Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 23 Season 3 ( Next Generatoin )


Jam tujuh malam Khay baru saja tiba di apartemennya, dengan langkah gontai ia masuk dan langsung menuju dapur mencari makanan yang bisa ia makan, karena ia sudah merasa sangat lapar karena seharian ia hanya latihan dengan tim sepak bolanya hingga lupa waktu, sampai ia tak sempat makan malam di luar karena ia sudah sangat letih karena latihannya.


Saat membuka tempat penyimpanan makanan, ia mengembangkan senyumnya, karena disana sudah banyak makanan yang sudah tersedia, yang ia yakini itu adalah masakan Enzy.


Khay langsung meraih piring yang tak jauh dari sana, lalu mengambil nasi yang ada di microwave, kemudian mencampurnya beberapa lauk pauk dan sayur yang sudah Enzy masak.


Sepertinya Enzy sudah kembali seperti hari pertama mereka tinggal di apartemen, memasak dan menyisakan untuk Khay makan.


Khay membawa piringnya menuju meja makan, ia menyantap makanannya dengan sangat lahap, ia sangat menyukai cita rasa masakan istrinya itu, walaupun terlihat biasa-biasa saja, tapi rasanya tak kalah enak dengan masakan diluaran sana.


Setelah selesai makan Khay kembali merapikan bekas-bekas makanannya, lalu berjalan menuju kamarnya.


Saat masuk ia mendapati Enzy duduk bersantai di salah satu kursi yang berada di dekat jendela balkon sambil membaca buku-buku pelajarannya.


"Terimakasih." Ucap Khay berdiri tak jauh dari posisi Enzy.


"Untuk apa ?" Tanya Enzy dingin tanpa beralih dari bukunya.


"Untuk masakan makan malamnya." Jawab Khay.


"Emmm, sama-sama." Lagi-lagi Enzy menyahuti dengan dingin dan datar.


Khay menghela nafas lelahnya, lalu berjalan menuju lemarinya, ia mengambil pakaian gantinya, lalu masuk ke kamar mandi. Enzy menoleh ke arah pintu kamar mandi saat pintu itu tertutup kembali setelah Khay masuk, setelahnya Enzy kembali fokus pada bukunya karena besok ia ada ujian.


Tak butuh waktu lama Khay keluar dari kamar mandi, dan mendapati Enzy masih duduk di tempatnya, tanpa berkata sepatah katapun ia keluar dari kamar menuju ruang tengah, dimana ia sering beristirahat mengurangi rasa lelahnya setelah seharian beraktivitas.


...----------------...


Tengah malam Enzy masih terjaga, sampai menunjukkan pukul 12 malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Aku tidak akan tidur, akan memastikan apa yang kemarin malam kamu lakukan bukanlah mimpi." Ucap Enzy.


Tak berselang lama, Enzy langsung memejamkan matanya berpura-pura untuk tidur karena mendengar pintu kamarnya terbuka.


Benar dugaan Enzy, Khay berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya, seperti biasa Khay terus menatap intens wajah lelap Enzy, kemudian ia mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu, lalu mencium keningnya dengan penuh kasih yang dapat Enzy rasakan.


"Aku pasti sudah sangat gila, karena merasa kalau kamu itu cantik, dan imut, jika kamu sedang terlelap seperti ini, dibalik ini semua ada ke angkuhannmu." Ucap Khay pelan, kemudian kembali mencium kening istrinya itu cukuk lama, membuat degup jantung Enzy berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Mimpi indah, Nzy !" Ucapnya kemudian beranjak lalu kembali ke sofa dimana ia tidur selama ini.


Saat merasakan Khay benar-benar tak didekatnya, Enzy membuka matanya lebar-lebar, lalu memikirkan apa yang terjadi padanya, kenapa perasaannya begitu tenang saat Khay menyentuhnya, Enzy kembali memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur, agar detak jantungnya kembali normal. Tak butuh waktu lama Enzy kembali tertidur.


...----------------...


Ke esokan paginya, Enzy sedang berada dikamar mandi, ia sedang mandi dibawah shower, ia sengaja mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin, agar bisa menjernihkan pikiran-pikirannya mengenai semalam.


"Kenapa aku terus memikirkannya ?" Ucap Enzy menutup aliran shower sedikit kasar.


"Apa yang terjadi denganku, apa aku sudah gila, terus memikirkan pria itu." Enzy berbicara sendiri sambil mengenakan handuknya.


Ini ujian gue yang paling sulit, dan bikin pusing karena harus memikirkan undang-undang dan masalah permasalahan seseorang, tapi gue bersyukur karena ini sudah selesai dan berakhir." Ucap Rendra kegirangan saat dirinya Nendra dan Enzy berjalan beriringan menuju parkiran untuk segera pulang.


"Iya...Iya...Kalau begitu saya ucapkan selamat buat Anda tuan muda." Ucap Nendra jengah melihat sikap saudara kembarnya itu yang sedikit absurt."


"Jadi, apa rencanamu hari ini, apakah kau akan pulang kerumah, sambil menghabiskan waktu untuk bersantai sambil bermain game seharian ?" Tanya Nendra kemudian.


"Itu tergantung Enzy, sih, kalau dia tak ada rencana buat jalan, gue sih sudah pasti berencana untuk pulang kerumah dan main game sepuasnya." Terang Rendra beralih pada Enzy yang sedari tadi diam di dekatnya. Rendara berbalik menatap saudara kembarnya itu, lalu bertanya kepada Nendra tanpa mengeluarkan suaranya, sedangkan Nendra hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, sebagai tanda ia juga tak mengerti.


"Ada apalagi denganmu ?" Tanya Rendra membuyarkan lamunan Enzy.


"Tidak ada apa-apa !" Sahut Enzy.


"Tidak adanya kamu itu selalu berarti ada sesuatu, bukannya kamu harusnya senang karena sekarang ujiannya selesai dan berjalan lancar ?" Ujar Rendra jengah melihat kegalauan sahabatnya itu yang tidak ada habis-habisnya.


"Aku tak ingin kembali ke apartemen." Ucap Enzy tak semangat.


"Jangan bilang kalau kamu bertengkar lagi dengan suamimu ?" Tebak Nendra menimpali.


"Kalian sudah cukup lama tinggal bersama, gue rasa itu cukup buat kalian saling mengenal satu sama lain, tapi gue lihat bukannya semakin berbaikan tapi malah kalian semakin tak akur." Tambah Nendra.


"Dia...." Enzy mengantungkan ucapannya, ia ragu untuk mengatakan apa yang semalam Khay lakukan padanya.


"Aku ingin pindah ke apartemen ku sendiri, lagian apartemennya sudah selesai di renof juga, kan." Ujar Enzy.


"Kalau kamu pindah bagaimana dengan Tante Diva dan om Kenan, apa yang mereka akan pikirkan, pastinya mereka curiga dengan kalian." Ucap Nendra.


"Itulah masalahnya yang membuatku begitu stres." Sahut Enzy lemas.


"Sebenarnya, untuk sementara kamu bisa tinggal di rumah kami, karena lusa papi mami, akan berangkat keluar negeri untuk perjalanan bisnis, dan mungkin akan tinggal beberapa minggu, dengan begitu kamu bisa memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kalian, untuk Tante dan om Kenan kamu tidak usah khawatir mereka tidak akan mengetahuinya jika tidak ada yang memberitahu mereka." Usul Nendra.


"Iya gue setuju, dengan Nendra." Timpal Rendra sambil menepuk punggung saudara kembarnya itu sedikit keras, membuat Nendra mengaduh, dan membalas memukul bagian belakang kepala saudara kembarnya itu yang selalu saja bertingkah.


"Terimakasih karena sudah bersedia membantuku, tapi aku rasa itu tidak perlu, karena tanpa ada yang memberitahu mereka, pasti bunda sama ayah akan mengetahuinya sendiri, dan itu akan semakin memperkeruh keadaan dan menurut ku, akan menambah masalahnya menjadi lebih besar." Ujar Enzy.


"Benar juga sih, tapi kamu jika suatu saat kamu butuh bantuan, kamu jangan segan-segan meminta bantuan kepada kami, kami ini bersaudara, Ok !" Ucap Nendra.


"Begini Nzy, lebih baik kamu coba untuk menjalaninya saja dulu, kamu hadapi sesuai kemana arah membawa hubungan kalian." Ucap Rendra.


"Iya cobalah untuk bicarakan baik-baik, dan selesaikan masalahmu dengan Khay." Timpal Nendra.


"Contohnya nih, yang kami tau kamu tidak menyukai Khay karena ia seorang playboy, tapi cobalah kamu bicarakan dari hati kehati, dan tenang, kenapa kamu bisa menbencinya, dan cobalah minta Khay untuk meyakinkan mu atau membuktikannya kalau dia sudah benar-benar berubah." Tambah Nendra.


"Iya, aku akan mencobanya nanti, kalau begitu aku pergi." Pamit Enzy melangkah pergi.


"Ehhh kamu mau kemana ?" Tanya Rendra menahan lengan Enzy.


"Mau pulang ke apartemen." Jawab Enzy.


"Katamu tadi enggak mau pulang kesana ?"


"Aku berubah pikiran, bay...." Sahut Enzy lalu pergi begitu saja meninggalkan si kembar cengok saling menatap mendengar perkataan Enzy barusan.


Di tempat lain, terlihat Khay dan sahabatnya Priska baru saja keluar dari kelasnya, sedangkan Doni dan Leo tak masuk hari ini, entah dia bolos kemana lagi.


"Ada apa denganmu ?" Tanya Priska heran melihat sahabatnya itu senyum-senyum sendiri sejak tadi, bahkan sejak di kelas Khay juga terus bersikap seperti itu, berbeda pada beberapa hari belakangan ini yang selalu terlihat murung.


"Apa kamu mulai menjadi gila, setelah beberapa hari belakangan kamu ada masalah dengan bokap kamu ?" Tanya Priska lagi karena Khay masih saja tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.


"Bukan ! Gue hanya sedang memikirkan sesuatu." Jawab Khay.


"Iya kah ? Aku pikir kamu sudah gila." Sahut Priska.


"Oh, aku hampir lupa." Lanjutnya.


"Ada apa ?" Tanya Khay.


"Mau makan malam bersamaku ? Ajak Priska.


"Tidak, gue akan langsung pulang ke rumah, aku sudah ada janji dengan keluargaku." Tolak Khay.


"Kamu ajak yang lain aja, atau kamu ajak seseorang aja." Usul Khay.


"Tidak, Doni sama Leo pada sibuk dengan urusan masing-masing, akhir-akhir ini kamu lebih sering pulang cepat kerumahmu, aku rasa kamu telah melupakan sahabat kamu ini." Ucap Priska seolah ia merajuk.


"Aku perhatikan kamu banyak bersenang-senang dengan banyak teman, kamu tak mungkin kesepian." Ucap Khay.


"Bagaimana bisa kamu tahu soal itu ? Sebenarnya aku ini sungguh gadis malang yang kesepian." Ucapnya mendramatisir.


"Duh... kasian banget sahabatku satu ini." Ucap Khay mengacak rambut Priska lalu segera pergi begitu saja.


"Ih... Khay kamu nyebelin tau enggak !!" Seru Priska mengejar Khay yang sudah lebih dulu ke parkiran.


Bersambung.....


Jangan lupa like, Komen, dan vote, sesuai janjiku kemarin aku bakal crazy up di hari weekend, semoga reader bisa terhibur dengan cerita fiftif yang author buat semata hanya untuk menghibur di waktu lenggang kalian.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏


Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘