
"Ada masalah apa ?" Tanya pak Salman dengan nada datar dan dingin nya, ketika Kenan sudah berada di ruang kerjanya.
"Tidak ada masalah apa-apa yah." Jawab Kenan juga tak kalah datar.
"Ayah harap kamu tidak berbuat kesalahan, ayah tidak akan memaafkanmu jika suatu saat kamu ada kesulitan dan merugikan kamu sendiri." Ujar Pak Salman.
Kenan hanya mengangguk, kemudian kembali angkat bicara.
"Besok aku dan Diva harus kembali ke kota Xx Yah, ada sedikit masalah di kantor." Ucap Kenan.
"Emmm...." Pak Salman hanya berdehem.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau ayah bicarakan, aku pamit ke kamar yah, pagi-pagi besok kami harus segera berangkat." Pamit Kenan dan di angguki Pak Salman.
"Ayah harap kamu jangan sampai bermain api jika kamu tidak mau terbakar sendiri !" Sahut Pak Salman ketika Kenan baru akan memutar knop pintu ruangan ayahnya itu. Sejenak Kenan berhenti dan berbalik menghadap ayahnya.
"Apa maksud ayah ?" Tanya Kenan.
"Kamu pasti tau sendiri maksud ayah, aku tahu sekarang kamu berniat membantu seorang wanita, dan wanita itu adalah Sarla mantan kekasih kamu dulu." Jelas Pak Salman.
"Jangan sampai karena niat kamu sampai membuat rumah tangga kamu sendiri terabaikan, ayah tahu maksud kamu membantunya itu karena kamu merasa bersalah, tapi sekali lagi ayah ingatkan jangan sampai kamu rugi sendiri nantinya karena sikap kamu." Tambah Pak Salman.
"Aku tahu batasan aku yah, ayah jangan khawatir, kenapa semua orang beranggapan kalau aku akan berbuat kesalahan." Ujar Kenan kemudian meninggalkan ruangan ayahnya itu dengan perasaan sedikit kesal.
🍀🍀🍀
Saat masuk kamar Kenan melihat Diva sedang mengepak barang-barangnya, lebih tepatnya perlengkapan baby Khay, karena memang tidak membawa pakaian selain yang ia kenakan saat berangkat ke kota Z, toh dia juga masih memiliki pakaian di rumah orangtuanya, kalaupun sudah tidak muat ia gampang untuk membelinya.
"Barang-barang kamu sudah aku siapkan juga, tapi cobalah periksa kembali siapa tau masih ada yang kurang !!" Ujar Diva setelah melihat suaminya duduk di Sofa.
Kenan tak menghiraukan ucapan Diva, ia malah sibuk dengan ponselnya, Diva yang melihat Kenan mengabaikannya ia hanya bisa menghela nafas, kemudian menutup rapat koper milik Kenan, setelah itu ia menyimpannya di dekat lemari berdekatan dengan handbag milik baby Khay yang berisikan perlengkapan putranya itu.
Karena Diva terus saja di abaikan ia memilih keluar kamar melihat putranya yang tidur bersama ibu mertuanya, saat tiba di depan kamar mertuanya ia mencoba mengetuknya, tapi belum sampai tangannya untuk mengetuk pintu tersebut, pak Salman sudah berada di belakangnya.
"Ada apa ?" Tanya Pak Salman lembut pada menantu kesayangannya itu.
"Tidak ada apa-apa yah, aku hanya ingin melihat Abang, siapa tau aja dianya rewel." Ucap Diva tersenyum tapi sambil menundukkan wajahnya, karena ia menyembunyikan mata sembabnya yang masih kentara.
Pak Salman tahu kalau menantunya itu sedang menyembunyikan wajahnya, tapi ia tidak mau terlalu memaksakan Diva untuk bercerita, ia tak mau membuat menantunya itu semakin bersedih dengan permasalahan rumah tangganya sekarang.
"Sepertinya Abang sudah tertidur, lebih baik kamu istirahat, ayah dengar besok kalian akan kembali ke kota Xx !!" Ujar Pak Salman mengusap pucuk kepala menantunya.
"Iya yah, kalau begitu aku istirahat dulu, kalau abangnya rewel panggil aku saja !!" Ujar Diva kemudian kembali ke kamarnya.
Pak Salman memperhatikan menantunya dengan tatapan sendu, kemudian menggelengkan kepalanya, setelah Diva sudah tak terlihat pak Salman masuk ke kamarnya.
"Dari mana saja ?" Tanya Kenan setelah Diva masuk kamar, Kenan sudah berbaring di di tempat tidur tapi masih memainkan ponselnya.
"Habis liat Abang." Jawab Diva kemudian ikut naik ketempat tidur.
Diva membaringkan badannya dengan posisi membelakangi Kenan. Tak lama Kenan mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas di sampingnya, lalu ikut memperbaikinya posisi tidurnya ikut membelakangi Diva, keduanya tertidur dengan saling membelakangi.
Diva yang masih belum tidur tiba-tiba kembali menitikkan air mata, ia merasa jika hubungannya dengan Kenan sudah benar-benar ada jarak di antara mereka.
"Aku akan mencoba bersabar Nan, jika memang kamu tidak berubah kembali seperti dulu aku akan benar-benar meninggalkanmu, mungkin kamu lebih bahagia bersamanya, aku tahu dia adalah cinta pertama kamu, jika itu membuatmu bahagia aku akan merelakan kalian untuk bersama." Batin Diva dengan sesak yang teramat yang ia rasakan, hatinya bagaikan terhimpit batu besar, membuatnya sulit untuk bernafas.
🍀🍀🍀
Ke esokan harinya.
Kenan beserta anak dan istrinya tak lupa dengan bi Siti, sudah berada dalam perjalanan menuju ke sebuah hotel dimana Sarla menunggunya, setelah dari sana ia akan berangkat bersama ke bandara menuju kota Xx.
"Ayo buruan naik !!" Kenan menurunkan kaca jendela mobilnya, Sarla pun tersenyum lalu naik di bagian belakang duduk berdampingan dengan Diva, Kenan duduk di samping kemudi, sedangkan bi Siti duduk di kursi paling belakang.
"Pak jalan !!" Perintah Kenan kepada sopir yang mengantarkannya.
"Hay Div." Sapa Sarla.
"Hay... Apa kabar ?" Diva balik menyapa kemudian berbasa-basi.
"Kabar aku baik, apalagi sekarang aku bisa bekerja di perusahaan Kenan.
Diva hanya bisa membalasnya dengan senyuman simpul.
"Nan, aku juga Terimakasih banget loh sama kamu, kamu sudah mengijinkan aku tinggal di salah satu apartemen kamu di kota Xx." Ujar Sarla sedikit memajukan badannya agar lebih dekat dengan Kenan.
Kenan membalikkan badannya menghadap agak sedikit ke belakang di mana ada Sarla, karena pas di belakang Kenan Saral duduk.
"Sama-sama, kamu tidak perlu sungkan." Ujar Kenan tersenyum.
Kenan dan Sarla pun terus mengobrol sampai mengabaikan keberadaan Diva di sana, mereka seakan melupakan kalau Diva ada di situ juga, bahkan saat baby Khay menangis Kenan seperti tak menghiraukannya. Sedangkan Diva ia sepertinya ingin sekali membatalkan keberangkatan dirinya ke kota Xx, ia akan lebih memilih tinggal di kota Z bersama dengan orangtuanya juga mertuanya yang tentunya tidak akan mengabaikannya.
Andai saja ia tak memikirkan Kenan akan marah jika ia membatalkan keberangkatannya ia akan benar-benar akan tinggal.
"Pak, tolong singgah di pom bensin sebentar ya, aku mau buag air !!" Seru Diva.
"Baik non." Sahut pak sopir.
"Yank, apa tidak bisa di tahan sebentar ? Sebentar lagi kita akan sampai di bandara loh." Sahut Kenan.
"Sepertinya tidak bisa by'." Sahut Diva tersenyum terkesan di paksakan.
Setibanya di pom bensin, Diva menyerahkan baby Khay kepada bi Siti, tapi Sarla buru-buru meminta agar dia saja yang memangku bayi menggemaskan itu.
Diva menyerahkan baby Khay kepada Sarla, namun baru saja Sarla memangku baby Khay tiba-tiba baby Khay menangis.
"By, tolong tenangin ya, soalnya aku sudah kebelet banget !!" Seru Diva, Kenan pun langsung mengambil alih putranya saat itu juga baby Khay berhenti menangis.
Diva buru-buru masuk ke toilet, sesampainya di toilet, ia langsung berdiri di depan cermin toilet, ia menumpahkan semua kesedihannya yang sedari tadi ia tahan, sebenarnya Diva tak ingin buang air kecil, tapi ia sudah tak bisa lagi menahan tangisannya melihat interaksi suaminya dan Sarla, setegar apapun hati seorang istri ia akan rapuh juga jika ia melihat suaminya bersama dengan seorang wanita begitu akrab apalagi wanita itu adalah mantan pacarnya, bahkan sampai di abaikan seperti tak di anggap.
"Divvvv please jangan cengeng, kemana Diva yang dulu, kamu pasti bisa menghadapi masalah seperti ini, kamu bisa Div !!" Diva menyamangati dirinya sendiri, kemudian ia memcuci wajahnya.
Setelah ia akan keluar dari toilet ia bertabrakan dengan seorang pria yang sepertinya baru keluar dari toilet pria.
"Maaf....Maaf...." Ucap Diva menundukkan wajahnya.
"Diva....?" Ujar pria tersebut.
"Dafa..?" Balas Diva setelah mengakat wajahnya melihat seseorang yang ternyata adalah Dafa teman SMAnya pria yang sempat menyukainya dan menyatakan perasaannya kepada Diva.
Bersambung.....
Like
Komen
vote
Terimakasih....🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️