Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 08 Season 3 (Next Generatoin )


Hari ini hari dimana Khay maupun Enzy melepaskan masa lajangnya, walaupun hanya dihadiri keluarga terdekat dan sahabat-sahabat dari Diva dan Kenan, tapi Kenan tetap memberikan kesan mewah pada pernikahan putra sulungnya, ia mendekorasi rumahnya layaknya gedung pernikahan mewah, walaupun jika terlihat dari luar seolah tak terjadi pernikahan di dalam karena tak ada dekorasi sedikitpun.


Khay terus saja mondar-mandir seperti setrikaan, membuat Raydan dan si kembar jengah melihatnya.


"Khay, tenang kenapa !" Seru Raydan.


"Iya kamu kenapa sih kek gelisah gitu, mikirin malam pertama lu ya ?" Timpal Rendra dan langsung mendapatkan geplakan dari Khay.


"Bukan itu, otak aja lu kagak beres ! Gue seperti ini grogi tau enggak." Kesal Khay.


"Ya sudahlah, dibawah santai aja !" Ucap Nendra enteng.


"Santai-santai palamu ! Bukan kamu sih diposisi gue, kalau gue salah sebut nama bagaimana ? Yang ada gue kagak jadi nikah, dan bakal di gebukin sama bunda." Ucap Khay.


"Salah sebut gimana maksud kamu, emang kamu ada pacar, setau gue, kamu enggak pernah betah sama pacar-pacar kamu, kecuali si...."


"Sekali lagi kamu ngomong, gue sumpal tu mulut !" Khay menyela ucapan Rendra, kemudian merapikan kembali jas yang ia gunakan.


...----------------...


Sementara dikamar sebelah, Enzy menatap dirinya di cermin yang terlihat sudah sangat cantik dengan gaun berwarna putih. Matanya kembali berkaca-kaca ketika mengingat mendiang kedua orangtuanya, ia tak menyangka akan menikah di usianya yang masih terbilang muda, apalagi ia harus menikahi seorang pria yang belum tentu bisa menerimanya dengan tulus, karena Enzy yakin Khay menerimanya hanya kerena ingin memenuhi keinginan almarhum papanya, begitupun Enzy yang masih belum bisa mencintai dan menerima Khay sepenuhnya sebagai suaminya nanti.


"Sayang, apa kamu sudah siap ? Khay sudah menunggu dibawah." Ucap Diva yang masuk ke kamar bersama Lani dan Kiki sedangkan Jova tak sempat hadir karena ada halangan.


"Sudah Bun." Sahut Enzy sedikit senyum diwajah cantiknya.


"Kamu cantik banget dengan gaun ini sayang, kamu sangat mirip dengan mendiang mamamu." Ujar Kiki mengagumi kecantikan yang dimiliki Enzy.


"Iya, kamu benar-benar cantik, Khay benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti kamu, sudah cantik, baik lagi." Timpal Lani ikut memuji Enzy, membuat Enzy tersipu malu karena pujian dari para tante-tante nya.


"Aku yakin, Khay bakal enggak kedip liat kamu." Ucap Lani lagi.


Setelah mendapatkan banyak pujian, Enzy pun dibawa keluar dan langsung menuju ke tempat ijab Qabul yang sudah di dekor se indah mungkin.


Khay yang melihat Enzy menuruni tangga sampai tak berkedip melihat wajah cantik Enzy walau meke Upnya hanya make up tipis, tapi hal itu membuat aura Enzy semakin keluar.


"Bang, kedip bang..." Bisik Kia melihat kakaknya itu sampai tak berkedip.


Khay pun kembali menetralkan ekspresi nya, ia berusaha setenang mungkin, agar tak gugup mengucapkan ijab qobul nanti.


Enzy duduk di kursi samping Khay, sedangkan sisi kanan dan kirinya ada pak Fikram sebagai saksi pernikahan mereka, dan seorang penghulu dan wali hakim yang duduk di depan kedua mempelai.


"Apa sudah siap ?" Tanya pak penghulu.


"Sudah pak." Jawab Khay.


Pak penghulu pun memulai ijab qobul nya, dan mempersilakan wali hakimnya untuk membacakan ijab qobul nya.


"Saya terimah nikah dan kawinnya Quensya Paradigta Malik, Binti almarhum Rafa Rahardian Malik, dengan emas kawin satu set berlian 20 krat, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Khay dengan lantang satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi ?" Tanya pak penghulu.


"Sah...


"Sah.... Jawab pak Salman dan pak Fikram sebagai saksi kedua mempelai, di ikuti Yang lainnya yang ada disana.


"Silahkan cincinnya di pakaikan, setelah itu mempelai wanitanya mencium tangan mempelai laki-laki, dan mempelai laki-laki mencium kening mempelai wanitanya, sebagai tanda bakti seorang istri dan tanda kasih sayang dan tanggung jawab seorang suami." Seru pak penghulu.


Keduanya saling memakaikan cincin pernikahan mereka di jari manis masing-masing, setelah itu Enzy mencium punggung tangan Khay, seprti kata penghulu Khay pun membalas mencium kening Enzy.


Kemudian dilanjutkan pembacaan doa untuk kedua mempelai agar selalu diberikan kebahagiaan dalam rumah tangganya, dan tentunya rumah tangga yang diridhoi Allah Subhana wa taala.


"Cieee.... Yang udah sah." Goda Raydan.


"Yang sudah enggak lajang lagi, kemana-mana ada yang digandeng." Tipal Kia.


"Bukannya Khay emang selalu ada yang digandeng." Sahut Nendra dan langsung mendapat tatapan tajam dari Khay.


Tapi Enzy memikirkan apa maksud perkataan Nendra barusan, apa benar Khay memiliki kekasih, apa dia menjadi pengganggu atau perusak hubungan mereka ?


"Jangan dengarkan Nendra, apa yang dikatakan itu tidak benar !" Ucap Khay sedikit berbisik, seolah ia tahu isi pikiran Enzy saat ini. Enzy hanya menggunakan kepalanya sebagai tanggapan perkataan Khay barusan.


"Khay, Enzy, sini dulu sayang!" Panggil Oma Vivian.


Khay dan Enzy berjalan menghampiri omanya itu, dan duduk di sampingnya.


"Sekarang kamu bukan lagi lajang, kamu harus bisa bertanggungjawab dan menjaga istri kamu !" Seru bunda Vivian.


"Iya Oma, aku tahu itu." Sahut Khay.


"Jangan cuma bilang tahu, tapi kamu harus membuktikannya, jangan pernah menyakiti hati istri kamu, jika kamu ingin mendapat kebahagiaan." Ucap Oma menasehati.


"Dan untuk kamu nak, kamu harus selalu menghormati suami kamu, jika ia berbuat salah kamu juga harus mengingatkan untuk kembali kejalan yang benar." Lanjut Oma kepada Enzy.


"Iya Oma, tolong doakan aku agar aku bisa menjadi istri yang baik." Sahut Enzy.


"Itu pasti sayang." Sahut Oma Vivian tersenyum lalu menarik Enzy kedalam pelukannya.


"Mulai sekarang, kamu lanjutkan hidup kamu, buka lembaran baru, jangan terlalu larut dalam kesedihan, Oma bukan meminta untuk melupakan mendiang orangtua kamu nak, tapi Oma harap kamu sudah bisa mengikhlaskan mereka, mungkin saat ini mereka sudah bahagia melihat kamu dan Khay bersama." Ucap Oma Vivian.


"Iya Oma." Sahut Enzy lagi-lagi ia menagis.


"Sekarang kamu jangan terlalu banyak menangis, kamu hanya akan menagis, tangisan haru, bukan lagi tangisan kesedihan."


"Kamu Khay, jangan pernah membuat istri kamu mengeluarkan air matanya, jika itu bukan karena kebahagiaan, jika itu terjadi maka Oma akan memberi mu pelajaran." Ancam Oma Vivian.


"Iya Oma." Sahut Khay.


...----------------...


Setelah acara selesai, para tamu undangan yang datang sudah pulang kerumah masing-masing, kini tinggallah keluarga besar Kenan.


"Yah, Bun, semuanya, ada hal penting yang ingin kami sampaikan." Ucap Khay.


"Ada apa bang ?" Tanya Kenan.


"Yah, kami berencana akan tinggal di apartemen." Sahut Khay.


"Tapi kenapa harus tinggal di apartemen bang, kalian bisa tinggal disini, bunda tidak ingin kalian jauh dari kami." Protes Diva.


"Bun, bukannya kami mau jauh dari kalian, tapi kami ingin berusaha mandiri, dan satu lagi kami ingin saling mengenal lebih lagi, kalian tahu sendirikan, kalau kami tak begitu akrab." Jelas Khay.


"Ya sudah kalau itu keputusan kalian." Sahut Kenan.


"By, kenapa kamu ngijinin mereka sih ?" Diva terlihat kesal kepada suaminya.


"Yank, aku ngerti dengan mereka, dan ini bisa menjadi pembelajaran buat Khay agar bisa bertanggungjawab dengan keluarganya kelak." Terang Kenan.


"Tapi enggak harus tinggal di apartemen juga by'." Geram Diva masih belum menerima kalau anak dan menantunya tinggal di apartemen.


"Bun, aku janji bakal sering main kesini, lagian aku akan tinggal di apartemen, yang tak jauh dari rumah." Ucap Khay meyakinkan Bundanya.


"Tapi.....


"Bun, ini juga kemauan aku, aku ingin lebih mengenal Khay lebih dalam lagi, aku harap bunda mengizinkan kami untuk tinggal di apartemen." Sahut Enzy.


"Tapi sayang, kalian ini masih muda, kalian masih butuh perhatian dari kami, apalagi kalian baru saja menikah." Ucap Diva.


"Bun, percaya sama kami." Sahut Khay.


"Sudahlah Div, jika itu sudah menjadi keputusan mereka, kamu tidak boleh menghalangi, ayah juga sebenarnya setuju jika saat ini mereka tinggal di apartemen, untuk saling mengenal dan belajar bagaimana hidup berumah tangga." Timpal pak Fikram dan di angguki setuju oleh pak Salman.


"Ya sudah, jika itu sudah menjadi keputusan mutlak kalian, tapi kalian harus janji, kalian harus selalu rukun, jika ada masalah bicarakan baik-baik, dan satu lagi sering-seringlah berkunjung kemari." Akhirnya Diva mengalah dan merelakan anak dan mantunya tinggal di apartemen.


Bersambung....


Like


Komen


Vote


Beri hadiah.


Untuk visul, coba berikan saran kalian, tuliskan di kolom komentar.


Khamsahamida...🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️