
📞 "Iya om, gak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri." Ucap Kia pada seseorang dari seberang telepon sana sambil merapikan buku-bukunya ke dalam tas untuk ia bawah ke sekolah.
📞 "Tapi ingat ya, bawa motornya hati-hati, jangan kebut-kebutan seperti biasa !" Seru Kavi memperingati.
📞 "Iya om, ih cerewet banget sih, lagian siapa bilang aku mau bawa motor ?" Ujar Kia.
📞 "Lalu kamu naik apa ke sekolah, di antar Raydan atau di jemput siapa ? Apa jangan-jangan kamu bareng Kemal ya ?" Tanya Kavi bertubi-tubi.
📞 "Aku sama ayah." Jawab Kia memutar bola matanya jengah.
📞 "Apa ? Kavi terdengar kaget di seberang sana.
📞 "Gak usah kaget gitu om !" Seru Kia tersenyum.
📞 "Ya sudah, aku tutup ya telponnya, ayah mungkin udah nungguin di bawah." Lanjut Kia.
📞 "Iya, pulang sekolah nanti biar aku jemput, ada hal penting yang mau aku bicarakan." Ucap Kavi.
📞 "Liat nanti deh, siapa tau ayah jemput lagi nanti." Ujar Kia melemah.
📞 "Ya sudah sampai ketemu nanti sore di rumah aja, nanti aku kesana." Putus Kavi.
📞 "Tapiiii....
📞 "Kamu jangan khawatir sayang, biar nanti aku yang bicara sama ayah kamu, kamu tenang aja ya, fokus aja sama sekolah kamu, ok !" Ujar Kavi karena ia tahu saat Kia sedang khawatir.
📞 "Iya." Sahut Kia.
📞 "Ya sudah aku tutup ya, I love you sayangku." Ucap Kavi.
📞 "Emm, Walaikumsalam, love you to." Balas Kia kemudian sambungan teleponnya benar-benar sudah terputus.
Tanpa Kia sadari, Kenan sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Kia yang sedang terbuka sedikit, Kenan mendengar semua pembicaraan Kia dan juga Kavi, saat melihat Kia akan keluar Kenan buru-buru pergi dari sana sebelum Kia melihatnya.
"Nan, Kia dimana ?" Tanya Oma Vivian saat melihat Kenan turun sendiri.
"Dia masih siap-siap Bun, sebentar lagi dia akan turun." Jawab Kenan duduk di kursi sebelah kanan ayahnya.
Tak lama, Kia bergabung di meja makan, dan langsung mendudukkan dirinya di kursi sebelah Oma Vivian.
"Dek, kamu gak mau duduk di samping ayah ?" Tanya Kenan pada putrinya itu.
"Ah...aku lupa ya, habisnya aku udah kebiasaan duduk disebelah Oma, aku akan pindah di sebelah ayah sekarang." Sahut Kia kemudian ingin segera beranjak dari kursinya, namun opa Salman mencegahnya.
"Kamu disitu aja sayang, buruan gih sarapan mungkin sebentar lagi nak Kavi akan jemput." Seru opa Salman.
"Gak opa, kata ayah semalam, ayah yang akan mengantar aku ke sekolah." Sahut Kia.
"Kamu sudah memberitahu nak Kavi ?" Tanya opa Salman sengaja menyebut-nyebut Kavi.
"Sudah yah, tadi juga om Kavi nelpon, dia bilang kalau om Kavi gak bisa jemput karena ada pertemuan penting dengan klaiyen." Jelas Kia terlihah semangat, hal itu tak luput dari penglihatan Kenan.
"Ya sudah, padahal opa mau ketemu sama dia, ada hal penting yang mau opa bicarakan." Ujar opa Salman lagi.
"Apa sore ini, nak Kavi gak mau kesini emang ?" Timpal Oma Vivian.
"Sepertinya tidak deh Bun, apalagi kalau nak Kavi tahu, kalau kita kedatangan tamu, yang sama sekali tak akan mengerti akan hal ini, sepertinya nak Kavi tak ingin cari ribut." Ujar opa Salman.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita semua sarapan." Ucap opa Salman.
Semuanya pun sarapan dengan khidmat tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, hanya ada dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
setelah sarapan mereka selesai, Kia pamit untuk segera berangkat sekolah, begitupun Kenan yang akan mengantarkan putrinya itu, Kia mencium pipi kanan dan kiri opa omanya bergantian, Kia terlihat tampak sangat bahagia.
"Yah, Bun akau juga pamit mengantar Kia." Pamit Kenan mencium punggung tangan kedua orangtuanya bergantian.
"Iya, hati-hati ya !" Sahut Oma Vivian mengusap punggung putranya itu, sedangkan opa Salman hanya diam dan tak mau menatapnya.
Dalam perjalanan ke sekolah, Kenan dan Kia lebih banyak diam hanya sesekali Kenan menanyakan soal sekolah putrinya itu, atau bagaimana teman-temannya, begitupun Kia yang menjawab seadanya pertanyaan ayahnya, sepertinya hubungan antara ayah dan anak itu mendingin.
"Dek, maafkan ayah." Ucap Kenan tetap fokus pada jalanan, pria itu berusaha menahan tangisnya.
"Ayah gak perlu minta maaf, lagian ayah gak punya salah apapun kok, malah aku yang mau minta maaf sama ayah karena sudah mengecewakan juga tak mematuhi ayah." Ucap Kia menundukkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak sayang kamu gak pernah mengecewakan ayah, mungkin opa benar ayah gak pernah mendengar ataupun menayangkan apa mau kamu, bagaimana perasaan kamu, ayah selalu menyembunyikan kamu dari khalayak umum, tapi perlu kamu tahu sayang, ayah melakukan itu semua karena semata-mata ayah ingin melindungi kamu, ayah tidak ingin ada yang memanfaatkan atau menyakiti kamu." Ucap Kenan panjang lebar, tanpa ia sadari air matanya menetes lalu buru-buru ia menyekanya.
"Iya yah, aku ngerti kok, jika ayah melarang aku berhubungan dengan Om Kavi, aku akan mengakhiri semuanya." Sahut Kia, dadanya serasa sesak saat mengatakan akan mengakhiri hubungannya.
"Apa ayah boleh tanya sesuatu ?" Tanya Kenan menoleh menatap putrinya itu sejenak lalu kembali fokus pada jalanan yang sedikit macet.
Kia hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia merasa tak sanggup untuk berbicara saat ini, ia takut tak bisa menahan tangisnya.
"Dek, jujur sama ayah ! Apa adek juga mulai menaruh hati pada om Kavi, apa adek mulai menyukainya juga ?" Tanya Kenan.
Kia tak langsung menjawab, Kia bingung harus berkata jujur apa tidak, jika ia berkata jujur ia takut ayahnya itu benar-benar kecewa dan membawanya kembali ke kota Xx, tapi jika ia tak mengatakan yang sebenarnya sudah dipastikan ayahnya itu akan mengatakan dan menekankan pada Kavi agar menjauhinya dan berhenti mendekatinya.
"Sayang, jangan takut, apapun jawaban kamu ayah janji akan menerima itu." Ucap Kenan setelah menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang cukup sepi.
"Ak...ak..maaf.." Ucap Kia tak berani menatap ayahnya itu.
"Apa ini artinya putri ayah ini, juga menaruh hati pada Kavi ?" Tanya Kenan meraih putrinya itu masuk ke dalam pelukannya.
Kia membalas pelukan ayahnya menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik pria yang selama ini ia sayangi dan banggakan, Kia menagis tanpa mengeluarkan suaranya.
"Sayang, ayah juga minta maaf ya, selama ini ayah tak pernah mengetahui bagaimana perasaan kamu, mau kamu, bahkan tanpa ayah sadari ayah membuat kesalahan besar, sekali lagi ayah minta maaf ya sayang, jika selama ini kamu merasa dibedakan sama Abang, tapi perlu kamu tahu, aku ayah tak pernah sedikitpun membedakan rasa sayang dan cinta ayah sama kalian, tapi mungkin cara menyayangi kalian berdua, ayah salah, sampai kamu merasa dibedakan." Ucap Kenan dengan sangat lembut sambil mengusap punggung juga menciumi pucuk kepala putrinya itu.
"Ya sudah sekarang berhentilah menangis, apa putri jagoan ayah ini tidak malu, ke sekolah dengan mata sembab begini, Hem ?" Ujar Kenan melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Kia menggunakan tangannya secara bergantian, lalu ia mencium kening putrinya dalam-dalam penuh perasaan.
"Mulai sekarang ayah akan membebaskan kamu untuk apapun itu, tapi dengan satu syarat ayah tidak ingin melihat air mata ini jatuh karena rasa sedih ataupun sakit, ayah hanya ingin kamu bahagia." Ucap Kenan tersenyum mengusap rambut Kia.
"Makasih yah, terima kasiiiihh banyak." Ucap Kia bersemangat kemudian kembali memeluk ayahnya itu.
"Iya sayang sama-sama, ya sudah yuk kita lanjutkan perjalanan, sebentar lagi kamu masuk." Ajak Kenan di angguki Kia dengan semangat, tentunya dengan senyuman yang terukir diwajah manis gadis tersebut.
Bersambung..........
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote...
mampir juga ke karya baru aku berjudul DENDAM MEMBAWA CINTA...atau klik langsung profil author.
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...