
Pagi hari Khay terbangun kepalanya terasa sangat berat dan sedikit pusing, mungkin efek ia mabuk semalam, karena lagi-lagi Khay pergi ke bar, namun kali ini Khay dibawa pulang ke apartemennya oleh kedua sahabatnya yang selalu setia menemaninya.
Wajah Khay terlihat begitu pucat, saat ia bangun dan turun dari tempat tidur, tiba-tiba saja ia terjatuh karena penglihatannya terasa gelap semua, Leo yang kebetulan masuk ke kamar sahabatnya itu langsung membantu Khay untuk segera kembali ketempat dan membantunya berbaring, karena Leo dan Doni emang menginap disana karena tak tega melihat ke adaan Khay yang begitu kacau dari malam-malam sebelumnya, bahkan semalam Khay terus saja muntah mungkin karena kebanyakan minum alkohol.
Setelah membantu Khay berbaring, Leo kembali keluar menuju ruang tamu dimana ia menyimpan ponselnya.
"Khay mana, apa dia belum bangun ?" Tanya Doni yang sedang duduk disana.
"Sepertinya dia sakit, saat gue masuk gue mendapati dia jatuh dari tempat tidur, badannya juga terasa sangat panas, bahkan ia mengelu pusing." Jelas Leo menghubungi dokter keluarganya.
"Kamu telpon siapa ?" Tanya Doni.
"Dokter syahid, dokter keluarga gue." Jawab Leo.
"Kenapa enggak kamu hubungi istrinya aja biar pulang melihat keadaan Khay saat ini." Imbuh Doni.
"Yang lebih penting sekarang lebih baik kita hubungi dokter, kau mau buat dia mati kesakitan disini, kalau enggak menghubungi dokter." Seru Leo sedikit kesal apalagi dokter yang ia hubungi tak juga menjawab panggilannya.
"Ini dokter dimana sih." Kesal Leo kembali mencoba menghubunginya.
Di saat deringan keempat kalinya, barulah dokter syahid menjawabnya.
📞 "Hallo dok, ini saya Leo, saya minta tolong dokter ke apartemen di pusat kota Xx sekarang !" Seru Leo to the poin saat dokter syahid menjawab panggilannya.
📞 "Baiklah, Tiga puluh menit lagi saya sampai kesana." Sahut dokter syahid.
📞 "Saya tunggu !" Ucap Leo kemudian memutuskan panggilannya.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, dokter syahid baru tiba di apartemen, Leo langsung mengantarkan dokter itu masuk ke kamar Khay dan langsung memeriksanya.
"Apa dia sering minum alkohol ?" Tanya dokter syahid setelah memeriksa bagian perut dan detak jantung Khay.
"Iya dok, sudah semingguan ini ia terus meminum alkohol, tak tanggung-tanggung dia mengonsumsi dalam ukuran banyak." Terang Leo.
"Menurut hasil pemeriksaan dan gejalanya, ini adalah efek mengonsumsi alkohol terlalu banyak sehingga membuat terganggu pada pencernaannya Efek alkohol pada pencernaan tidak tanggung-tanggung. Saya sarankan agar jangan mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak atau berlebihan karena konsumsi alkohol secara berlebih bisa menyebabkan dampak pada pencernaan berupa kembung, diare, dan sebagainya. Alkohol juga berpotensi meningkatkan asam lambung dan memicu sensasi panas di dada serta luka di lambung.
"Iya dok apa karena kebanyakan minum membuatnya terus muntah dan suhu badannya sangat tinggi, bahkan wajahnya sangat pucat ?" Tanya Doni.
"Dia seperti itu karena kemungkinan besar lambungnya sudah luka, dan sehingga membuat suhu tubuhnya meningkat, dan muntah-muntah. Bahkan bisa juga efek alkohol mempengaruhi sistem imun tubuh maksudnya disini, membuat tubuh tidak mampu memproduksi sel-sel darah putih yang cukup, sehingga membuat pasien seperti ini akan lebih rentan untuk sakit." Dokter menjelaskan secara detail, dan menyarankan agar Khay dibawah kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Baiklah jika sudah tak ada lagi yang mau ditanyakan, saya permisi, dan ini resep obatnya agar segera ditebus." Pamit dokter syahid memberikan lembaran resep obat.
Setelah kepergian dokter Doni juga pamit untuk menebus obat yang diberikan dokter tadi. Leo dengan setianya menemani sahabatnya itu, yang sedang terbaring lemah di tempat tidur.
Khay yang merasa kehausan terbangun, Leo yang melihat itu dengan sigap langsung menghampiri dan membantunya bersandar di tempat tidur.
"Kamu butuh apa ?" Tanya Leo.
"Gue haus." Jawab Khay terdengar sangat lemah.
Leo langsung memberikan air yang sudah ia sediakan sebelumnya di atas nakas samping tempat tidur.
"Thanks." Ucap Khay memberikan kembali gelas yang sudah kosong.
"Khay kita kerumah sakit yuk, kata dokter kamu harus dirawat dirumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan pemilihannya lebih cepat." Ajak Leo.
"Enggak, sebentar lagi juga gue sembuh, gue cuma banyak pikiran doang." Tolak Khay menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
"Ponsel gue mana Le ?" Tanya Khay.
"Tuh di atas meja." Sahut Leo.
"Apa enggak ada panggilan atau pesan dari Enzy ?" Tanyanya lagi masih pada posisinya.
"Apa perlu gue hubungi dia.?" Imbuh Leo kemudian setelah melihat Khay terdiam mendengar tak ada kabar sama sekali dari Istrinya.
"Gak perlu, mungkin dia lagi sama kekasihnya, jangan ganggu dia." Seru Khay tanpa terasa air matanya keluar saat menyebut kata kekasihnya.
"Khay apa kamu yakin mereka benar-benar masih ada hubungan ?" Tanya Leo.
"Iya Le, dia sendiri yang mengakuinya saat gue bilang kalau dia lagi ada main di belakang gue."
"Gue rasa dia mengakui itu karena kamu telah menuduhnya, apa kamu sudah mendengar penjelasannya yang lebih spesifik."
"Buat apa lagi dia jelaskan, toh udah terbukti dan gue lihat mata gue sendiri saat dicafe tak tau malunya mereka berpelukan.
"Bisa saja mereka berpelukan bukan karena mereka ada hubungan spesial, bisa saja itu pelukan persahabatan, kamu sama Priska saja sering pelukan, apa itu bisa juga dikategorikan kalau kamu dan Priska ada hubungan spesial ?" Imbuh Leo.
Khay terdiam mencerna ucapan sahabatnya itu, yang memang ada benarnya, Khay harusnya memberikan kesempatan untuk istrinya menjelaskan semuanya, apalagi saat ia melihat mata Enzy sembab, dan menangis saat wanita itu akan pergi.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, keadaan Khay sudah bisa dikatakan lebih baik dari sebelumnya, Khay sudah tak lagi merasakan mual dan muntah, namun masih sedikit pusing, ketiganya duduk disofa yang ada dikamar tersebut.
Leo dan Doni pamit pulang dulu, tiba-tiba ponsel Leo berdering tanda panggilan masuk, dan langsung menjawabnya, begitupun Doni mendapat notif pesan masuk di ponselnya.
"Khay apa kamu tidak apa-apa jika kami tinggal sebentar, soalnya gue udah dicariin orang rumah." Ucap Leo pada sahabatnya itu setelah selesai menelfon dengan seseorang, dan Khay yakin itu dari orangtuanya.
"Iya pulang aja, gue udah enggak apa-apa kok." Sahut Khay bersandar di sandaran sofa, sambil menonton televisi.
"Gue juga pamit ya Khay, sama bokap nyokap gue juga udah nyariin." Doni ikutan pamit.
"Thanks ya Le, Don, kalian udah mau ngerawat dan nemenin gue." Ucap Khay tersenyum pada sahabat-sahabatnya itu.
Sebenarnya Leo dan Doni tak tega meninggalkan Khay sendirian, apalagi masih terlihat sangat pucat dan lemah, namun mau tak mau mereka harus pulang.
Setelah kepergian kedua sahabatnya itu, Khay mencoba untuk menghubungi Enzy, kali ini panggilannya sudah tersambung namun tak ada jawaban sama sekali.
Khay mencoba mengirimkan pesan, namun pesannya hanya dibaca tanpa ada balasannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disana, aku sangat merindukanmu, apa kamu benar-benar pergi bersamanya, apa kamu benar-benar tak bisa menerima dan mencintaiku." Khay terus berbicara sendiri, tanpa ia sadari air matanya menetes.
...----------------...
Malam harinya setelah makan makanan yang dikirim Doni untuknya Khay kembali masuk ke kamarnya, ia langsung naik ketempat tidur setelah meminum obatnya, Khay mencoba untuk memejamkan matanya, saat sudah mulai tertidur sambil membelakangi pintu kamar, tiba-tiba saja seseorang berbaring di belakangnya dan memeluknya sangat erat, Khay yang merasakan itu perlahan ia membuka matanya, namun masih tak bergeming, karena ia mengira kalau itu hanya sebuah mimpi.
"Maafkan aku." Ucap orang tersebut.
"Enzy, apa aku sedang bermimpi, bukannya ini sudah malam, dan dia bukannya ada di kota Z ?" Khay terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dalam hati.
Bersambung.......
Like
Komentar
Vote
Sebanyak-banyaknya
Buat author tambah semangat dengan memberikan dukungan dari para reader.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘