Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 50 Season 3 ( Next Generatoin )


Di kediaman keluarga Opa Salman dan Oma Vivian, kebetulan pagi ini mereka berkumpul dengan besan mereka yaitu Opa Fikram dan Oma Hani, rutinitas inilah sering mereka lakukan saat pagi, setelah jonging bersama, yaitu sarapan bareng, kadang di rumah opa Salman atau di rumah Opa Fikram.


Saat sedang menikmati sarapan mereka di halaman belakang, tiba-tiba ponsel Oma Hani berdering tanda panggilan masuk, dan itu dari Diva.


📞 "Assalamualaikum." Ucap Oma Hani setelah menjawab panggilan dari putrinya itu.


📞 "Walaikumsalam Bun, bunda apa kabar ?" Balas Diva lalu menanyakan kabar wanita yang sudah melahirkannya itu.


📞 "Bunda baik, kalian sendiri bagaimana ?" Tanya balik Oma Hani.


📞 "Alhamdulillah kami baik-baik juga Bun, oh iya Bun apa Enzy sudah tiba disana ?" Diva menanyakan soal menantunya itu, karena sejak kemarin Enzy tak bisa ia hubungi.


📞 "Syukurlah kalau begitu, maksud kamu Enzy ke kota Z ?"


📞 "Iya Bun, kemarin dia berangkatnya."


📞 "Dia belum ada mengunjungi kita, apa dia bersama Khay, benar-benar anak kurang asem, dia mah, masak Oma Opa nya enggak dia kunjungi." Oceh Oma Hani terdengar kesal.


📞 "Enggak Bun, Enzy ke sana sendirian, makanya aku tanya ke bunda." Jelas Diva.


📞 "Kok bisa sendirian, emang Khay mana ?"


📞 "Makanya itu Bun, aku khawatir soalnya kata Kenan mereka lagi bertengkar, keduanya saling salah paham satu sama lain." Terang Diva.


📞 "Tapi Enzy sama sekali enggak ada ngunjunguin kita, ini bunda lagi ngumpul dirumah ayah Salman."


📞 "Apa jangan-jangan, dia pulang kerumah mending papa mamanya ya Bun." Diva terdengar sangat khawatir memikirkan menantunya.


Karena kemarin saat Diva cerita kepada Kenan kalau Enzy pergi ke kota Z tanpa di temani Khay, Kenan pun cerita kalau sebenarnya anak dan menantunya itu sedang bertengkar, karena kesalahpahaman satu sama lain, tapi Kenan tidak cerita kepada istrinya kalau Khay sering tidak pulang ke apartemen dan keluar masuk bar, bahkan sering gonta-ganti pasangan.


📞 "Ya sudah kalau gitu, biar bunda dan bunda Vivian coba mencarinya di kediaman mendiang Rafa dan Hera, kamu tidak usah kwartir." Imbuh bunda Hani.


📞 "Baik Bun, jika sudah ketemu, tolong kabari aku ya Bun !" Seru Diva.


📞 "Iya, kalau gitu bunda tutup dulu telfonnya, bunda mau pulang kerumah buat siap-siap kesana." Ucap bunda Hani.


📞 "Assalamualaikum.


📞 "Walaikumsalam....


Setelah panggilan berakhir bunda Hani langsung cerita kepada besannya, kemudian mereka memutuskan untuk pergi kerumah mending Rafa dan Hera, untuk melihat keadaan cucu menantunya.


...----------------...


Di rumah Enzy.


Enzy duduk termenung di Sofa, menikmati suasana kamar mendiang orangtuanya, semalam Enzy terus menangis, menangisi permasalahan rumah tangganya, juga merindukan orangtuanya, matanya benar-benar sulit terbuka karena saking sembabnya.


"Enzy , sayang." Tiba-tiba Oma Hani dan Oma Vivian masuk ke kamarnya dan langsung memeluknya, secara bergantian.


"Oma, sejak kapan kalian datang ?" Tanya Enzy setelah kedua omanya itu duduk di sisi kanan dan kirinya.


"Baru saja, kami datang kesini karena bunda kamu telfon menanyakan kamu, dia khawatir karena kamu berangkat sendirian, dia juga mengira kalau kamu akan langsung kerumah kami." Jelas bunda Hani.


"Iya sayang, bunda kamu juga terus menghubungimu sejak kemarin, tapi katanya ponsel kamu tidak bisa dihubungi." Tambah Oma Vivian.


"Maaf Oma telah membuat kalian khawatir, aku ingin langsung kesini, aku merindukan papa mama." Ucap Enzy merasa tak enak karena membuat semua orang khawatir.


"Ponsel aku, sejak kemarin enamg sudah low, aku lupa bawa charger." Tambah Enzy berbohong, ia memang sengaja mematikan ponselnya, ia ingi menenangkan diri, mencari jalan keluar permasalahan rumah tangganya dengan Khay.


"Sayang apa kamu sedang bertengkar dengan Khay ?" Tanya Oma Vivian dengan lembut, sambil mengusap punggung cucu menantunya itu.


"Eng...enggak kok Oma, kami baik-baik saja." Bohong Enzy.


"Sayang, kamu tidak perlu menutupinya, kami sydah tau masalahnya, ayah sama bunda kamu yang mengatakan ini pada kami, kalau kalian lagi ribut " Jelas bunda Hani menggenggam tangan Enzy.


Enzy tak bisa lagi menahan air matanya, lagi-lagi ia menangis, dikalah ia mengingat semuanya, dimana Khay marah-marah dan menuduhnya bermain dibelakang, dan dimana saat Enzy melihat Khay setiap hari bersama wanita yang berbeda-beda, dan terlihat sangat mesra.


"Bener kata Oma Vi sayang, apapun yang terjadi cobalah selesai secara baik-baik." Timpal Oma Hani.


"Tapi Oma, aku sudah berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya, tapi dianya yang tidak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan, dan dia malah jalan sama perempuan lain, ok aku juga salah karena terlalu gengsi mengakui perasaan ku yang sebenarnya kalau aku juga telah mencintainya, saat itu aku sudah ingin mengungkapkannya tapi ia malah marah-marah tidak jelas, dan tak memberiku kesempatan sedikitpun untuk bicara, bahkan dia pergi meninggalkan apartemen." Ucap Enzy panjang lebar sambil terisak.


"Jadi apa keputusan mu sekarang, apa kamu ingin tetap disini, atau kembali untuk menjelaskan semuanya ?" Tanya Oma Vivian.


"Aku belum tahu Oma, aku harus apa sekarang, rasanya aku masih pengen sendiri dulu." Sahut Enzy.


"Ya sudah jika itu mau kamu, tapi Oma harap kamu pikirkan ini baik-baik sayang, tidak baik jika kita marah-marahan seperti ini diwaktu yang lama, Oma harap kamu mengambil keputusan yang tepat dan baik untuk kalian." Ucap Oma Hani.


"Iya Oma, terimakasih karena sudah memberiku banyak pelajaran, dan nasihat-nasihat Oma, aku pasti akan mendengar kalian." Ucap Enzy sudah bisa sedikit tersenyum.


"Iya sayang, itu karena kami menyayangimu." Sahut Oma Vivian diangguki Oma Hani.


"Kami pamit pulang dulu ya sayang, atau kamu mau ikut kami pulang ?" Pamit Oma Hani lalu mengajak cucu menantunya itu.


"Nanti saja aku kesana Oma, aku masih ingin disini, dan tolong sampaikan salam aku sama opa Salman dan opa Fikram." Imbuh Enzy.


"Iya sayang, kalau gitu kamu baik-baik ya disini, jangan terlalu dipikirkan juga, nanti kamu malah sakit." Ucap Oma Vivian mencium kening Enzy kemudian beranjak dari duduknya di ikuti Oma Hani tak lupa juga mencium kening Enzy sebelum mereka keluar dari sana.


Setelah kepergian kedua Oma itu Enzy terdiam memikirkan semua nasihat yang disampaikan kedua Oma tadi, ia berpikir kalau disini ia juga salah karena selama ini terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya, dan juga ikut terbawa emosi waktu itu.


...----------------...


Di kota Xx tepatnya di gedung kantor milik CHANEL LINE, terlihat Kia tengah sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan oleh Kavi. Sudah satu mingguan ini Kia bekerja disana setelah pulang sekolah, Kavi sudah bicara dengan Kenan meminta Kia bekerja di perusahaannya, dengan alasan ingin mengamati bagaimana cara besosialisasi anak muda jaman sekarang, sekaligus sebagai referensi pembuatan film mengenai gadis ABG yang bertingkah bar-bar seperti Kia.


Dengan alasan itu Kenan mengijinkan putrinya itu bekerja bersama sahabatnya, sekalian memberikan pengalaman buat putrinya bekerja di perusahaan besar seperti itu, sekalian untuk melati skil Kia untuk menjalankan sebuah perusahaan, karena bagaimanapun Kia juga menjadi salah satu pewarisnya kelak, karena tidak mungkin Khay bisa menghendel semuanya, karena Khay akan mengambil tanggungjawab perusahaan perhiasan terbesar di negara ini peninggalan Almarhum Rafa mertuanya.


"Om, ini sudah kesorean, saya udah boleh pulang tidak, capek banget nih.." Rengek Kia.


"Boleh aja sih, tapi besok kamu harus datang lebih awal dan pulang terlambat." Imbuh Kavi santai tanpa teralihkan dari dokumen-dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


"Kok bisa gitu sih om, entar ayah bunda nyariin kalau saya terlambat pulang." Kia yang tadinya duduk di meja yang sudah disediakan Kavi sebelumnya sebagai meja kerjanya, pindah di kursi depan meja kerja Kavi.


"Mereka enggak akan khawatir, karena mereka tau kalau kamu lagi sama saya." Sahut Kavi datar.


"Dasar Om-om nyebelin, tua bangka.." Gumam Kia pelan namun Kavi masih bisa mendengarnya, Kavi yang mendengar itu hanya bisa tersenyum samar.


"Ngapain masih duduk disitu, katanya kamu mau pulang ?" Ucap Kavi masih fokus pada lembaran-lembaran dokumen yang ia tandatangani.


"Tapi besok saya enggak lemburkan Om." Seru Kia semangat.


"Siapa bilang seperti itu, kalau kamu pulang sekarang ya besok kamu harus lembur seperti yang saya katakan tadi, kalau tidak mau ya terpaksa saya aduin....


"Iya...Iya... Dasar tukang ngadu, saya enggak akan pulang sekarang, tapi besok saya tidak akan lembur." Sela Kia semakin dibuat kesal, ia beranjak dari kursinya sambil meberenggut kesal.


Karena Kia mendorong kursi saat ia berdiri membuat kursi itu terjatuh, membuat Kavi langsung teralihkan dari pekerjaannya.


"Enggak usah ngamuk-ngamuk, entar kursi saya rusak, kamu mau ganti rugi, dengan aku tambahin waktunya buat jadi Asisiten saya." Seru Kavi menatap Kia.


"Maaf...Maaf... Saya enggak sengaja om yang ganteng, tapi sayang udah keriput." Ucap Kia dengan senyum di paksakan, sambil mengembalikan kursi itu pada posisi sebelumnya.


"Apa keriput, itu sama saja ngatain saya tua, benar-benar kurang ajar kamu ya." Geram Kavi menunjuk Kia menggunakan bolpoinnya.


"Emang benerkan om udah tua, akui saja lah om, semua orang juga tahu kalau om sudah tua." Tantang Kia langsung mengambil tasnya dengan cepat kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


"Kiaaa..." Teriak Kavi sampai terdengar di luar ruangan.


Bersambung........


Jangan lupa terus Berikan dukungan like, Komen dan vote buat author agar terus semangat buat Upnya.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love you All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘