Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 43 Season 3 ( Next Generatoin )


Enzy terus melihat jam, yang kini sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Khay masih saja belum ada tanda-tanda bahwa ia sudah pulang, Enzy dengan cemas menunggu kedatangan suaminya itu, ia bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku, namun sepertinya isi buku yang ia baca sama sekali tidak ada yang masuk ke otaknya. Hingga kini jam menunjukkan hampir jam 12 malam, dan saat itu Khay masuk ke kamar mereka, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia melewati tempat tidur begitu saja, menuju meja belajarnya, ia langsung mengeluarkan laptopnya, ia memilih mengerjakan pekerjaannya.


Enzy yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya yang masih dingin terhadapnya, kemudian ia berinisiatif membuatkan kopi, Enzy segera turun dari tempat tidur dan langsung keluar menuju dapur.


"Mudah-mudahan dengan ini, dia tidak akan lagi mengabaikanku." Enzy berbicara sendiri setelah membuat kopi, dengan segera Enzy kembali ke kamarnya membawa secangkir kopi hitam.


Enzy meletakkan cangkir kopinya di atas meja, tepat di samping laptop suaminya itu.


"Minumlah !" Seru Enzy dengan senyum ia buat semanis mungkin.


"Apa itu ?" Tanya Khay dingin tanpa beralih dari laptopnya.


"Itu kopi, kamu pasti tau itu kan ?" Sahut Enzy memajukan bibirnya pasalnya Khay masih saja bersikap dingin.


"Terimakasih, tapi aku tidak ingin meminum kopi, apalagi di tengah malam seperti ini." Ucap Khay dingin.


Khay membereskan laptop dan beberapa berkas-berkasnya, lalu beranjak dari duduknya.


"Aku akan tidur di ruang tengah malam ini." Ucap Khay datar lalu pergi begitu saja meninggalkan Enzy sendirian menatap kepergiannya.


Enzy sangat kecewa dan kesal dengan sikap Khay yang masih saja dingin padanya, padahal ia sudah berusaha berbuat baik kepadanya.


"Bagaimana dengan kopinya ? Aku sudah susah-susah membuatnya, tapi dia sama sekali tak mencicipinya sedikitpun, melihatnya saja enggak." Oceh Enzy kesal lalu meminum sendiri kopi itu, hingga habis, tak peduli itu masih sedikit panas, saking kesalnya.


Enzy kembali ketempat tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut mencoba untuk tidur, Enzy gelisah tak bisa tertidur akibat minum kopi, dan ia juga sudah terbiasa tertidur di peluk suaminya.


...----------------...


Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali Khay sudah berangkat ke kampus sebelum Enzy terbangun.


Enzy ketiduran gara-gara semalaman ia tak bisa tidur, setelah sholat subuh tadi, ia membaringkan kembali tubuhnya di tempat tidur dan ketiduran, hingga kesiangan.


Enzy semakin kesal karena Khay tak membangunkannya dan pergi ke kampus begitu saja, membuat mood Enzy menjadi buruk dan terus murung selama di kampus, membuat Rendra dan Nendra bingung sendiri melihat sikap sahabat mereka itu.


Sepulang dari kampus Enzy saat sore hari, Enzy sengaja memsak banyak makanan kesukaan Khay.


"Aku akan membuatmu makan banyak, hingga sakit perut, kalau bisa sampai diare sekalian, biar tahu rasa karena sudah mengabaikan ku sejak kemarin." Enzy bicara sendiri sambil menyajikan semua masakannya di atas meja makan.


Setelah selesai semuanya, Enzy duduk diruang tengah, menunggu kedatangan Khay, sambil memainkan ponselnya.


Saat sedang fokus pada media sosialnya, tiba-tiba pintu apartemen terbuka, dan menampakkan Khay, yang masuk begitu saja dengan wajah datar dan dingin, pria itu langsung menuju dapur, untuk mengambil minuman di kulkas, saat melewati meja makan Khay mengehentikan langkahnya, melihat banyak makanan kesukaannya sudah tersaji dengan penyajian yang menarik. Khay menarik salah satu kursi meja makan, lalu duduk disana memperhatikan semua makanan, namun Khay sama sekali tak menyentuh makanannya, ia hanya mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.


"Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan ini semua." Ujar Khay meletakkan kembali gelasnya.


Enzy menoleh ke arah meja makan dimana Khay berada, menatap pria itu dengan tatapan kesal, karena sama sekali tak menghargai usahanya, ia sudah berniat baik membuat makanan agar Khay tak lagi bersikap dingin dan mengabaikannya.


"Bukannya aku yang harusnya bicara seperti itu ?" Sahut Enzy sisnis.


"Jika kamu punya masalah atau salahku, katakan saja !" Lanjut Enzy.


"Tidak ada yang perlu aku katakan !" Sahut Khay dingin, lalu pergi menuju kamar mereka.


Enzy yang melihat itu langsung mengikutinya, hingga mereka tiba dikamar.


"Khay..." Enzy menarik lengan suaminya itu agar berbalik melihatnya. Khay berbalik kemudian menghembuskan nafas kasar, lalu berbalik menatap Enzy sejenak, lalu beralih melihat keluar lewat jendela.


"Kamu harusnya senan, aku bertingkah seperti ini." Ujar Khay setelah beberapa saat hening.


"Khay....


"Malam ini aku menginap di rumah Leo." Sela Khay saat Enzy ingin bicara.


Enzy terdiam menatap Khay mendengarnya akan menginap di rumah sahabatnya, mentap pria itu dengan tatapan sulit untuk di artikan. Khay yang melihat Enzy hanya terdiam, ingin segera berjalan menuju lemari pakaiannya, namun langkahnya terhenti saat Enzy menahannya dan langsung mencium bibir suaminya itu. Khay yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa terdiam tanpa membalas ciuman itu, ia kaget dengan apa yang dilakukan Enzy secara tiba-tiba dan kali pertamanya Enzy yang memulai lebih dulu. Karena tak mendapatkan balasan, Enzy ingin mengakhiri saat akan menjauhkan wajahnya, Khay langsung menahan tengkuknya dan memulai kembali ciumannya, Enzy mulai membalasnya melingkarkan lengannya di pinggang Khay, keduanya saling mencecap bibir masing-masing, dengan Khay masih menahan tengkuk istrinya itu. Saat Enzy dirasa mulai kehabisan nafas, perlahan Khay melepaskan ciumannya, mengusap bibir Enzy menggunakan ibu jarinya, karena ada sisa ciuman mereka.


"Aku dan Baim, tidak ada lagi hubungan apa-apa diantara kami, aku tahu kamu marah dan mengabaikan ku karena itu kan ?" Ucap Enzy tak berani menatap suaminya itu, mengingat saat tadi ia menciumnya lebih dulu.


Sementara Khay berusaha menahan senyumnya, melihat sikap malu-malu istrinya, apalagi dengan rona merah di wajahnya.


"Aku hanya ingin katakan itu, jangan menatapku seperti itu, jika kamu ingin pergi, pergi saja, aku tidak peduli !" Seru Enzy lalu berbalik ingin meninggalkan kamar tersebut, namun langkahnya terhenti saat Khay memeluknya dari belakang.


"Aku tidak akan pergi, tadi itu aku hanya bercanda, mana bisa aku pergi, sedangkan aku tidak bisa jauh darimu." Bisik Khay tepat di dekat telinga Enzy, membuat Enzy kegelian karena deru nafas Khay begitu sangat jelas mengenai telinganya.


Enzy berusaha menahan senyumnya, ia sangat senang mendengar perkataan suaminya itu.


Khay semakin mengeratkan pelukannya, sambil menciumi tengkuk dan dibawah telinga wanitanya.


...----------------...


Setelah membersihkan dirinya, Khay langsung naik ketempat tidur dimana Enzy sedang duduk bersandar disana, sambil membaca buku novel kesukaannya. Khay memeluk pinggang Enzy dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.


"Khay, kamu berat ih.. minggir sana !" Seru Enzy.


"Aku sudah lama menunggumu." Ucap Khay mengubah posisinya berbaring berbantalkan paha Enzy.


"Kamu jangan besar kepala dulu, aku tidak pernah bilang kalau aku sudah percaya kepadamu." Ucap Enzy pura-pura cuek.


"Tunggu !" Seru Enzy menatap Khay.


"Kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu mengetahui kalau aku akan melakukan hal seperti tadi." Seru Enzy menatap Khay dengan tatapan mengintimidasi.


Khay tak menjawab pertanyaan dari istrinya itu, ia hanya tersenyum dibuat semanis dan seimut mungkin, namun terlihat mengesalkan dimata Enzy.


"Khay, kamu benar-benar ngeselin tau enggak !" Kesal Enzy mendorong kepala Khay dari pahanya.


"Tapi pada akhirnya kamu peduli juga padaku." Sahut Khay mendekatkan wajahnya ke wajah Enzy yang kini sedang memberenggut kesal, karena merasa sudah di permainkan.


"Aku tidak pedu.....


"Kamu bahkan marah saat aku pulang larut malam." Khay dengan cepat menyela ucapan Enzy.


"Aku tid....


"Kamu bahkan membuatkan aku kopi, karena melihatku sedang bekerja selarut itu, juga tadi sore kamu sengaja memasak masakan kesukaan ku." Khay lagi-lagi dengan cepat menyela ucapan wanita di hadapannya yang kini tampak kesal menatapnya. Saat melihat istrinya itu ingin berucap kembali lagi dan lagi Khay cepat menyelanya.


"Dan... Kamu menciumku lebih dulu, karena kamu juga tahu aku sangat menyukai itu, dan kamu tidak ingin aku mengabaikan mu terus menerus, iya kan ?" Sela Khay menaik turunkan alisnya.


Enzy terdiam sejenak, lalu tersenyum di buat-buat.


"Iya kamu benar, semua yang kamu katakan benar." Ucap Enzy lalu mendorong Khay cukup keras sampai Khay terjungkal kebelakang dan jatuh dari tempat tidur.


Enzy turun dari tempat tidur, lalu duduk dihadapan suaminya itu.


"Sepertinya kamu lupa mengatakan, kalau kamu telah berhasil mempermainkan ku." Geram Enzy menunjuk dada Khay.


Khay menahan telunjuk Enzy, dan menatapnya lekat-lekat.


"Tapi perlu kamu tahu, malam itu aku benar-benar terluka, bahkan hati ini serasa sangat sakit ( Mengarahkan telunjuk Enzy kedadanya ) Tatap mata aku baik-baik, apa aku terlihat berbohong ? Aku tidak pernah berpikir untuk mempermainkan mu, aku bersikap seperti kemarin itu, karena hati aku sakit saat melihatmu, dan teringat dengan laki-laki itu, semua yang pernah aku katakan padamu, semuanya benar dan tulus dari hati aku yang paling dalam, kalau aku benar-benar ingin berubah, karena aku telah mencintaimu lebih dari diriku sendiri." Ucap Khay panjang lebar dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Enzy yang melihat Khay berbicara seperti itu, tiba-tiba ia merasa sangat bersalah, ia melihat dari manik mata pria yang kini menjadi suaminya benar-benar tulus mengatakan semuanya. Tanpa aba-aba Enzy langsung memeluk erat suaminya itu.


"Emm...aku tahu..." Ucapnya lalu melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri.


"Dorongan tadi, anggap saja sebagai hukuman yang harus kamu dapatkan, karena telah membodohi ku." Ucapnya sebelum melangkah pergi, membuat Khay hanya tersenyum mendengarnya.


Saat Enzy akan berjalan, tiba-tiba Khay menahan kakinya, membuat Enzy yang tak memiliki keseimbangan, langsung terjatuh di atas tempat tidur, dengan cepat Khay menindihnya.


"Apa-apaan ini Khay ?" Tanya Enzy mendorong kedua sisi bahu Khay agar menjauh darinya.


"Sayang, kamu anggap aku ini bagimu" Tanya Khay menatap dalam manik mata Enzy, Enzy yang di tatap seperti itu juga ikut menatapnya, hingga keduanya saling berpandangan.


"Enzy." Panggil Khay meninggikan sedikit nada bicaranya namun masih terdengar lembut.


"Kamu belum menjawab ku." Serunya saat Enzy tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu berharap aku mengatakan kamu adalah suami ku yang aku sukai dan cintai ?" Tanya balik Enzy dan langsung di angguki cepat oleh Khay.


"Kamu suamiku yang aku sukai, tapi belum mencintaimu." Jawab Enzy.


"Hem ?" Sahut Khay.


"Iya aku masih belum mencintaimu." Imbuh Enzy.


Khay turun dari atas tubuh Enzy, lalu ikut berbaring di sampingnya, lalu memeluknya.


"Hufffftt..." Khay mengehela nafas beratnya menatap wajah Enzy dari samping.


"Kamu belum mencintaiku, tapi kamu sudah menyukaiku, itu sudah cukup bagiku, menyukaiku saja aku sungguh sangat senang, lama-lama juga kamu akan terbiasa, dan membuatmu jatuh cinta denganku, bagaimana pun caranya." Ucap Khay kembali menindih istrinya itu dengan tiba-tiba membuat Enzy sedikit terkejut.


"Jangan terlalu banyak berharap dan memaksakan diri Anda tuan muda !" Imbuh Enzy tersenyum meremehkan.


"Aku akan membuktikan kata-kata ku nona, walaupun aku harus mencium kaki Anda." Sahut Khay penuh percaya diri.


"Anda percaya diri sekali tuan muda, aku yakin Anda tidak akan melakukan hal bodoh itu." Tantang Enzy.


Khay mencium kening Enzy, turun kehidung, bibir dan yang terakhir leher jenjang milik istrinya itu, Khay membuat tanda kepemilikan disana, membuat Enzy melenguh.


"Khay.." Ucap Enzy terdengar manja di pendengaran Khay.


"Apa kau benar-benar ingin melihatnya aku melakukannya sungguhan ?"


"Aku yakin kamu tidak akan melakukannya." Sahut Enzy, Enzy berpikir Khay tidak akan melakukan hal bodoh itu.


Khay tersenyum menyeringai, mulai menciumi leher Enzy kembali, turun kebagian dadanya, perutnya, dan yang terakhir, Khay turun dari tempat tidur, dan berlutut tepat di hadapan kaki Enzy, Khay menarik kaki milik istrinya itu dan langsung mencium punggung kakinya.


"Khay apa kau bodoh ?" Enzy langsung menarik kakinya, saat di rasa Khay benar-benar menciumnya.


"Iya aku akan melakukan hal bodoh apapun itu, asal aku bisa membuatmu percaya dan mencintaiku." Sahut Khay masih berlutut dihadapan Enzy yang kini duduk di pinggiran tempat tidur.


"Tap...


"Sudah ku katakan, apapun itu akan kulakukan, agar aku bisa memiliki raga juga hatimu seutuhnya." Jelas Khay menyela ucapan Enzy.


Sedangkan Enzy mendengar ucapan suaminya itu merasa sangat terharu, matanya mulai berkaca-kaca, kenapa juga ia susah sekali mengakui kalau ia juga sudah sangat mencintai pria yang kini berlutut dihadapannya itu.


Bersambung.....


Jangan lupa LIKE, Koment, dan Vote.....


Maaf hari ini mungkin hanya bisa up satu bab saja, soalnya ada acara keluarga, tapi aku akan tetap usahakan buat up sebisa aku, tapi aku enggak janji juga, makanya aku sengaja buat episode ini sampai 2000 kata.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘