kedua alisnya.


"Kenan .... Keluar nggak Lo." Pekik Diva kesal sampai ia memanggil suaminya itu dengan namanya.


Sedangkan Kenan hanya tertawa melihat kekesalan Istrinya yang sudah sampai ubun-ubun, sampai-sampai menyebut namanya.


Kenan berdiri lalu mengecup sekilas bibir Diva yang kesal, lalu berlalu keluar kamar mandi, masih dengan tawanya.


Hal itu membuat Diva mengumpat dalam hati melihat tingkah menyebalkan Kenan.


Setelah 20 menit Diva keluar dari walk in closed dengan pakaian rumahnya, walk in closed memang satu ruangan dengan kamar mandi.


berbeda jika dikamar mereka yang di kediaman keluarga Fikram.


Disaat yang bersamaan adzan Maghrib terdengar.


"Sholat dulu yank." Ucap Kenan saat sudah melihat Diva keluar dari walk in closed.


"Emmm ... Diva hanya berdehem, Ia masih kesal dengan suaminya itu.


Kenan hanya tersenyum lalu menggerakkan kepalanya melihat istrinya itu masih kesal dengannya.


"Sudahlah yank, tidak usah kesal-kesal lagi, nanti setelah sholat, aku akan melepaskan rasa rindumu itu." Ucap Kenan mempersiapkan tempat mereka untuk sholat, sedangkan Diva sibuk memakai mukenanya.


Diva sudah malas menanggapi ucapan Kenan, setelah semua sudah siap mereka pun menunaikan ibadah sholat magrib.


Seperti biasa saat setelah menyelesaikan sholat Diva langsung mencium punggung tangan suaminya, begitupun Kenan mencium kening lalu mengecup sekilas bibir Istrinya.


"Sudah, tidak usah kesal lagi yank." Ucap Kenan lalu menarik Diva kepelukannya


"Habisnya kamu bikin kesal terus tau nggak." Sahut Diva tanpa membalas pelukan Kenan.


"Sekarang kamu siap-siap Yank, kita kebawah mungkin ayah sama bunda sudah nungguin kita." Ucap Kenan lalu berdiri, setelah itu ia juga membantu Diva untuk berdiri.


Diva segera merapikan perlengkapan sholat mereka, lalu segera turun kebawah langsung menuju meja makan untuk makan malam, dan benar saja ayah sama bunda sudah berada di sana.


Kenan menarik kursi untuk diduduki Diva, setelah Diva duduk ia juga ikut duduk di samping Istrinya.


Diva membalikkan piring Kenan lalu mengisinya dengan makanan yang di inginkan suaminya itu kemudian ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Sedangkan ayah Salman dan bunda Vivian sangat bersyukur melihat kebahagiaan anak dan menantunya itu, walaupun mereka dijodohkan dan Pernikahan mereka yang tak pernah Kenan dan Diva duga disaat mereka masih berstatus pelajar, tapi mereka terlihat sangat menerima pernikahan ini, dan bahkan terlihat banyak kasih sayang dan cinta yang terpancar di antara keduanya.


Mereka pun makan dengan tenang, hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Saat ini Keluarga Salman berada diruang keluarga, setelah makan malam semuanya pindah untuk mengobrol santai.


"Yank Kenapa bisa kamu kesini, emangnya kamu tidak sekolah, seminggu lagi kita ujian loh." Sahut Kenan sambil memainkan ponselnya.


"Disekolah aku ada yang namanya minggu tenang selama seminggu sebelum ujian, daripada aku tinggal dirumah, mending aku jengukin soulmate aku, si hijau." Terang Diva.



"Jadi kamu kesini hanya buat motor kamu itu?" Tanya Kenan sedikit meninggikan suaranya karena kesal.


Diva hanya menaikkan kedua bahunya, lalu memasukkan puding kemulutnya yang telah disiapkan bunda Vivian, untuk menemani obrolan mereka.


"Benar-benar itu motor bakal gue jual kalau gini." Ucap Kenan geram.


Sedangkan ayah Salman hanya geleng-geleng kepala melihat Kenan yang cemburu dengan motor.


"Kok di jual?" Tanya Diva saat mendengar ucapan Kenan.


"Iyalah, karena kamu lebih sayang motor itu dibandingkan aku, bahkan setiap kamu nelpon pasti yang kamu tanya duluan pasti itu motor." Terang Kenan kesal.



"Jadi ceritanya kamu cemburu sama motor nih bang?" Sahut bunda Vivian terkekeh melihat sikap posesif putranya.


"Siapa yang cemburu sih Bun, aku kesal aja." Ucap Kenan Cemberut.


"Sama aja kali bang." Ayah Salman ikut menimpali dengan dengan senyuman.



"Aku baru liat loh Yah, wajah datar putramu ini kalau lagi cemburu gitu, ternyata menggemaskan sekali." Ujar Bunda Vivian gemas.



"Assalamualaikum semua." Ucap Ray tiba-tiba masuk dan langsung menyalami kedua orang tua Kenan, lalu ikut duduk disamping ayah Salman.


"Ngapain malam-malam kesini?" Tanya Kenan ketus.


"Kenapa tuh muka, kusut amat?" Ray malah balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Kenan.


"Lagi cemburu sama motor." Sahut Ayah Salman.


"Hahaha, dasar bucin motor aja dicemburui." Ucap Ray menertawakan Kenan.


"Ngapain lu kesini?" Tanya Kenan lagi kepada Ray.


"Mau nginap lah, bolehkan Yah, Bun." Jawab Ray lalu beralih menatap ayah dan bunda lalu bertanya.


"Kayak nggak punya rumah aja lu, nginap rumah orang." Cibir Kenan.


"Inikan rumah gue juga kali Nan." Ucap Ray acuh.


Ray memang sudah menganggap rumah keluarga Salman, rumahnya sendiri, bahkan Ray sudah punya kamar sendiri di rumah itu, bahkan kedua orangtua Kenan juga tidak masalah dengan hal itu.


"Yah, Bun, aku sama Diva kekamar dulu, Diva harus istirahat." Pamit Kenan beranjak berdiri lalu menarik tangan Diva supaya ikut berdiri.


"Alesan aja lu Nan." Sahut Ray mencebikkan bibirnya.


Kenan tidak menghiraukan ucapan Ray. Kenan langsung menarik tangan Diva menuju kamarnya, sedangkan Diva hanya tersenyum kearah mertuanya, dan dibalas anggukan oleh kedua mertuanya.


Ayah Salman dan Bunda geleng-geleng kepala setelah membalikkan kepalanya melihat kearah kenan yang memeluk pinggang Diva dari samping dengan agresif sambil menaiki tangga.


Bersambung......


Jangan lupa dukungan


Like


Coment


Vote


🤗🤗🤗🙏🙏🙏