Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 90


Setelah tadi siang Kenan dan Diva tertidur di brangkar Kenan yang memang cukup besar, kini sudah menunjukkan jam 4 sore waktu Singapore. Perlahan Kenan membuka matanya, ia melihat sekeliling ruangannya, kemudian pandangannya beralih pada sosok wanita yang sekarang menjadi istri dan akan menjadi ibu dari anaknya, yang tertidur di sampingnya sambil menghadap kearahnya, Kenan tersenyum lalu ikut memiringkan badannya menghadap istrinya, sehingga posisi mereka kini berhadapan dengan sedikit terhalangi perut Diva yang sudah membesar. Kenan merapikan rambut Diva yang menutupi sebagian wajahnya, kemudian mengecup keningnya, setelah itu ia beralih mengusap pelan perut Diva, takut istrinya yang sedang terlelap terbangun.


"Ayah sayang kalian." Gumam Kenan, masih mengusap pelan perut Diva, dan langsung mendapat respon dari calon babynya.


Diva melengguh saat merasakan usapan di perutnya, dan juga gerakan dari anaknya yang masih di dalam kandungannya, Diva mengerjapkan matanya, dan langsung tersenyum saat melihat wajah suaminya yang begitu dekat dari wajahnya sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Selamat Sore yank." Ucap Kenan kemudian mengecup kening dan bibir Diva sekilas.


"Sore juga by'." Balas Diva ikut mengecup bibir suaminya sekilas kemudian memeluknya.


"Yank, bebynya kejepit yank, kasian." Ujar Kenan, saat perut besar Diva di tengah-tengah mereka yang sedang berpelukan.


Diva langsung melepaskan pelukannya, kemudian sedikit memundurkan badannya.


"Baby, kamu kejepit ya Nak ya ?" Tanya Diva kepada anaknya yang masih di dalam kandungannya, sambil mengelus perutnya.


"Atu ida papa o nda (Aku nggak apa-apa kok Bunda)" Kenan menjawab pertanyaan Diva kepada anaknya, sambil menirukan gaya bicara anak kecil.


"Kok bicaranya kek begitu by' ?" Tanya Diva, Diva merasa lucu mendengar cara bicara suaminya itu.


"Aku bantu baby kita buat jawab pertanyaan bundanya yank, kan kalau anak kecil bicaranya memang seperti itu." Terang Kenan kembali mengecup bibir Diva sekilas.


"O iya Yank, Bunda mana ?" Tanya Kenan tak melihat Bundanya.


"Bunda pulang dulu by', Katanya Ayah Salman, Ayah Fikram, Bunda Hani, dan juga Kak Arka beserta anak istrinya mau datang, makanya Bunda pulang dulu untuk menyiapkan semuanya di apartemen." Jawab Diva menjelaskan sambil bersandar di dada Kenan yang tak lagi bidang seperti dulu.


"Kok nggak bilang sama aku yank, dan kamu Kenapa nggak ikut pulang juga Yank." Ujar Kenan sambil mengusap rambut Diva.


"Kamu ngusir aku By' ?" Tanya Diva mendongak menatap suaminya.


"Bukan gitu Yank, di sini nggak baik buat kamu, nanti kamu nggak merasa nyaman, apalagi kamu suka kegerahan kalau malam, AC di ruangan sini tidak boleh dengan suhu tinggi yank, karena tidak baik buat aku." Ucap kenan mencoba memberi pengertian buat istrinya yang sudah terlihat ngambek.


"Tapi aku masih mau di sini by', buat nemenin kamu." Ucap Diva memelas.


"Ya sudah, tapi nanti kalau bunda sudah datang, kamu balik ke apartemen ya yank, besok pagi, kamu kesini lagi !" Ucap Kenan lembut.


"Terus Bunda kenapa nggak bilang, kalau dia mau balik ke apartemen tadi ? Kenan kembali mengulangi pertanyaannya perihal Bundanya.


"Tadi kamu lagi tidur Yank, saat selesai makan siang, tiba-tiba bunda dapat telpon dari Ayah Salman, kalau mereka akan datang." Terang Diva, kemudian beranjak bangun.


"Mau kemana Yank ?" Tanya Kenan saat melihat istrinya itu bangun.


"Mau ketoilet yank, mau buang air kecil." Sahut Diva berjalan menuju toilet.


🍀🍀🍀


Setelah Magrib Para orang tua datang kerumah sakit, sedangkan Arka beserta anak istrinya tinggal di apartemen, karena tidak mungkin ia membawa babynya dirumah sakit malam-malam begini, dan Arka juga tidak tega meninggalkan anak istrinya di apartemen karena saat ini baby Raydan sedang rewel mungkin karena kelelahan karena perjalanan jauh, dan baru pertama kali naik pesawat.


"Bagaimana keadaan kamu Nak ?" Tanya Bunda Hani kepada menantu laki-lakinya itu.


"Seperti yang Bunda liat !" Jawab Kenan kemudian mencium tangan kedua mertuanya, bergantian kepada kedua orangtuanya yang juga sudah berdiri di samping brangkarnya.


"Bagaimana perkembangannya, apa sudah lebih baik ?" Kini Ayah Fikram yang bertanya.


"Masih belum ada perkembangan secara signifikan Yah, dan menurut analisis Dokter dalam waktu Tiga bulan ia akan terus memberi obat-obatan dengan dosis tinggi dan kemo, dengan teratur, supaya bisa langsung melakukan transplantasi sel punca, tapi itu baru analisis, bisa saja di lakukan sebelum sampai jangka yang di perkirakan, atau bahkan lebih dari jangka waktu tersebut, tergantung dari respon tubuh, yang menerima pengobatan.." Kenan menjelaskan detailnya kepada Ayah mertuanya.


"O iya, Diva dimana, Bunda sudah bawakan dia makanan yang ia inginkan ?" Tanya Bunda Vivian.


"Iya dari tadi kami tidak melihatnya." Sahut Bunda Hani menimpali.


"Dia lagi ketoilet. O iya makanan apa yang dia inginkan Bun ?" Tanya Kenan.


"Ayah Bunda, sejak kapan kalian sampai, terus kak Arka di mana ?" Tanya Diva menghampiri para orangtua dan mencium tangan mereka secara bergantian.


"Kita baru aja sampai, Kak Arka tidak bisa ikut sayang, soalnya baby Raydan rewel terus sedari tadi." Terang Bunda Hani.


"Sayang, itu pesanan kamu Bunda bawa, sekarang kamu makan dulu !" Ujar Bunda Vivian berjalan untuk menyiapkan nasi uduk keinginan menantunya.


Diva mengikuti Bunda Vivian menuju meja makan.


🍀🍀🍀


Setelah makan Diva ikut bergabung kepada para Bunda yang menani Kenan makan, sedangkan para ayah duduk di sofa sambil mengobrol.


Cukup lama mereka mengobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20:00 waktu Singapore. Ayah Fikram dan Bunda Vivian pamit untuk kembali ke apartemen, sedangkan Ayah Salman dan Bunda Vivian akan menginap untuk menemani Kenan. Diva ikut pulang bersama kedua Orangtuanya.


"By', aku pulang dulu, besok aku kesini lagi, segeralah istirahat !" Pamit Diva mencium tangan suaminya.


"Iya, setelah sampai segeralah istirahat, dan langsung tidur !" Sahut Kenan mengecup kening Diva.


"Ingat langsung istirahat, Ok !" Ujar Kenan kembali memperingati istrinya.


"Siap komandan !" Sahut Diva memberi hormat kepada Kenan.


Setelah mengucapkan itu, Diva dan orangtuanya meninggalkan ruangan tersebut.


🍀🍀🍀


Ke Esokan harinya, Diva dan keluarganya kembali kerumah sakit, kini Arka dan anak istrinya ikut kerumah sakit.


Diva dari tadi terus menggendong baby Raydan, Kenan terus memperhatikan dan membayangkan Diva, jika nanti ia menjadi seorang ibu. Kenan sampai senyum-senyum sendiri, bahkan di umur yang masih sangat muda mereka akan menjadi orang tua.


"Kamu kenapa by', senyum-senyum gitu ? Tanya Diva saat menoleh kearah Kenan.


"Tidak apa-apa, by the way kamu sudah cocok banget jadi seorang ibu yank !" Ujar Kenan.


"Benarkah ?" Tanya Diva kemudian berjalan mendekati Kenan.


"Benar." Sahut Kenan sambil memperhatikan wajah mungil baby Raydan.


"By', mau coba gendong nggak ?


"Aku takut dia jatuh yank, aku belum pernah menggendong anak sekecil itu." Ujar Kenan sambil mengelus pipi gembul baby Raydan menggunakan telunjuknya.


"Hitung-hitung kamu latihan by', jadi jika nanti baby kita lahir, kamu sudah tidak canggung lagi untuk menggendongnya.


Kenan yang mendengar ucapan istrinya seketika dia terhenyak, ia tak tahu, apakah dia bisa terus berada di samping istrinya jika nanti akan melahirkan, dan apakah dia bisa menggendong anaknya seperti yang Diva katakan, sedangkan menopang tubuhnya saja ia tak mampu, harus dengan bantuan kursi roda.


Diva yang melihat perubahan wajah suaminya, yang langsung terdiam sambil menatap baby Raydan.


"Kamu lagi mikirin apa by' ?" Tanya Diva membuyarkan lamunan Kenan.


"Aku tidak memikirkan apa-apa yank, aku hanya membayangkan bagaimana wajah anak kita nanti." Elak Kenan.


Diva tersenyum mendengar perkataan suaminya itu, tapi Diva yakin bukan itu yang Kenan pikiran, dan yang sedang ia pikirkan sebenarnya adalah keadaannya.


Bersambung.....


Bagaimana para reader, apa kalian puas dengan alurnya, dan jika belum puas, mohon kritik dan sarannya 🙏🙏🙏


Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, FAVORIT, DAN RATE 5 JUGA 🙏🙏🙏❤️❤️❤️