
Kini mereka semua berkumpul di meja makan, untuk makan malam setelah tadi mereka menunaikan sholat magrib berjamaah.
Ibu Ratna terus memperhatikan Diva yang dengan telaten melayani suaminya, menyajikan makanan kedalam piring yang di inginkan suaminya itu. Ibu Ratna kagum dengan sikap Diva, walaupun dia berpenampilan seperti Lani yang jauh dari kata anggun, namun dia tetap bisa menjadi istri yang baik.
"Mudah-mudahan Lani akan bersikap seperti halnya dengan Diva, yang bisa melayani suaminya dengan baik." Bisik hati Ibu Ratna sambil tersenyum samar memperhatikan Diva.
Pak Regan yang duduk di samping istrinya itu ikut tersenyum melihatnya, karena istrinya terus memperhatikan Diva, ada kekaguman di dalam sorot mata istrinya itu.
"Bagaimana Ma, tidak selamanya perempuan yang berpenampilan urakan itu tidak bisa melayani suami dengan baik, Mama liat sendiri buktinya kan sekarang." Bisik Pak Regan.
"Iya Pa." Sahut ibu Ratna berbisik juga.
"Kenan, kamu baik-baik sajakan, kamu kelihatan kurusan sekarang?" Bunda Hani menanyakan keadaan Kenan karena ia perhatikan menantunya itu terlihat kurusan.
"Saya baik-baik aja Bun, akhir-akhir ini saya banyak kerjaan, di tambah ujian kemarin, jadi pola makan saya tidak teratur." Terang Kenan.
"Kamu juga harus memikirkan kesehatan, jangan pikirin kamu kerjaan mulu !" Sahut Pak Fikram.
"Kalau saya tidak kerja, mau di kasi makan apa anak Ayah." Ujar Kenan menatap ayah mertuanya.
"Ckk... biarpun kamu tidak kerja kami dan juga orangtua kamu masih bisa ngasih makan istrimu." Sahut Pak Fikram jengah.
"Tapi itu bukan tanggung jawab kalian, Diva istri aku, jadi dia tanggung jawab aku sekarang Yah." Ucap Kenan tak mau kalah.
Pak Fikram hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan menantunya, bukannya dia tidak senang menantunya itu bekerja keras dan tanggung jawab seperti itu, tapi dia juga tidak mau kalau Kenan tidak memikirkan kesehatannya.
"Jangan lupa Fik, menantu kamu itu anaknya siapa !" Sahut Pak Regan menimpali.
"Benar kamu Gan, buah memang tak pernah jatuh jauh dari pohonnya." Ujar Pak Fikram.
"Anak siapa dulu dong, harusnya kamu bersyukur Fik, punya menantu seperti Kenan, walaupun masih muda, tapi dia sangat bertanggung jawab." Ujar Pak Salman membanggakan anaknya.
"Sebenarnya saya sangat bersyukur, tapi kalau dia terlalu memporsir kerjaankan juga tidak baik, bisa mempengaruhi kesehatannya juga, saya tidak mau saja, anak saya jadi janda di usia muda." Ucap Pak Fikram.
Kenan yang mendengar ucapan ayah mertuanya itu, langsung tersentak kemudian beralih menatap Diva yang berada disampingnya.
Bagaimana jika ia benar-benar meninggalkan Diva, karena tidak berhasil melawan penyakitnya, Pikir Kenan.
"By' Kenapa ?" Diva menggoyangkan lengan Kenan karena terus menatapnya tampak memikirkan sesuatu.
Kenan tersentak saat Diva berbicara kepadanya, dan langsung menggeleng.
"Nggak apa-apa yank." Sahut Kenan tersenyum kepada istrinya.
Setelah selesai makan malam semua berkumpul di ruangan tengah, untuk mengobrol.
"Oh iya sayang sudah berapa bulan ?" Tanya Bunda Vivian kepada Vara saat mereka sudah berkumpul di ruang tengah.
"Sudah mau masuk 6 bulan tante." Jawab Vara tersenyum, sebenarnya Vara selalu merasa tak enak jika ada yang menanyakan kehamilannya, pasalnya dia baru menikah 5 bulan, tapi usia kandungannya sudah 6 bulan.
Arka mengusap punggung tangan istrinya itu, ia tahu bagaimana perasaan istrinya.
"Aduh Han, sebentar lagi kamu punya cucu, terus Bunda kapan Nan, Div.?" Ujar bunda Vivian, kemudian beralih bertanya kepada anak dan menantunya.
"Tunggu saja tanggal mainnya Bun, Bunda mau berapapun aku mah siap." Jawab Kenan santai, dan langsung mendapat cubitan keras di perutnya dari tangan sang istri.
"Ishh... Apa sih Yank, sakit tau !" Ringis Kenan melihat kearah Diva, dan dibalas tatapan jengah, Diva merasa malu dengan ucapan Kenan.
"Pakai malu-malu segala lu dek." Arka ikut menimpali.
"Siapa yang malu sih." Elak Diva.
"Nggak usah malu-malu gitu Yank, giliran berdua aja malu-maluin." Ucap Kenan tersenyum menyebalkan di mata Diva.
"Nan, jangan coba-coba bangunin singa yang lagi tidur, kamu mau merasakan tidur di luar lagi." Ujar Arka mengingatkan Kenan saat di suruh tidur di luar.
Kenan yang mendengar perkataan kakak iparnya, langsung memeluk pinggang Diva dari samping, kemudian tersenyum semanis mungkin kearah Diva.
"Bercanda doang yank." Ucap Kenan.
Diva tidak menghiraukan ucapan Kenan, Diva memilih diam dengan tatapan tak suka melihat suaminya yang tersenyum sok manis.
"Kalau gue nih Div, punya suami menyebalkan gitu, sudah gue suruh tidur di luar, kalau perlu sampai seminggu." Timpal Ray ikut memanas-manasi.
"Kalau itu elu, kalau Diva mah nggak tega lah, iya kan yank ?" Ujar Kenan menatap kesal kepada sahabatnya, kemudian beralih menatap Diva dengan senyum dibuat samanis mungkin.
"Tau Ahh... " Sahut Diva mangangkat kedua bahunya.
Kenan teringat kalau dia belum meminum obatnya, dan juga rasa nyeri di bagian punggung bawahnya kembali menyerang, Kenan berpamitan untuk kekamar dengan alasan ingin istirahat karena merasa lelah, setelah mendapat anggukan oleh para orangtua, Kenan segera menuju kamarnya, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, Diva terus memperhatikan Kenan, dan mengernyitkan keningnya saat melihat Kenan sedikit meringis seperti menahan rasa sakit.
Diva pun ikut pamit untuk mengikuti Kenan. Saat sampai kamar Kenan langsung duduk di sisi tempat tidur untuk sejenak, karena merasakan rasa nyeri yang teramat sangat, Kenan memejamkan matanya untuk menetralkan rasa nyerinya, beberapa saat kemudian setelah sedikit merasa lebih baik Kenan beranjak mengambil obat yang ia taruh dalam tasnya, Saat Kenan ingin meminum obatnya dia tidak sadar jika dari tadi Diva memperlihatkan nya.
"By', kamu terlihat tidak sehat, dan obat apa yang kau minum itu ?" Tanya Diva tiba-tiba berada di dekat Kenan menatap suaminya itu penuh selidik.
Kenan tersentak saat melihat Diva tiba-tiba berada didekatnya dan mendapatinya meminum obat.
"Ahh... Se... Sejak kapan kamu disini Yank.?" Kenan balik bertanya dengan gugup.
"Sejak kamu terlihat sedang menahan sakit." Jawab Diva datar terus menatap Kenan.
"Dan aku tanya, itu obat apa yang kamu minum ?" Diva kembali mengulangi pertanyaannya.
"Ohh... ini, Ini Vitamin doang yank." Ucap Kenan sambil memperhatikan obat yang belum sempat ia minum.
Diva terus menatap Kenan, membuat Kenan sedikit risih.
"Kamu ngapain natap aku seperti itu Yank ?" Tanya Kenan setelah meminum obatnya.
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu darikukan by' ?" Tanya Diva. Entah kenapa Diva merasa jika ada yang sedang Suaminya itu sembunyikan.
"Aku tidak berniat untuk menyembunyikan sesuatu dari kamu Yank, dan kalaupun ada sesuatu pasti aku akan ceritakan sama kamu." Jawab Kenan membawa Diva kepelukannya.
"Yank... Kangen... " Ucap Kenan mencium pucuk kepala Diva.
Diva hanya terdiam menanggapi ucapan Kenan, Diva mempererat pelukannya seolah ia tidak mau melepaskannya.
"By', akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk tentang kamu." Sahut Diva mendongak melihat wajah suaminya.
"Mimpi apa emangnya Yank." Tanya Kenan menaikkan kedua alisnya.
"Aku mimpi, kalau kamu akan meninggalkan ku by'." Jawab Diva, dan tanpa terasa air matanya keluar tanpa permisi.
Kenan manangkup wajah Diva, sambil menyeka air matanya menggunakan ibu jarinya, kemudian mencium kedua mata istrinya itu.
"Aku tidak akan meninggalkan mu yank, apapun yang terjadi aku akan tetap berjuang untuk tetap bersamamu." Ucap Kenan.
"Tapi by', Mimpi itu seperti sangat nyata." Sahut Diva.
"Itu hanyalah bunga tidur, kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti itu." Ucap Kenan kembali mendaratkan ciumannya di kening istrinya tercinta.
Kenan maupun Diva semakin mempererat pelukannya, merasakan kehangatan masing-masing.
"I love you my wife." Sahut Kenan.
"I love you to my hubby." Balas Diva.
Kenan Melepaskan pelukannya, menatap dalam manik mata istrinya yang terlihat sedikit sembab karena menangis.
"Yank, aku mau kamu segera hamil anak kita !" Ucap Kenan, saat mereka sudah berada di tempat tidur.
"Apa itu artinya kamu detuju yank?" Tanya Kenan saat melihat Diva hanya mengangguk.
"Iya by', aku sudah siap." Jawab Diva tersenyum melihat kearah suaminya itu.
Kenan langsung memeluk istrinya, karena merasa sangat senang dengan persetujuan istrinya yang akan segera memberikan keturunan untuknya.
Dan entah sejak kapan kini mereka saling mencumbu dan pada akhirnya Kenan semakin memperdalam permainannya.
(malam itu terjadilah pelepasan rasa rindu keduanya, setelah beberapa tidak bertemu.)
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan dari readers tercinta ❤️❤️❤️
Like
Coment
Vote
🙏🙏🙏🤗🤗🤗