
Setelah sholat berjamaah, keluarga Kenan melanjutkan dengan makan malam, Khay menatap bundanya karena sejak tadi ia memperhatikan ayahnya dengan raut berbeda, dan tak banyak bicara.
"Bunda, ayah kenapa ?" Tanya Khay kepada bundanya, tanpa mengeluarkan suaranya.
Sedangkan Diva hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda ia tak tahu juga.
Mereka pun makan dengan hening.
"Setelah ini berkumpul di ruang tengah, ayah ingin membicarakan sesuatu !" Seru Kenan kemudian meninggalkan tempat tersebut menuju ruang tengah.
"Ada masalah apasih Bun ?" Tanya Kia.
"Bunda juga gak tahu dek, ya sudah kalau sudah selesai lebih baik kita kesana." Sahut Diva di angguki Khay, Enzy dan juga Kia.
Sebelum ke ruang tengah Enzy terlebih dahulu menuju dapur, untuk membuat susu hamil untuknya.
"Khay bagaimana rencana kerjasama kamu dengan Chanel Line ?" Tanya Kenan datar.
"Tinggal penandatanganan kerjasama Yah." Jawab Khay.
"Kapan kamu akan penandatanganan ?"
"Rencananya mungkin tiga hari lagi, soalnya om Kavi lagi ada kesibukan, dan tak bisa satu hari dua hari ini." Jelas Khay.
Khay hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ki, ayah dengar kamu ada guru baru ya di sekolah ?" Tanya Kenan pura-pura tidak tahu.
"Iy...iya Yah." Sahut Kia gugup, Kia sudah bisa menebaknya kalau ayahnya itu sudah tahu perihal Kavi yang mengajar di sekolahnya, dan tentu saja ayahnya itu tahu maksud Kavi mengajar disana.
"Ayah sudah mengurus surat pindah kamu, ayah, bunda, juga kamu akan tinggal di Singapore." Ucapan Kenan berhasil membuat semua yang ada diruang tersebut terkejut, terutama Enzy yang baru saja bergabung.
"Yah, ada apa sih sebenarnya ?" Tanya Diva setelah beberapa detik hening.
"Khay kesibukan Kavi yang kamu maksud, itu karena dia mengajar di sekolah dimana Kia bersekolah, dan apa kamu tahu alasannya, mengapa sampai dia mesti mengajar disana ?" Kenan beralih pada putranya.
"Aku tidak tahu Yah, sebenarnya ada apasih ?" Sahut Khay kemudian bertanya ada masalah apa sebenarnya.
"Kavi sudah berani-berani mendekati adik kamu, dan secara terang-terangan mengatakan kepada ayah, kalau dia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkannya, termasuk dengan mengajar disekolah tersebut." Jelas Kenan.
"Tapi apa salahnya jika memang om Kavi bersungguh-sungguh menyukai Kia, lagian aku rasa om Kavi orangnya baik, dan ayah lebih tahu itukan, bukannya ayah sudah mengenal om Kavi sudah lama ?" Ucap Khay.
"Itu bukan suka atau cinta seperti yang ia katakan bang, tapi ayah pikir dia hanya terobsesi, karena adik kamu itu mirip dengan almarhumah istrinya." Terang Kenan.
"Tapi Yah, kenapa kita mesti pindah ke Singapore, lagian adek sebentar lagi ujian." Sahut Diva.
"Aku tidak ingin mengambil resiko Bun, aku takut pria itu hanya menyakiti putri kita satu-satunya.." Ucap Kenan.
Sedangkan Kia hanya diam sejak tadi, sebenarnya ia sangat tidak ingin pindah ke Singapore, hanya saja ia takut menentang keputusan ayahnya.
"Tapi yah, apa kita tidak bisa bicarakan ini baik-baik dengan Om Kavi, dan aku rasa Kia juga tak ingin pindah kesana." Ucap Khay.
"Keputusan ayah sudah mutlak bang, dan ayah tidak ingin mendengar bantahan." Ucap Kenan tegas.
"Tapi Yah, bagaimana dengan perusahaan, siapa yang akan menjalankannya jika ayah disana?"
"Ayah bisa bekerja dari sana, lagian disini ada asisiten ayah, kalaupun ada hal yang harus ayah yang kerjakan, ayah bisa balik." Terang Kenan.
"Yah, bukannya aku bermaksud menentang keputusan ayah, tapi aku harap ayah memikirkan keputusan ayah ini." Ucap Khay.
"Tapi jika emang Kia harus pindah sekolah kenapa mesti jauh-jauh harus ke Singapore, Kia bisa pindah ke kota Z, dan sembunyikan identitas adek, supaya tidak ada yang mengetahuinya, dan mempersulit om Kavi untuk mencarinya." Usul Khay, membuat Kenan berpikir sejenak, benar juga usul dari putranya itu.
Kenan menghela nafas beratnya, kemudian mulai angkat bicara kembali.
"Baiklah, besok adek harus pindah ke kota Z, ayah setuju dengan usul kamu bang." Putus Kenan membuat Diva dan Kia sedikit lega, walaupun harus tinggal berjauhan, setidaknya mereka masih tinggal di negara yang sama, dan bisa dibilang jaraknya tak terlalu jauh, yang sewaktu-waktu Diva baik Kia bisa saja mengunjungi, lagian disana ada orangtua Kenan dan Diva, juga Arka, yang bisa menjaga putrinya layaknya ia menjaganya.
"Baiklah Yah, kalau gitu aku balik ke kamar, masih ada beberapa berkas kerjasama aku dengan Chanel Line yang harus aku selesaikan." Pamit Khay setelah melihat Enzy sudah menghabiskan susunya, juga melihat ayahnya sepertinya tidak ada lagi yang ingin dibicarakan.
"Bang, aku harap kamu hati-hati bekerjasama dengan Kavi, ayah tidak mau kamu terlalu dekat dengannya, jangan sampai ia mengorek informasi soal keberadaan adik kamu." Ujar Kenan.
"Ayah sudah memutuskan semua kontrak kerjasama dengan perusahaannya, jika kamu melihat, sedikit gerak-gerik mencurigakan darinya, kamu langsung putuskan kontrak kerjasama itu !" Lanjut Kenan cepat saat melihat Khay akan angkat bicara.
"Tapi Yah, kenapa ayah mesti putuskan kontrak kerjasamanya, mana sikap profesional kerja ayah selama ini ?" Ujar Khay membuat Kenan langsung menatapnya tajam, membuat Khay terkejut melihat sikap ayahnya itu, baru kali ini Kenan menatapnya seprti itu.
"Kamu sudah berani mengajari ayah, hah ?" Bentak Kenan.
"Yah, aku tidak bermaksud untuk mengajari ayah, karena aku tahu, ayah lebih banyak tahu, dan berpengalaman dari aku, tapi aku hanya menanyakan sikap profesional kerja ayah, yang selama ini ayah ajarkan ke aku, kalau jangan pernah mencapurkan urusan pribadi dan juga pekerjaan." Ucap Khay membuat Kenan semakin dibuat emosi.
"Lagian, aku juga tak habis pikir kenapa ayah begitu tak menyukai om Kavi jika memang menyukai dan mencintai Kia ?" Tambah Khay.
"Khay !" Bentak Kenan.
Diva mengusap bahu suaminya itu agar tetap tenang, begitupun dengan yang dilakukan Enzy, sedangkan Kia, sudah menangis di tempatnya, karena ia berpikir, ayah dan kakaknya ribut seperti itu karenanya.
"Ayah tenangkan diri ayah, Abang gak bermaksud untuk melawan ayah, atau apapun itu, tenang Yah, tenang." Ucap Diva.
"Bang, lebih baik kamu masuk ke kamar kamu !" Seru Diva beralih pada putranya itu.
Khay yang merasa bersalah hanya bisa menundukkan kepalanya, disaat yang bersamaan ia juga merasa bersedih karena baru kali ini ayahnya membentaknya seperti itu, tanpa ia rasa air matanya menetes, mengenai tangan Enzy yang sejak tadi menggenggam tangannya di atas pangkuannya.
"Ayo lebih baik kamu ke kamar dulu, tenangkan pikiran kamu, yank, ayo !!" Ajak Enzy lembut kemudian beranjak terlebih dahulu, lalu menarik tangan suaminya itu.
Khay hanya bisa pasrah ketika Enzy menariknya.
"Yah, Bun, maaf atas kelakuan Khay barusan." Ucap Enzy sebelum pergi dari tempat tersebut.
"Iya gak apa-apa sayang, sekarang lebih baik kamu bawah suami kamu ke kamar, untuk menenangkan pikirannya, bunda yakin ia bersedih, karena baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari ayah." Ucap Diva mendongak menatap menantunya itu.
"Iya Bun, kalau begitu aku pamit ke kamar dulu." Ucap Enzy kemudian merangkul lengan suaminya, lalu berjalan menuju lantai dua, dimana kamar mereka berada.
Saat Diva beralih pada anak bungsunya, ia dikagetkan ketika ia melihat punggung Kia bergetar, sambil menundukkan kepalanya, Diva yakin kalau putrinya itu tengah menangis, mungkin karena kejadian barusan.
"Yah, liat putri kamu, sepertinya dia ketakutan atau merasa bersedih melihat kamu dan Abang tadi." Bisik Diva kepada Kenan.
Kenan yang mendengar bisikan istrinya langsung bangun dari posisinya, yang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.
"Dek, sayang." Panggil Kenan pada putrinya itu.
Namun Kia yang mendengar suara ayahnya jadi makin terisak, bahkan suara tangisannya pun tak bisa lagi ia tahan.
Kenan beranjak dari duduknya, kemudian berpindah disamping Kia.
"Ada apa, kenapa menagis seperti ini, apa karena kejadian barusan ?" Tanya Kenan lembut sambil membawa putrinya itu masuk kedalam pelukannya, sambil mengusap punggungnya dengan penuh rasa sayang.
"Ini semua gara-gara aku Yah." Cicit Kia, suaranya sedikit tertahan, karena Kia menenggelamkan wajahnya di dada bidang ayahnya itu.
"Kenapa adek, bicara seperti itu sayang, Hem ?"
"Kalau saja aku gak ketemu sama om Kavi waktu itu, semuanya tidak akan seperti ini, dan ayah sama Abang gak akan ribut seperti tadi." Jelas Kia masih dalam pelukan ayahnya, sesekali ia terdengar suaranya tersekat, karena tiba-tiba ia menjadi flu dan hidungnya sedikit tersumbat karena tangisannya.
Kenan melepaskan pelukannya lalu beralih menangkup wajah putrinya itu.
"Sayang, lihat ayah ! Semua ini bukan salah kamu, dan tidak ada yang bisa disahkan atas semua ini, baik kamu maupun Kavi, tapi yang ayah sesalkan dan salahkan kenapa Kavi harus menyukaimu, kamu bahkan masih sangat muda dan kamu tahu sendirikan om Kavi ? Kavi itu teman ayah, dan umurnya sudah sangat jauh diatas kamu, dan perlu kamu ketahui, banyak wanita diluar sana yang ingin sekalie menjadi pendampingnya, ayah hanya takut wanita-wanita itu akan melakukan berbagai cara jika tahu Kavi menyukai kamu." Jelas Kenan panjang lebar, sambil menyeka air mata Kia yang terus saja mengalir, menggunakan ibu jarinya.
Kia hanya mengagukkan kepalanya, kemudian kembali memeluk erat ayahnya itu.
Diva yang melihat itu ikut pindah, dan duduk di samping putrinya juga ikut memeluknya.
Bersambung........
Sepertinya Kenan sangat mengkhawatirkan putrinya disakiti oleh wanita-wanita yang mengejar Kavi, ia takut kejadian pelakor2 yang mengejarnya dulu juga terjadi di dalam hubungan putrinya, sehingga membuat luka di hati putrinya seperti yang pernah ia rasakan Diva..... Ia tahu betul rasa sakit yang dirasakan istrinya dulu.....
Jangan lupa berikan like, Koment, dan Vote....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...