
Setelah sampai di rumah sakit, Diva langsung di larikan masuk ruang UGD, di dampingi Bunda Vivian dan juga Lani. Sedangkan Kenan langsung dibawah kearah terpisah yaitu di ruangan perawatannya yang biasa yang ia tempati selama di rawat
Di sana sudah ada Dokter Chen menunggu mereka. Kenapa di ruangan tersebut ? Itu karenaa Ayah Salman sudah membooking ruangan tersebut selama pengobatan Kenan berlangsung.
Dokter Chen langsung memeriksa keadaan Kenan, dan para perawat memasangkan infus dan memberikan obat-obatan kepada cairan infus tersebut.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Ayah Salman terlihat khawatir setelah Dokter Chen memeriksa Kenan cukup lama.
"Dia sepertinya terlalu kelelahan, dan lama terkena sinar matahari langsung, dan entah Kenapa sel kankernya semakin menyebar ke beberapa organ, dan hal itulah membuat keadaan pasien langsung drop." Terang Dokter Chen.
"Jadi apa tindakan selanjutnya Dok ?" Tanya Ayah Salman.
"Kami akan melakukannya perawatan yang sangat intensif, dan harus kembali di rawat di rumah sakit, karena kami akan memberinya obat-obatan dengan dosis tinggi dan juga kemoterapi." Dokter menjelaskan.
"Baik Dokter, lakukan yang terbaik !"
"Tapi Pak, efeknya akan lebih dari sebelumnya, dan mungkin akan mengalami kebotakan dan sedikit penglihatannya sedikit terganggu." Ujar Dokter Chen.
"Tapi penglihatannya bisa normal kembalikan dok ?" Tanya Ayah Salman khawatir.
"Bisa, tapi mungkin nggak bisa normal seperti dulu, dan harus dengan bantuan kacamata." Jelas Dokter Chen.
"Baiklah Dok, lakukan yang baik menurut Dokter !'
Di tempat Lain Diva sudah sadarkan diri, Bunda Vivian langsung meminta Lani supaya segera memanggil dokter yang menangani Diva sebelumnya.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok ?" Tanya Bunda Vivian saat dokter baru saja masuk keruangan tersebut.
"Dia baik-baik saja, dan saya sarankan jangan terlalu memikirkan hal yang berat, sampai membuat sang ibu hamil stres, dan itu membuat janinnya terancam, seperti halnya tadi sampai pendarahan, untuk dengan cepat ibu membawanya kerumah sakit." Jelas Dokter Catrine.
"Terimakasih Dok." Ucap Bunda Vivian.
"Bun, aku mau lihat keadaan Kenan, tolong bawa aku ke sana !" Pinta Diva.
"Dok apa kami bisa membawanya, kami hanya keruangan di lantai 7, Di sana suaminya di rawat." Ucap Bunda Vivian.
"Baiklah tapi harus menggunakan kursi Roda, karena untuk saat ini pasien tidak boleh banyak bergerak dulu !" Terang Dokter Catrine.
Diruangan Kenan, Ayah Salman dan Ray sangat khawatir memikirkan keadaan Kenan, Keduanya duduk di sofa ruangan tersebut setelah kepergian Dokter Chen. Di tengah pikiran keduanya tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka menampakkan Bunda Vivian, dan Lani mendorong kursi roda yang di duduki Diva.
Hal tersebut berhasil mengalihkan perhatian Kenan yang sedari tadi melihat kearah jendela, memikirkan keadaannya yang semakin memburuk.
"Yank...
" By'..." Ucap keduanya bersamaan.
"Bagaimana keadaan kamu ?" Tanya Diva, masih berada di dekat sofa.
"Aku tidak apa-apa." Kemarilah !" Panggil Kenan agar Diva segera mendekat.
"Lan Tolong bantu gue kesana !" Pinta Diva kepada Lani.
"Bagaimana keadaan kamu yank?" Tanya Kenan saat Diva sudah berada di sampingnya.
"Maaf ya, pasti kamu seperti ini gara-gara aku, dan aku yakin kamu seperti ini karena kamu memikirkan aku Yank, aku minta kamu jangan terlalu memikirkan aku, aku bilang aku tidak apa-apa !" Ujar Kenan mengusap pipi chubby istrinya.
"By', aku selalu bilang, ini semua bulan karena kamu, dan jangan pernah bilang kamu tidak apa-apa, aku tahu kamu selalu menahan sakit." Sahut Diva menurunkan tangan Kenan yang berada di pipinya.
"Aku seperti ini benar-benar karena aku hanya kelelahan saja, karena tadi kita berjalan kaki cukup jauh. mengerti !" Lanjut Diva sedikit kesal karena selalu saja Kenan terlihat baik-baik saja di depannya, dan sedikit-sedikit selalu saja menyalahkan dirinya.
"Tapi, itu semua benar kan ? Aku hanya bisa menyusahkan kalian, dan membuat kalian khawatir." Ucap Kenan menatap langit-langit ruangan.
"Lan, tolong antarkan aku pulang ke apartemen, lebih baik aku pulang, daripada harus selalu berjuang sendiri, terus menyemangati orang yang sama sekali tidak memiliki semangat untuk dirinya sendiri, dan juga sok-sokan kuat." Ucap Diva mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Tapi Div.....
"Tidak Lan, aku capek, dia selalu saja seperti itu, aku merasa tidak ada gunanya tau nggak ? Dia selalu saja menyalahkan dirinya, jika terjadi sesuatu padaku, aku tau dia selama ini selalu menahan sakit, tapi tidak mau pernah cerita, alasannya tidak mau merepotkan dan membuat kami bersedih, lalu apa gunanya aku sebagai istrinya, jika dia tidak mau berbagi, bukannya dalam pernikahan itu harus tetap bersama dan berbagi dalam suka maupun duka." Ucap Diva terisak sesekali ia menghapus air matanya kasar.
"Yank, maksud aku nggak seperti itu." Sahut Kenan.
"Terus maksud kamu apa ? Apa kamu pikir bahwa selama ini aku selalu memergokimu di tengah malam kamu terbangun dan menjauh dariku, karena kamu tidak mau ketahuan saat kamu menahan sakit, sampai-sampai kamu mengeluarkan air mata saking sakitnya. Asalkan kamu tahu saat kamu bersembunyi seperti itu, aku merasa kalau kamu tidak benar-benar tidak menganggapku dan aku sebagai istri merasa kecewa, karena suamiku tidak mempercayaiku untuk tetap setia di sisinya, di kala ia sakit maupun sehat. Aku sangat kecewa kepadamu by'." Setelah mengatakan semua yang ia rasakan Diva beranjak dari kursi rodanya, berjalan meninggalkan ruangan tersebut, dengan jalan tertatih.
"Biar aku yang mengejarnya Tante !" Ujar Lani kemudian keluar dari ruangan tersebut sambil membawa kursi roda Diva.
"Aku juga ikut menyusul mereka." Sahut Ray kemudian mengejar Lani.
Sedangkan Ayah Salman yang melihat kepergian Diva, hanya bisa terdiam, karena yang dikatakan menantunya itu sangat benar.
Kenan yang melihat kesedihan di mata istrinya merasakan sakit di hatinya, tak terasa air matanya keluar membasahi pipinya.
"Bunda apa aku salah, jika aku melakukan semua itu karena memikirkan kesedihan dan kekhawatiran kalian.?" Sahut Kenan dengan suara parau karena menangis sambil memejamkan matanya.
"Kamu nggak salah, jika kamu tidak mau melihat kami bersedih, apa lagi dengan istrimu, tapi apa kamu sudah puas melihatnya seperti itu, dia seperti itu karena dia sayang sama kamu, dia selalu bersikap tegar di hadapanmu, karena ia ingin memberimu semangat untuk berjuang, supaya kamu tetap bisa berada di samping mereka nanti." Ucap Bunda Vivian lembut.
"Dan satu lagi jangan pernah berpikir kamu membuat kami kerepotan." Tambah Bunda Vivian mengusap lengan putranya itu.
"Terus apa yang kamu dapat dengan kamu berpura-pura kuat ? Tidak ada, kamu hanya menambah rasa sakit kamu, hingga kamu sampai drop seperti ini, Kamu juga harus memikirkan jika ada calon anak kalian yang masih membutuhkan kedua orangtuanya nanti !" Ayah Salman ikut menimpali pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Kami akan menyusulnya, takut terjadi apa-apa dengannya, dan Ayah minta kamu memikirkan semua yang istri kamu dan kami katakan ! Besok kami akan kesini lagi, biar Ray yang akan menemanimu di sini nanti." Ucap Ayah Salman sambil menepuk lengan putranya itu.
"Ayo Bun !" Ajak Ayah Salman kepada istrinya.
Setelah kepergian orangtuanya, Kenan tampak memikirkan keadaan Diva sekarang, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu, apalagi saat ini keadaan Diva sedang tidak dalam baik-baik saja.
"Maafkan aku Yank... Maafkan aku..." Gumam Kenan memejamkan matanya, dan tanpa sadar air matanya kembali membasahi wajahnya, dia teringat dengan semua perkataan Diva tadi.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian dan jika ada saran dan kritik segera berikan di kolom komentar. LIKE, COMENT, VOTE FAVORIT, DAN BINTANGNYA....
Yuk mampir juga ke cerita kedua aku KINARA'S LOVE JOURNEY, di sini menceritakan perjalanan kehidupan rumahtangga yang penuh dengan kesederhanaan jauh dari kata CEO, seperti biasanya.
Terimakasih sebelumnya 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️