
Setibanya di depan ruangan perawatan anaknya Diva langsung membuka pintu yang bercat biru laut tersebut dengan stiker aneka karakter kartun.
Diva mempersilahkan Dafa masuk, Lani kaget saat melihat seseorang yang ikut bersama Diva.
"Dafa ?" Ucap Lani membelalakkan matanya.
"Biasa aja kali Lan liatinnya, seperti liat hantu aja loh." Seru Dafa masih menggunakan kata elo gue elo berbeda dengan Diva aku kamu gitu.
"Gue kaget aja, kok Diva bisa sama orang kek elu, eh.... ngomong-ngomong kok elu berubah banget gitu." Lani ikut pangling melihat penampilan Dafa yang kini lebih rapi dan terawat.
"Apa elu mau bilang juga, kalau gue tambah kucel, jelek, gitu ?" Tebak Dafa jengah.
"Enggak elu tambah cakep sekarang, coba elu dari dulu kayak gini pasti si Diva enggak bakal nolak elu terus." Ucap Lani ceplas-ceplos.
"Yank, bicaranya di jaga, kamu engga menghargai banget perasaan Kenan." Timpal Ray pasalnya ia juga belum mengetahui masalah rumah tangga sahabatnya.
"Enggak bakal kesinggung, dia aja bawa mantan tuh." Ujar Lani menunjuk Sarla menggunakan bibirnya yang dari tadi duduk di Sofa. sedangkan yang lainnya berdiri di samping brangkar baby Khay.
Diva hanya tersenyum yang sedikit ia paksakan mendengar ucapan Lani.
"Lan, kamu bawa pesanan gue kan ?" Tanya Diva mengalihkan karena takut ia kelepasan menceritakan masalahnya.
"It....
Baru juga Lani ingin menunjukkan pesanan yang diminta Diva tapi Kenan lebih dulu menyapa mereka yang baru saja kembali.
"Lan, pesanan gue mana ?" Diva kembali menanyakan pesanannya.
"Itu di atas meja." Tunjuk Lani menggunakan alisnya.
"Wahhh banyak banget ?" Diva sumringan melihat makanan yang di inginkan sejak kemarin, entah kenapa Diva sangat menginginkan makanan itu.
"Iya di situ ada soto, ketoprak, juga bubur kacang hijau." Jelas Lani.
"Kok elu beli semuanya Lan, gue hanya minta salah satunya loh." Ujar Diva membuka bungkusan sotonya lalu ia pindahkan ke mangkok.
"Gue pikir elu ngidam." Sahut Lani.
Diva yang mendengar ucapan sahabatnya itu langsung tersedak kuah soto, karena baru saja ia menyicipinya.
Dafa dan Kenan bersamaan memberikan botol air mineral kepada Diva.
"Maaf refleks soalnya." Ucap Dafa kikuk meletakkan botol air tersebut di depan Diva lalu sedikit memundurkan dirinya. Sedangkan Kenan hanya menatap datar Dafa kemudian membukakan penutup botol air mineral untuk Diva, Diva menerima botol yang di berikan Kenan lalu meneguknya hingga setengah.
"Div apa jangan-jangan elu beneran hamil, coba kamu periksa." Sahut Lani saat melihat Diva kembali melanjutkan makannya.
"Tidak, baru kemarin aku PMS." Sargah Diva.
Kenan sempat bahagia saat mendengar ucapan Lani yang mengira Diva sedang hamil, tapi saat itu juga kecewa saat mendengar Diva kalau baru kemarin ia PMS.
Sedangkan Diva mengehentikan makannya, menatap lurus kedepan entah apa yang ia pikirkan saat itu.
Ray dan Kenan kini duduk di sofa bersama dengan Sarla, Ray sempat kaget saat melihat Sarla ada diruangan tersebut.
"Nan bisa kita bicara sebentar ?" Ucap Ray.
"Maaf Ray sepertinya tidak bisa, saya harus mengantarkan Sarla pulang, katanya dia lagi enggak enak badan." Tolak Kenan kemudian mengajak Sarla untuk segera pergi dari sana.
Ray yang melihat perubahan sikap Kenan merasa curiga, apalagi saat melihat sikap Kenan dan Diva yang tak seperti biasanya, bahkan Kenan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Diva.
Diva, Lani dan juga Dafa tampak sedang asik mengobrol, sedangkan Ray tampak mengerjakan sesuatu, ia sengaja membawa kerjaannya di rumah sakit, karena rencananya mereka akan tinggal hingga malam, karena anak mereka sudah ia titipkan kepada mamanya.
Setelah kepergian Dafa, Ray dan Lani menatap Diva dengan tatapan seolah mengintimidasi seorang penjahat.
"Kenapa kalian melihat ku dengan tatapan seperti itu ?" Ucap Diva tak berani menatap sahabatnya itu.
"Ada masalah apa diantara kalian ?" Tanya Ray pada intinya.
"Kami tidak ada masalah apa-apa, emangnya terlihat seperti ada masalah ya ?" Ucap Diva sesantai mungkin.
"Kamu jangan bohong Div, kita sudah bersahabat sudah lama, aku tahu kapan kamu berbohong dan tidak." Ujar Lani.
"Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan Sarla kan ?" Tebak Ray.
Diva terdiam terpaku, seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya, ia buru-buru menyekahnya kemudian kembali tersenyum namun sangat di paksakan.
"Kenapa air mata b***oh lagi-lagi keluar, kamu tahu kan Lan, aku bukan wanita cengeng, aku bukan wanita yang lemah, tapi kenapa ia tak tau dirinya membasahi wajahku." Ujar Diva langsung memeluk sahabatnya, Diva benar-benar terlihat sangat rapuh.
"Kalau sahabat-sahabat kita sampai melihat ini mereka pasti menertawakan ku." Ucap Diva tersenyum getir masih dalam pelukan Sahabatnya.
"Div, kamu masih menganggap kami sahabatkan ? Please cerita sama kami, ada apa sebenarnya yang terjadi !" Ujar Lani mengusap punggung sahabatnya itu yang masih terisak dalam pelukannya namun masih berusaha memperlihatkan kalau ia kuat, namun ia tak bisa menyembunyikan sisi lemahnya itu terlihat dari keadaan Diva sekarang ini.
"Kami akan segera bercerai Lan, saat ini Kenan bukan lagi Kenan yang aku kenal dulu, semenjak ia bertemu kembali dengan Sarla ia lebih sering mengabaikan kami, bahkan dia sendiri mengakuinya kalau hatinya sudah terbagi." Ucap Diva.
"Benar-benar kurang ajar si Kenan, aku akan memberinya pelajaran Div, dia emang sahabat aku, tapi dia benar-benar sudah keterlaluan." Ujar Ray terlihat sangat emosi.
"Percuma Ray, kamu hanya membuang-buang tenagamu saja, toh walaupun kamu membuatnya tak berdaya sekalipun, ini sudah tidak akan bisa merubahnya, ini masalah hati Ray, tak semuda itu membalikkan perasaan seseorang." Ucap Diva setelah melepaskan pelukan dari Lani dan beralih menatap suami dari sahabatnya itu.
"Tapi dia sudah benar-benar keterlaluan Div." Ucap Ray.
"Aku sudah ikhlas kok, setelah Khay sembuh aku akan pergi Lan, Ray aku akan meninggalkan kota ini, aku minta setelah aku pergi nanti tolong selalu ingatkan Kenan agar ia tidak membuat kesalahan yang sama lagi, cukup aku yang merasakan sakit seperti ini." Ujar Diva.
"Apakah Ayah Salman juga yang lainnya sudah mengetahui hal ini ?" Tanya Ray.
"Tidak ada yang tahu soal ini, dan aku harap mereka tidak akan mengetahuinya, biarkan setelah aku pergi mereka akan tahu sendiri, biarkan Kenan yang menjelaskan semuanya kepada mereka." Terang Diva.
"Tapi kamu mau kemana Div, apa kamu tidak akan kembali bersama keluargamu kota Z ?" Tanya Lani.
"Aku tidak akan kembali kesana dalam waktu dekat ini Lan, aku ingin menjauh kalau perlu aku akan keluar negeri."
"Tapi sampai kapan kamu akan kembali, apa kamu tega ingin memisahkan baby Khay dengan ayahnya ?"
"Sampai aku benar-benar bisa melupakan rasa sakitku Lan, setelah tiba waktunya aku akan mempertemukan kembali Khay juga ayahnya, karena bagaimanapun mereka tetap sedarah dan tak bisa untuk di pisahkan." Jelas Diva.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini Div, apa kamu tak mau menyelidiki kenapa Kenan bisa berubah sederastis itu ?" Timpal Ray.
"Keputusan aku sudah bulat Ray, kemarin aku sudah ingin meninggalkan rumah, tapi Kenan mencegahku, katanya ia meminta waktu untuk mengembalikan perasaannya seperti dulu, tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena kebersamaan mereka setiap hari, kamu lihat sendirikan tadi, bahkan dia pergi tanpa pamit terlebih dahulu dengan ku, itu tandanya ia sudah tak lagi menganggapku, jadi buat apalagi di pertahankan, itu akan semakin membuat lukaku semakin dalam, aku takut aku tidak bisa melupakannya." Jelas Diva.
Ray dan Lani bungkam, ia tak tau lagi harus bicara apa, jika Diva sudah mengambil keputusan mereka sudah tak lagi bisa berbuat apa-apa, toh Diva yang menjalaninya, mereka juga kasihan melihat Diva seperti saat ini.
"Baiklah Div, jika itu sudah keputusanmu kami hanya bisa mendukungmu, toh yang menjalani dan merasakan nya kamu sendiri, yang enggak gue habis pikir Kenan benar-benar lupa daratan, di saat ia sakit bahkan di ambang kehancuran pun kamu yang selalu ada di sisinya, dia benar-benar terlaluan Div." Ujar Ray.
"Mungkin ini sudah takdir kita Ray, mungkin saja di depan sana ada kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya yang sudah Allah persiapkan untukku dan Khay kedepannya." Ujar Diva berusaha setegar mungkin.
Lani lagi-lagi membawa sahabatnya itu dalam pelukannya, begitupun Ray mengusap punggung Diva berniat untuk menyemangati wanita tersebut.
Bersambung.....
Jangan lupa LIKE KOMENTAR VOTE sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️