
"Happy birthday to you.... Happy birthday to you.... Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday dedek Kia...." Semua bernyanyi menyanyikan lagu ulang tahun untuk dedek Kia, semua keluarga dari pihak Kenan dan pihak dari Diva berkumpul di depan meja bundar dengan kue ulangtahun berwarna pink yang bersusun dengan berbagai karakter di atas keu ulangtahun tersebut dengan lilin angka dua.
"Tiup lilinnya, Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juuugaa, sekarang juga." Semuanya kembali melanjutkan nyanyian mereka, setelah menyelesaikan nyanyian mereka Diva membantu putrinya itu meniup lilinnya sedangkan Kenan tetap memangku Abang Khay yang tak mau jauh darinya.
"Selamat sayang." Ucap kedua Oma yaitu bunda Vivian dan bunda Hani kepada cucunya lalu mencium seluruh wajah menggemaskan dedek Kia secara bergantian.
"Sama-sama Oma." Balas Diva ikut tersenyum.
Kini giliran para opa memberinya selamat bergantian dengan Arka juga Vara, tak lupa Vara memberikan sebuah bungkusan kado yang cukup besar.
Setelah semua anggota keluarga memberikan ucapan selamat kepada dedek Kia, kini giliran Kenan memanggil putrinya itu, dan menaikkannya di pangkuannya, setelah terlebih dahulu membujuk putranya agar turun lebih dulu dari pangkuannya karena dari tadi Khay tidak mau turun, ia tidak ingin membiarkan adiknya di pangku ayahnya itu, karena ia mengatakan kalau Kenan hanya ayahnya, sedangkan dedek Kia bundanya.
"Putri kecil ayah, tuan putri ayah yang cantik selamat ya sayang." Ucap Kenan menciumi seluruh wajah menggemaskan putrinya itu, lalu memberikan sebuah bungkusan kado berukuran sedang. Hal itu membuat Abang Khay memberenggut kesal melihat perlakuan Kenan kepada adiknya.
"Ayah stop !! Sekalang dedek Kia tulun Dali pangkuan ayah, dan ayah jangan lupa belikan aku kado juga !!" Seru Khay menarik-narik tangan adiknya agar turun dari pangkuan ayahnya.
"Abang, Abang enggak boleh seperti itu sama adiknya, ayah juga ayahnya dedek Kia, Ok !!" Ucap Diva berjongkok dihadapan putranya itu lalu menariknya dalam pelukannya.
"Tidak ! Pokoknya ayah hanya ayahnya Abang." Ucap Abang Khay kekeh.
"Ya sudah sini bang ! Biar ayah pangku kalian berdua." Seru Kenan mengulurkan tangannya memanggil putranya itu agar ikut naik di pangkuannya.
Khay langsung melepaskan pelukan bundanya kemudian dengan cepat naik dipangkuan Kenan.
"Bang, denger ayah ya ! Abang tidak boleh bersikap seperti itu kepada dedek Kia, Abang kan anak pintar, harus kuat, jadi Abang harus selalu sayang sama adiknya, jagain adiknya, juga tidak boleh menyakiti adiknya, apalagi berebut ayah, Abang maupun dedek Kia, kalian sama-sama anak ayah dan Bunda, jadi Abang tidak boleh seperti itu lagi yah !!" Ucap Kenan lembut kepada putranya itu.
"Bener tuh kata Ayah, dulu Papi Arka juga gitu sama bundanya kamu, papi Arka selalu jagain, sayang sama adik juga" Sahut bunda Hani.
"Bener tuh kata Oma Hani, jadi Abang harus jadi Abang yang baik dan pintar, Abang yang selalu jagain dan sayang adiknya." Timpal bunda Vivian.
"Ok, Abang janji jadi Abang pintar dan baik." Ucap Abang Khay.
"Nah gitu dong, anak pintar !!" Seru Diva.
"Sekarang adiknya di peluk dong !!" Seru Kenan dan langsung di turuti apa yang dikatakan ayahnya Kenan pun menarik Diva ikut bergabung dan langsung memeluknya bersama kedua putra dan putrinya.
"Wahhh.... Benar-benar keluarga bahagia." Ucap Ray yang sedari tadi berada disana menyaksikan keharmonisan keluarga sahabatnya itu sambil bertepuk tangan kemudian di ikuti para tamu undangan lainnya.
Semua sahabat-sahabat Diva dari kota Z datang menghadiri acara ulangtahun dedek Kia, tanpa terkecuali Kiki dan Dafa yang saat ini sudah semakin dekat namun Dafa masih belum berani mengutarakan perasaannya kepada Kiki.
Sedangkan Rafa dan Hera sudah bahagia dengan keluarga kecilnya apalagi saat ini di tengah-tengah mereka sudah ada seorang putri mereka yang kini berusia hampir sama dengan si kembar yang tak beda jauh dari usia Abang Khay. Putri mereka di beri nama Quensya Paradigta Malik.
Sedangkan Jova dan Noval sudah hidup bahagia setelah menikah dan menetap di Singapore karena Noval dipercayakan Kenan untuk mengelola anak perusahaannya yang ada di negara tersebut, setelah tiga tahun pernikahan Jova baru di percayakan Allah untuk hamil, dan kini usia kehamilannya sudah memasuki usia lima bulan.
Tak lupa juga Sarla dan suaminya juga hadir dalam acara ini tak lupa dengan putra mereka yang berusia hampir setahunan.
Setelah acara tiup lilin semuanya berkumpul di halaman samping rumah yang cukup luas bisa menampung banyak tamu undangan, semuanya menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
"Apa kabar Tuan Kenan ?" Tanya salah satu rekan bisnisnya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik tuan, tapi dengan keadaan saya seperti ini belum bisa kembali memimpin perusahaan." Balas Kenan tersenyum.
"Saya doakan agar pak Kenan secepatnya puluh kembali, dan kembali memimpin seperti dulu." Ujar rekan bisnisnya.
"Terimakasih atas doanya pak, saya juga sudah tak sabar ingin segera kembali seperti dulu lagi." Ucap Kenan.
"Nyonya Diva, saya benar-benar salut dengan Anda, Anda benar-benar istri bukan hanya cantik tapi juga istri idaman yang memiliki hati yang baik dan juga kesetiaan yang luar biasa." Puji rekan bisnis lagi kepada Diva yang berdiri di belakang kursi roda milik suaminya itu.
"Tuan jangan terlalu memujiku seperti itu, bukankah itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai istri." Ucap Diva tersenyum.
"Benar yang Nyonya katakan itu, tapi di jaman sekarang banyak istri yang tidak berpikiran seperti Anda nyonya, apalagi di umur nyonya yang masih sangat muda." Ucap rekan bisnis.
Diva hanya tersenyum menanggapi perkataan rekan bisnis suaminya, karena ia melihat perubahan wajah Kenan yang tiba-tiba terlihat murung, Diva tau kalau suaminya kembali merendahkan dirinya karena perkataan rekan bisnisnya.
"Aku benar-benar tidak pantas berada di samping mu yank, aku hanya lah laki-laki cacat." Kenan lagi-lagi membatin.
"Maaf tuan sepertinya saya dan suami saya harus kesana, silahkan menikmati hidangan yang kami siapkan, dan terimakasih banyak karena telah sempat hadir." Ucap Diva kemudian pergi dari sana sambil mendorong kursi roda milik suaminya.
Diva mendorong suaminya itu menuju meja dimana sahabat-sahabatnya berkumpul, dan ternyata Sarla dan suaminya ikut bergabung disana.
"Wahhh yang punya hajatan baru nongol nih..." Ucap Rafa saat melihat pasangan suami istri itu menghampiri mereka.
"Iya nih, dari mana aja kalian ? Tamu keren begini dianggurin." Timpal Ray membanggakan dirinya.
"Keren dari mana, muka hancur gitu dibanggain." Sahut Kenan yang sudah terlihat kembali pada mod baiknya.
"Wahhh parah nih, yank masa aku dibilang hancur yank,." Ucap Ray tak terimah lalu beralih pada istrinya.
"Lah emang bener kan ?" Sahut Lani santai membuat semua yang ada dimeja tersebut menertawakan Ray yang selalu saja dapat bullian dari mereka.
"Para lu Lan, suami sendiri di katain." Timpal Jova.
"Mana ada anak kecil disini ogeb, anak-anak pada main tuh disana." Ujar Hera menujuk kearah taman bermain yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Jadi abak saya enggak di anggap nih ceritanya." Sahut Sarla yang sedang memangku putranya.
"O iya...ya... Maaf Sar, gue enggak sadar kalau kamu sedang mangku anak kamu, kirain tadi anak kamu ikut main bareng mereka, Hehehehe." Ucap Hera kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
"Makanya Ma, diperhatikan dulu baru ngomong !!" Seru Rafa merangkul istrinya itu.
"Aku lupa Pa, aku juga sudah minta maaf kok." Ucap Hera melihat kearah suaminya itu.
"Ya sudahlah, kenapa juga harus di permasalahkan, toh Sarla baik-baik aja kan, dia enggak mempermasalahkan itu juga, iya kan Sar ?" Sahut Kiki seperti biasa yang selalu bersikap dewasa dan selalu menjadi penengah setiap ada perdebatan diantara mereka.
"Iya, benar apa yang dikatakan Kiki, saya enggak apa-apa kok." Ucap Sarla.
"O iya Ki, sepertinya kamu sama Dafa cocok, kenapa kalian enggak jadian aja sih, atau kalian sudah jadian ?" Sahut Noval beralih ke pembahasan lain.
"Apaan sih Nov, gue sama Dafa ma hanya sebatas teman doang, juga hanya sebatas bos dan sekertis, tidak lebih." Ujar Kiki.
"Tapi yang lagi ngetrend tuh itu sih Ki, biasanya Bos dan sekertis itu sering cinlok, kelihatannya aja sering terlihat dingin atau nyebelin tapi ternyata dibalik sikap seperti itu ada sikap kebucinan yang tersembunyi dari bos." Timpal Reno suami Sarla.
"Berarti kamu dulu sering bersikap seperti itu ke aku, kamu menutupi kebucinan kamu keaku ya Ren ?" Tanya Sarla kepada suaminya itu.
"Ya...ya... Enggak lah, aku cuman kasihan aja melihat kamu sendirian di negara itu." Sangkal Reno namun terlihat gugup.
"Enggak usah gugup gitu lah Ren, kalau ia juga enggak apa-apa kali." Seru Kenan.
"Kita kembali membahas Kiki sama Dafa nih, Woi Daf, kapan lu melamar Kiki ?" Kini giliran Rafa yang bertanya kepada teman sekolahnya dulu.
"Apa jangan-jangan kamu belum move on ya sama si Diva?" Tuduh Jova di angguki Hera.
Dan keduanya pun mendapat tatapa tajam penuh ancaman dari Diva.
"Yank...." Panggil Kenan mendongak menatap istrinya yang berada di belakangnya.
"Apa by' ? Kamu jangan dengerin kedua maklampir itu, walaupun Dafa belum move on, tapi aku tetap sayang dan cinta kamu kok, beneran." Ucap Diva menaikkan jari telunjuk dan jari tengah nya.
"Hati-hati loh Nan, jangan sampai Dafa mau jadi pembinor tuh, kamu butuh penjagaan ekstra buat bini cantik loh." Ujar Noval.
"Jangan dengerin mereka by', mereka semua gi**." Ujar Diva.
"Bener Nan, gue sama sekali enggak ada perasaan ke bini bar-bar elu, dia bukan tipe gue." Tambah Dafa.
"Gue percaya Daf, kalau benar kamu ada perasaan sama Kiki, buruan loh nyatakan, sebelum gue benar-benar percaya elo nyimpen perasaan ke istri gue, dan jika itu benar terjadi gue enggak tau nasib elo kedepannya." Ujar Kenan dingin, namun sikap dingin yang Kenan tunjukkan membuat Dafa dan yang lainnya bergidik ngeri karena ancaman yang di ucapkan Kenan di Kalimatnya.
"Dengan cepat aku akan memberikan undangan pernikahan ku kepada kalian, tapi wanitanya belum tentu Kiki." Ucap Dafa.
"Kami tunggu." Ucap Rafa.
"Semoga saja wanita itu bukan Kiki, aku enggak mau saja sahabat saya merasa tidak beruntung jika dia benar-benar menikah dengan pria seperti kau ini, sama sekali tak ada menarik-manariknya, juga menyebalkan." Ucap Lani menghujat Dafa.
"Itu mulut apa cabe sih Lan, pedes amat ?" Ujar Jova sambil menaikkan kedua jempolnya.
"Oneng sebenarnya elu ngebelain gue atau ikut ngehujat gue sih, Hahhh." Ucap Dafa jengah mendengar ucapan Jova yang terkesan mengatai Lani tapi seperti membenarkan ucapan Lani juga karena menaikkan kedua jempolnya.
"Gue enggak ada maksud Daf, tapi Lani ada benarnya sih." Ucap Jova tanpa ada rasa bersalahnya.
Seketika mereka yang ada di meja tersebut riuh karena tawa mereka.
"Div besanan yuk !" Ajak Rafa.
"Maksud lu, Abang Khay anak gue yang ganteng dan keren itu Lo mau jodohin sama anak loh, ogah ! Ogah gue punya besan geser kayak elo." Ujar Diva.
"Apa salahnya sih, Div, anak gue juga Cantiknya nauzubillah, ya cocoklah." Ujar Rafa.
"Pintar lu ya cari jodoh buat anak lu Raf, milihnya sama calon penerus perusahaan raksasa di negeri ini." Sahut Jova.
"Ya jelas, itu sih salah satunya." Ucap Rafa.
"Kita tidak boleh memaksakan anak-anak, biar nanti sendiri yang menentukan pilihannya." Sahut Kenan.
"Betul itu...." Sahut semuanya kecuali Rafa yang cemberut meihat tingkah sahabat-sahabatnya.
Bersambung....
Jangan lupa terus like, komen, dan juga vote....
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️