
Terlihat Kenan sedang berada di cafe bersama Disti sedang mengobrol, Disti terus saja memperhatikan Kenan menandatangani sebuah dokumen diakhir obrolan mereka.
Flashback On
Kenan sedang mengendarai mobilnya, namun tiba-tiba ponselnya berdering dari klaiyen.
Saat Kenan mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas dasboard tiba-tiba saja ponselnya terjatuh di dekat pedal gas, Kenan membukukan badannya sambil sesekali melihat arah jalan.
Setelah berhasil mengambil ponselnya disaat bersamaan seorang wanita menyebrang begitu saja didepan mobilnya, jadilah Kenan menabrak wanita itu.
Kenan segera keluar dari mobilnya untuk melihat orang yang ia tabrak.
" Maaf, saya tidak sengaja, apa Anda baik-baik saja. " Ujar Kenan ikut berjongkok didepan wanita itu.
Kenan tidak dapat melihat wajah wanita itu, karena wanita itu tertunduk merapikan pakaiannya yang sedikit kotor kemudian merapikan berkas-berkasnya yang berantakan.
" Iya, tidak apa-ap..." Ucapan wanita itu terhenti saat Kenan berada di depannya.
" Pak Kenan. " Sahut Disti menaikkan kedua alisnya.
Wanita yang ditabrak Kenan ialah Disti.
" Maaf tadi saya kurang konsentrasi, apa Anda baik-baik saja ?" Sesal Kenan dan kembali menanyakan keadaan Disti.
" Tidak apa-apa pak, saya baik-baik saja, Anda tidak sepenuhnya salah, saya juga menyebrangnya tidak hati-hati, tidak memperhatikan sekitar dulu. " Sahut Disti kemudian mencoba untuk berdiri.
" Isshh...Auwww...." Ringis Disti, Kenan pun refleks menahan lengan Disti yang hampir saja jatuh saat mencoba untuk berdiri.
" Mari biar saya bantu. " Ujar Kenan menuntun Disti duduk disalah satu bangku milik warung kelontong yang berada dipinggir jalan.
Kenan memberikan air minum, yang ia beli diwarung tersebut.
" Apa perlu ke Dokter ?" Tanya Kenan berdiri didepan Disti.
" Tidak usah pak, ini hanya terkilir dikit, kalau diurut juga sembuh. " Sahut Disti.
" Anda mau kemana biar saya yang antar. " Ujarnya.
" Tadi saya rencana mau kekantor Anda, tapi tiba-tiba mobil saya mogok, pas saya mau nyebrang untuk nyari taksi, saat itu juga mobil Anda lewat.
" Astagfirullah, saya sampai lupa kalau hari ini kita memang ada janji.
" Bagaimana kalau Anda ikut saya saja kecafe dekat sini, saya ada janji ketemu klaiyen disana. " Ajak Kenan.
" Apa tidak apa-apa, katanya Anda mau menemui klaiyen kan ?" Sahut Disti.
" Tidak apa-apa sekalian kita bicarakan soal kontrak kerjasamanya, Anda bawah kelengkapan berkasnya kan ?" Jawab Kenan kemudian bertanya.
" Tapi saya tidak punya kopiannya Pak. " Ujar Disti.
" Tidak apa-apa, nanti anda kirim aja lewat E-mail. " Sahut Kenan kemudian berjalan menuju mobilnya di ikuti Disti.
Disti merasa sangat senang bisa sedekat ini dengan Kenan, Disti sudah menaruh hati terhadap Kenan, ia berniat untuk mendekatinya.
Setelah lima belas menit, mereka sampai disebuah Cafe yang cukup besar.
Kenan dan Disti tampak jalan beriringan.
Disti masih tampak sedikit pincang.
Kenan dan Disti pun sampai dimeja nomor.9 dimeja tersebut, pak Yuda klaiyen Kenan dan sekertarisnya itu sudah berada dimeja tersebut.
" Maaf saya terlambat pak Yuda, tadi sedikit ada kendala saat dijalan. " Ucap Kenan saat sudah berada dimeja tersebut sambil mengulurkan tangannya.
" Iya, tidak masalah pak Kenan. " Sahut pak Yuda ikut berdiri begitupun sekertarisnya, menerima uluran tangan Kenan.
" Kenalkan pak, dia istri sekaligus sekertaris saya. " Pak Yuda memperkenalkan wanita yang ada disampingnya.
Kenan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan istri sekaligus sekertaris pak Yuda.
" Dia sekertarisnya pak ?" Tanya pak Yuda melihat kearah Disti.
" Bukan pak, dia partner kerja saya juga, tadi kami ketemu dijalan sedikit ada insiden. " Terang Kenan.
Setelah mereka duduk tak lama pelayanan datang untuk mengantar pesanan yang pak Yuda pesan terlebih dahulu.
" Maaf Pak, kami tidak bisa hadir, waktu acara bapak dikota Z. " sesal pak Yuda.
" Tidak apa-apa pak, cukup doakan saja yang terbaik buat kami. " Jawab Kenan.
Disti tampak berpikir.
" Acara apa yang dimaksud mereka, sepertinya acara itu sangat penting buat Kenan, sehingga minta doa yang terbaik. "
" Apa dia sudah buka outlet juga disana. " Batin Disti.
Kenan dan Pak Yuda membahas soal kerjasama mereka, soal pembangunan outlet Kenan di salah satu Daerah dikota Xx, di akhiri dengan tanda tangan mereka masing-masing, yang sudah disiapkan sekertaris pak Yuda, begitupun berkas yang dibawa Kenan.
Tinggallah Kenan dan Disti, dimeja tersebut, Kenan buru-buru membahas soal kerjasamanya dengan Disti, karena ia sudah merasa risih selalu diperhatikan oleh klaiyennya itu.
Kenan pun merasa kalau Disti, sedikit menaru hati kepadanya.
Flashback off
Setelah Kenan menyelesaikan tanda tangan dibeberapa lembar berkas ia segera bergegas untuk pergi.
" Maaf, saya tidak bisa mengantarkan Anda untuk pulang, karena saya buru-buru, saya ada keperluan lain. " Sahut Kenan.
" Iya tidak apa-apa Pak, terimakasih atas kerjasamanya. " Jawab Disti.
"Apa perlu saya pesankan taksi ?" Tanya Kenan.
" Tidak perlu pak, nanti biar teman saya yang jemput kesini. " Jawab Disti menolak tawaran Kenan.
" Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. " Ujar Kenan dan meninggalkan tempat itu.
Disti terus memperhatikan punggung Kenan yang semakin menjauh.
" Gue harus bisa dapetin hatinya. " Gumam Disti tersenyum yang susah untuk diartikan.
Tiga hari kemudian, Terlihat Ray berada dikantor Kenan, setelah pulang sekolah tadi, Ray minta untuk ikut ke office, setelah perdebatan panjang akhirnya Kenan mengijinkannya ikut.
Bukan Kenan tidak mengizinkan Sahabatnya itu ikut, tapi Kenan tidak bisa bekerja dengan benar, karna Ray selalu saja merocokinya dengan masalahnya dengan Lani.
Kenan juga merasa jengkel kepada Lani, kenapa harus seperti itu, bukannya kalau ada masalah harus dibicarakan dengan baik-baik, pikir kenan.
Ray terlihat sangat tidak bersemangat, selama seminggu terakhir Ray terus saja memikirkan Lani.
Kenan sudah merasa sangat jengah melihat kelakuan sahabatnya itu, yang sudah menjadi bucin.
Tak jarang Ray merengek kepadanya seperti bocah yang minta dibelikan permen.
Ray selalu meminta Kenan untuk menanyakan keadaan Lani kepada Diva, namun jawaban Diva selalu sama, kalau Lani benar baik-baik saja, sampai Diva mengirim foto Lani saat mereka berada ditaman.
" Nan, kalau Lani baik-baik saja, tapi kenapa setiap kali gue hubungi nomornya tidak pernah aktif dari lima hari yang lalu. " Sahut terlihat sangat frustasi.
" Kenapa elu tanyanya kegue ?" Sahut Kenan tetap fokus terhadap pekerjaannya.
" Gue mau minta izin disekolah besok, gue mau susul Lani. " Ujar Ray menatap sahabatnya itu yang sibuk dengan laptop didepannya.
" Terserah, dasar BUCIN. " Sahut Kenan menekankan kata terakhirnya.
" Tapi apa kamu akan diberi izin. ?" Tanya Kenan.
" Elu lupa siapa pemilik yayasan sekolah kita." Jawab Ray menyombongkan diri.
" Iya, sorry gue lupa, gue kira elu anak jalanan." Ejek Kenan dengan mimik muka tetap datar, seolah dia tak bersalah.
" Ka***t lu. " Kesal Ray sambil melampar bantal sofa kearah sahabat laknatnya itu.
" Tapi gue mau tinggal dirumah elu. " Ujarnya.
" Terserah, elu mau tinggal dipinggir jalan sekalian gue juga nggak peduli. " Sahut Kenan acuh.
" Gini amat gue punya sahabat, untung sahabat lu, kalau kagak, sudah gue lempar lu kejurang. " Kesal Ray.
" Bay the way, memangnya elu kagak mau ikut. ?" Ujar Ray lalu pindah kekursi depan meja kerja Kenan.
" Gue sudah tidak bisa lagi dikasih izin, izin gue sudah terlalu banyak. " Sahut Kenan.
" Biar gue yang urus. " Ucap Ray.
" Percuma, itu sudah keputusan dari kepala yayasan. " Ujar Kenan
" Mau Kemana ?" Tanya Ray, saat melihat Kenan menutup laptopnya dan beranjak keluar dari ruangannya.
" Gue mau pulang, kalau elu mau tinggal disini, juga tidak apa-apa. " Jawab Kenan dengan wajah datar sambil meninggalkan ruangannya meninggalkan sahabatnya itu.
" Begini nih, punya sahabat kek gitu banget. " Gumam Ray ikut meninggalkan ruangan Kenan.
Bersambung....
Jangan lupa
Like
Coment
Vote
🤗🤗🤗🙏🙏🙏