
Setelah menjalankan beberapa rangkaian terapi untuk melatih sel motorik- motorik Kenan yang kaku pasca koma, Kenan juga menjalani serangkaian pengobatan untuk mengembalikan suaranya. Berbeda hari-hari biasanya Kenan tampak bersemangat melakukan terapinya, tapi hari ini dia tampak murung, semenjak memasuki ruangan dokter.
"Kamu kenapa by'" Tanya Diva setelah mereka keluar dari ruangan dokter, ia merasa ada yang sedang di pikirkan suaminya itu, karena dari tadi Kenan hanya diam dengan tatapan datar.
Kenan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum yang terkesan ia paksakan.
"By aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan sekarang, asalkan kamu tahu by', bagaimana pun keadaan kamu aku akan selalu di sampingmu, jangan pernah berpikir untuk merendahkan dirimu." Ujar Diva masih mendorong kursi roda Kenan menuju lobi.
Kenan hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Diva barusan.
"By', terapi selanjutnya aku tidak mau melihat kamu tak bersemangat seperti tadi, aku tahu mood kamu seketika down saat aku mengobrol dengan Dafa, kan?" Ucap Diva dan lagi-lagi Kenan mengangguk.
"Posesif...!" Seru Diva membuat Kenan mendongak kebelakang menatap istrinya itu.
"Emang benerkan kamu posesif." Ucap Diva acuh sambil memajukan bibirnya bawah nya tanpa menghiraukan tatapan tajam suami posesifnya itu, tapi dalam hatinya ia sudah bahagia karena Kenan tidak lagi murung sepelti tadi, dan sudah mulai kembali posesif seperti dulu.
Setibanya di lobi, Diva menelfon pak Toni dan mengatakan kalau dirinya dan Kenan sudah menunggu di lobi.
Tak lama mobil yang dikendarai pak Toni berhenti tepat di depan kedua majikannya itu, pak Toni membantu Kenan masuk kedalam mobil, setelah Kenan dan Diva berada di dalam mobil pak Toni masukkan kursi roda milik Kenan ke bagasi mobil, lalu ikut masuk kemudian menjalankan mobilnya menuju kesalah satu supermarket yang tak jauh dari rumah sakit.
🍀🍀🍀
"By kamu mau tunggu di mobil atau ikut masuk ?" Tanya Diva setelah mobil mereka tiba di depan supermarket.
Kenan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan istrinya itu, Diva pun meraih tangan Kenan lalu pamit untuk segera masuk untuk membeli beberapa perlengkapan dedek Kia.
"Aku masuk ya by', aku janji enggak akan lama." Ucap Diva lagi saat sudah turun dari mobil dan di angguki Kenan.
Diva tampak sibuk memilih-milih perlengkapan untuk anak-anaknya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Diva kaget dan tak sengaja menjatuhkan beberapa barang dari rak-raknya.
"Lani...!" Seru Diva sedikit kesal saat melihat orang yang mengagetkannya tak lain dan tak bukan adalah Sahabatnya.
"Napa tuh muka, lepek amat.." Goda Lani menoel dagu Diva, namun Diva buru-buru menghempas tangan sahabatnya itu.
"Ngapain lu disini ?" Tanya Diva kesal, lalu kembali memasukkan barang yang ia inginkan di strolernya.
"Mau makan, ya belanja lah perasaan ini masih tempat belanja ia kan ?" Canda Lani.
"Jauh amat lu belanjanya ?" Tanya Diva karena sekarang swalayan yang di kunjungi sekarang memang cukup jauh dari kediaman Lani dan Ray.
"Iya, tadinya kita mau kerumah lu, tapi si kembar minta di beliin cemilan dulu, kebetulan lewat sini ya kita mampir lah." Jelas Lani.
"Lah terus si kembar mana ?" Tanya Diva lagi.
"Mereka ada di mobil lu, tadi pas mau masuk kesini, Ray tidak sengaja melihat mobil kamu, dan juga ada Kenan, makanya ia putuskan untuk tidak ikut masuk." Jelas Lani panjang lebar dan di jawab Diva hanya ber oh ria saja, membuat Lani mendengus kesal.
Kedua ibu muda itupun menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka, saat tiba di kasir keduanya lagi-lagi bertemu dengan Dafa.
"Dafa...
"Kalian...." Seru Diva dan Dafa hampir bersamaan, sedangkan Lani hanya diam melotot melihat pria yang saat ini ada dihadapannya, pasalnya Lani memang belum pernah bertemu dengan Dafa setelah mereka lulus sekolah.
"Dafa, Dafa teman sekolah kita dulu kan, yang terus ngejar-ngejar elu kan Div, dia Dafa urakan itu kan, kok beda banget ??" Lani mengoceh terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Dafa sedikit kesal.
"Kagak usah ngomong urakan juga kali Lan." Kesal Dafa sambil menarik pelan rambut panjang Lani yang saat ini ia urai.
"Masalahnya gue specles gitu Daf, sumpah elo beda banget deh sekarang, kalau aja gue belum punya laki sama anak gue sumpah bakal ngebet elu." Oceh Lani ngasal.
"Omongannya di filter bu ! Jangan asal copas aja, entar kalau suami gue denger, elu mau tanggung jawab kalau dia ngambek, biarpun keadaannya seperti itu tapi sifat posesifnya tidak pernah ngilang !" Seru Diva.
"Bener tu kata Diva, emang lu kasing lu aja yang berubah tapi dalemnya kagak, tetap aja nyebelin sama pas jaman kita sekolah." Timpal Dafa.
"Eh... Daf elu belum dengar kabar sahabat kita yang dua lagi kan ?" Tanya Lani.
"Ehh... Ini jadi bayar enggak, kok malah reunian disini loh pada." Sahut Diva.
"Ehhh.... Daf, bagaimana kalau elu ikut aja ke rumahnya nyonya dari tuan Kenan, kita lanjut aja ngobrolnya disana." Ajak Lani membuat Diva melototkan matanya.
"Boleh kan Div ?" Lani beralih meminta ijin kepada Diva.
Diva terdiam sejenak, ia berpikir apakah Kenan tidak masalah jika ia mengajak Dafa, apalagi saat ini Kenan sangat sensitif dengan ke adaannya seperti itu.
"Sepertinya lain kali aja deh Lan." Ucap Dafa karena melihat Diva hanya terdiam.
"Sekarang aja Daf, mumpung gue sama laki gue ada waktu buat berkumpul." Kekeh Lani,
"Kamu jangan khawatir Diva pasti ngijinin kok." Tambah Lani lagi.
"Kamu ikut aja Daf, lagian kapan lagi kita bisa ngumpul bareng kan ?" Sahut Diva tersenyum sedikit ia paksakan, sebenarnya ia mengkhawatirkan suaminya, Diva khawatir Kenan akan marah dan salah paham.
🍀🍀🍀
Setelah membayar belanjaan mereka masing-masing, ketiganya pun jalan beriringan keluar dari swalayan, menuju dimana mobil Diva di parkir, karena Ray dan anak-anaknya ada disnaa jadi Lani ikut, sedangkan mobil Dafa kebetulan terparkir di samping mobil Diva.
Kenan yang melihat istrinya berjalan dengan Lani dan seorang pria yang tak asing baginya, setelah menajamkan matanya, dan membenarkan posisi kacamatanya, ia heran melihat pria itu ternyata adalah Dafa, pria yang pernah menyukai istrinya, dan tak bisa dipungkiri apakah perasaan Dafa masih sama, hal itu yang Kenan takutkan sekarang, ia takut Diva meninggalkan nya dengan pria lain, yang lebih sempurna darinya.
Kenan mengepalkan tangannya, melihat hal itu, dan terus menatap dengan tatapan tajam kearah Dafa, ingin rasanya ia berlari menghampiri istrinya, dan menjauhkannya dari laki-laki lain.
"Sabar bro, aku yakin itu tak seperti yang ada dipikiran mu saat ini, aku sangat mengenal istrimu itu, dia tidak akan pergi darimu." Sahut Ray yang ternyata dari tadi memperhatikan sikap Kenan.
Kenan hanya mengangguk, dan tersenyum yang sangat pria itu paksakan, hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang memerah menahan amarahnya, dan kekesalannya.
Tak lama Diva dan yang lainnya tiba di mana mobilnya berada, Diva langsung meletakkan belanjaannya di kursi bagian paling belakang dengan bantuan Ray, karena saat ini Ray masih duduk di kursi samping Kenan.
"Nan, gue minta ijin ya, Dafa gue ajak ikut kerumah elo." Ucap Lani.
Dan di angguki Kenan dengan wajah datarnya. Dan Diva sudah sangat yakin kalau saat ini suaminya sedang dalam mode cemburu.
"Tapi kalau kamu enggak ngijinin juga enggak apa-apa kok Nan, lain kali saja." Sahut Dafa.
"Dia ngijinin kok Daf, elo tenang aja !" Seru Lani lalu di angguki Kenan.
"Tuh dia ngijinin kok, By' ayo kita pindah ke mobil, ayo twins kita kemobil." Lani pun mengajak suami dan anaknya pindah ke mobil mereka, begitupun Dafa menuju mobilnya.
Selama perjalanan menuju rumah Kenan kembali murung, ia terus kepikiran Diva akan meninggalkannya.
bersambung....
Jangan lupa like, Koment, dan Vote seikhlasnya, dan semoga terhibur dengan isi ceritanya, mungkin beberapa episode lagi season 2 Nya End, dan insyaallah akan lanjut season 3 masih di lapak ini....
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️