
Sudah beberapa hari ini Kavi tidak masuk kantor, karena kondisinya semakin menjadi-jadi, bahkan Kavi sempat di infus beberapa hari dirumah, karena terus mual dan tidak bisa makan apapun, membuat dia kekurangan cairan.
Saat ini Kavi tengah berbaring di tempat tidur sambil terus memperhatikan Kia memoles sedikit wajahnya dengan bedak tabur, karena baru saja selesai mandi.
"Sayang.." Panggil Kavi terdengar sangat manja.
"Apa ?" Sahut Kia tanpa menoleh, Kia hanya melihat suaminya itu dari pantulan kaca.
"Aku mau makan bubur, tapi harus ayah yang buat." Ucap Kavi membuat Kia langsung menoleh menatapnya.
"Ayah ?" Tanya Kia memastikan dan langsung di angguki pasti oleh Kavi.
"Tapi ayah mungkin sudah berangkat kerja mas, lagian kamu ada-ada aja." Ujar Kia beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati suaminya itu yang kini berubah sangat manja.
"Tapi aku maunya itu sayang, entah kepana aku juga tidak tau, mungkin ini ngidam." Jelas Kavi memeluk pinggang Kia yang masih berdiri di samping tempat tidur.
"Emmm,,, kalau begitu aku turun dulu liat ayah, siapa tau belum berangkat ke kantor." Ucap Kia di angguki Kavi.
"Jangan lama-lama !" Pinta Kavi.
"Iya mas." Sahut Kia sedikit jengah melihat kemanjaan suaminya.
...----------------...
Kia menuruni anak tangga satu persatu sedikit terburu-buru.
"Astaga dek, hati-hati ! Kalau sampai jatuh bagaimana, ingat kamu sedang hamil !" Peringat Diva yang melihat itu.
"Bunda ayah mana ?" Kia tak mengindahkan ucapan bundanya itu, dia malah balik bertanya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya.
"Ayah baru saja berangkat, ini bunda baru saja dari luar mengantarnya, emang ada apa ?" Jawab Diva lalu balik bertanya.
"Itu, mas Kavi pengen makan bubur." Jawab Kia
"Ya tinggal buatin aja sayang, atau mau bunda yang buat. !"
"Anu Bun, itu...." Kia mengentikan ucapannya karena merasa tak enak jika mengatakan apa yang di inginkan suaminya.
"Ada apa ?" Diva bertanya menaikkan kedua alisnya.
"Itu, mas Kavi maunya bubur yang ayah buat." Cicit Kia sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa ? Harus ayah banget ?" Kaget Diva sedikit berteriak saking kagetnya mendengar apa yang di inginkan menantu laki-lakinya itu yang sedang mengidam.
"Iya." Jawab Kia sembarangan mengagukkan kepalanya.
"Sayang, sepertinya anak kamu pengen banget kerjain opanya." Ucap Diva di kalah ia mengingat kejadian dua hari yang lalu dimana Kavi pengen banget melihat Kenan mengambilkan buah mangga yang langsung dari pohonnya, beruntung pohon tersebut masih berada halaman belakang kediaman Kenan.
"Sepertinya begitu Bun, sepertinya cucu-cucu ayah emang punya dendam deh sama ayah, bunda ingat tidak saat kak Enzy hamil dulu, kak Enzy juga pernah ngidam pengen banget ayah yang membelikannya rujak." Ujar Kia mengingat masa-masa kehamilan kakak iparnya, walaupun ia berada di kota Z, tapi semuanya ia tahu, siapa lagi yang beritahu kalau bukan Diva ataupun Abangnya.
"Sayang, bubur aku mana ?" Ucap Kavi turun dari tangga dengan penampilan yang acak-acakan, karena terlihat pria itu masih belum mandi, bahkan masih memakai piama tidurnya.
"Ayah sudah berangkat mas, baru saja." Sahut Kia menoleh ke arah tangga, karena kini Kia maupun Diva sudah duduk di sofa yang tak jauh dari tangga.
"Yaaa, padahal aku pengen banget sayang." Ucap Kavi memelas lalu mendudukkan dirinya disamping istrinya itu, tanpa merasa canggung sedikitpun Kavi sampai menyembunyikan wajahnya di celuruk leher Kia, di depan mertuanya itu.
"Kamu makan yang lain aja dulu Kav, bunda sudah siapkan sarapan tuh buat kalian." Sahut Diva.
"Gak mau Bun, aku suka mual kalau mencium aroma makanan, apalagi berbau-bau bumbu dapur gitu." Sahut Kavi masih di posisinya, namu kali ini ia sedikit mengangkat wajahnya melihat ke arah mertuanya yang duduk pada single sofa hadapannya.
"Tapi mas, ayah....
"Biar bunda telpon, minta ayah buat pulang dulu." Sahut Diva juga merasa kasihan melihat Kavi yang lemes karena ia tahu menantunya itu jarang sekali makan, karena mual, selama ini Kavi hanya makan buah, dan banyak minum air.
...----------------...
"Assalamualaikum." Terdengar suara Kenan mengucapkan salam, dan langsung disahuti sang istri tercinta siapa lagi kalau bukan Diva.
Kenan akhirnya pulang setelah mendapatkan bujuk rayu Diva, ia terpaksa membatalkan meetingnya demi memenuhi permintaan ngidam menantu laki-lakinya yang menurut Kenan telah di kerjain.
"Jangan kesal gitu bi, jadi kelihatan lebih tua kalau mukanya gitu." Gurau Diva tersenyum simpul, Diva tahu kalau suaminya itu sedang dalam mode kesal.
"Lagian menantu kamu itu niat banget ngerjain aku yank, apa belum puas ngerjain aku dua hari yang lalu." Kesal Kenan mendudukkan dirinya di sofa, sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"Maaf.." Ucap Kenan sendu.
"Maaf buat apa sih bi ? Dan satu lagi kamu tidak perlu merasa bersalah, sampai kapan kamu mau seperti ini terus, Hem ?" Ujar Diva disaat menyadari kemana lagi arah pemikiran suaminya itu.
"Sampai matipun aku akan selalu mengingatnya yank, aku suami yang....
"Stop bi, sudah ku katakan jangan bahas-bahas itu lagi !" Sentak Diva beranjak dari duduknya namun dengan cepat Kenan menahan lengannya.
"Iya gak lagi." Ujarnya lalu merangkul bahu Diva setelah wanitanya itu kembali duduk disampingnya.
"Sekarang aku mesti ngapain ?" Tanya Kenan.
"Buat bubur untuk Kavi." Jawab Diva jutek.
"Jangan jutek-jutek sama suami, gak baik.!" Seru Kenan menghadiahi ciuman di pinggir bibir istrinya itu.
"Ishh bi, nanti dilihat sama yang lain, malu." Ucap Diva memegang ujung bibirnya.
"Ngapain malu, orang cium istri sendiri juga, lagian kamu bertingkah anak muda saja." Ujar Kenan santai.
"Ishhh, buruan buat buburnya, kasian Kavi belum makan apa-apa !" Ujar Diva.
"Baik nyonya, hamba akan melakukannya, tapi sepertinya aku butuh bimbingan dari nyonya cantik ini." Ucap Kenan menggoda.
Diva tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat sikap suaminya, kemudian beranjak lebih dulu kemudian menarik suaminya itu untuk pergi ke dapur.
...----------------...
"Tuan dan nyonya Kavindra, bubur yang anda inginkan sudah siap, sesuai permintaan." Ucap Kenan meletakkan semangkuk bubur di atas meja makan, sejak tadi Kavi sudah duduk disana menunggui buburnya jadi.
"Terimakasih pak." Sahut Kavi memperlihatkan cengirannya yang tampak sangat menyebalkan dipenglihatan Kenan.
"Dasar menantu kurang asam kamu, durhaka kamu Kav." Cibir Kenan.
"Ini yang mau cucu ayah loh, bukan kemauan aku, mana berani aku nyuruh-nyuruh ayah seperti ini." Ucap Kavi menyendok bubur yang ada dihadapannya itu.
"Ckkk, kapan sih kamu berhenti ngidamnya ? Sebenarnya Kenan sudah capek dan juga sedikit kasian melihat kondisi Kavi yang terlihat kurusan dan pucat akibat mual dan pusing yang selalu menderanya apalagi dipagi hari.
"Gak tahu juga sih yah, tapi aku malah bersyukur aku yang ngalamin ini, aku gak bisa bayangin jika Kia yang mengalaminya, rasanya sangat tidak enak, apalagi Kia harus menanggung rasa sakit yang akan dialaminya nanti jika akan melahirkan, dan aku berharap jika bisa rasa sakit itu biar aku saja yang merasakannya." Ucap Kavi panjang lebar membuat Kenan benar-benar merasa yakin dan percaya Kavi adalah pria yang paling pantas dan cocok untuk menjaga putrinya, pria yang sangat tulus menyayangi Kia. Pria yang dulunya sahabatnya atau bisa dibilang saudaranya yang kini menjadi menantunya.
"Kamu beruntung Kav, bisa selalu ada buat istri kamu yang sedang mengandung, tidak seperti diriku." Ucap Kenan.
"Ayah mau rasain menjadi suami siaga terhadap istri yang sedang hamil ?" Tanya Kavi menampakkan senyum penuh arti
"Jangan bercanda kamu, istriku tidak mungkin lagi bisa hamil, kalaupun bisa mungkin Kia sudah memiliki banyak adik." Hardik Kenan menatap Kavi jengah.
"Ck, makanya dengerin dulu ! Ucap Kavi berdecak.
"Apaan, jangan bilang kamu mau nyuruh aku nikah lagi ?" Kenan lagi-lagi berspekulasi sendiri.
"Bukan !" Sahut Kavi.
"Lalu ?"
Bersambung......
...Benar-benar menantu kurang asem si Kavi, apalagi yang direncanakan otak jahilnya.🤔🤔🤔🤔🤔...
...Readers jangan bosan-bosan ya, untuk beberapa episode kedepan author pengen lihat seorang tuan Kenan merasakan saat-saat menghadapi istri mengidam, tapi kali ini bukan istrinya melainkan menantu laki-lakinya, namun sang menantu emang dasarnya sudah laknat, Kavi dengan berkedok mengindam ia berhasil mengerjai sang ayah mertua hehehe 😁😁😁...
...Maaf kan author ya pak Kenan ✌️✌️✌️...
...LIKE's...
...KOMENT...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...