
Semua persiapan telah rampung 100 %, para tamu undangan sudah pada berdatangan memenuhi ballroom yang cukup luas dan megah, beberapa kolega dari Kenan, Kavi, maupun Khay telah berkumpul berbincang mengenai perusahaan masing-masing, sambil menunggu inti acara pagi ini, yaitu ijab qobul.
Sejak tiga puluh menit yang lalu Kavi sudah duduk di depan meja yang telah di dekor sebagai tempat ijab qobul, di depannya sudah ada Kenan sudah ada pak wali kota Xx bersama opa Salman, sebagai saksi, sedangkan di sebelah kiri juga sudah ada opa Fikram bersama pak wakil gubernur juga selaku saksi.
Kavi terlihah sangat gugup, ini adalah pengalaman kedua baginya, namun tetap saja masih gugup, apalagi saat Kenan menatanya datar. Keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya, berkali-kali ia mengusapnya menggunakan sapu tangan miliknya.
Tak lama mempelai wanitanya keluar dengan di apik oleh Diva juga Enzy, dibelakang di ikuti para sahabat Diva tanpa terkecuali.
Kavi bahkan tak berkedip saat melihat penampilan calon istrinya dengan kebaya putih gading yang pas di tubuhnya, membuat penampilan Kia tambah lebih dewasa dan juga anggun.
"Ekkmmm...." Kenan berdehem menyadarkan Kavi yang sejak tadi mengagumi kecantikan Kia, bahkan tanpa Kavi sadari Kia sudah duduk di sampingnya.
"Maaf..." Sesal Kavi sedikit menundukkan wajahnya.
"Baiklah, karena kedua mempelai sudah berada di tempat alangkah lebih baik jika acaranya segera dimulai." Ucap pak penghulu.
"Baik pak, silahkan." Sahut Kenan dan di setujui para saksi.
Pak penghulu sedikit memperbaiki posisi duduknya, juga jas yang ia gunakan, kemudian menatap kedua mempelai secara bergantian.
"Saudara Kavindra Gayland, apa sudah siap, apakah pernikahan ini atas dasar keinginan sendiri tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak lain ?" Tanya pak penghulu terlebih dahulu.
"Insyaallah saya siap pak, tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak manapun." Jawab Kavi tegas.
"Alhamdulillah." Ucap pak penghulu kemudian beralih pada Kia.
"Saudari Azkia Deolina Al Fariziq, apa saudari sudah siap lahir batin, tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak manapun ?" Pak penghulu menanyakan pertanyaan yang sama seperti Kavi.
Kia menarik nafas kemudian menjawab.
"Insyaallah saya siap lahir batin, tanpa adanya tekanan atau paksaan manapun." Jawab Kia mantap.
"Alhamdulillah, karena kedua mempelai sama-sama sudah siap, mari kita memulai pelafalan ijabnya." Ujar pak penghulu.
"Silahkan Tuan Kenan !" Pak penghulu mempersilahkan Kenan selaku orangtua atau sekaligus wali untuk Kia putrinya.
Kenan mengangguk mengulurkan tangannya kepada Kavi, dalam hati Kenan sedikit merasa sedih karena dalam hitungan detik kedepan putrinya akan menjadi tanggung jawab pria lain. Mata Kenan berkaca-kaca saat menatap putri satu-satunya itu, bergantian dengan Kavi.
"Pak penghulu, maaf sebelumnya, apa saya bisa menyampaikan sesuatu sebelum pelafalan ijab ?" Tanya Kenan melepaskan jabatan tangannya dengan Kavi, kemudian beralih menatap pak penghulu.
"Silahkan !" Sahut pak penghulu.
Kenan kembali menatap Kavi dan Kia bergantian, sebelum angkat bicara lagi-lagi Kenan menarik nafas dalam-dalam.
"Azkia putriku, kesayanganku, cintaku, ayah harap setelah kamu menjadi nyonya di kediaman suamimu kelak, ayah harap kamu tak pernah lupa kalau kamu masih putri kecil di rumah orangtuamu, baik, ayah, bunda, juga Abang, dan semua keluarga kita, sangat menyayangimu, putri kecil kami." Mata Kenan mulai berkaca-kaca, bahkan suaranya juga mulai serak menahan tangisnya.
"Tetaplah bahagia, dan jadilah istri dan ibu yang baik buat keluargamu kelak, dan satu lagi patuhilah suamimu, karena surga istri juga berada pada suaminya." Lanjut Kenan. Kia yang mendengar semua perkataan ayahnya tak bisa menahan tangisnya.
Kenan kemudian beralih pada Kavi.
"Kav, saya sudah sangat mengenal dirimu, karena kamu juga salah satu sahabat saya, atau bisa dibilang saudara saya, yang sebentar lagi kamu menjadi menantuku, suami dari putri kecilku yang selama ini saya jaga dengan sangat baik, bahkan menyayangi nya, jadi saya minta dengan sangat, sayangilah, cintailah dia sebagaimana kami memperlakukannya." Ucap Kenan menatap pria yang sebentar lagi menjadi suami putrinya.
"Kav, mungkin kamu sudah bosan dengan apa yang saya sampaikan ini, tapi tidak ada salahnya jika saya kembali mengingatkanmu." Kenan sedikit menjeda ucapannya.
"Saya percaya padamu untuk menjaganya, tapi, jika suatu saat kamu telah bosan atau tidak menyayanginya lagi, atau sudah jenuh bersamanya, saya harap jangan pernah menyakiti atau mengkhianatinya, lebih baik kamu kembalikan dia padaku sebagaimana kamu memintanya dulu." Lanjutnya.
"Ayah tidak perlu khawatir, dan do'akan kami untuk tetap selalu dijalan kebaikan dalam membina rumah tangga kami kelak, menjadi keluarga sakinah mawadah dan warahmah, di saat aku telah bertekad untuk membina hubungan dengan Kia, di saat itu pula aku memantapkan hati untuk tetap bersama dengan Kia untuk selamanya, Ayah sekaligus sahabat baikku, aku berjanji akan tetap selalu menjaga, menyayanginya, mencintainya, pokoknya bertanggungjawab atas semuanya." Ucap Kavi serius dan tulus dari hatinya.
"Baiklah saya pegang janjimu." Sahut Kenan mengelap wajahnya menggunakan sapu tangan miliknya.
"Pak silahkan kembali dimulai." Seru Kenan pada pak penghulu, dan langsung di angguki.
Sekarang Kenan kembali menjabat tangan Kavi, dan mulai melafalkan ijab sebagai wali nikah atas putrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Kavindra Gayland bin Ruth Gayland saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Azkia Deolina Al Fariziq binti Kenan Al Fariziq dengan emas kawin berlian 20 krat, dan sebuah rumah lengkap dengan segala isinya, beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Kenan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Azkia Deolina Al Fariziq binti Kenan Al Fariziq dengan emas kawin di atas dibayar tunai." Ucap Kavi lantang dengan satu kali tarikan nafas.
"Sahhh...." Seru para saksi dan di ikuti semua tamu undangan.
"Alhamdulillah."Kemudi semuanya mengucapkan Puji syukur kepada Allah SWT.
Dan dilanjutkan penandatanganan administrasi pernikahan atas dasar hukum yang berlaku, yang dilakukan oleh kedua mempelai.
"Baiklah sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami-istri, semoga kalian menjadi pasangan yang diridhoi dan di berkahi oleh Allah, jadilah keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." Ucap pak penghulu.
"Baiklah sekarang kedua mempelai boleh memasangkan cincin masing-masing dan setelah itu mempelai wanita mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda bakti dan hormatnya, dan setelahnya mempelai pria balas mencium kening sang istri sebagai bukti cinta dan tanggung jawabnya terhadap sang istri." Lanjut pak penghulu.
Keduanya meulai saling memasangkan cincin pernikahan dimasing-masing jari manis, dimulai dari Kavi kemudian Kia, setelah itu Kia mencium punggung tangan sang suami, lalu dilanjutkan Kavi mencium kening sang istri sebagaimana seruan pak penghulu.
Setelah acara ijab Qobul, Kavi dan Kia melanjutkan acara sungkeman pada seluruh keluarga baik dari pihak Kavi maupun pihak keluarga Kia, Dilanjutkan acara resepsi siang, karena sudah banyak dari kolega bisnis dari kedua pihak yang berdatangan, bukan hanya dari kalangan pengusaha, tapi dari pejabat, aktris dan aktor pun banyak yang hadir.
"Kenapa ?" Tanya Kavi melihat Kia sedikit lemes. Keduanya sudah duduk di pelaminan.
"Sedikit capek, nih di atas kepala berat banget." Keluh Kia.
"Ya sudah di copot aja !" Seru Kavi.
"Masa di copot sih, nanti yang ada semuanya berantakan." Ucap Kia.
"Kalau gitu istirahat aja dulu ! Aku antar ya." Ucap Kavi khawatir.
"Gak enak, masih banyak tamu juga, aku masih bisa tahan kok." Tolak Kia.
"Tapi jangan sampai kamu kelelahan, dan jatuh sakit nanti, entar malam masih ada acara loh." Ucap Kavi memegang tangan gadis yang kini menjadi istrinya.
"Gak apa-apa kok, lagian sebelum acara nanti malam, masih ada waktu buat istirahat kok." Kia masih tetap pada pendiriannya untuk tidak istirahat seperti perkataa Kavi.
"Ya sudah, tapi kalau udah gak bisa tahan bilang ya !" Kavi mengala, kemudian di jawab anggukan pelan dari Kia.
Bersambung......
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...