
Sudah satu mingguan lebih Khay dan Enzy kembali tinggal di rumah utama, karena Kenan dengan tegas melarang anak dan menantunya tinggal di apartemen, bahkan Kenan lebih protektif kepada menantunya sekarang ini. Bahkan setiap kali Kenan pulang dari kantor sebelumnya ia menghubungi istrinya untuk menanyakan apa ada yang di inginkan menantunya itu, kadang membuat Khay sedikit kesal juga sedikit cemburu dengan perhatian-perhatian kecil ayahnya itu pada istrinya.
Seperti sore ini Kenan pulang membawakan Enzy rujak yang diinginkannya, karena entah kenapa Enzy juga ingin memakan rujak yang dibeli oleh mertuanya itu.
"Sayang, sepertinya kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi, kamu lebih membutuhkan ayah dari pada aku." Ujar Khay merajuk melihat istrinya itu sangat menikmati rujak yang dibeli ayahnya.
Sedangkan Kenan dan Diva hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kecemburuan Khay.
"Bukannya aku gak butuhin kamu loh yank, tapi entah kenapa hari ini akutuh pengen banget makan rujak, tapi harus ayah yang bawa dari luar, atau di beli ayah." Jelas Enzy.
"Kamu ngertiin ajalah bang, kadang orang hamil mah emang suka yang aneh-aneh gitu." Sahut Diva memberi pengertian pada putranya itu.
"Tapi gak gitu juga kali Bun, masa harus ayah yang beliin, kan aku ayahnya, aku yang punya bibit." Ucap Khay masih merajauk.
"Astaga bang, perkara rujak di beli siapa di permasalahkan juga, namanya juga ngidam bang, ini masih mending ayah yang Enzy mau, bagaimana kalau Enzy maunya laki-laki lain, apa kamu rela ?" Ujar Diva.
"Ya enggaklah enak aja." Sahut Khay cepat.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba Kia masuk, sepertinya gadis itu baru saja pulang, semua yang ada di ruang tengah pada menatap Kia dengan tatapan aneh, lebih-lebih dengan Kenan.
"Kenapa kamu jalannya pincang dek ?" Tanya Kenan penuh selidik.
"Dek apa kamu jatuh ?" Tebak Kenan sebelum Kia sempat menjawab pertanyaannya barusan, karena Kenan melihat bekas perban di bagian sikut dan di bagian kaki putrinya itu.
"Iy...Iya Yah, untung tadi ada o... iya orang nolongin aku, dan membawaku kerumah sakit." Ucap Kia sedikit gugup, dan dengan cepat meralat perkataan yang ia ingin sampaikan.
"Siapa orangnya ?" Tanya Kenan menautkan kedua alisnya.
"Aku juga gak kenal Yah, ya sudah aku ke kamar dulu ya yah, aku mau bersihin badan aku udah gerah banget soalnya." Sahut Kia, kemudian cepat-cepat pamit kepada ayahnya agar ayahnya itu tak lagi banyak bertanya.
Diva yang melihat keadaan putrinya itu, apalagi melihat jalannya yang terpincang-pincang, beranjak dari duduknya kemudian menyusul putrinya itu.
Saat masuk ke kamar Kia, Diva mendapati putrinya itu berbaring telentang di tempat tidur king sizenya sambil menatap langit-langit kamarnya, dengan tatapan datar yang sulit di artikan, bahkan Kia tak menyadari kedatangan bundanya.
"Sayang, sini bunda mau lihat luka kamu ! Kamu gak apa-apa kan ?" Seru Diva mengkhawatirkan putri bungsunya itu.
"Eh.... Bunda, sejak kapan bunda masuk ?" Kaget Kia saat tiba-tiba bundanya duduk di dekatnya sambil memeriksa lukanya.
"Aku udah gak apa-apa kok Bun, aku ini bukan gadis cengeng, lagian lukanya juga gak terlalu dalam." Jelas Kia membaringkan kepalanya di pangkuan bundanya itu.
"Bun...." Panggil Kia menatap bundanya dari bawah.
"Ada apa ? Apa ada masalah, dan menyebabkan kamu terjatuh seperti ini, Hem ?" Tanya Diva lembut, sambil mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Tapi Buda janji jangan marah ya, dan jangan kasih tahu ayah soal ini !" Seru Kia memeluk pinggang bundanya itu cukup erat.
"Emangnya ada dek, kalau kamu salah yang bukan hanya ayah yang marah, tapi bunda juga." Ujar Diva menundukkan kepalanya menatap gadis remaja di pangkuannya itu.
"Ini bukan aku salah atau tidak Bun, dan sama sekali kali ini aku gak buat masalah." Terang Kia.
"Terus masalahnya apa ?" Tanya Diva.
"Tapi bunda janji dulu jangan marah, dan jangan sampai ayah tahu soal ini, karena kalau ayah tahu, dia pasti bakalan marah." Seru Kia.
"Ya sudah coba katakan ! Bunda janji gak akan marah dan ayah gak bakal tahu juga." Seru Diva.
"Tadi... Pas pulang sekolah aku di kejar sama preman gitu Bun..." Kia bangun dan menggenggam tangan bundanya itu lalu melanjutkan ceritanya.
Flashback On
Kia mengendarai motornya dengan santai, saat ia pulang dari sekolah, namun belum jauh ia keluar dari sekolahnya, tiba-tiba seorang pemotor mengikutinya, awalnya Kia belum menyadari kalau sebenarnya ia yang di ikuti pemotor tersebut, namun lama kelamaan Kia sadar kalau sebenarnya dialah yang di ikuti pereman berboncengan tersebut.
Saat Kia preman tersebut ingin mengambil motor Kia yang tergeletak di jalan, tiba seseorang menendangnya dari belakang sehingga salah satu preman itu tersungkur di jalan.
"Apa yang kau lakukan ? Tanya pria bersuara bariton tersebut, Kia belum melihat jelas pria tersebut karena posisinya pria itu membelakanginya.
"Maaf tuan, maaf aku tidak akan melakukan apa-apa, biarkan saya pergi, kasihan anak istri saya, jika tuan melaporkan ini kepolisi."Ucap preman yang mendapat serangan dari pria itu. Kedua preman tersebut pun berlutut dihadapannya.
"Itu urusan kalian, karena ini tetaplah kejahatan, bahkan kalian melakukannya dengan anak masih dibawah umur, apalagi kelihatannya dia adalah seorang wanita." Ucap pria itu dingin, sambil memasukkan satu tangannya di dalam saku celananya.
"Ampun tuan, kami janji tidak akan melakukan ini, lagi, tapi aku mohon jangan laporkan kami tuan !" Mohon preman satunya lagi.
"Baiklah, kali ini saya memaafkan kalian, tapi lain kali jangan sampai saya melihat kalian melakukan hal semacam ini lagi, apalagi dengan anak-anak." Ucap pria itu lagi dengan nada mengancam.
"Iya tuan, kami janji." Sahut kedua preman itu masih berlutut dihadapan pria tersebut.
"Kalian pergilah dari sini, tapi sebelumnya motor yang tergeletak itu di berdirikian kembali !" Seru pria itu.
Preman itu langsung berdiri, dan langsung mengerjakan apa yang di perintahkannya.
Setelah kedua preman itu pergi dengan motornya, Kia beranjak dari kemudian menghampiri pria itu yang masih sibuk memperhatikan motor miliknya.
"Terimakasih karena telah membantu saya." Ucap Kia, sebelumnya ia sudah membuka helmnya.
Pria itu langsung menegang saat mendengar suara Kia, ia sudah curiga dengan pemilik motor tersebut.
Perlahan namun pasti pria tersebut berbalik, dan Kia tak kalah terkejutnya saat melihat pria yang ada di hadapannya itu.
Baru juga pria itu akan memulai pembicaraan tiba-tiba saja Kia meringis memegang kepalanya dan jatuh pingsan.
Membuat pria tersebut jadi panik dan khawatir, dengan cepat pria itu langsung mengangkat tubuh Kia lalu ia masukkan kedalam mobilnya, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
...----------------...
Lebih dari satu jam, akhirnya Kia kembali tersadar, perlahan ia membuka matanya, memperhatikan sekeliling ruangan, ia mencoba untuk bangun, namun saat ia bangun, ia merasa perih di bagian sikut dan betis dan kakinya.
"Kami sudah bangun ?" Tanya pria tersebut yang sejak tadi duduk disamping brangkarnya.
"O...Om...Ka...vi..." Ucap Kia terbata-bata melihat pria itu masih berada di hadapannya. Ya, orang yang menolongnya dari preman tadi adalah Kavi, yang tak sengaja lewat di jalanan tersebut.
"Iya, bagaimana luka kamu, apa masih sakit ?" Tanya Kavi.
"Aku mau pulang Om, aku sudah sehat sekarang, dan terimakasih sudah menolongku." Ucap Kia langsung turun dari brangkar namun dengan cepat Kavi mencegahnya.
"Kamu harus dirawat dulu, Kat...
"Tidak perlu om, aku benar-benar sudah sehat sekarang, dan aku harus pergi mengambil motorku." Sela Kia.
"Baiklah jika itu mau kamu, motor kamu sudah ada di depan, sudah sedikit di perbaiki, karena sempat tidak mau nyala." Jelas Kavi, karena saat sopirnya akan membawa motor Kia menyusul kerumah sakit, tiba-tiba saja tidak mau nyala, untung saja tidak terlalu serius kerusakannya, jadinya sopir Kavi masih bisa mengatasinya.
"Sekali lagi terimakasih om, karena sudah merepotkan om, aku pergi dulu om." Ucap Kia lalu pamit, dan langsung meninggalkan tempat tersebut, sedangkan Kavi hanya menatap punggung Kia yang semakin menjauh, hingga tak terlihat di balik pintu ruangan UGD tersebut.
Flashback Off....
Bersambung......
Budayakan like, Koment, dan Vote sebanyak-banyaknya, setelah membaca setiap episodenya, dan berikan kritik dan saran dal penulisan, dan bahasanya....
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏