
Flashback On Dua hari yang lalu
Khay baru saja keluar dari kelasnya bersama dengan sahabat-sahabatnya, mereka berjalan menuju kantin, untuk makan siang, sambil menunggu mata kuliah berikutnya. Saat tiba di kantin tiba-tiba saja ponselnya berdering tanda panggilan masuk, Khay cukup kaget melihat nama yang tertera pada ponselnya.
"Ayah.." Gumam Khay, Khay merasa curiga kalau ayahnya sudah mengetahui perihal masalah Enzy.
Kemudian Khay menjawab panggilan dari ayahnya itu, setelah panggilan kedua.
📞 "Ke ruang dekan sekarang ! Ayah menunggumu." Seru Kenan terdengar dingin di seberang sana.
📞 "Baik Yah." Sahut Khay.
"Ada apa Khay ?" Tanya Leo setelah panggilan Khay berakhir.
"Bokap gue, dia menyuruhku menemuinya sekarang." Sahut Khay kemudian pergi begitu saja.
Dalam perjalanan menuju ruang dekan Khay terlihat sangat khawatir, takut jika ayahnya itu memarahinya, karena dikatakan tidak menjaga istrinya dengan baik.
Saat tiba di depan ruang dekan, sopir sekaligus bodyguard yang selalu ikut bersama dengan Kenan berdiri di depan sana.
"Silahkan masuk tuan muda, tuan sudah menunggu Anda sejak tadi." Ucap bodyguard itu sambil membukakan pintu untuk tuan mudanya itu.
"Baik pak, terimakasih." Ucap Khay lalu masuk kedalam.
"Assalamualaikum yah." Ucap Khay langsung menyalimi tangan ayahnya itu.
"Walaikumsalam, duduk !" Seru Kenan dingin menatap anak sulungnya itu.
"Pak, bisakah saya meminta waktu berdua untuk anak ini sebentar ?" Tanya Kenan kepada rektor kampus.
"Iya tuan silahkan !" Sahut pak rektor kemudian keluar dari ruangannya.
"Apa yang kau lakukan selama ayah keluar kota ?" Tanya Kenan dingin menatap putranya itu datar, sambil menyilangkan sebelah kakinya di atas pahanya sambil bersandar pada Sofa.
"Aku kuliah, juga sibuk latihan sepak bola, sama teman-teman aku yah." Jawab Khay menusukkan kepalanya ia tak berani menatap ayahnya itu.
"Apa kau lupa mengatakan kalau kau juga sibuk ke club malam, apa kau sudah merasa bebas karena kau tidak lagi tinggal dirumah utama, hah ?" Seru Kenan kesal melemparkan beberapa foto Khay keluar masuk club, bahkan foto dirinya saat keluar dari club dalam keadaan mabuk.
"Maaf...." Hanya kata maaf yang bisa Khay ucapkan.
"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan, ayah sudah katakan ayah tidak suka jika kamu tidak jujur denganku." Seru Kenan menekankan setiap ucapannya.
"Itu...Enzy ada masalah di kampus yah, dia di fitnah oleh seseorang, dan beritanya sudah beredar di media kampus." Jelas Khay.
"Ayah sudah tahu, ayah sudah mengurusnya, dan soal wanita itu, adalah salah satu dari wanita yang pernah kau kencani, iya kan ?" Ujar Kenan.
"Aku tidak kencan dengannya yah, tapi aku akui, kalau wanita itu pernah jadi kekasihku, karena dia nembak duluan, makanya aku terima saja." Jelas Khay polos.
"Yasudah, terus bagaimana hubunganmu dengan istrimu, apa kalian sudah akur ?" Tanya Kenan.
Khay kaget mendengar perkataan ayahnya itu.
"Ayah tau kalau kalian sering bertengkar." Sahut Kenan.
"Ya aku harus bagaimana agar dia tidak membenciku, jujur aku sudah mulai mencintainya." Tanya Khay.
"Dan aku juga tak habis pikir kenapa ia juga begitu membenciku, apa aku terlihat seperti pria yang sangat br****k ?" Tambah Khay.
"Coba kau tanya apa alasannya dia membencimu, ayah rasa dia membencimu karena ia masih teringat dengan apa yang pernah menimpahnya dimasa lalu, sehingga ia membenci pria yang sering bergonta-ganti pasangan." Ucap Kenan membuat Khay menatap ayahnya itu seakan ia bertanya apa sebenarnya telah terjadi.
"Maksud ayah apa ?" Tanya Khay pada akhirnya.
"Setelah kamu pulang dari sini, coba kau cari waktu yang tepat untuk menanyakan akan hal ini, ayah tidak bisa memberitahumu, karena ayah juga tak tau jelas bagaimana kejadian waktu itu." Terang Kenan.
"Iya yah, tapi setelah kamu mendengar ceritanya, ayah harap perasaan kamu tak berubah sedikitpun untuknya, dan berjanjilah pada dirimu sendiri untuk menjaganya." Seru Kenan kemudian beranjak dari duduknya sambil menepuk bahu putranya itu.
"Iya yah, terus yah apa yang ayah katakan pada dekan mengenai hubungan aku dan Enzy, apa ayah mengatakan yang sebenarnya ?" Tanya Khay mendongak menatap ayahnya.
"Kamu tenang saja dekan memang tahu kalau kalian sudah menikah, tapi percayalah hal ini tidak akan ketahuan oleh publik sebelum kalian setuju akan hal itu." Jelas Kenan.
"Ayah pulang dulu, masih ada yang harus ayah kerjakan, dan jika masalah kalian selesai mainlah kerumah utama, bawa juga Enzy bersamamu !" Seru Kenan sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Baik yah." Sahut Khay kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Pak terimakasih atas waktunya." Ucap Kenan kepada dekan yang duduk di kursi yang ada didepan ruangan itu.
"Iya tuan sama-sama, Anda jangan khawatir dalam waktu dekat ini masalahnya akan selesai." Ucap pak dekan.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi pak." Pamit Kenan menyalimi tangan dekan tersebut, lalu pergi di ikuti sopir sekalian bertugas sebagai bodyguard Kenan dari belakang.
Flashback Off
Enzy terdiam mendengarkan semua cerita Khay, ia masih khawatir bagaimana jika pernikahannya terbongkar.
"Apa lagi yang kamu pikirkan ? Bukannya masalah sudah beres." Ucap Khay melihat Enzy hanya diam sejak tadi.
"Aku hanya khawatir, bagaimana jika pernikahan ini terbongkar." Sahut Enzy, terlihat jelas raut wajahnya sangat khawatir.
"Percaya sama aku, itu tidak akan terjadi." Sahut Khay santai.
"Sekarang giliran aku mau bertanya sama kamu !" Seru Khay menaikkan kedua kakinya diatas sofa mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Enzy yang duduk disampingnya sejak tadi,.
"Apaan ?" Tanya Enzy balik menatapnya.
"Kenapa kamu tidak laporan saja masalah ini kepolisi, bahkan aku sudah sangat geram ingin menghajarnya, andai saja mereka bukan wanita sudah kupastikan mereka akan masuk kerumah sakit." Ucap khay kesal mengingat perbuatan dua wanita itu.
"Andai saja mereka bukan wanita, mereka tak akan melakukan ini padaku, karena sakit hati sudah diputuskan kamu." Sargah Enzy memutar matanya malas.
"Andai saja kamu tidak membenciku, mungkin kita sudah bahagia dan kita akan segera punya baby sekarang." Ucap Khay ngasal dan mendapatkan hadia cubitan di lengannya dari wanita yang kini ada dihadapannya sebagai istrinya.
"Kamu beneran bertanya apa enggak sih Khay ?, kalau sudah tidak ada lagi, aku mau naik keatas, mau istrirahat." Ucap Enzy jengah.
"Naik keatas aku Beby." Goda Khay membuay Enzy semakin kesal.
Enzy sudah merasa sangat kesal melihat ketengilan Khay saat ini, ia kemudian beranjak dari kursi, baru saja Enzy berdiri, Khay menarik tangannya begitu saja hingga Enzy jatuh diatas pangkuan suaminya itu. Keduanya saling pandang membuat jantung keduanya berdegup lebih kencang.
"Maaf...." Ucap Khay setelah cukup lama mereka berpandangan, dengan perasaan canggung Enzy turun dari pangkuan Khay dan duduk agak berjauhan dari Khay.
"Kenapa kamu enggak laporin mereka kepolisi, apa menurutmu ini hukuman yang setimpal bagi mereka berdua, menurutku ini bukan hukuman Nzy." Ucap Khay mengulang pertanyaannya tadi.
"Percuma saja aku melaporkan mereka, masalah selesai aja itu sudah cukup bagiku, aku mau hidup dengan tenang, aku sudah capek hidup dengan penuh masalah. Aku sudah belajar dari pengalaman yang dulu, saat kasusu aku dengan pria itu, papaku melaporkan ini, kepihak yang berwajib, walaupun awalnya tertutup, tapi pada akhirnya tercium media juga, hingga berita aku itu trending pada masanya, membuat semua orang-orang tahu, sehingga aku takut untuk keluar dilihat oleh orang banyak, bahkan aku mengurung diri dikamar, karena trauma yang begitu dalam, sehingga papa mamaku membawaku ke psikiater, sampai aku seperti sedia kalah, bermain dengan teman sebayaku, namun kejadian itu tak pernah lepas dari ingatan ku sampai sekarang." Jelas Enzy matanya sudah mulai berkaca-kaca jika ia kembali mengingat kejadian saat itu.
"Maaf sebelumnya jika aku menanyakan ini padamu, atau membuat kamu tersinggung, tapi aku benar-benar ingin tahu dan penasaran, tapi jika kamu tidak ingin menjawab aku juga tidak akan memaksamu, itu terserah kamu." Ujar Khay.
"Kamu mau tanya apa ? Jika aku bisa jawab aku akan menjawabnya, tergantung dari pertanyaan kamu." Seru Enzy.
Khay mendekat dan menarik Enzy agar menghadapnya.
"Apa pria itu benar-benar menyentuhmu, maksudku...." Khay mengehentikan ucapan nya, ia tak sanggup menanyakan akan hal itu, apalagi saat ia melihat air mata Enzy jatuh. Enzy yang mengerti ke arah mana pertanyaan suaminya itu, ia menghapus air matanya kasar, menarik nafas beratnya.
Khay meraih tangan Enzy lalu ia genggam dengan erat.
"Maaf karena aku telah menanyakan hal ini, kalau kamu enggak mau jawab aku tidak masalah kok, apapun yang terjadi mau dia menyentuhmu atau tidak aku akan tetap menerimamu dengan tulus." Ucap Khay tersenyum.
"Saat itu, saat dia akan melakukannya tiba-tiba saja papaku datang menolongku, dan papa menghajar orang itu hingga tak berdaya, bahkan setahuku pria itu dirawat hingga berhari-hari dirumah sakit." Jelas Enzy.
"Aku pikir kamu tidak akan menjawabnya tadi." Khay kembali ke mode tengilnya.
"Aku jawab karena kamu mengatakan kalau kamu akan menerima ku dengan tulus apapun yang pernah terjadi padaku, itu artinya kamu berpikir kalau aku sampai di apa-apain oleh pria itu." Ujar Enzy lalu melepaskan tangannya dari genggaman Khay lalu menatap ke arah lain.
"Nzy..." Panggil Khay.
"Aku, rasa aku benar-benar sudah menyukaimu, saat kita pergi ke makan orangtua kamu, saat setelah acara 40 harinya saat itu aku sadar kalau aku sudah mulai tertarik padamu, dan aku semakin yakin saat tanpa sengaja menciummu waktu itu." Ucap Khay tiba-tiba.
Enzy terdiam terpaku mendengar ucapan Khay barusan, ia sendiri mulai menyukai pria itu namun ia belum yakin dengan perasaannya.
"Nzy, bukan hanya aku menyukaimu, tapi aku juga sudah mulai mencintaimu, aku juga tidak tau kapan aku mulai mencintaimu, tapi saat aku berada jauh darimu dan tak menganggumu sebentar saja, aku merasa kalau aku merasa ada yang kurang dan kosong." Ucap Khay dengan sungguh-sungguh.
"Aku mau istrirahat." Ucap Enzy lalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Khay terus menatapnya hingga Enzy tiba di gundukan tangga paling atas dan masuk ke kamar.
Bersambung......
Like, Komen, Vote.....
Terimakasih 🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘