Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 36 Season 2


Pagi hari seperti biasa, Diva membangunkan Kenan untuk bersiap ke kantor.


"By', bangun !! Diva menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Bentar lagi yank, aku masih ngantuk banget, nih." Sahut Kenan dengan suara serak, masih memejamkan matanya.


"Emangnya semalam tidur jam berapa, sih ? Buruan bangun by' !! Ini sudah hampir jam 7 loh." Ucap Diva berjalan kearah jendela lalu membuka tirainya, seketika sinar matahari menyeruak masuk menembus kaca jendela kamar, langsung menyilaukan mata Kenan.


"Astagaaa yank, itu kenapa tirainya di buka ? Silau yank, aku baru tidur jam 2 dini hari tadi loh." Ucap Kenan menutupi wajahnya dengan bantal.


"By', ayo dong bangun, Yang lain sudah pada nungguin di bawah buat sarapan ! Diva menarik bantal yang menutupi wajah suaminya, lalu ia tarik tangan Kenan agar terhubung, namun Kenan balik menariknya, sehingga Diva terjatuh tepat di tubuh Kenan.


"Kalau begitu, beri hadiah selamat pagi dulu ! Ujar Kenan tersenyum menggoda sambil mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.


Tanpa pikir panjang Diva langsung mencium sekilas bibir suaminya itu.


"Sudah ayo bangun !! Diva pun melepaskan pelukan Kenan lalu segera beranjak. Dengan muka bantalnya, Kenan bangun, lalu masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Kenan telah selesai mandi dan memakai pakaiannya yang sudah di siapkan Diva di Sofa di ruangan walk in closed, sedangkan Diva keluar untuk melihat baby Khay di kamarnya.


Setelah berpakaian, Kenan keluar kamar menuju ruang makan, di sana sudah Diva sambil menyuapi baby Khay bubur, bersama ketiga pasangan suami istri yang lainnya juga sudah ada di sana.


Kenan langsung duduk di samping Diva, kemudian ikut menyantap sarapannya yang sudah di siapkan Diva untuknya.


"Nan, kamu ke kantor ?" Tanya Arka.


"Iya kak, ada meting penting, setelah itu langsung pulang, sebelum makan siang aku juga sudah di rumah." Jelas Kenan.


"Ray kamu ke kantor juga ?" Tanya Kenan saat melihat Ray juga rapi dengan pakaian kantornya.


"Iya Nan, tapi sama, sebelum makan siang gue juga sudah balik lagi." Sahut Ray.


"Susah ya, kalau sama CEO." Sahut Rafa.


"Iya Raf, makanya itu saya masih mikir-mikir buat gantiin ayah di perusahaan." Ucap Arka.


"Jalanin aja dulu kak ! Nanti juga terbiasa." Sahut Kenan, setelah meletakkan gelas minumnya.


"Sebenarnya sih aku belum siap sih kak, tapi papa maksa banget, walaupun belum resmi jadi pimpinan, tapi Papa sudah menyerahkan semua tanggung jawabnya ke aku." Ucap Ray.


"Sama Ray, gue juga, papa terlalu mementingkan dunia politik, di bandingkan bisnis, gue kasihan liat mama sibuk sendiri mengurus perusahaan, jadi mau enggak mau gue harus bantuin dia." Rafa ikut menimpali. Sementara para istri hanya diam menyimak obrolan para suami.


Setelah sarapan Kenan maupun Ray pamit untuk ke kantor masing-masing.


NB: Soal berbicara jika ucapan di tujukan kepada Arka mereka tidak menggunakan kata Gue, Tapi dengan kata Aku/Saya karena Arka lebih tua, Jika Kenan, Rafa, dan Ray masih menggunakan kata Gue, tapi tidak lagi menggunakan kata elo.


🍀🍀🍀


Di kantor D&KA Group


Kenan memasuki gedung D&KA Group, seperti biasa Kenan selalu bersikap datar dan dingin, namun tetap pada wibawanya. Kenan hanya mengangguk saat Karyawan/karyawati menyapanya saat kebetulan berpapasan. Sesampainya di ruangannya, Pak Anton masuk memberikan beberapa dokumen yang harus di tandatangani.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi Pak." Pak Anton, Asisten Pak Salman dulu yang kini menjadi asisten Kenan.


"Tungga !!" Sahut Kenan.


"Ada apa Pak ?" Tanya Pak Anton.


"Apa kamu sudah selidiki Nona Calista ?" Kenan sengaja menyelidiki Calista, karena ia tidak langsung percaya begitu saja soal perubahan sikap Calista.


"Sudah Pak, sejauh ini, nona Calista tampak biasa-biasa saja, tidak ada hal yang mencurigakan, atau hal-hal buruk yang ia rencanakan sekarang ini " Jelas Pak Anton.


"Baiklah terus pantau dia ! Saya tidak mau kedepannya ada masalah." Ujar Kenan beranjak dari duduknya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Apa berkas-berkas buat meting hari ini sudah siap ?" Tanya Kenan sambil berjalan keluar di ikuti Pak Anton di belakangnya.


"Sudah Pak, semuanya sudah ada di ruang meeting." Sahut Pak Anton.


🍀🍀🍀


"Kak Vara aku bantu bibi siapkan makan siangnya dulu ya !" Ujar Diva kepada Vara.


"Aku bantuin ! Vara beranjak dari duduknya.


"Pi, liatin Abang Raydan juga baby Khay, aku mau bantu Diva dulu !" Ujar Vara kepada Arka.


"Iya sayang." Sahut Arka.


"Aku juga ikut." Sahut Lani dan Hera hampir bersamaan, kemudian beranjak dari sofa sedikit kesusahan karena perut besar mereka.


"Tidak usah, kalian di sini saja, kalian tidak boleh terlalu kelelahan, apalagi nanti malam kalian akan keluar." ujar Vara.


"Tap....


"Enggak ada tapi-tapian!" Sela Cara tegas lalu berjalan kearah dapur bersama dengan Diva.


"Udah yank, kamu duduk aja ! Benar yang dikatakan kak Vara." Ujar Ray membantu Lani untuk duduk kembali.


Tak lama Kenan ikut bergabung dengan para suami di ruang tengah, langsung mengambil baby Khay yang sedang bermain di karpet bersama Abang Raydan. Kenan duduk di sofa samping Arka sambil memangku putra kesayangannya, sambil menciumi baby menggemaskan tersebut.


"Rafa apa kalian sedang bertengkar ?" Tanya Ray tiba-tiba kerena ia melihat Rafa dan Hera tak seperti pasangan suami istri pada umumnya, keduanya seperti jaga jarak begitu dan terlihat canggung, tak seperti dirinya yang selalu memberikan perhatian lebih kepada Lani, begitu juga Lani yang selalu bersikap manja karena kehamilannya.


"Tidak kami baik-baik saja." Sahut Rafa.


"Kenapa emangnya?" Rafa balik bertanya.


"Iya soalnya, dari kemarin di perhatikan Kalian diam-diaman doang, dan terlihat canggung." Apa ada masalah ?" Ujar Ray.


Lani memperhatikan gelagat kedua sahabatnya menyipitkan matanya, ia juga baru sadar akan hal itu.


"Raf, jujur ! Apa kamu belum sepenuhnya menerima pernikahan kalian, apa kamu masih belum bisa melupakan kejadian waktu itu ?" Lani bertanya seolah-olah ia mengintrogasi penjahat.


Rafa hanya terdiam, tanpa menjawab pertanyaan yang di berikan Lani untuknya, begitupun Hera yang menundukkan kepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Rafa, Saya sudah menganggap kamu sebagai adik sama seperti Diva, yang saya sampaikan ini saya tidak ada maksud untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi perlu kamu ketahui, tidak ada gunanya kamu berlarut-larut dalam masa lalu, itu akan membuat kamu dan orang disekelilingmu merasa tersakiti, terutama pada istrimu.


Rafa hanya menunduk, ia tak tau harus mengatakan apalagi, ia juga merasa sangat bersalah dengan Hera, tapi di sisi lain, masih ada hal yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya menerima Hera, setiap ia ingin menerima semua, bayangan rasa bersalahnya selalu saja menghantuinya.


"Rafa, buat apa kamu berlarut-larut dalam hal yang sudah lalu, cobalah kamu tekanan pada dirimu sendiri, untuk mengubur semuanya, dan berhentilah selalu merasa bersalah, karena hal itu akan membuatmu semakin terbayang-bayang rasa itu, jika kamu bertekad kuat aku yakin rasa bersalah mu itu pasti akan hilang dengan sendirinya, tapi itu semua balik kepada dirimu sendiri." Ucap Arka panjang lebar berniat untuk menasehati Rafa.


"Rafa, maaf kalau gue juga ikut campur masalah ini, Raf, benar yang dikatakan kak Arka, cobalah kamu menerima yang sekarang, dan mulailah menata masa depan kamu ! Gue Yakin Hera merasakan kesedihan yang mendalam dengan sikap kamu seperti ini, tapi ia mencoba untuk diam dan memendamnya sendiri, karena dia mengerti kamu. Apakah kamu tau mungkin aku tidak banyak memberi perhatian kepada Diva dulu waktu ia hamil, tapi sebisa mungkin aku memberikan dia perhatian sebisaku, karena aku yakin wanita yang sedang mengandung sangat menginginkan perhatian dari suaminya, walaupun kalian tidak saling mencintai, tapi ada anak kalian yang membutuhkan itu, walau masih dalam kandungan." Kali ini Kenan yang ikut menimpali.


"Rafa asal kamu tahu, sebenarnya Hera sudah lama menyimpan rasa kepadamu, sebelum kamu bertemu dengan Sisi, tapi ia memilih untuk memendamnya sendiri, karena ia tidak mau merusak persahabatan kalian." Timpal Lani membuat Hera kaget dengan ucapan sahabatnya itu.


"Lan." Seru Hera menatap Lani.


"Kamu jangan lagi menyembunyikannya Ra, dan gue juga tahu kalau kamu berniat untuk bercerai saat anak kalian lahir." Ujar Lani membuat semua yang berada diruangan tersebut kaget, tanpa terkecuali Rafa.


Rafa langsung menatap Hera yang kini sudah menundukkan wajahnya dengan air mata yang terus jatuh membasahi punggung tangannya yang berada di pangkuannya.


"Rafa saya sarankan untuk memperbaiki semuanya, sebelum kamu menyesalinya!" Ujar Ray.


"Rafa, asal kamu tahu aku pernah mendengar Hera curhat dengan Kiki, waktu itu aku janjian dengan mereka untuk berkumpul saat aku balik ke kota Z, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka." Terang Lani.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE, COMENT, VOTE sebanyak-banyaknya.


Untuk mengetahui kelanjutan cerita Rafa dan Hera terus ikuti CINTA YANG KUNANTIKAN. jangan lupa juga baca cerita ku yang lainnya PERMATA HATI, dan satu lagi CLBK CINTA LAMA BELUM KELAR.


TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️