Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 13 Season 3 (Next Generatoin )


Karena hari mulai petang, Kia dan si kembar pamitan setelah membuat apartemen Khay dan Enzy berantakan bak kapal pecah. Kini tinggallah mereka berdua, apartemen itu kini kembali sunyi bak tak berpenghuni karena tak ada yang saling bicara. Enzy kembali masuk setelah mengantarkan Kia dan si kembar sampai depan pintu.


Enzy tampak menghela nafas panjang, lalu mulai memberikan bekas-bekas minuman dan makanan mereka yang berserakan di ruang tengah.


Sementara Khay asik duduk bersantai sambil memainkan ponselnya, tanpa berniat ingin membantu, sesekali ia hanya melirik Enzy yang sibuk memungut bungkusan cemilan.


Tiba-tiba ponsel Khay berdering tanda panggilan masuk, membuat Enzy menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


📞 "Woi Don, ada apa ?" Tanya Khay setelah menjawab panggilan dari sahabatnya.


📞 "Gue sama si Leo lagi ditempat biasa, kamu kesini enggak ?" Ucap Doni dari seberang telepon.


📞 "Ok, kalian tunggu gue ! Dua puluh menit lagi gue sampai sana." Seru Khay.


📞 "Ok.


Setelah panggilan berakhir Khay, bergegas menuju kamarnya, sementara Enzy sejak tadi menyimak pembicaraan Khay.


Tak lama Khay kembali dari lantai atas, dengan penampilan sudah rapi, menggunakan jeans panjang hitam robek dibagian lututnya, dipadukan kaos polos putih ditambah jaket menambah kesan ketampanannya.


"Gue mau keluar bareng teman-teman gue, bentar." Ucap Khay dingin.


"Emm..." Sahut Enzy.


Khay meraih kunci mobilnya yang berada di atas nakas samping televisi, kemudian melangkah keluar.


Sebenarnya Enzy sangat penasaran Khay mau kemana ? Namun ia merasa gengsi untuk menanyakannya langsung. Dia mau kemana ? Ngapain, dan bareng siapa ? Cewek apa Cowok ? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dipikirannya.


"Terserah dia mau kemana, ngapain aja, sama siapa gue enggak peduli." Ucap Enzy meneruskan kembali pekerjaannya yang sempat terhenti.


...----------------...


Mobil sport milik Khay tiba di parkiran sebuah salah satu bar terkenal di kota Xx. Selama dua malam ini Khay datang ketempat seperti ini, ia tak peduli lagi dengan kemarahan ayahnya jika mengetahui hal ini, karena ia cukup stres dengan permasalahannya dengan Enzy, di tempat inilah Khay bisa meluapkan beban pikirannya, dengan cara meminum sedikit alkohol.


"Hay Khay sendirian aja, mau aku termenin enggak ?" Seorang wanita cantik dengan pakaian pas dibadan menghampirinya dan langsung merangkul lengan Khay, saat baru saja memasuki bar.


"Gue enggak perlu ditemani, lagian gue bareng teman-teman gue kok." Tolak Khay sembari melepaskan tangan wanita itu yang merangkul manja lengannya.


Setelah berkata seperti itu, Khay langsung meninggalkan wanita itu begitu saja, tidak peduli wanita itu kini mendengus kesal karena sudah ditolaknya. Khay menyusuri ruangan yang hanya diterangi lampu warna warni dengan suara musik yang kencang, untuk mencari keberadaan sahabat-sahabatnya.


"Khay...." Panggil Leo sambil melambaikan tangannya, Khay langsung menghampiri di mana kedua sahabatnya duduk disalah satu meja di pojokan, disana sudah banyak botol-botol minuman beralkohol yang sudah Doni pesan sebelumnya.


"Bokap kamu gimana, apa dia tahu kamu kesini ?" Tanya Leo sambil menuang minuman kedalam gelas yang ada dihadapan Khay.


"Bokap gue lagi keluar kota." Sahut Khay langsung meneguk habis minuman yang dituang Leo sebelumnya.


"Pantes aja, kamu bisa bebas main kesini, apa kamu enggak takut apa, kamu ketahuan nanti ?" Ujar Doni, ikut meneguk minumannya namun tak sampai langsung habis seperti yang dilakukan Khay tadi.


"Gue enggak peduli." Sahut Khay menuang minuman ke gelasnya, lalu langsung meneguknya lagi hingga tandas.


"Kamu ada masalah apa sih Khay sebenarnya ? Dari kemarin gue perhatiin keknya kamu punya masalah serius deh." Ucap Leo melihat bingung melihat tingkah sahabatnya itu yang enggak biasanya.


"Gue cuman stres doang, udah kamu enggak usah banyak mikir, mending kamu seneng-seneng.!" Seru Khay memakan kentang goreng yang ada dihadapannya.


Doni maupun Leo hanya bisa geleng-geleng kepala, ia juga tak tau apa masalah sahabatnya itu, karena Khay juga tak mau cerita.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, botol-botol minuman kosong berserakan di atas meja yang mereka tempati. Berbeda dari malam biasanya, malam ini Khay meminum banyak sekali minuman, membuat kedua sahabatnya bingung.


"Khay gue yakin kamu ada masalah serius, cerita sama kami Khay, kita ini sudah sahabatan sudah cukup lama, cerita sama kami Khay." Seru Doni merebut gelas minuman yang ada ditangan Khay.


"Kalian enggak usah sok tau ! Seru Khay dengan suara beratnya karena sudah banyak minum.


"Balikin gelas gue." Ucap Khay ingin mengambil kembali gelas yang ada ditangan Doni.


"Hemm....Kalian aja mengerti gue, tapi kenapa kamu enggak Nzy..." Gumam Khay menundukkan kepalanya.


"Khay apa yang kamu katakan ?" Tanya Doni penasaran karena tidak jelas mendengar gumaman Khay.


"Apa gue salah kalau gue mau berubah, gue berubah demi kamu Nzy, kenapa kau begitu membenciku, Hem ?" Khay terus saja bergumam tapi Leo maupun Doni tak mengerti apa yang Sahabatnya itu katakan.


"Maksud kamu apa sih Khay, kamu ngomong apa kami kagak ngerti ?" Ucap Leo prustasi menjambak rambutnya sendiri.


"Mending kita antar dia pulang." Sahut Doni dan diangguki Leo.


Saat kedua sahabatnya itu ingin memapahnya keluar dari sana, Khay menghentikan mereka. lalu berdiri dari tempatnya.


"Gue bisa sendiri." Ucap khay lalu pergi begitu saja.


"Khay..." Panggil Doni namun Khay menghiraukannya.


Khay terus berjalan keluar dari tempat itu, ia berjalan sempoyongan, sulit untuk menyeimbangkan langkahnya, sehingga beberapa kali ia menambrak seseorang, dan mendapati teriakan atau cacian dari orang yang ia tabrak.


Leo membayar semua minumannya dan juga beberapa makanan ringannya, lalu keduanya mengejar Khay, namun baru saja Leo dan Doni keluar Khay sudah lebih dulu menjalankan mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, Khay beberapa kali hampir menabrak pengendara lain, untung saja keadaan jalan tidak terlalu ramai karena sudah sangat larut.


Setibanya di apartemen Khay langsung menuju unitnya, setibanya di depan pintu Khay dengan tak sabaran menekan bel. Tak lama Enzy membuka pintu dengan penampilan cukup berantakan karena baru saja bangun dari tidurnya.


"Selamat malam istriku." Ucap Khay langsung memeluk Enzy.


"Khay kamu apa-apaan sih ? Lepas enggak !!" Seru Enzy mencoba melepaskan pelukan Khay, namun tak berhasil karena Khay memeluknya sangat erat.


"Khay ! Kamu mabuk ?" Ucap Enzy saat mencium aroma alkohol pada suaminya itu.


"Aku mau berubah Nzy, kenapa kau membenciku, sebenarnya aku..."


"Hoekk....


Ucapan Khay terhenti saat ia merasa mual, Enzy khawatir melihat keadaan Khay yang berantakan, Enzy segera menutup pintu menggunakan kakinya, dan susah payah ia membawa tubuh besar suaminya itu ke sofa yang tak jauh dari pintu masuk.


"Tunggu sebentar, aku ambil air hangat dulu !" Seru Enzy setelah berhasil membaringkan Khay pada Sofa.


Saat baru saja Enzy mau melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Khay menariknya, karena Khay tiba-tiba menariknya ia tidak memiliki keseimbangan, dan terjatuh tepat di atas tubuh Khay.


Mata keduanya bertemu pandang, jantung Enzy berdetak begitu cepat melihat tatapan Khay, begitupun dengan Khay jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan ia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya pada mantan-mantannya.


Perlahan tapi pasti, Khay mencium bibir tipis milik Enzy, karena tak ada perlawanan sama sekali, Khay melanjutkan aktivitasnya, ia m*****t bibir seksi milik istrinya itu dengan rakusnya, bahkan tanpa Enzy sadari juga membalas permainan Khay, Khay terus melakukan lebih, hingga ia turun ke leher jenjang Enzy sampai ia membuat tanda kepemilikan cukup banyak disana, sehingga membuat Enzy melenguh, tiba-tiba saja Enzy tersadar apa yang telah ia perbuat, entah sejak kapan Khay sudah berada diatasnya. Enzy mendorong kuat tubuh Khay, seketika itu juga aktivitas mereka terhenti.


Enzy bangun kemudian duduk disamping Khay, Enzy merapikan kembali pakaiannya yang berantakan, sambil menangis terisak, bahkan kancing piama bagian atasnya terlepas akibat ulah Khay.


Khay tersadar apa yang telah ia lakukan, ia merasa bersalah saat melihat Enzy menangis.


"Maaf...." Hanya permintaan maaf itu yang bisa ia ucapkan, setelah berkata seperti itu, ia pun bergegas naik ke kamarnya, meninggalkan Enzy sendirian disana.


Perlakuan Khay itu membuat Enzy berpikir kalau Khay benar-benar laki-laki b****k, karena setelah apa yang pria itu lakukan, ia tega meninggalkan dirinya sendirian disana.


"Aku benci kamu, Khay..." Ucap Enzy membaringkan tubuhnya di sofa sambil menangis terisak, menangis nasibnya yang sekarang.


Bersambung......


Jangan lupa terus berikan dukungan kalian, dengan cara memberikan like, komen, dan vote....


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️